
"Sudah ya Nin, jangan nangis lagi. Lo bakalan baik-baik saja kok" kata Aish yang masih dipeluk erat oleh Nindi.
"Aku takut, Aish" suara Nindi masih tertelan tangisannya.
"Lo tenang ya, gue sudah bilang sama bang dokter buat kasih yang terbaik buat lo. Gue yakin lo wanita yang kuat. Dan lo harus kuat, demi masa depan lo sendiri. Gue akan selalu ada di samping lo" kata Aish yang masih berusaha menguatkan Nindi.
"Makasih banyak ya, Aishyah. Aku ndak tahu lagi harus bagaimana" kata Nindi yang sudah mengurai pelukannya.
Mereka berdua duduk diatas brankar rumah sakit, hingga seorang suster datang bersama Dokter Siras.
"Ehm" Siras berdehem karena tak tahu harus mengawali seperti apa.
Aish menoleh, segera dia bangkit dan berdiri di samping Nindi yang masih sesenggukan.
"Kamu akan segera diperiksa oleh dokter kandungan, kalau kondisinya memungkinkan, maka proses kuret akan segera dilakukan" kata Siras memberitahukan Nindi.
Nindi terkejut, dia mendongak menghadap Aish dengan tampang penuh tanya.
Mata Aish memerah, dia ingin menangis melihat Nindi seperti ini. Sebisa mungkin Aish juga menahan air matanya.
Aish mengelus pundak Nindi, memberi kekuatan dari tangannya.
"Lo harus segera pulih, Nin. Kita harus lulus di ujian nasional" kata Aish.
Siras tersenyum melihat perlakuan Aish yang begitu tulus pada teman-temannya.
"Saya tak pernah salah karena selalu menyimpan rasa padamu, Aishyah" kata Siras dalam hatinya, dia selalu terpesona pada Aishyah yang jauh lebih muda darinya.
Seorang dokter wanita datang setelah beberapa saat Siras disana. Siras berbincang singkat dengannya, entah apa yang mereka perbincangkan. Dokter kandungan itu terlihat menatap serius pada Siras dengan wajah yang tak bisa Aish mengerti.
Kedua dokter itu mendekat, Aish bersiap mendengar penuturan dari mereka.
"Tolong tinggalkan pasien sendiri ya, Aishyah. Kami akan segera memeriksanya" kata Siras.
Nindi mengeratkan pegangannya pada tangan Aish, kepalanya menggeleng samar dengan mata nanar.
"Nggak apa-apa, lo harus mau Nin. Ingat, sebentar lagi kita ujian. Lo harus segera sehat" kata Aish mengurai pegangan tangan Nindi.
Selanjutnya dia berpamitan pada Siras dan dokter kandungan yang akan menangani Nindi.
Diluar, Aish sudah ditunggu oleh Yopi dan guru olahraga mereka.
"Gimana Nindi, Sya?" tanya Yopi khawatir.
"Nggak apa-apa, tadi dia lagi datang bulan, pak. Terus perutnya kena lemparan bola. Kata dokter agak fatal, sih. Jadi masih harus dirawat. Memang kondisinya juga lagi sakit sejak kemarin. Iya kan Yop?" kata Aish mencari penguat dari pendapatnya.
"Oh, begitu. Berarti langkah kita untuk membawa Nindi ke rumah sakit sudah benar, ya" kata pak guru.
"Iya, pak" kata Aish cemas, tapi dia masih diam saja. Ada waktu tersendiri untuk bertanya pada Yopi.
"Kalau bapak masih ada urusan sama ujian di sekolah, biar Aish sama Yopi yang nungguin Nindi disini pak" kata Aish yang melihat pak guru masih bingung dengan anak muridnya yang lain.
"Nggak apa-apa, biar bapak juga nungguin Nindi saja" kata pak guru yang sebenarnya terkendala kendaraan untuk kembali ke sekolah.
Tadi kan beliau ikut mobil Yopi, dan sekarang beliau bingung untuk kembali ke sekolah. Hanya saja pak guru terlalu malu untuk bercerita, jadi lebih baik ikut menunggu Nindi yang sedang ditangani dokter saja.
Satu jam berlalu, suster datang mencari Aish yang masih setia menunggu di depan IGD bersama Yopi dan gurunya.
