
"Assalamualaikum, bunda Aish pulang" teriak Aish seperti biasanya, dia lupa jika dibelakangnya si abang dokter sedang mengikutinya
"Waalaikumsalam, kamu tuh nggak malu ya teriak-teriak" kata Bunda yang sedang disalimi oleh anaknya.
"Loh, sama siapa is?" tanya Bunda, rupanya bunda pangling juga sama penampilan casual ala abang dokter.
"Eh iya, ini bang dokter bun" kata Aish.
"Malu-maluin kamu tuh teriak-teriak padahal lagi sama pak dokter" kata bunda, sementara dokter Siras hanya tersenyum menanggapinya.
"Mari masuk dok, maafin kelakuan si Aish ya dokter" kata bunda.
"Iya bu, tidak masalah" kata Siras memasuki ruang tamu.
"Sebentar ya bang dokter, saya mau ganti baju" kata Aish setelah mempersilahkan dokter itu duduk.
"Mandi dulu Aishyah, badan kamu bau" kata Siras sambil menutup hidungnya.
"Masak sih bang? Iya deh, saya sekalian mandi. Tungguin ya bang" kata Aish membaui ketiaknya yang tertutup seragam sekolah. Siras tertawa melihat tingkah laku Aishyah.
"Silahkan diminum pak dokter" kata bunda setelah menghidangkan secangkir teh hangat dihadapan Siras.
"Terimakasih bu. Ternyata Aishyah suka bermain gitar ya Bu?" tanya Siras yang melihat sebuah gitar diatas kursi.
"Mana ada pak dokter. Itu terpaksa dia belajar bermain gitar karena ada tugas dari sekolahnya. Kalau tidak, mana mau dia belajar musik" kata bunda.
"Oh iya? kenapa bu?" tanya Siras.
"Suara Aishyah kan jelek dok, hehehehe" kata bunda setengah berbisik agar tak terdengar Aish.
Siras ikut tertawa dengan kata-kata bundanya Aishyah. "Boleh saya meminjamnya bu?" tanya Siras.
"Boleh-boleh saja dok. Saya tinggal ke dalam tidak apa-apa ya dok, jahitan saya sedang buru-buru soalnya" kata bunda.
"Iya bu, silahkan. Maaf saya merepotkan ibu" kata Siras.
"Oh, tidak sama sekali dok. Yasudah kalau begitu, saya masuk dulu ya dokter" kata bunda, dokter Siras mengangguk sopan.
Siras mengambil gitar itu, rupanya dia juga bisa bermain musik. Dia juga hobi bermain gitar sambil menyanyi.
Aishyah mandi secepat kilat, dia sungkan jika harus membuat sang dokter menunggu terlalu lama. Setelah berganti baju tanpa makan siang, dia menghampiri Siras di ruang tamu.
"Uwah, bang dokter bisa bermain gitar juga rupanya?" tanya Aish kagum.
Siras tersenyum melihat kedatangan Aish," tentu, saya juga hobi dengan musik" kata Siras.
"Suara bang dokter boleh juga, not bad lah. Kalau saya pilih yes" kata Aish menirukan gaya seorang juri di suatu kompetisi bernyanyi.
Siras tergelak dengan perkataan Aishyah. "Kamu sudah bisa memainkannya?" tanya Siras.
"Masih belum bang, padahal saya selalu berusaha dengan berlatih selama ada waktu senggang. Sampai tangan saya kapalan seperti ini bang, lihat deh" kata Aish memperlihatkan ujung-ujung tangannya yang kasar dan keras.
"Tapi masih saja saya belum bisa menguasainya" lanjut Aish mengadu.
__ADS_1
"Hahaha, memang butuh waktu untuk belajar Aishyah. Kamu harus semangat dong" kata Siras.
"Yasudah bang, kita berangkat ke rumah sakit yuk. Keburu telat nanti" kata Aish.
"Kamu jangan khawatir, saya kan bersama kamu. Jadi telat sedikit tidak masalah" kata Siras.
"Tidak bisa begitu dong bang, seorang atasan yang baik kan harus memberi contoh yang baik untuk bawahannya" kata Aish sok bijak.
"Oke, baiklah nona cantik. Ayo kita segera berangkat" kata Siras mengembalikan gitar itu pada tempat semula.
"Bunda, Aish mau berangkat" kata Aish.
Bunda datang agak tergesa, "Iya, hati-hati ya is" kata bunda.
"Saya permisi bu" kata Siras.
"Iya dokter. Terimakasih sudah mau mengantarkan anak saya" kata bunda.
"Tidak masalah bu. Permisi" pamit Siras.
"Assalamu'alaikum bunda" kata Aish berpamitan.
"Waalaikumsalam" jawab bunda.
★★★★★
"Gue harap ada titik terang dari pertemuan kita kali ini" kata Hendra. Dia dan Falen sedang menunggu Rian dan Fian untuk membahas mengenai mayat itu.
"Gue juga begitu Hen. Kenapa mereka belum datang juga ya?" tanya Falen.
"Bisa jadi, mereka rebutan dokter Retno lagi" kata Hendra, mereka sedang menggosipkan si kembar sekaligus menertawakannya.
Lima belas menit kemudian, terlihat Fian yang datang bersama Rian. Mereka terlihat mencolok dengan penampilan yang berbeda tapi berwajah sama. Beberapa orang terlihat heran hingga menatap lama pada keduanya.
"Uwah, abang sudah seperti artis saja, dilihatin banyak orang" kata Hendra.
"Jelas lah Hen, secara mereka datangnya bersamaan" kata Falen.
