Cantik, Kok Minder?

Cantik, Kok Minder?
saksi baru, Tomi?


__ADS_3

"Haus" lirih Aish yang terbangun. "Masih jam satu" ucapnya saat mengamati ponselnya, dan melihat gelasnya kosong.


Setelah mengenakan hijab instannya, dia beranjak dari kamar untuk ke dapur. Mengisi gelasnya dengan air.


Ruangan tampak temaram kalau malam seperti ini. Hanya beberapa lampu yang dinyalakan sekedar untuk memberi penerangan agar tidak menabrak sesuatu.


Sudah didapur, galon ada disebelah kulkas. Aish sempat meminum segelas air putih, lalu mengisi lagi gelasnya dengan penuh untuk dibawa ke kamarnya.


Saat dia berbalik, betapa kagetnya dia karena Siras yang berdiri dibelakangnya tanpa suara. Apalagi dimalam seperti ini.


"Ya Allah, Aish kaget" kata Aish mengusap dadanya yang deg-degan.


Siras tersenyum menyeringai, mendapati orang yang sangat sulit ditemui belakangan ini malah dengan sengaja menyerahkan dirinya.


"Kamu selalu terlihat cantik dengan ekspresi apapun Aishyah" kata Siras setengah berbisik.


Aish bergidik, mengingat kejadian waktu itu sungguh membuatnya merasa marah.


"Saya bisa teriak kalau bang dokter berani berbuat macam-macam sama saya" ancam Aish yang malah membuat Siras tertawa pelan.


"Tidak, saya tidak akan berbuat macam-macam. Saya hanya ingin minta maaf sama kamu. Apa kamu memaafkan saya?" tanya Siras.


Aish hanya terdiam, sungguh orang ini sudah tidak waras. Sudah melecehkan, dengan mudahnya meminta maaf.


"Kenapa diam? kamu tidak mau memaafkan saya? Jadi, biarkan seperti ini sampai kamu mau memaafkan saya" kata Siras yang mengurung tubuh Aish didepan kulkas.


Aish sedikit berpikir, "Orang seperti ini memang harus diberi sedikit pelajaran" batin Aish dengan senyum simpul.


Dengan gerakan tiba-tiba, Aish menyiram wajah Siras dengan segelas air yang tadi dibawanya. Tidak sampai disitu, saat Siras menyentuh wajahnya yang basah dengan kedua tangannya, Aish menendang sosis keramat para kaum Adam milik Siras dengan cukup keras.


Membuat sang empunya mengaduh kesakitan dan kebingungan, karena tangannya yang masih mengusap wajahnya, malah sosisnya terkena tendangan dari kapten Tsubasa, membuatnya jatuh tersungkur.


"Abang kira saya lemah? heh? Belum tahu kalau saya itu titisan ultraman yaa. Hahaha" kata Aish meledek Siras yang masih kesakitan dan tergolek di lantai. Kaki Aish masih sempat menendang Siras lagi saat dia akan kembali ke kamarnya tanpa berhasil membawa segelas air.


"Mentang-mentang dilahirkan sebagai seorang laki-laki, sudah merasa paling hebat? Huft, belum tahu saja kalau gue juga bisa ngelawan. Awas kalau masih mau macam-macam, beneran gue penyokin sampai tak berbentuk tuh sosis" gerutu Aish hingga kembali ke kamarnya dan tak lupa mengunci pintu.


Sampai dikamarnya, rasa kantuknya kadi hilang. Aish masih saja mengomel pada kelakuan dokter itu. Diapun hanya rebahan sambil memainkan ponsel. Saat jam menunjukkan pukul setengah tiga, diapun bergegas mengambil wudhu. Dia akan solat malam untuk mengadu pada sang pemilik alam.


★★★★★


Tok... Tok... Tok...


Suara ketukan di pintu membangunkan Aish yang tertidur setelah solat subuh. Rupanya dia tertidur dengan masih mengenakan mukena dan kini berada diatas sajadahnya. Matanya mengerjap, setelah mengumpulkan nyawanya, diapun beranjak ke pintu.


"Oh, Falen? Ada apa?" tanya Aish.


