Cantik, Kok Minder?

Cantik, Kok Minder?
puzzle


__ADS_3

Aish berlari dengan tergesa-gesa, dia kesiangan hari ini. Dia tertidur menjelang subuh, semalaman dia membaca buku yang didapat dari perpustakaan kemarin.


Pintu gerbang hampir tertutup saat dia baru sampai. Beruntung masih boleh masuk oleh pak satpam setelah merengek minta dibukakan pintu. Aishyah berlari menuju ruang kelasnya. Bel berbunyi saat dia sampai di pintu masuk.


"Untung masih keburu" katanya saat sampai di pintu masuk, beruntung karena gurunya masih belum datang.


Tapi sial, dia terjatuh saat akan memasuki ruang kelas karena menginjak tali sepatunya sendiri.


"Brugh!!!"


Buku dan semua perlengkapan sekolahnya jatuh karena dia lupa menutup resleting tasnya saat turun dari angkot.


"Hahahahahahaa"


Suara tawa menggema dari ruang kelasnya. Teman-temannya menertawakan tingkah konyol Aishyah yang jatuh terjerembab oleh tali sepatunya sendiri.


Falen datang membantu meski tetap menertawakannya juga. "Hati-hati dong princess, kenapa bisa jatuh sih?" tanyanya sambil membantu Aishyah berdiri.


Hendra juga datang membantu, memunguti barang-barang yang keluar dari dalam tas Aishyah dan memasukkannya kembali.


"Lo jangan ngetawain gue dong bule" kata Aish, perlahan suara tawa dari teman sekelasnya mulai reda.


"Maaf, maaf. Lo lucu banget sih. Makanya hati-hati dong kalau jalan" kata Falen.


Hendra mendapati sebuah foto yang terjatuh dari tas Aishyah, sebuah foto keluarga.


"Ini foto keluarga lo ya princess?" tanya Hendra sambil memberikan tas Aishyah.


"Oh, iya. Itu fotonya ayah, bunda, kak Alif sama gue" kata Aish tersenyum dan duduk di tempatnya.


Hendra memandangi foto itu dengan intens, melihat dengan cermat. "Seperti kenal" batinnya.


"Kenapa, lo mau bilang kalau kakak gue cantik?" tanya Aish.


"Eh, enggak kok. Kayak pernah tahu ya" kata Hendra.


"Secara pernah tahu, kan kita pernah ketemu sama kak Alif dulu waktu kita makan di kedai mie ayam. Inget nggak?" tanya Aish.


Hendra berusaha mengingatnya, dan berusaha menyatukan keping puzzle yang sepertinya ada yang harus ditemukan.


"Sini balikin fotonya" kata Aish. Hendra mengembalikan foto itu dengan pikiran tidak tenang.


"Lo kenapa Hen?" tanya Falen saat Hendra duduk di tempatnya.

__ADS_1


"Nggak apa-apa" jawab Hendra.


"Sen, Seno... bangun, lo nih ya... Pasti semalam pulang larut lagi ya?" tanya Aish berusaha membangunkan Seno yang tertidur di mejanya.


"Eh, he em... Bentar lagi" kata Seno dengan mata masih terpejam.


"Seno, bangun dong. Gurunya sudah datang loh" kata Aish lagi.


Mendengar Aish menyebutkan gurunya, dia jadi melek dan berusaha duduk tegap. "Mana gurunya?" tanya Seno.


"Bentar lagi juga datang. Makanya lo bangun dong" kata Aish.


"Huft, gangguin orang lagi tidur aja sih princess ini" kata Seno, dia sudah tidak ingin tidur lagi.


Pelajaran dilalui dengan baik oleh seluruh murid hingga bel pulang sekolah berbunyi. Aish sedang membereskan mejanya untuk bersiap pulang.


"Oh iya Hen, hari ini ada jadwal jaga loh" kata Aish mengingatkan Hendra.


"Kayaknya hari ini gue ijin deh princess, soalnya ehm ... gue mau nganterin mama" kata Hendra.


"Tumben banget. Ya nggak apa-apa sih, tapi lo sudah ijin sama senior kita apa belum?" tanya Aish.


"Sudah kok, kayaknya Sekar lagi gantiin gue" kata Hendra


Seperti biasanya, mereka berempat berjalan bersama menuju parkiran. Falen selalu merangkul pundak Aishyah.


"Gue anterin lo pulang dulu ya, kalau naik angkot kan lama. Lo bisa telat sampai di rumah sakitnya" kata Hendra.


"Boleh deh, makasih ya" kata Aish setelah mempertimbangkan perkataan Hendra. Merekapun pulang setelah saling berpamitan.