"Aishyah, dokter Siras mau bicara sama kamu" kata suster yang masih mengenali Aish sejak masa praktek PMR dulu.
"Iya suster" kata Aish, beranjak dari tempatnya.
"Pak, saya masuk dulu ya" kata Aish.
"Boleh saya ikut masuk, sus? Saya juga mau tahu keadaan murid saya" kata pak guru.
"Tapi dokter bilang cuma mau bertemu sama Aishyah saja, pak. Biar nanti Aishyah yang memberi tahu kabar pasien pada bapak, ya" kata suster itu dengan sopan.
"Baiklah" kata pak guru pasrah. Agak aneh memang, seharusnya dialah yang berhak masuk.
Tapi sekarang bukan waktu yang tepat untuk mempermasalahkannya.
Ponsel Yopi berdering, terlihat Richard melakukan panggilan padanya.
"Hallo, Ri. Kenapa?" tanya Yopi.
"Aishyah kemana sih, gue telpon daritadi tapi nggak diangkat" kata Richard.
Yopi melihat jam tangannya, memang sudah waktunya istirahat. Pantas saja pak bos nyariin ibu negara.
"Kayaknya Aish nggak bawa hape deh, Ri. Kita lagi di rumah sakit" kata Yopi.
__ADS_1
"Aishyah sakit?" tanya Richard, nada suaranya terdengar terkejut.
"Bukan, Aishyah baik-baik saja. Nindi yang lagi dirawat, tadi pingsan waktu olahraga" kata Yopi.
Richard menghela napas lega, dia kira Aish yang sedang sakit.
"Rumah sakit mana? Nanti biar Aish gue jemput" kata Richard.
"Persada" kata Yopi.
"Sialan, lo kenapa bawa Aish ke rumah sakit itu lagi sih, Yop? Memangnya nggak ada rumah sakit lainnya?" keluh Richard, pasti sekarang Aish sedang bertemu Siras.
"Yang dekat kan cuma rumah sakit ini, Ri. Lagian kenapa sih" tanya Yopi.
"Lo harus jaga Aish baik-baik, jangan sampai lo tinggalin dia sendirian. Bahaya disana itu, lo bego banget sih" kata Richard yang tak bisa meninggalkan jam sekolah untuk menjaga Aish.
Diapun sedang disibukkan dengan ujian sekolah.
"Iya bawel. Lo parnoan banget, nggak akan ada yang ngambil Aish. Dia kan bawel, sama kayak lo" ejek Yopi.
"Awas lo Yop. Gue potong gaji lo bulan ini" ancam Richard.
"Sorry deh, bro. Lo ngancamnya nggak enak banget sih" kata Yopi.
Richard langsung saja mematikan sambungan teleponnya.
"Kebiasaan buruk Richard, ngambek nih pasti" gumam Yopi.
Sedangkan di dalam IGD, Aish sedang berhadapan dengan dokter Siras dan dokter kandungan yang menangani Nindi.
"Bagaimana, dok?" tanya Aish.
"Kondisi pasien baik, bisa segera dilakukan kuret secepatnya" kata dokter.
"Kalau kuretnya hari ini juga apa bisa, dok? Soalnya Nindi masih harus ikut ujian Nasional, dan itu sangat penting bagi kami. Bisa ya dokter?" rengek Aish pada dokter itu.
"Kalau hari ini sepertinya tidak bisa, bagaimana kalau besok sore saja?" tanya dokter.
"Lebih cepat lebih baik, dok. Saya mohon sama dokter, saya cuma mau teman saya juga lulus ujian, dokter" kata Aish.
"Apa jadwal dokter masih padat?" tanya Siras.
"Tolonglah dok, saya mohon sama dokter" kata Aish masih merengek, beruntung ada Siras yang mendukungnya.
"Ehm... Baiklah, tapi nanti malam ya, Aishyah. Pasien saya yang lain juga butuh penanganan" kata dokter itu.
"Alhamdulillah, iya dok. Tidak apa-apa, biar saya urus administrasinya dulu" kata Aish dengan lega.
"Iya, kalau begitu biarkan teman kamu berada di IGD ya Aishyah. Dia harus menjalani serangkaian prosedur sebelum kuret" kata dokter.
"Iya, dok. Terimakasih" kata Aish membiarkan dokter itu berlalu.