"Nanti kita ketemuan sama bang Rian ya dirumahnya, semalem Hendra hubungi gue, katanya ada informasi penting" kata Falen.


"Jam berapa?" tanya Aish.


"Setelah sarapan kita berangkat, jadi lo bisa siap-siap dari sekarang" kata Falen.


"Memangnya sekarang jam berapa?" tanya Aish.


"Jam enam, gue takutnya lo kalau mandi lama, nanti kita sarapan jam tujuh ya. Habis sarapan langsung berangkat" kata Falen.


"Iya, siap bos" kata Aish.

__ADS_1


Falen tertawa, dia senang melihat Aish yang sudah ceria lagi. Diapun mengusap sayang pada pucuk kepala Aish, seperti yang biasa dia lakukan dulu.


"Gue balik ke kamar dulu ya, nanti kita ketemu di meja makan" kata Falen dengan senyuman. Aish hanya mengangguk, setelahnya, diapun bersiap-siap.


Semua sudah berkumpul di meja makan saat Aish datang, tapi tidak dengan Siras. Mama Falen menyambut Aish dengan gembira, dia tulus menyayanginya.


"Ayo makan dulu Aishyah, makan yang banyak ya, kamu terlihat kurus sekali" kata mama Falen. Aish hanya bisa tersenyum menanggapinya.


"Kemana kakakmu, Brian?" tanya mamanya.


"Nggak tahu ma, bukan urusanku juga" jawab Falen.


"Kamu ini, yasudah biar mama suruh bibi saja yang panggilkan" kata mamanya.


Tapi Siras tidak bisa ikut sarapan, katanya sedang tidak enak badan. Aish tersenyum samar, mungkin efek sosis yang terbentur membuat kepalanya pusing.


★★★★★


Aish melihat Hendra sudah berada di kediaman Rian saat dia datang bersama Falen. Seperti biasa, Fian selalu datang belakangan.


Mereka berkumpul setelah lima belas menit menunggu kedatangan Fian. Sengaja mereka berembug di rumah Rian, karena mereka merasa disanalah tempat yang paling aman karena dijaga ketat.


Mereka memilih berdiskusi di balkon lantai dua. Semilir angin diharapkan dapat mendinginkan suasana panas saat adu pendapat nanti.


"Informasi penting apa yang lo bawa?" tanya Rian pada kembarannya.


"is, apa kamu pernah lihat foto orang ini sebelumnya?" tanya Fian yang memperlihatkan sebuah foto lelaki.


Aish mencoba mengingat, memang terasa tidak asing. "Engmh.... kayaknya pernah bang. Tapi dimana ya?" kata Aish berusaha mengingat.


"Jadi benar kalau kakaknya Richard yang sudah membunuh kak Alif ya bang?" tanya Aish khawatir, karena rasa sayang dihatinya untuk Richard audah cukup besar.


"Untuk menentukan dia sebagai tersangka masih belum bisa. Masih banyak yang harus diselidiki" kata Fian.


"Abang mendapat informasi dari tetangga kontrakan kakakmu dulu. Banyak yang bilang kalau memang sering melihat kakak kamu dengan pria ini. Mereka mengira kalau pria ini adalah suami korban, karena mereka terlihat bahagia setiap bertemu. Bahkan pria ini terkesan ramah dan dermawan. Tetangga sekitar kontrakan kakakmu sering diberi bantuan olehnya" kata Fian menjelaskan.


"Tapi saya masih belum bisa menemuinya sampai sekarang" kata Fian.


"Untuk beberapa minggu ke depan mungkin memang tidak akan bisa menemuinya bang, karena mereka sekeluarga sedang ke Jepang. Kakeknya meninggal, semua keluarganya sedang berkumpul disana" kata Aish.


"Lalu, keponakan saya bagaimana bang?" tanya Aish.


"Anak itu dibawa pria ini. Sepertinya dia dirawat dengan baik olehnya" kata Fian.


"Syukurlah kalau begitu. Tapi bagaimana bisa dia membunuh kak Alif ya bang?" tanya Aish.


"Itulah yang masih jadi pertanyaan. Apa motif dibalik pembunuhan ini?" kata Fian.