Sebenarnya ada yang sedang Hendra sembunyikan, sebuah pemikiran terburuk yang harus dirahasiakan dahulu dari Aishyah. Hendra ingin menemui bang Rian untuk memastikannya.


Oleh karena itu, Hendra berinisiatif mengantarkan Aishyah pulang karena sebelumnya dia sudah janjian dengan bang Rian di rumah engkong.


Tiba di rumah Aish, Hendra berpamitan. Dia mengendarai motornya ke rumah engkong karena sudah ada mobil bang Rian terparkir rapi di halaman luas itu.


Hendra menyembunyikan motornya di balik mobil bang Rian agar saat Aish pergi ke rumah sakit, dia tidak tahu kalau Hendra ada disana.


Aish datang di rumah sakit sedikit terlambat dari biasanya, teman-temannya sudah mulai beraktivitas saat dia datang dan mengisi daftar absen.


"Tumben kamu terlambat Aishyah?" tanya dokter Siras.


"Iya bang dokter, tadi angkotnya lama. Saya minta maaf ya bang dokter" kata Aish.

__ADS_1


Ada rencana licik di otak Siras agar bisa lebih lama bersama dengan Aishyah. Akhir-akhir ini dokter tampan itu merasa senang jika berdekatan dengan Aishyah.


"Oke, tapi sebagai hukumannya, kamu bereskan ruang kerja saya di atas ya" kata Siras, melihat kondisi di UGD yang lengang.


"Kan ada OB bang dokter, masak harus saya yang beresin sih?" tanya Aish sedikit tidak terima.


"Terserah kamu saja, nanti saya akan tulis kalau hari ini kamu terlambat" kata Siras.


"Huft, bang dokter ini sukanya main ancam. Oke deh, tapi jangan ditinggal sendirian ya bang. Saya takut dituduh yang tidak-tidak kalau ada orang yang masuk ke ruangan bang dokter nanti" kata Aish.


"Ok, saya tungguin kamu saat mengerjakan hukumannya" kata Siras.


Sekar yang menggantikan Hendra kali ini melihat kedekatan Aishyah dengan dokter Siras, dia merasa sedikit aneh.


"Aishyah selalu mudah bergaul dengan banyak laki-laki. Apa sebenarnya yang ada dalam dirinya sampai semua laki-laki terlihat menyukainya ya?" batin Sekar saat melihat dokter Siras pergi bersama Aishyah.


Aishyah mengekor pada Siras yang kini sedang membuka pintu ruangannya. Mata Aish melotot karena ruangan itu sangat berantakan. Memang dari kemarin Siras belum sempat merapikan ruangannya karena pulang terlalu malam saat selesai melakukan tindakan operasi, dan dia malah mengunci ruangannya sehingga OB tidak bisa membereskan.


"Bang dokter habis ngapain sih? kok ruangannya berantakan banget?" tanya Aish.


"Saya kemarin terburu-buru saat mencari dokumen pasien yang terbawa saat selesai observasi" kata Siras, dia duduk di sofa sementara Aish masih memindai ruangan itu.


"Bakalan lama ini mah" gerutu Aish.


"Kerjakan saja, jangan menggerutu" kata Siras, sebenarnya dia sangat gemas melihat Aish cemberut seperti ini.


"Jadi file ini harus ditata di rak ini kan bang dokter?" tanya Aish.


"Iya, kamu kerjakan saja. Saya tunggu disini" kata Siras memainkan ponselnya.


Aishyah memulai kegiatannya, dia merapikan meja terlebih dahulu. Menumpuk file yang sama, dan disatukan. Selanjutnya tinggal dimasukkan ke dalam map yang sesuai dan dirapikan lagi di rak yang ada.


Siras yang kurang tidur belakangan ini merasa sedikit mengantuk dengan kegiatannya. Matanya tak sengaja terpejam saat menunggu Aishyah bekerja.


"Bang dokter, bangun... Sudah selesai" kata Aish, dia menusuk-nusukkan ujung jari telunjuknya di lengan Siras karena bingung harua bagaimana membangunkannya.


"Aduh, siapa sih" kata Siras yang refleks memegang tangan Aishyah.


"Eh, bang dokter, ini saya Aishyah. Abang dokter lepasin tangan saya dong" kata Aish yang berusaha melepas genggaman tangan dokter tampan itu, sementara Siras masih berpura-pura memejamkan matanya, padahal dia sudah bangun saat Aish menusukkan jarinya tadi. Dia hanya senang saat bisa berdekatan dengan Aishyah.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2