"Saya permisi ya, bang dokter. Terimakasih sudah mau menolong teman saya" kata Aish yang tidak suka berlama-lama jika hanya berdua dengan Siras.
"Iya, jangan lupa janji kamu. Akan saya tagih setelah kamu lulus ujian, Aishyah" kata Siras saat Aish sudah berjalan beberapa langkah darinya.
Aish sedikit menghentikan langkahnya, menoleh sebentar pada Siras tanpa memperlihatkan ekspresi apapun. Dan melanjutkan langkahnya dengan perasaan bimbang.
"Apa yang dokter katakan, Sya?" tanya Yopi yang melihat Aish keluar dengan wajah murung.
"Nggak apa-apa, Yop. Sekarang harus bayar administrasi dulu" kata Aish.
"Oh, iya. Dari pihak sekolah sudah diberikan anggaran untuk biaya rumah sakit Nindi. Karena kecelakaan terjadi di lingkungan dan saat jam pelajaran berlangsung, maka pihak sekolah memberi anggaran sepenuhnya untuk biaya rumah sakit Nindi. Jadi kamu tidak perlu khawatir lagi ya, Aishyah" kata pak guru.
"Alhamdulillah, iya pak. Tapi bapak jangan terkejut kalau nanti di nota rumah sakit tertera biaya untuk kuret ya, pak. Karena memang ada masalah dengan rahim Nindi akibat terkena lemparan bola tadi. Jadi, rahim Nindi harus dibersihkan. Begitu yang saya dengar dari pernyataan dokter, pak " Aish menjelaskan terlebih dahulu.
Dia hanya takut jika nantinya nota yang sudah diterima akan menjadi masalah baru jika tidak segera dijelaskan terlebih dahulu.
"Oh, begitu ya. Jadi bola tadi membuat masalah untuk Nindi, ya. Kasihan anak itu" kata pak Guru.
Aish lega jika pak Guru mau mempercayainya. Tapi dalam hati, Aish jadi merasa kecewa karena harus berbohong untuk menutupi masalah yang sedang Nindi hadapi.
"Yasudah, biarkan saya saja yang mengurus masalah administrasinya dulu. Kalian tunggu disini, ya" perintah pak guru.
"Iya, pak" kata Aish dan Yopi kompak.
Kini, Aish sudah memandang tajam pada Yopi. Beribu pertanyaan ingin disampaikannya.
Yopi tiba-tiba merasa keadaan berubah horor saat melihat tatapan ibu negara yang sangat tajam. Perasaannya sudah berubah, seperti menjadi narapidana.
"Kamu sudah berbuat terlalu jauh ya, dengan Nindi?" tanya Aish lirih, tapi tajam.
__ADS_1
"Ma. Ehm. Mak. Maksud lo apaan sih? Gue nggak ngerti" kata Yopi yang terlalu takut, dia sampai gugup.
"Nggak usah ngelak lagi lo, Yop. Sekali lagi gue tanya sama lo. Kalian sudah berbuat apa?" tanya Aish masih dengan tatapan membunuh.
"Gue nggak ngelakuin apapun, Sya. Gue sama Nindi cuma teman doang, nggak lebih. Memangnya kenapa sih? Apa yang terjadi sama Nindi sampai lo tanya yang aneh-aneh sama gue?" kata Yopi heran.
Tadi Aish bilang Nindi cuma terkena lemparan bola, tapi kenapa sekarang malah menuduhnya macam-macam?
"Oke, sekarang lo masih aman Yop. Gue masih menghargai adanya pak guru yang nungguin Nindi juga. Tapi besok, awas saja lo ya. Jangan sampai lo kabur dari gue besok" ancam Aish dengan bapas memburu, dia sangat ingin menghajar wajah Yopi yang sok polos.
"Ehm, tadi Richard telpon gue. Dia nyariin lo" kata Yopi mengalihkan pembicaraan, berharap Aish akan lupa dengan ancamannya.
"Pasti dia mau kesini" tebakan Aish sangat tepat.
"Iya, kok lo bisa tahu? Uwah, kalian memang pasangan yang cocok" goda Yopi dengan senyum menggodanya.
Tapi tak membuat wajah Aish menerbitkan senyumnya, masih masam saja.
"Lo nggak usah nyari bahan lain, Yop. Pokoknya lo harus siap-siap besok, ya. Jangan sampai lo kabur, awas lo ya" masih saja Aish mengancam Yopi.
