Cantik, Kok Minder?

Cantik, Kok Minder?
punggawa dan Richard, tidak akur


__ADS_3

Jam satu dini hari, rombongan yang baru saja dari pantai itu sampai di rumah sakir Persada. Bukan karena liburan mereka ke pantai, tapi mereka baru saja menemukan jenazah seorang perempuan yang telah membusuk.


Fian telah janjian dengan dokter Retno, seorang dokter ahli forensik untuk melakukan autopsi pada jenazah itu. Rombongan itu langsung membawa koper besar berisi jenazah ke ruang autopsi.


Sementara Fian masuk ke ruang autopsi untuk menemui Retno, Hendra dan yang lainnya menunggu di luar ruangan.


"Ingat Retno, jangan katakan hal ini pada siapapun terlebih dahulu. Setelah ada titik terang, kita akan lakukan penyelidikan lebih lanjut" kata Fian memperingatkan Retno, mereka adalah teman baik sejak sekolah. Jadi mereka sudah saling percaya satu sama lainnya.


"Iya, kamu percaya saja sama aku. Nanti aku lakukan autopsi dengan baik" kata Retno.


"Terimakasih sebelumnya, kamu bisa istirahat dulu. Besok kita lanjutkan pekerjaan ini. Maaf sudah merepotkan kamu" kata Fian.


"Iya sama-sama. Kami juga istirahat ya" kata Retno.


Fian keluar dari ruang autopsi, dia menemui yang lain untuk memberi sedikit peringatan.


"Jenazah sudah diterima oleh dokter Retno, besok baru dia akan melakukan tindakan. Untuk sekarang, kita bisa pulang ke rumah masing-masing dan beristirahat. Terimakasih atas kerja keras semuanya" kata Fian.


"Untuk kalian berdua, Hendra dan Falen. Saya harap kalian bisa menjaga rahasia penemuan jenazah ini. Setidaknya sampai nanti sudah ditemukan kejelasan mengenai identitasnya. Jadi, sebelum itu terjadi, ingatlah untuk tetap menutup mulut kalian" kata Fian.


"Siap bang. Kami akan jaga rahasia ini dengan baik" kata Falen.


"Oke, sekarang kita kembali ke rumah masing-masing. Sekali lagi terimakasih" lata Fian mengakhiri sambutan singkatnya. Merekapun berpencar untuk pulang setelah saling berpamitan.


"Lo masih diikuti nggak sama wanita itu Hen?" tanya Falen saat mereka berdua ada di dalam mobil Falen.


"Masih, tapi sudah tidak semenyeramkan sebelumnya. Mungkin karena kita sudah berhasil menemukan mayatnya dia jadi terlihat sedikit sedap dipandang" kata Hendra.


"Jadi, kalau gue sudah nganterin lo ke rumah lo nih ya, lo bisa pastikan kalau tuh sosok nggak bakalan ngikutin gue kan?" tanya Falen.


"Lo takut?" tanya Hendra.


"Takut sih enggak, lebih ke nggak nyaman aja" kata Falen.


"Bisa banget cara ngeles lo. Kalau lo takut nginep di rumah gue saja" kata Hendra.


"Tapi gue nggak bawa baju ganti, sudah malam banget lagi. Gue takut kesiangan" kata Falen.


"Terus gimana dong?" tanya Hendra.


"Gue balik ke rumah, lo pastiin teman baru lo itu bakalan tetap disisi lo" kata Falen.


"Sialan lo" kata Hendra sedikit tidak terima.


★★★★★


"Kalian semua kok nggak ada yang semangat sih?" tanya Aish, mereka berempat kembali berkumpul di taman dekat perpustakaan di jam istirahat.


"Gue kemaleman tidurnya princess, ngantuk gue" kata Falen, Hendra menganggukkan kepala mendengar perkataan Falen.


"Apalagi gue, akhir-akhir ini jadwal gue semakin padat. Produser ingin film kita segera rilis, kalau bisa setelah lebaran sudah bisa ditonton di bioskop katanya" Seno memberi penjelasan.


"Kasihan, lo pasti capek banget ya Seno?" tanya Aish.


"Capek banget princess, pegel-pegel badan gue" kata Seno.


"Diurut saja Seno, ada tukang urut langganan engkong. Biasanya engkong kalau pegel badannya suka diurut sama dia" kata Aish memberi saran.


"Waktunya yang nggak ada princess, nggak ada liburnya gue mah" kata Seno.


"Tapi duit lo jadi banyak Seno" kata Aish.

__ADS_1


"Gue nggak tahu, semua mommy yang urus" kata Seno.


"Atau gue bawa tuh orang ke tempat syuting lo saja gimana? Biar lo diurutnya saat break syuting gitu, gimana?" tanya Aish.


"Uwah, boleh banget tuh. Nanti biar lo dijemput sama supir gue ya" kata Seno senang.


"Siap pokoknya, biar gue diskusiin sama mommy yah" kata Aish tersenyum.


"Makasih ya princess, lo memang yang terbaik. Nih gue suapin cake terlezat buatan koki kesayangan gue dirumah" kata Seno sambil menyuapkan sepotong kue ke mulut Aish.


"Lo memang pilih kasih princess. Seno doang yang diperhatiin, kita mana pernah" kata Falen memelas.


"Sirik banget lo jadi orang" kata Seno setelah menyuapi Aish.


"Eh, kalian tahu nggak, gue sudah punya guru privat buat ngajarin kesenian" kata Aish mulai bercerita.


"Oh ya, siapa?" tanya Hendra.


"Sorry ya princess, kita nggak ada yang bisa ngajari lo. Seandainya gue ada waktu, gue pastiin kalau cuma gue yang boleh jadi guru les kesenian buat lo" kata Seno.


