
Richard mendengar keributan dari luar kamarnya, dia sedang sibuk dengan ponselnya saat ini. Matanya belum bisa terpejam meski sudah meminum obatnya.
Samar-samar sepertinya dia mengenal suara wanita yang sedang ribut dengan bodyguardnya. "Mungkin nggak sih kalau si Aishyah yang kesini?" hati Richard berandai-andai.
Sedangkan diluar, Aish masih berusaha minta diijinkan untuk bisa masuk meskipun hanya sebentar saja.
Ponsel salah satu dari bodyguard itu berdering. "Sebentar, tuan muda telpon" katanya.
..."*iya tuan"...
..."(.....)"...
..."Benar tuan"...
..."(...)"...
..."Siap tuan*"...
Aish hanya diam menunggu ada kabar apa dari sang tuan muda yang sedang berbaring didalam sana.
"Tuan menyuruh nona untuk masuk" katanya.
"Tuh kan, daritadi kek" kata Aish.
Bodyguard itu membukakan pintu untuknya, lalu menutupnya kembali setelah Aish berada didalamnya. Aish sedikit berjingkat karena kaget saat pintu tiba-tiba tertutup.
"Kaget gue" kata Aish mengusap pelan dadanya.
Aish berjalan mendekati ranjang Richard yang diatasnya cowok itu sedang berbaring. Richard menoleh pada Aish dengan posisi masih terbaring, dia tersenyum melihat kedatangan Aishyah.
Sebenarnya Aish sedikit canggung karena menemui seorang pria seperti ini, apalagi hanya berduaan saja dalam satu ruangan.
Aish tersenyum agak tertahan, tidak semanis biasanya. Richard tahu jika cewek ini sedang merasa tidak nyaman.
"Hai, lo sudah baikan? Gue lihat lo masih tidur sewaktu gue nyamperin lo ke kamar lo waktu itu" kata Richard berusaha mencairkan suasana.
"Alhamdulillah gue sudah baik-baik saja, ini juga barusan selesai tugas di UGD, langsung kesini" kata Aish duduk di sebelah ranjang Richard.
Richard berusaha untuk duduk, Aish yang menyadari langsung membantunya.
"Makasih" kata Richard.
"Iya, sama-sama" kata Aish setelah berhasil membantu Richard duduk dan diapun duduk kembali di kursi yang tadi.
"Makasih juga karena lo sudah donorin darah buat gue, sampai lo sendiri harus pingsan" kata Richard.
"Lemah banget ya gue, niat hati mau menolong, eh .. Malah ditolong" kata Aish sambil tersenyum.
"Kalau menurut gue, itu malah suatu hal yang excited banget. Lo sampai harus ngelawan phobia lo demi mau nolongin gue" kata Richard.
"Nggak usah berlebihan, gue jadi malu sendiri. Keadaan lo sendiri gimana? sudah baikan? Maaf ya gue nggak bawa apa-apa, gue lihat banyak buah tangan dari fans lo yang dibuang" kata Aish.
Richard tertawa mendengar penuturan Aish. "Itu karena tidak penting" kata Richard.
"Ya makanya gue nggak bawa apa-apa, entar malah lo buang juga" kata Aish.
__ADS_1
"Kalau dari lo nggak bakalan gue buang, pasti bakal gue simpan" kata Richard.
"Basi dong disimpen mulu kalau gue bawa makanan" kata Aish, cowok itu hanya tertawa menanggapi perkataan Aishyah.
"Oh iya, ada yang mau gue tanyain sama lo Richard" kata Aish.
"Tanya aja" kata Richard.
"Cowok ini benar-benar irit ngomong, Hendra saja kalah sama dia" batin Aish.
"Engmh, itu. Administrasi rumah sakit gue apa benar lo atau keluarga lo yang bayarin?" tanya Aish.
"Gue sih enggak, kayaknya orang tua gue juga enggak. Soalnya tagihan gue langsung pihak asuransi yang menangani. Gue waktu ke ruangan lo waktu itu sebenarnya mau bayarin sekalian, tapi nggak jadi karena katanya lo masih belum sadar juga. Rencananya besok gue mau urusin administrasi lo, tapi rupanya lo sudah pulang" kata Richard.
Aish terdiam mendengar penuturan Richard, karena sekali ngomong langsung panjang dan lebar juga. Daritadi hanya sedikit saja bicaranya.
"Oh gitu ya. Yasudah deh kalau gitu, makasih ya lo sudah luangin waktu buat ngebolehin gue masuk" kata Aish.
"Seharusnya gue yang makasih karena lo sudah mau nengokin gue" kata Richard.
"Gue permisi pulang dulu ya Richard" kata Aish.
"Bentar banget sih?" kata Richard.