Bahkan dia sudah menunjuk-nunjuk Yopi dengan tangannya. Sebenarnya Aish sudah terlalu kecewa padanya, tapi harus sabar dulu. Masih ada pak guru disini, dan juga Nindi belum mau buka suara.
Kalau semua sudah jelas, Aish harus melakukan sesuatu pada sahabat dari pacarnya ini.
Aish terdiam, mulutnya komat-kamit membaca istighfar. Hatinya terlalu panas saat berdekatan dengan manusia yang ditemani setan semacam Yopi ini.
Sebenarnya Aish sudah tak sabar menunggu hari esok, saat dia yakin bisa melampiaskan amarahnya.
"Kamu kenapa Aishyah, muka kamu kok muram sekali?" tanya pak guru setelah selesai dengan kegiatan administrasi.
"Nggak apa-apa, pak. Barusan habis lihat setan" gerutu Aish dengan pandangan pada Yopi.
"Kenapa ngomong setannya ngelihatin gue sih? Ganteng gini disamain sama setan" Yopi tak kalah menggerutu.
"Sudah-sudah, kalian ini kenapa jadi berantem sih. Ngomong-ngomong, mahal juga ya biaya rumah sakit Nindi" kata pak Guru sambil melihat nota print out pembayaran rumah sakit.
Aish dan Yopi menoleh pada pak guru, memandangnya dengan tatapan malas.
"Rumah sakit elit, pak. Kalau mau murah ya ke puskesmas saja" kata Aish.
"Lagian juga dibayarin sekolah, kenapa pak guru yang keberatan?" tanya Yopi.
"Hehe, iya juga ya. Nggak ikut bayar kenapa saya jadi repot" kata pak guru bersiap menyobek notanya.
"Eh, kenapa mau di sobek pak? Jangan dong" kata Aish refleks merebut nota itu dari tangan pak guru.
"Tau nih pak guru, nanti kalau nggak ada bukti nota, bisa-bisa pak guru yang disuruh bayar semua biayanya. Gimana sih" kata Yopi yang lega karena Aish sudah berhasil merebut notanya.
"Oh iya, hehehe. Lupa saya, makasih ya kalian sudah menyelamatkan dompet pak guru. Kalau tidak, bisa-bisa istri saya marah sampai hari kiamat menjelang" kata pak guru sambil mengusap dadanya lega.
"Makanya, hati-hati dong pak" kata Aish.
"Iya-iya, sekali lagi makasih lo, Aishyah. Sini notanya, biar saya kantongin saja. Nanti saya laporkan ke TU biar nggak jadi salah paham" kata pak guru.
Aish kembali menyerahkan nota itu pada pak guru, dan saat netranya bertemu dengan netra Yopi. Kembali amarah itu meninggi, ya Allah... Rasanya tangan Aish sudah sangat gatal untuk meninju wajah tampan yang penuh kemaksiatan milik Yopi ini.
"Kenapa sih, Sya. Lo emosian banget kalau lihat muka gue" kata Yopi masih belum menyadari kesalahannya.
Bukannya mau menuduh, memang Aish belum menanyakan lebih lanjut pada Nindi tentang siapa lelaki yang sudah beraninya menanam benih di rahimnya.
Tapi dari yang selama ini Aish amati, memang Yopi dan Nindi sering terlihat bersama, dan tidak pernah mau mengakuinya saat Aish bertanya.
Aish melihat jam tangannya, masih panjang waktu yang dia punya untuk tetap berada di rumah sakit ini sampai Richard menjemputnya nanti.
"Sudah adzan dhuhur pak, saya mau ke masjid seberang saja ya. Mau solat dulu" kata Aish minta izin.
"Saya juga mau solat dulu. Kamu mau kan gantian untuk menunggu Nindi disini, Yop?" tanya pak guru.
"Mau dong pak. Bapak sama Aish kalau mau solat berlama-lama juga nggak apa-apa, sekalian menginap di masjid juga lebih aman buat saya" kata Yopi yang masih merasa risih pada tatapan membunuh dari Aish.
"Awas lo Yop. Jangan berpikir buat lari dari gue" kata Aish sebelum melangkahkan kakinya lebih jauh.
Bersama pak guru, Aish masih harus menjalankan kewajibannya di waktu dhuhur.
.
.
.
.
__ADS_1