Cantik, Kok Minder?

Cantik, Kok Minder?
sidang ditunda


__ADS_3

"Tunggu pak hakim" kata Tomy yang membuat Hakim itu menunda putusannya.


"Iya, saudara Tomy. Bagaimana?" tanya Hakim.


******


"Saya waktu itu disuruh oleh seseorang, pak" kata Tomy yang sudah sangat merasa bersalah, dia ingin mengaku saja kali ini.


"Siapa yang menyuruh anda?" tanya Hakim.


"Majikan saya, pak" jawab Tomy.


"Majikan yang mana?" tanya Hakim lagi.


"Majikan perempuan saya, pak" kata Tomy yang akhirnya mengakui siapa dalang dari semua ini.


Bagai tersambar petir, Willy menoleh pada istri yang duduk di sampingnya. Tatapan penuh tanya tergambar dari sorot mata lelaki itu.


Helda tetap terlihat santai, dia sudah mengira akan seperti ini. Awalnya dia hanya berniat memberi sedikit pelajaran pada madunya itu.


Lain lagi dengan Aish. Mendengar penuturan Tomy, sebagian hatinya merasa senang karena terbukti jika Willy tidak bersalah. Sebagian dirinya merasa malu karena sempat mencurigai Willy.


Falen memegang pundak Aish untuk memberikan dukungan, dia ingin sahabatnya tetap tenang.


"Siapa dia?" tanya Hakim membuyarkan lamunan Aish.


"Nyonya Helda, pak hakim" jawab Tomy menunduk lesu.


"Kenapa anda mau melakukan itu?".


"Karena waktu itu saya sedang butuh banyak uang untuk biaya persalinan istri saya, pak" jawab Tomy.


"Kenapa anda baru mengakuinya sekarang?".


"Saya ragu untuk mengaku karena saya masih berharap jika nyonya Helda masih mau menolong saya agar bisa terbebas dari hukuman, pak" jawab Tomy.


"Apa yang meyakinkan anda jika nyonya Helda akan menolong anda?" tanya Hakim.


"Karena kami juga mempunyai hubungan di luar pekerjaan saya sebagai supir pribadinya, pak" kata Tomy yang semakin membuat Willy bertambah geram.


"Bohong, pak. Semua yang dia katakan itu hanya bualan saja" teriak Helda dari tempatnya, dia sampai berdiri dan menunjuk-nunjuk Tomy dengan emosi.


"Tenang, saya harap semuanya tenang" kata Hakim.


Polisi sudah mendatangi Helda, dicekalnya kedua lengan Helda yang tentu berontak karena merasa tidak terima.


"Tenang, Hel. Kenapa kamu bisa semarah ini?" tanya Willy. Setahunya, Helda adalah wanita yang lembut dan sopan.


"Ini semua gara-gara kamu mas. Kamu yang menyebabkan aku melakukan ini semua pada wanita brengsek itu. Dia sudah merebut kamu, merebut semuanya dariku" kata Helda yang terus mengomel dan mengeluarkan kata-kata kotor untuk Willy dan Alif.


Willy merosot dalam, duduknya sudah tak beraturan. Pantas saja semuanya seolah tumpul, tentu saja sangat sulit menemukan penjahatnya jika dia yang selalu ada di sampingnya.


Helda tahu semua pergerakan Willy, tentu saja itu sangat menyulitkannya untuk mencari dalang pembunuhan Alif.


Suasana sidang semakin ricuh, Helda yang tidak terima saat ditangkap polisi terus saja memberontak dan mengeluarkan kata-kata kotor.


"Harap tenang semuanya" kata Hakim yang akan mengumumkan sesuatu.


"Karena sidang tidak bisa berjalan dengan kondusif, maka saya putuskan untuk meneruskan jalannya sidang esok hari, pagi jam sepuluh" Tok... Tok... Tok...


Akhirnya sidang ditunda lagi, Aish harus menunggu lagi. Kebenaran jika Helda yang menjadi dalangnya sudah terungkap.


Menyisakan tanya, mengapa Helda setega itu sampai berinisiatif untuk menghabisi Alif?


