Cantik, Kok Minder?

Cantik, Kok Minder?
IPA-IPS


__ADS_3

Teman-temannya banyak yang merekam moment itu dengan kameranya. Grup WA sekolah bahkan sudah ramai membahas tentang apa kira-kira jawaban Aishyah.


"Terima... Terima..."


teriak teman-temannya dari bawah podium.


Aish membisikkan sesuatu ke telinga Richard, kemudian menautkan jari kelingkingnya. Mereka berdua saling melempar senyum. Richard menatap penuh sayang pada Aishyah.


"Jadi, apa jawaban lo?" tanya Richard.


"Hengmh, iya. Gue terima lo Richard" kata Aish, tapi dia malah memegang lengan Seno dan menenggelamkan kepalanya pada pundak sahabatnya. Seno tertawa menanggapi tingkah sahabat tersayangnya itu.


"Uwah... Princess gue sudah nggak jomblo lagi deh sekarang" kata Falen menggoda Aish, membuat Aish makin mengeratkan pegangannya pada lengan Seno.


Richard masih duduk dengan gitarnya, memandang pacar barunya yang sedang menggamit lengan Seno. Tapi ada senyum di bibir cowok yang baru-baru ini jadi sorotan para siswi di sekolahnya, tapi langsung patah hati.


Seno menepuk pundak Aish yang masih betah berada di pundaknya. Setelahnya, Richard menarik lengan Aish agar mau melepaskan diri dari Seno.


Richard berdiri di hadapan Aishyah yang masih tertunduk malu. Dia mencubit kedua pipi Aish yang nampak memerah. "So sweet...." teriak teman-temannya yang berada di bawah podium.


Richard memegang tangan Aishyah, dia mengajaknya turun dari panggung. Diikuti oleh ketiga temannya yang masih setia mengekor.


"Gue balik ke tempat gue ya, sama teman-teman gue" kata Aish setelah turun, dia mengajak ketiga temannya kembali ke bangkunya yang tadi. Richard sangat pengertian, diapun kembali ke tempat semula.


"Uwaahh.... selamat ya Richard dan Aishyah. Semoga kalian awet ya, nggak berantem-berantem. Richard dari kelas IPS ya?" tanya MC.


"Iyaa" jawab para murid serentak.


"Terus Aishyah dari kelas IPA ya?" tanya MC lagi.


"Iyaa" jawab mereka.


"Berarti ada sejoli IPA-IPS dong sekarang, uwah.. sejarah IPA-IPS yang selalu bermusuhan sudah dipatahkan oleh dua teman kita ini rupanya" kata MC dengan lantang.


Acara berlanjut hingga akhirnya tiba pengumuman untuk menentukan pemenang yang berhak mendapatkan hadiah utama.


"Oke, sekarang saya mau tahu. Siapa yang berhak mendapatkan hadiah utama kita. Kira-kira siapa yang pantas menjadi pemenang kita hari ini?" tanya MC pada semua yang ada.


"Richard" jawab mereka kompak.


"Baiklah, berarti hadiah ini kita berikan kepada teman kita, Richard. Silahkan ambil hadiahnya nanti di panitia ya" kata MC itu lagi.


Semua acara telah selesai dilalui pukul dua siang, seperti biasanya. Seperti tidak terjadi apa-apa, Aish masih tetap bersama dengan ketiga temannya saat berjalan ke arah parkiran. Bahkan Falen masih tetap merangkul pundak Aish saat berjalan.


"Bisa ikut gue?" tanya Richard yang tiba-tiba muncul, Richard melihat dengan tatapan sinis pada Falen.


"Oh, iya bisa kok" kata Aish.


"Gue duluan ya teman-teman. Salam sama mommy ya Seno, besok gue jadi ikut sama kalian ke tempat syuting lo ya Sen" kata Aish sebelum pergi.


Richard menggandeng tangan Aish saat berjalan. Mereka berhenti di taman depan sekolah.


"Nih buat lo" kata Richard memberikan sebuah kotak hadiah.


"Apa ini?" tanya Aish.


"Door prize dari pensi tadi" kata Richard.

__ADS_1


"Jangan deh, buat lo saja. Kan mahal hadiahnya" kata Aish.


"Punya gue lebih bagus daripada itu" kata Richard memperlihatkan ponselnya pada Aish.


"Eh iya benar" kata Aish yang melihat ponsel Richard.


"Jadi ini buat lo saja. Gue lihat ponsel lo kan layarnya sudah retak" kata Richard.


"Beneran ya buat gue, hengmh... makasih ya Richard. Ponsel gue ini juga lo yang ngasih ke gue waktu itu, lo masih ingat nggak?" tanya Aish menampilkan senyumnya, Richard hanya mengangguk.


"Bahkan belum gue ganti duitnya, kan waktu itu gue bilangnya ngutang sama lo, hehe" kata Aish.


Richard mengusap pucuk hijab Aish dengan sayang sambil tersenyum. "Karena lo sekarang pacar gue, jadi hutang lo sudah gue anggap lunas" kata Richard.


"Makasih ya, gue mau pulang sekarang" kata Aish.


"Gue antar, lo nggak bisa nolak lagi" kata Richard sebelum mendengar penolakan dari Aish.


"Oke deh, makasih ya" kata Aish. Mereka berjalan bersama menuju parkiran.


"Lo bilang mau jalan sama teman-teman lo besok? Mau kemana?" tanya Richard saat mereka berdua sudah ada di dalam mobil.


"Oh iya, gue mau lihat Seno syuting" kata Aish.


"Cowok cupu itu syuting?" tanya Richard.


