
Richard benar-benar menjemput Aish, bahkan sebelum Aish menyelesaikan sarapannya cowok itu sudah sampai di depan rumah Aisyah.
"Nduk, temanmu yang semalam sudah datang tuh. Bunda suruh sarapan sekalian ya, kasihan kalau belum sarapan" kata bunda melangkah lagi ke depan sebelum Aish membuka suara.
"Dasar bunda" Aish menggeleng sambil meneruskan sarapannya.
"Hai, gue kepagian ya?" tanya Richard sambil duduk di kursi sebelah Aish.
"Silahkan sarapan dulu, biar nggak kelaparan kalau belajar nanti ya. Bunda tinggal ke belakang dulu, mau lanjutin nyuci" kata bunda.
"Lo nggak apa-apa kan makan kayak gini? gue takut nggak sesuai sama lidah lo" kata Aish sambil memberikan piring pada Richard.
"Gue biasanya sarapan di kantin sih kalau nggak kesiangan" kata Richard sambil menyendok nasi goreng buatan bunda Aish dan menyantapnya.
"Enak juga" kata Richard.
"Bunda yang bikin. Bentar ya, gue ambil tas dulu di kamar. Nasi gue sudah habis" kata Aish berlalu, Richard hanya mengangguk.
Ekor mata Richard memindai ruang makan sederhana ini, setiap pagi pasti sangat menyenangkan bisa sarapan bersama keluarga. Jika dibandingkan dengan dirumahnya, ruang makan yang luas hanya diisi makanan tanpa ada yang mau duduk bersama.
Papa dan mamanya selalu makan diluar, sambil meeting katanya. Sementara kakak-kakaknya yang semuanya adalah laki-laki juga tidak pernah mau sarapan dirumah. Jadi diapun ikut tak mau menyentuh masakan art nya, sarapan di kantin saja.
Sebuah foto terpampang indah di dinding dekat kamar Aish, foto keluarga rupanya. Dua orang paruh baya, Aisyah dan seorang lagi perempuan. Seperti familiar, Richard berusaha mengingat perempuan dalam foto itu, tapi dimana pernah bertemu ya? Hingga Aish keluar dari kamarnya, Richard masih melihat ke arah foto keluarga Aish.
"Lihat apa sih?" tanya Aish.
"Itu foto keluarga lo ya?" tanya Richard.
"Iya, itu almarhum ayah, bunda, kakak sama gue" kata Aish.
"Kakak lo cantik ya?" tanya Richard.
"Iya, cantik banget malah aslinya" kata Aish.
"Yaudah kalau lo sudah selesai, kita berangkat yuk. Takut kena macet kalau kesiangan" kata Aish.
"Ok" kata Richard yang memang telah menyelesaikan sarapannya.
"Bundaaaa.... Aish mau berangkat" teriak Aish.
Bunda keluar dengan tergesa, "kebiasaan, anak gadis tuh nggak boleh teriak-teriak gitu. Ada temannya juga, malu tahu" kata Bunda membiarkan Aish mencium punggung tangannya, rupanya Richard juga mengikuti.
"Lo tuh ya, bibir masih bengkak sudah bisa teriak-teriak rupanya" sindir Richard, Aish hanya cengengesan.
Sampai disekolah, Richard masih berjalan disamping Aish, di sebelah kiri Aish tepatnya. Banyak mata memandang heran pada Aish yang datang ke sekolah bersama Richard. Apalagi mereka berdua terlihat memakai masker.
"Pasti setelah ini bakalan banyak gosip nih" kata Aish.
"Nggak usah didengerin. Biarin aja" kata Richard santai.
__ADS_1
Tiba-tiba sebuah tangan merangkul pundak Aish. Pasti Falen pelakunya, satu-satunya pria yang berani melakukan itu hanya dia seorang.
"Aduuuhhhh" kata Aish yang mendapat rangkulan tepat si punggung dan bahunya yang cidera.
"Eh.. sorry.. sorry" kata Falen melepas rangkulannya dan memandangi Aish dan Richard bergantian.
"Lo kenapa Ai? kenapa memar gitu mata lo? terus juga ngapain pakai masker segala sih?" tanya Falen.
"Nggak apa-apa. Lo nggak usah khawatir, udah mendingan ini" kata Aish memegangi pundaknya yang masih terasa nyut-nyutan.
"Kata teman-teman kalian datangnya barengan ya? Tumben?" tanya Falen.
"Lo kepo banget sih. Gue duluan ke kelas gue ya Aishyah" kata Richard.
"Iya, makasih ya Richard" kata Aish.
Sementara Falen melotot pada Richard yang mengatainya Kepo.
"Sudah jangan melotot, bisa keluar biji mata lo Fal" kata Aish.
"Richard sih, lagian kalian kenapa bisa kompak pakai masker gitu sih?" tanya Falen yang masih kepo, mereka sudah duduk di kursi masing-masing di kelasnya.