Di sisi lain, hubungan Aish dengan Richard tentu bisa dipertimbangkan lagi. Tapi, untuk hari ini, kira-kira kemana Richard pergi?


Bukankah dia berjanji akan datang? Atau mungkin dia sudah lelah hingga memutuskan untuk mundur juga?


Semua masih tanda tanya dalam benak Aish.


Biarlah waktu yang menjawabnya. Aish hanya bisa menjalani takdir tanpa boleh mengeluh.


"Mas Willy?" tanya Aish saat mendapati Willy mendatanginya.


Sidang sudah diakhiri beberapa saat yang lalu, Tomy dan Helda sudah digiring oleh pihak yang berwajib.


Saat itu Aish dan teman-temannya sudah bersiap untuk pulang saat Willy datang menghampiri.


"Maafkan saya ya, Aishyah" kata Willy dengan tampang lesu.


"Iya, mas" kata Aish.


"Saya pulang duluan ya, kamu hati-hati di jalan saat pulang" kata Willy yang kemudian melangkahkan kakinya keluar ruang sidang.

__ADS_1


"Sudah, ayo pulang" ajak Falen.


Mereka juga pergi, besok akan datang lagi ke tempat ini. Semoga semua bisa berakhir esok hari.


★★★★★


"Ada pendarahan di dalam kepala pasien, perlu tindakan operasi secepatnya. Apakah pihak keluarga bisa menandatangani surat ini untuk mempercepat tindakan?" tanya dokter yang menangani Yopi.


"Keluarganya masih belum bisa dihubungi, dok. Apa boleh jika kami saja yang menjamin dan bertandatangan? Masalah biaya, nanti kami yang akan menanggungnya" kata Richard yang sudah sangat khawatir.


"Bisa saja, yang penting pasien bisa segera ditangani" kata Dokter.


"Baiklah dokter" Richard dan Reno menjadi penjamin operasi Yopi saat itu.


Setelah dokter pergi, mereka segera menuju ke bagian administrasi untuk melakukan pembayaran.


"Lo pakai uang ortu ya buat biayain operasi Yopi?" tanya Reno yang heran karena Richard mau membayarkan operasi Yopi yang nominalnya cukup besar. Meskipun orang tua Reno juga orang berada, tapi tabungannyapun masih belum cukup untuk itu.


"Gue dapat warisan dari kakek, biar pakai uang itu dulu. Yang penting Yopi selamat" kata Richard.


"Bangga gue punya teman kayak lo, Ri. Biarpun suka marah-marah tapi lo baik juga ya" kata Reno menepuk pundak Richard.


"Setelah operasinya berhasil, kita temui orang tua Yopi, ya? Gue penasaran kenapa mereka sampai nggak bisa dihubungi" kata Richard.


"Iya, nanti gue temeni" kata Reno.


Mereka berdua kembali ke ruang tunggu di depan kamar operasi. Lampu menyala tanda Yopi masih mendapatkan tindakan.


Reno berjalan mondar-mandir sambil memegang dagu. Memikirkan banyak opsi tentang Yopi yang jadi seperti ini.


"Atau mungkin sebenarnya dia ketemu begal, terus diambil kendaraannya, terus dibuang di depan rumah lo, Ri?" tanya Reno ke sekian kali, entah darimana dia mendapatkan kemungkinan seperti itu.


"Begalnya lo, karena tahu rumah gue dan tahu kalau Yopi teman gue" jawab Richard.


"Masak sih bokapnya yang tega menghajar Yopi sampai pendarahan kayak gitu? Dia itu anaknya loh" kata Reno lagi.


"Gue nggak tahu, boncel. Lo bisa nggak sih diem, terus duduk manis saja. Capek gue lihat lo yang mondar-mandir daritadi" kata Richard emosi karena Reno yang tidak bisa diam.


Reno mengalah, lelah juga dia rupanya. Duduk disamping Richard membuatnya semakin terlihat kecil saja.


Hampir empat jam Richard dan Reno duduk didepan ruang operasi, mereka bahkan tertidur karena terlalu bosan menunggu.