"Sudah malam, gue takut nggak ada angkot" kata Aish.
"Biar gue suruh orang buat ngatar lo pulang ya" kata Richard.
"Eh, nggak usah. Kalau jam segini mungkin masih ada angkot kok" kata Aish.
"Enggak usah Richard, gue sudah biasa kok. Lo tenang saja" kata Aish.
"Muka lo kenapa?" tanya Richard yang baru menyadari jika wajah Aishyah terluka.
"Nggak apa-apa, tadi kena cakar sama kucing" kata Aish.
"Lo nih, ada-ada saja. Makanya hati-hati dong" kata Richard.
"Iya, yasudah gue pamit ya. Gue pulang dulu, keburu malam banget" kata Aish.
"Hati-hati ya. Sampai rumah, lo kabarin gue" kata Richard.
"Ok" jawab Aish singkat dan berlalu pergi.
"Sudah nona?" tanya bodyguard melihat Aish yang keluar.
"Sudah pak, saya permisi dulu" kata Aish.
Gadis itu berjalan keluar dari rumah sakit, dia menuju jalan raya untuk menunggu angkotnya datang. Saat ini dia sedang berdiri didekat penjual nasi goreng sambil menunggu angkotnya.
Aroma dari tenda penjual nasi goreng membuat cacing dari dalam perutnya berkeroncong ria. Aish sudah sangat lapar, dia ingin segera pulang agar bisa segera makan malam.
Cukup lama menunggu, angkot incarannya masih belum juga terlihat. Gadis itu sudah tak tahan lagi.
Sebuah mobil berhenti didepannya, Aish sedikit khawatir karena hari yang sudah larut mengingatkannya pada kejadian pemalakan waktu itu. Dia takut jika orang jahat yang akan keluar setelah ini.
__ADS_1
"Kamu kok masih disini Aishyah?" rupanya itu mobil dokter Siras.
"Eh, abang dokter baru pulang? kenapa malam sekali?" tanya Aish.
"Tadi masih ada sedikit pekerjaan yang harus segera diselesaikan. Kamu sendiri kenapa masih disini?" tanya Siras.
"Iya, tadi nengokin Richard sebentar, terus sekarang lagi nungguin angkot. Lama banget belum datang juga" kata Aishyah.
"Ayo saya antar kamu pulang" kata Siras.
"Jangan deh bang dokter, saya nggak enak kalau merepotkan abang. Biar saya nunggu angkot saja" tolak Aishyah.
"Sudah malam, nggak akan ada angkot yang masih beredar. Kamu biar saya antar saja, hitung-hitung sebagai permohonan maaf saya karena kejadian tadi siang" kata Siras.
Aish sedikit berfikir, memang sepertinya menerima tawaran Abang dokter daripada harus menunggu lama, dia sudah sangat lapar.
"Oke deh bang" kata Aish.
"Ayo masuk" kata Siras membukakan pintu mobilnya, menyuruh Aish masuk.
"Rumah kamu dimana?" tanya Siras setelah mereka bersua berada didalam mobil.
"Di kampung Bunga, jalan Kenanga bang" kata Aish.
"Panggilan kamu ke saya benar-benar seperti panggilan untuk tukang ojek" kata Siras sambil memutar kunci untuk menghidupkan mobilnya.
Aish tersenyum menanggapi perkataan abang dokternya. "Sudah kebiasaan bang, susah ngilanginnya" kata Aish.
Tiba-tiba sesuatu dari perut Aish berbunyi sebelum mesin mobil itu berhasil hidup. "Krucuk.... Krucuk ... Krucuk"
Suara itu terdengar sangat keras di dalam mobil yang hening. Aish yang kaget dengan bunyi perutnya sendiri langsung memegangi perutnya dengan kedua tangannya, tak lupa senyum Pepsodent andalannya terukir untuk mengurangi rasa malu.
"Kamu lapar?" tanya Siras
"Enggak bang" jawab Aish sambil menunduk malu.
Siras tetap melajukan mobilnya, tapi malah berjalan mundur. Aish sedikit bingung, tapi malu untuk bertanya.
Rupanya dokter itu memarkirkan mobilnya di tempat yang aman, karena memang sekarang posisi mereka di tepi jalan raya.
"Loh kok malah parkir sih bang?" tanya Aish.
"Kita makan dulu ya, kasihan kamu kelaparan" kata Siras.
"Eh, jangan bang. Nggak usah, biar saya makan dirumah saja" kata Aish.
"Sudah, nggak usah cerewet. Ayo turun, saya traktir kamu makan nasi goreng" kata Siras memaksa.
Akhirnya Aish turun juga, meski harus menahan malu karena bunyi perutnya yang tak terkendali.
.
.
.
__ADS_1