Fian dan Rian saling pandang satu sama lain sebelum duduk. Kemudian saling berpaling, mereka tidak sadar jika penampilan yang bertolak belakang menjadikan mereka bahan pembicaraan pengunjung lainnya.
Fian si polisi yang rapi, memakai celana bahan dan kemeja lengan panjang. Rambutnya klimis tertata rapi, wajahnya putih terawat. Tubuhnya memakai parfum yang dari jarak sepuluh meter bahkan sudah tercium baunya yang maskulin. Sepatu fantofelnya mengeluarkan bunyi saat melangkah. Sarung tembak melekat di pinggangnya berisi pistol yang menjadi ciri khas seorang aparat negara.
Sedangkan Rian si boss preman, rambut cepak sedikit mohawk dan diwarna abu-abu. Kedua telinganya ditindik, bahkan bibir bawahnya juga. Celana jeans hitam dengan sabuk kulit yang ujungnya dibiarkan menjuntai, dengan kaos oblong ketat yang menampilkan otot-otot terawat. Wajah sangar sedikit coklat, dan ada tatto di lengan kanan bagian atasnya. Tatto itu sedikit mengintip dari lengan kaosnya yang sedikit dilipat. Sepatu kets menghias di kakinya, tak menimbulkan suara saat melangkah.
Kini preman dan polisi itu sedang duduk berdampingan bersama dua anak remaja untuk membahas sebuah kasus kriminal.
"Pesan dulu lah bang, pasti haus kan?" saran Hendra, dia melambaikan tangan pada waiters agar menghampiri mejanya.
"Kopi Amerikano" ucap Rian dan Fian kompak, mengundang gelak tawa Hendra dan Falen.
"Hahahahaha, selera kopinya juga sama" celetuk Falen, masih belum bisa menghentikan tawanya.
"Diem lo bocil, atau..." kata Rian memperagakan gerakan sedang memotong leher.
__ADS_1
Hendra dan Falen auto diam, tapi senyum kecil masih belum bisa dihilangkan. "Sorry bang, kita cuma bercanda doang, jangan sensi dong" kata Falen.
Fian hanya diam memandang tajam pada kembarannya. "Kenapa lo melotot? Mau gue tusuk mata lo pakai garpu?" kata Rian yang tidak terima ditatap sedemikian rupa oleh kembarannya.
"Sudah dong bang, akur kenapa?" kata Hendra.
"Mau pesan apalagi bang?" tanya Falen.
"Gue mau donat, ada?" tanya Rian sedikit kesal pada Waiters yang ikut-ikutan tersenyum.
"Ada kak, mau rasa apa?" tanya waiters itu.
"Coklat" jawab Rian singkat, sebenarnya dia tidak menyangka jika di tempat itu benar-benar menjual donat.
"Saya mau kentang goreng saja ya mas" kata Fian lebih sopan.
"Baiklah, jadi pesanannya adalah dua cangkir kopi Amerikano, satu donat dan satu porsi kentang goreng ya kak" kata Waiters itu. Rian dan Fian hanya mengangguk.
"Baiklah, tunggu sebentar kak" kata si waiters untuk menyiapkan pesanan.
"Jadi bagaimana bang?" tanya Hendra.
"Bentar ya, kita tunggu dokter Retno dulu. Sebentar lagi dia sampai. Biar dia saja yang menjelaskan agar lebih mudah dipahami" kata Fian.
"Jadi, kita nunggu lagi nih Hen" kata Falen, Hendra hanya mengendikkan bahu.
Dokter Retno datang saat waiters menata pesanan di atas meja.
"Maaf saya terlambat, sedikit macet tadi" kata dokter Retno, dia duduk diantara Rian dan Fian.
"Sekalian pesan juga dokter" kata Falen.
"Boleh deh. Saya mau milk shake coklat saja ya mas, sama jamur krispi saus lada hitam" kata dokter Retno.
Dokter Retno mengeluarkan map berisi data tentang jenazah yang mereka temukan setelah kepergian si waiters untuk menyiapkan pesanannya. Dia menyerahkan map tersebut kepada Fian, agar polisi itu membaca dan memahaminya terlebih dahulu.
Hendra dan Falen cukup sabar menunggu, hingga pesanannya selesai ditata diatas meja, dokter Retno baru buka suara.
"Oke, jadi seperti yang sudah tertulis di map itu, bahwa jenazah ini sudah sekitar dua hari sebelum pergantian tahun diperkirakan tewas. Korban sepertinya dijerat lehernya terlebih dahulu, karena ditemukan lidahnya yang tidak pada tempatnya, juga adanya luka jeratan di bagian leher" kata dokter Retno mulai menjelaskan.
"Setelah korban tewas, sepertinya pelaku sengaja membakar jasadnya untuk menghilangkan jejak. Tapi anehnya, jasad itu tidak dibakar hingga habis, karena masih ada beberapa bagian tubuhnya yang tidak ikut terkena api. Dan mungkin setelahnya, entah alasan apa yang membuat pelaku memakaikan gaun berwarna navy itu pada jasad korban setelah sempat membakarnya, lengkap dengan sepatu yang ditemukan melekat pada kaki korban" kata Dokter Retno.
"Apakah hanya gaun saja yang melekat pada tubuhnya dokter?" tanya Fian.
"Ya, kami tidak menemukan pakaian dalamnya" kata dokter Retno.
"Aneh sekali cara orang ini menghabisi korban" gumam Fian.
"Apakah sudah ketemu tentang identitasnya dokter?" tanya Hendra.
Dokter Retno menghela napas sebelum menjawab pertanyaan Hendra.
.
__ADS_1
.
.