Akhirnya lampu di depan kamar operasi sudah padam, saat pintu dibuka dari dalam, dokter yang keluar sedikit tersenyum melihat dua remaja yang setia menunggu temannya.


"Dek, bangun" kata suster sambil menggoyang pelan bahu Richard.


Merasa terganggu, Richard mudah saja terbangun dari tidurnya.


Dia mengerjap sebentar, lalu mengedarkan pandangan. Saat mendapati dokter didepannya, dia segara berdiri.


"Bagaimana operasinya, dokter? Kenapa lama sekali?" tanya Richard.


"Semua berjalan lancar, teman kamu sudah melewati masa kritisnya. Sebentar lagi akan dipindahkan ke ruang rawat. Kalian bisa menemaninya nanti" kata Dokter.


"Syukurlah kalau begitu. Berapa lama kira-kira perawatannya dok?" tanya Richard.


"Mungkin dalam satu minggu ini. Dia harus dalam pengawasan kami setelah menjalani operasi yang serius" kata dokter.


"Baiklah, saya permisi dulu ya" kata dokter itu berlalu setelah menepuk pelan pundak Richard.


"Biar gue yang bayarin kamar inapnya, kayaknya tabungan gue cukup kalau hanya membayar kamar rumah sakit. Asal jangan yang kelas VIP saja" kata Reno yang masih duduk ditempatnya.


Richard menoleh pada Reno, ternyata dia mau juga membantu. "Boleh, ruang kelas satu rasanya tidak terlalu buruk" kata Richard.


Tak lama, mereka melihat seorang suster kembali menghampiri.


"Mau dirawat di ruang kelas berapa?" tanyanya.


"Kelas satu saja, sus" jawab Reno.


"Baiklah, segera akan kami pindahkan setelah mendapatkan kamarnya, ya. Kalian tunggu sebentar disini" kata suster itu, dia kembali masuk ke dalan ruang operasi.


Sepuluh menit berlalu, Yopi didorong keluar dengan brankar yang dilengkapi beberapa alat penunjang kehidupan.


Kedua matanya masih tertutup rapat dangan perban memenuhi seluruh kepalanya. Wajahnya juga dipenuhi luka lebam yang sudah membiru.


Richard dan Reno mengikuti arah suster yang membawa Yopi. Kamar kelas satu yang hanya diisi oleh satu orang pasien meski tidak terlalu luas.


"Suster, boleh saya titip Yopi sebentar? Kami mau ke rumahnya untuk mengabari langsung pada orang tuanya. Karena dari tadi kami belum bisa menghubungi mereka" kata Reno.


"Iya, bisa. Saya akan menjaga teman kalian dengan baik" kata suster itu sambil curi pandang pada Richard yang hanya diam saja daritadi.


"Susternya cantik bro, tapi sialnya cuma lo yang dilihatin dari tadi. Sialan memang" kata Reno saat mereka berjalan bersama di lorong rumah sakit.

__ADS_1


"Bodo amat" kata Richard yang berjalan lurus tanpa memperdulikan ocehan Reno.


"Iya, gue paham kalau buat lo cuma Aishyah sang princess yang paling cantik sedunia" cibir Reno yang mengingatkan Richard jika seharian ini dia telah melupakan pujaan hatinya.


"Sial, gue lupa ada janji sama dia, boncel" kata Richard yang berhenti mendadak.


Segera dia berusaha menghubungi Aish, tapi gagal karena ponselnya tidak aktif.


"Ngambek nggak sih dia? Kenapa hapenya nggak aktif ya?" gumam Richard memandangi layar ponselnya


"Bucinnya diterusin nanti bisa kan ya? Masalah kita lebih serius loh, tentang hubungan bapak dan anak" kata Reno menyindir Richard yang masih sibuk dengan hapenya.


"Cg, iya boncel" Richard mendecak kesal, lalu melanjutkan langkahnya. Meninggalkan Reno yang tertinggal di belakangnya. Tentu banyak kata mutiara yang keluar dari mulut Reno melihat kelakuan Richard yang menyebalkan.