"Iya, cowok cupu itu calon artis sekarang" kata Aish sedikit tidak suka saat Seno diejek.


"Iya, sorry. Besok gue anterin ya" tanya Richard.


"oke" jawab Richard.


"Lo sendiri besok rencananya mau ngapain?" tanya Aish.


"Latihan basket" jawab Richard.


"Oh iya, gimana kabarnya Yopi sama Emily?" tanya Aish.


"Mereka tetap pada pendiriannya, gue nggak mau terlalu ikut campur" kata Richard.


"Lo nggak bisa cegah mereka ya? Memangnya lo nggak khawatir sama keselamatan Emily?" tanya Aish.


"Sudah menjadi keputusan mereka, gue bisa apa?" kata Richard.


"Huft, malah gue yang takut kalau sampai mantan lo tuh kenapa-kenapa" kata Aish.


Richard tersenyum mendengar kata 'mantan' dari mulut Aish. "Kenapa, bukan urusan gue lagi kan?" tanya Richard.


"Susah juga sih memang kalau ada di posisi mereka. Gue nggak habis pikir, dipikir malah nggak habis-habis" kata Aish.


"Memangnya siapa yang nyuruh lo mikir sih?" kata Richard.


"Nggak ada, gue saja yang kebanyakan pikiran. Oh iya, Nama panjang lo siapa sih?" tanya Aish mengalihkan pembicaraan.


"Kenapa memangnya?" Richard bertanya balik.


"Pengen tahu saja, lo kan tahu nama panjang gue, masak gue nggak tahu sih nama panjang lo" kata Aish.

__ADS_1


Richard mengambil dompetnya, mengambil kartu pelajarnya dan menyerahkan pada Aish. "Tuh, lo baca sendiri" kata Richard.


"Richard Putra Hutama, uwah.. Lo lahir di Hokkaido Jepang ya?" kata Aish membaca kartu pelajar Richard.


"Mama gue orang Jepang" jawab Richard, dan Aish hanya mengangguk.


"Bulan depan ujian semester ya, nggak terasa sudah mau setahun gue jadi anak SMA. Kayak baru kemarin gue marahin lo waktu nge-bully Seno. Lo ingat nggak yang waktu itu?" tanya Aish.


"Iya, gue nggak nyangka bakal jatuh cinta sama lo. Cewek pertama yang berani marah sama gue" kata Richard.


"Gue rasa bu Kris lebih sering marah sama lo daripada gue. Kenapa lo nggak jatuh cinta sama bu Kris?" kata Aish polos.


"Cg, terserah lo Khumaira" kata Richard.


"Apaan sih" kata Aish.


"Ya memang nama lo Khumaira kan? Gue suka panggil lo kayak gitu" kata Richard dengan tatapan ke depan, karena dia sedang mengemudi.


★★★★★


"Bang Fian pernah dengar tentang Hutama Group?" tanya Falen, mereka sekarang sedang berada di kantin rumah sakit bersama dengan dokter Retno juga.


"Perusahaan kelapa sawit bukan sih?" tanya Fian.


"Benar bang, bisa nggak kalau kita cari informasi tentang keluarga mereka?" tanya Falen.


"Untuk apa?" tanya Fian.


"Dalam penglihatan gue, wanita itu ada hubungannya dengan salah satu keluarga mereka bang. Dan gue benar-benar melihat bahwa wanita itu kakaknya Aishyah. Terus, bagaimana kalau kita tes dna dari jenazah itu dengan dna Aishyah dokter, apa bisa?" tanya Hendra.


"Kalau kamu yakin Aishyah mau tes dna dengan jenazah itu, saya akan hubungi dokter yang bersangkutan" kata dokter Retno.


"Untuk masalah keluarga Hutama, biar saya yang tangani. Tentunya kamu juga bisa membantu kan Rian?" tanya Fian.


"Gampang itu. Sekarang bagaimana cara kalian berdua untuk bisa mengajak Aish tes dna?" tanya Rian.


"Bagian tubuh mana yang bisa dipakai untuk tes dna, dok ," tanya Falen.


"Banyak, bisa rambut, kuku yang paling akurat sih darah. Tapi kalian tidak bisa seenaknya mengetes dna orang lain tanpa mengajak orang itu" kata dokter Retno.


"Biar nanti jadi urusan saya tentang izinnya, yang penting nanti setelah kami siapkan bahannya, tolong segera dokter lakukan tesnya ya" kata Falen.


"Baiklah, nanti saya akan hubungi dokter yang berwenang untuk melakukannya" kata dokter Retno.


"Berapa lama hasilnya akan keluar?" tanya Hendra.


"Tidak bisa saya pastikan, bisa dua sampai empat Minggu hasilnya keluar" kata dokter Retno.


"Tidak bisakah dipercepat dok? Ini kan urgent" kata Falen.


"Kalian ini mintanya yang cepat semua. Kan butuh proses, yang penting untuk bisa mendapatkan hasil yang akurat kan" kata dokter Retno.


"Huft, baiklah. Dokter benar juga. Secepatnya akan kami berikan sample untuk tesnya ke dokter ya. Setelah tesnya selesai dan hasilnya keluar, tolong segera kabari kami dok. Kami sangat berharap jika jenazah itu bukanlah kak Alif. Kami tidak tahu bagiamana Aish dan bundanya akan bereaksi jika sampai ketakutan kami ini ternyata benar" kata Falen.


"Ya, semoga saja memang bukan dia" kata dokter Retno.


"Semoga" kata Hendra.

__ADS_1


__ADS_2