"Tapi dari penglihatan gue nih bang, bukan orang ini yang bunuh kak Alif. Ada pria lain yang melakukannya. Dan saya yakin bukan pria ini" kata Hendra.


"Apa kamu masih ingat wajahnya?" tanya Fian. Sebenarnya dia tidak mempercayai tahyul semacam ini, tapi demi kepentingan bersama, kali ini dia akan menyelidiki dari semua aspek.


"Masih bang, tapi saya tidak tahu bagaimana menggambarkan seperti apa orang itu" kata Hendra.


Fian memanggil salah satu anak buahnya, lalu menyuruhnya duduk bersama. "Kamu bisa berdiskusi dengannya, dia ahli sketsa wajah" kata Fian.


Cukup lama mereka berdua berdiskusi untuk mendapatkan wajah yang dirasa 'pas' untuk menggambarkan pria dalam mimpi Hendra.

__ADS_1


Hampir tiga jam mereka saling bertukar pikiran. Yang lain menunggu sambil beraktivitas lainnya.


Saat gambar sudah jadi, Hendra cukup puas dengan hasilnya. Hampir sama dengan pria dalam pikirannya. Kini giliran Aish yang terkejut.


"Loh, ini kan bang Tomi" kata Aish kaget.


"Kamu kenal dia, princess?" tanya Falen.


"Iya, dia itu satpam ditempat kerja gue kemarin Fal. Kenapa bisa ada dia?" tanya Aish makin tidak mengerti.


"Kamu tahu orang ini tinggal dimana?" tanya Fian.


"Nggak tahu bang, kalau kakak lo pasti tahu deh Fal" kata Aish tak mau menyebut nama Siras.


"Kakak gue? kenapa jadi dia?" tanya Falen.


"Jadi gue kan kemarin sempat kerja jadi security, ternyata bos gue itu kakak lo. Gue juga baru tahu, soalnya dia kan jarang ke kantornya" kata Aish.


"Lo tetap kerja disana kan, is?" tanya Rian.


"Nggak lagi bang" kata Aish.


"Kenapa?" tanya Rian.


Aish bingung harus menjawab apa, yang jelas dia tidak ingin Rian tahu. Kejadian itu sangat memalukan.


"Engmh ... Nggak apa-apa bang" kata Aish menunduk.


"Terus gimana caranya tahu informasi tentang Tomi ini ya?" tanya Hendra mengalihkan pembicaraan, Hendra tahu ada yang disembunyikan oleh princessnya.


"Lo nggak kenal sama orang-orang di kantornya kakak lo Fal?" tanya Aish.


"Gue nggak pernah ada urusan sih sama dia. Kenapa memangnya?" tanya Falen.


"Gimana kalau lo datang ke bagian HRD, terus bilang kalau kakak lo minta data pegawai. Pasti hari ini kakak lo nggak ke kantor deh" kata Aish.


"Yakin banget lo kalau kakak gue nggak ngantor? Setahu gue selama ini dia gila kerja" kata Falen.


"Sudah deh, lo percaya sama gue. Nanti gue anterin lo ke kantornya ya, tapi lo masuk sendiri ke dalam. Nanti mereka curiga kalau lo turun sama gue" kata Aish.


"Boleh juga ide lo. Biar semuanya cepat clear, ya nggak?" tanya Rian mencari dukungan.


"Iya, sekarang lo jadi ujung tombak nih Fal. Jadi, jangan sampai gagal" kata Hendra.


"Huft, okelah. Kita berangkat sekarang gimana? Bentar gue telpon mama ya, mau tanya kakak gue sudah berangkat apa belum" kata Falen beranjak sedikit menjauh.


Dia kembali setelah beberapa lama, "Ok, aman. Kakak gue demam, nggak tahu kenapa tuh orang kemarin datang mukanya babak belur" kata Falen.


"Oke, kita berangkat sekarang ya" kata Hendra.


Falen, Hendra dan Aish bersiap-siap menuju kantor Siras. Dalam perjalanan mereka terdiam, sibuk dengan pikiran masing-masing. Aish masih tak bisa menghubungkan benang yang mana yang harus ditemukan. Kenapa bisa menyangkut pautkan dengan Tomi?


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2