Kedua sahabat itu tiba di rumah Yopi, gerbang berwarna hitam yang tinggi menjulang menghalangi pandangan untuk menelisik isi di dalamnya.


Richard mengklakson mobilnya agar penjaga gerbang itu tahu kalau sedang ada yang datang.


Seorang satpam datang menghampiri, menanyakan keperluan kedua remaja itu bertamu.


Tak lama satpam itu datang lagi setelah mendapat izin dari sang pemilik rumah dan mempersilahkan keduanya masuk.


Gerbang dibuka lebar agar Richard bisa memasukkan mobilnya ke dalam.


Setelah mematikan mesinnya, Richard turun dengan Reno yang setia mengekor padanya.


Tanpa mengetuk pintu, sudah ada art yang mempersilahkan mereka berdua masuk. Ternyata ayah Yopi sudah menunggu, beliau duduk dengan gagah di ruang tamunya dengan pakaian dinas yang masih melekat di tubuhnya.


Ayah Yopi adalah seorang petinggi TNI, didikan keras militer yang membuat Yopi sering mangkir dan pergi dari rumahnya.


"Jadi, apa tujuan kalian kemari?" tanya Ayah Yopi tegas setelah kedua tamunya duduk.


"Yopi masuk rumah sakit, om. Baru saja selesai operasi" kata Richard tegas.


"Heh, biarkan saja. Saya sudah mengusirnya sejak kemarin. Dia sudah sangat mempermalukan keluarga ini. Sudah menjadi keputusan saya untuk tidak mengurusi lagi hidupnya yang tidak bisa diatur" kata Ayah Yopi.


"Bagaimanapun, dia tetap anak om. Apa om tega kalau sampai terjadi sesuatu padanya?" tanya Reno.


"Saya sudah tidak perduli sama dia, dia bukan lagi bagian dari keluarga kami. Jadi, percuma kalian datang kemari. Kami tidak akan pernah mengurus anak sialan itu lagi".


"Kalau sudah tidak ada lagi yang mau disampaikan, tolong kalian segera keluar dari rumah saya. Dan jangan harap kalau saya akan sudi untuk membiayainya, saya tidak sudi punya anak seperti dia" kata ayah Yopi yang kemudian melangkah masuk kedalam rumahnya.


Meninggalkan Richard dan Reno dalam kebingungan. Dengan berat hati, keduanya memilih untuk pergi dari sana. Percuma mereka datang. Keangkuhan orang tua yang tidak pernah mau mendengarkan keinginan anaknya, malah membuat anak menjadi lebih susah untuk diatur.


"Gimana, Ri?" tanya Reno.


"Kita ke rumah Emily" kata Richard melajukan mobilnya ke tempat tujuan.


Hari ini dia harus tahu apa yang terjadi pada sahabatnya. Terlepas orang tuanya mau atau tidak untuk mengurus Yopi, Richard akan tetap menjadi teman baiknya.


Tiga puluh menit berlalu, mobil Richard sudah memasuki pekarangan rumah Emily. Suasana asri menyambut kedatangan mereka.


Beberapa pohon tumbuh besar disana, membuat udaranya semakin nyaman.


Richard mengetuk pintu, ternyata Emily sendiri yang membukanya. Mata Emily masih sembab, tak ada senyum sari wajahnya.


Dia mengajak Richard dan Reno duduk di bangku taman di depan rumahnya.


"Bagaimana keadaan Yopi?" tanya Emily.


"Dia baru selesai operasi" kata Richard. Terlihat Emily sempat kaget mendengar berita itu.


"Separah itu?" tanya Emily yang sudah terisak.


"Apa yang terjadi, Em?" tanya Richard.


Emily semakin terisak, kedua tangannya menangkup wajah cantik yang rambutnya teruari di malam itu.


Richard dan Reno saling pandang, menunggu Emily sedikit tenang agar bisa menceritakan kejadian yang telah mereka berdua hadapi.


.


.


.


.


Vote seikhlasnya, like semampunya, komen seadanya...


Biar saya semangat updatenya...


salam sehat semuanya❤️❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2