Seno yang baru datang juga kepo mendengar pertanyaan Falen pada Aish, diapun ikut menyimak dengan khusuk.
Aish pun menjelaskan pada kedua temannya perihal kejadian yang menimpanya semalam, hingga Richard yang kebetulan datang menolongnya.
Kedua temannya menyimak dengan serius hingga Hendra datang, pertanda bel akan segera berbunyi.
"Lo sih datangnya kepagian" kata Seno.
"Cg, gue tuh on time" kata Hendra membela diri.
"Iya, terserah lo" kata Falen.
"Jadi kenapa nih? Mata lo kenapa Ai?" tanya Hendra.
"Haduuhh ... bibir gue masih sakit kalau harus cerita ulang" kata Aish.
"Oh iya, semalam dokter yang meriksa gue tuh nanyain anak yang bernama Brian gitu. Setahu gue nggak ada ya yang namanya Brian yang seangkatan sama kita?" tanya Aish pada teman-temannya.
Falen sedikit terkejut, mungkinkah yang dokter itu tanyakan adalah dirinya?
"Siapa nama dokternya?" tanya Falen.
"Kayaknya dokter Siras kalau nggak salah, sepintas gue lihat name tag nya, nggak yakin juga sih gue" kata Aish.
"Nggak tahu gue" kata Falen.
"Lo kok jadi aneh gitu sih? atau jangan-jangan Brian itu?" Aish menggantungkan kata-katanya seolah berfikir.
__ADS_1
"Udah nggak usah mikir macem-macem. Sudah bel, bentar lagi pasti gurunya dateng, jadi mendingan sekarang lo siapin pelajarannya" kata Falen.
**********
Sore sepulang sekolah, Aish yang sedang berdiri ditemani Hendra sedang menunggu angkot 07, sebenarnya Falen bersedia mengantar Aish pulang, tapi gadis itu menolak karena rumah mereka yang berlawanan arah. Aish tidak mau dianggap memanfaatkan teman-temannya demi kepentingannya sendiri.
Sebuah mobil berhenti didepan mereka, rupanya Richard. "Ayo gue anterin pulang" katanya setelah membuka jendela mobilnya.
"Eh.. nggak usah, gue pulang diantar Hendra aja nih" kata Aish, dia tidak mau terus merepotkan Richard.
"Yakin nggak mau bareng gue?" tanya Richard lagi.
"Iya benar, nih Hendra sudah siap daritadi. Tapi memang kita masih ngobrol aja daritadi" kata Aish.
"Yaudah kalau gitu. Gue duluan ya" kata Richard.
"Iya... Dah Richard" kata Aish melambaikan tangan pada Richard.
"Yaudah ayo naik" kata Hendra setelah Richard pergi.
"Gue naik angkot aja Hen,takut ngrepotin lo. Gue tadi cuma nyari alasan biar nggak ngrepotin Richard lagi" kata Aish.
"Karena lo sudah bilang mau pulang bareng gue, jadi lo harus bareng gue. Sudah cepetan naik, angkotnya juga nggak ada kan" kata Hendra.
Aishpun mau tak mau jadinya pulang bersama Hendra dengan motor sport hitamnya.
Diperjalanan, Aish dan Hendra berhenti karena lampu merah sedang menyala, tanpa mereka ketahui sepasang mata memandangi mereka dari sebuah mobil.
Ya, dia adalah Richard yang merasa aneh dengan kedekatan Hendra dan Aish. Mereka terlihat senang saat bercanda dan tertawa diatas motor hitam itu. Sementara yang diawasi benar-benar tidak menyadari.
Sebenarnya Aish yang duduk dibelakang Hendra tidak langsung menempel, karena ada tas punggung Hendra dan juga tas punggung Aish yang diletakkan didepan, sebagai pembatas. Tapi Hendra merasa tidak suka melihat Aish yang seperti bahagia dengan cowok lain.
Richard jadi merasa aneh dengan dirinya sendiri. Bagaimanapun mereka berdua adalah sahabat, tapi rasa tidak suka itu membuat moodnya jadi benar-benar jelek sore itu.
Sampai dia datang ditempatnya berkumpul bersama teman-temannya sendiri, Reno dan Yopipun, dia masih saja uring-uringan membuat kedua temannya memandang heran.
"Lo tuh kenapa sih? tumben banget ngeselin. Lagi pms lo ya?" ledek Reno.
"Diem lo kerdil" kata Richard.
"Weits, pake ngatain segala. Lo lagi marahan sama Emily?" tanyanya lagi.
"Tau ah" kata Richard meninggalkan kedua temannya menuju keluar, dia duduk sendiri di teras rumah Reno, memandangi taman yang ada di halaman luas.
Reno dan Yopi hanya mengendikkan bahu, melanjutkan kegiatan mereka sebelumnya, main ps.
.
.
__ADS_1
.