"Gue juga ya princess, gue malah nggak ada waktu lo butuhin" kata Falen, sementara Hendra hanya diam.


"Nggak apa-apa, gue ngerti kok. Yang penting sekarang gue sudah ada yang ngajari kan" kata Aish.


"Emang siapa sih?" tanya Hendra penasaran.


"Richard" kata Aish sambil tersenyum.


Sementara ketiga temannya yang mendengar Aish menyebutkan nama itu sedikit tidak suka. Entah mengapa hubungan mereka tidak baik-baik saja.


"Kenapa, kok muka kalian jadi bete gitu?" tanya Aish.


"Nggak apa-apa sih, semoga dia beneran tulus ya buat bantuin lo" kata Falen.


"Semangat princess, gue yakin lo pasti bisa" kata Seno menyemangati.


"Makasih Seno" kata Aish tersenyum.


"Nih, Aaa lagi" kata Seno menyuapkan sepotong kue ke mulut Aish.


Aish menerima dengan tawa riang khasnya yang membuat teman-temannya betah berada disisi gadis cantik ini.


Richard yang melihat kedekatan Aish dengan ketiga temannya merasa sedikit tidak suka. Apalagi melihat tawa riang Aish selama bersama mereka. Pria itu hanya ingin senyum tulus Aish untuknya saja.


Belum jadi apa-apa malah sudah posesif sekali kamu bang Richard?


"Kenapa lo?" tanya Reno melihat ke arah pandang sahabatnya.


"Lagi ngincar sasaran selanjutnya ini mah" ledek Yopi yang kini malah merangkulnya.


"Diem lo pada" kata Richard yang kemudian melangkahkan kakinya ke kantin. Dia butuh yang dingin-dingin.


★★★★★


Bel pulang sekolah berbunyi, semua murid bersorak senang karena sudah jenuh setelah seharian berkutat dengan buku dan alat tulis.


Guru kelas sudah meninggalkan ruangan beberapa menit yang lalu. Masih ada beberapa murid yang membereskan peralatan sekolahnya. Dan juga beberapa lagi yang bertugas untuk piket kelas.


"Lo jadi latihannya?" tanya Falen.


"Jadi dong, kalian hati-hati ya kalau pulang" kata Aish.

__ADS_1


"Lo juga hati-hati, pokoknya kalau ada apa-apa lo langsung hubungi gue ya?" kata Falen memperingatkan Aish.


"Memangnya mau ada apa? Lo tuh mikirnya aneh-aneh deh bule" kata Aish berdiri, bersiap menuju ruang kesenian.


Falen kembali merangkul pundak Aish, dia akan mengantar princessnya menemui rivalnya sejak smp, siapa lagi kalau bukan Richard.


"Gue bisa pergi sendiri Fal, lo nggak apa-apa kalau mau pulang duluan" kata Aish, tapi tak didengar oleh Falen. Cowok itu tetap mau mengantar princessnya.


Sampai di ruang kesenian, ternyata banyak sekali murid yang mau berlatih juga rupanya. Ruangan luas itu terlihat ramai, Aish jadi merasa tidak nyaman.


"Ramai banget ya?" kata Aish memandang sekitarnya.


"Mana ya Richard? kok nggak kelihatan" kata Aish lagi.


Rupanya Richard ada di belakang mereka, dia baru saja tiba di sana.


"Gue disini" kata Richard.


Aish dan Falen menoleh, sementara Falen tetap merangkul pundak Aish. Richard melihat itu dengan pandangan tidak suka.


"Gue titip teman gue, ingat! Jangan lo apa-apain" kata Falen.


"Falen apaan sih" kata Aish menyenggol perut sahabatnya dengan siku.


"Lo tenang saja, kalau lo sendiri nggak bisa bantuin dia" kata Richard menyulut emosi.


"Kalian nih kenapa sih, akur dong. Kita kan teman" kata Aish, Falen menunduk agar bisa melihat wajah Aish yang merengut.


"Gue tinggal ya princess, ingat! Hubungi gue kalau ada apa-apa" kata Falen.


"Iya-iya. Sudah lo pulang saja, jangan lama-lama disini. Gue takut kalian berantem" kata Aish.


"Oke, gue balik ya" kata Falen tersenyum, kemudian memandang Richard sekilas.


"Ramai banget ya Richard" kata Aish setelah kepergian Falen.


"Iya, mereka juga mau latihan kayaknya" kata Richard masuk ke ruangan, Aish mengekor padanya.


"Hai bro, lo bawa siapa tuh?" tanya Reno nyaring, membuat beberapa temannya menoleh ke arah mereka. Aish jadi merasa malu, dia hanya menundukkan kepalanya.


"Diem lo" kata Richard menaruh tasnya, dia melangkah mendekati Reno untuk mengambil gitar.


"Kita latihan di tempat lain saja" kata Richard setelah mendapatkan gitarnya, dia menarik tas punggung Aishyah agar gadis itu mengikutinya.


"Kita latihan disini saja" kata Richard, dia memilih duduk di taman belakang, tempat biasanya Aish menghabiskan jam istirahat bersama punggawanya.


Mereka duduk di bangku taman, Richard memangku gitarnya. Membiarkan Aish bersiap untuk mendapatkan pelajaran darinya sore itu.


.


.


.


.


.


Mohon kesediannya untuk para pembaca menyempatkan diri meng klik tombol like jika membaca yaa....


Hal sepele itu sangat berarti bagi saya, terimakasih untuk yang sudah setia membaca novel ini.

__ADS_1


Silahkan komen untuk memberi saran ataupun kritik.


Salam Sehat semuanya......


__ADS_2