
Dokter masuk ke ruangan rawat Yopi pagi ini, biasanya memang akan ada kunjungan setiap pagi dan sore untuk memantau kondisi pasien.
Jam masih menunjukkan pukul delapan pagi, dan semua yang ada di ruangan itu masih belum terbangun dari tidurnya.
Mereka terkejut, pemandangan lucu didepan dokter yang ditemani susternya itu sukses membuat keduanya harus berusaha menahan tawa.
Semalam Richard memang tidur di sebelah Yopi karena tidak menemukan alas untuk tidur, sedangkan sofa diruangan itu sudah dipakai Reno.
Pagi ini Richard masih terlelap dengan tangan dan kaki berada di atas tubuh Yopi, seperti sedang memeluk guling.
Matanya terpejam, nafasnya juga teratur. Menandakan bahwa dia masih berada di alam mimpi.
"Bangunkan dia sus, ada-ada saja tingkah laku mereka" kata Dokter yang masih tersenyum geli.
"Dek, bangun" kata suster menepuk bahu Richard pelan.
"Sebentar bik, lima menit lagi" jawab Richard dengan mata terpejam. Dia kira bibinya dirumah yang membangunkan. Karena biasanya setiap pagi memang bibinya yang selalu mengingatkan Richard untuk pergi sekolah.
"Saya bukan bibi kamu, ayo bangun" kata suster itu menepuk pundak Richard sedikit lebih keras.
Merasa terganggu, Richard mengerjap, berusaha membuka matanya.
Seperti orang bodoh, Richard tidak segera bangun dari tidurnya saat merasa bahwa dia memeluk guling, padahal yang dia peluk adalah Yopi.
Sedikit mengangkat kepalanya, Richard mengedarkan pandangan. Dia baru tersadar jika semalam dia tidur di rumah sakit.
Langsung saja Richard menarik tangan dan kakinya dari atas tubuh Yopi. Lalu duduk di tepian ranjang sambil mengusap wajah dengan kedua tangannya.
"Oh, maaf sus" kata Richard dengan wajah malu.
"Aduh, baru bangun tidur saja dia ganteng juga yaa" batin suster itu dalam hati.
Segera Richard bangkit, sedikit membenarkan sprei yang acak-acakan. Suster itu tersadar dan membantu Richard.
"Kami mau memeriksa keadaan pasien" kata dokter.
"Iya, silahkan dok" kata Richard.
"Sus, bantu saya membetulkan posisi tidur pasien ini ya" kata dokter menyindir Richard yang ikut tidur di ranjang Yopi.
Richard diam saja, tapi dia membantu juga untuk membetulkan posisi Yopi yang dipindahkan olehnya semalam.
Dokter memeriksa keseluruhan keadaan Yopi, dari kemarin dia masih belum sadar juga.
"Bagaimana keadaannya, dok? Kenapa belum sadar juga?" tanya Richard.
"Keadaannya sudah stabil, tapi masih butuh untuk terus dipantau. Untuk kesadarannya, mungkin nanti siang atau sore baru bisa sadar. Kami memberi obat penenang untuknya pasca operasi. Apalagi pasien baru saja menjalani operasi serius, jadi butuh istirahat yang lebih banyak" kata dokter menjelaskan.
"Jika nanti dia sadar, apa yang harus kami lakukan dok?" tanya Richard.
"Segera hubungi kami, pastikan tetap ada orang disampingnya sebelum dia bangun, dan segera hubungi kami setelah dia sadar. Pasien masih butuh pemantauan serius dengan luka yang dialami" jawab dokter itu.
"Jadi, dia tidak boleh sendirian ya dok?" tanya Richard.
"Iya, betul. Baiklah, saya permisi dulu ya. Masih ada pasien lain yang harus kami periksa. Ingat, jaga dengan baik teman kamu" kata dokter mengingatkan Richard.
__ADS_1
"Iya dok, pasti" jawab Richard.
Setelah dokter keluar dari ruangan itu, Richard membangunkan Reno yang masih asyik dengan mimpinya. Perut Richard sudah sangat lapar, semalam mereka tidak sempat makan malam karena sibuk mengurusi masalah Yopi dan keluarganya.
"Ren, bangun" kata Richard menepuk-nepuk bahu Reno.
Belum ada pergerakan, boncel yang satu ini sangat sulit dibangunkan.
Kesusahan untuk membuat Reno bangun, Richard punya sedikit rencana.
Kali ini Reno tidur membelakanginya, dia meringkuk di atas sofa. Richard mengangkat tubuh Reno, memposisikannya langsung berdiri meskipun dalam keadaan masih tertidur.
Tangan Richard mengangkat tubuh Reno melalui celah di kedua ketiaknya. Tentu hal itu membuat Reno langsung gelagapan dan oleng karena nyawanya belum sempurna.
Keadaan yang memaksanya membuka mata, malah membuatnya terjatuh di tempatnya berdiri. Sontak hal itu membuat Richard tertawa terbahak-bahak. Sementara Reno masih plonga-plongo.
Sadar telah dikerjai oleh Richard, membuat Reno mengeluarkan sumpah serapahnya di pagi ini.
"Sialan lo monyet" ketus Reno setelah puas dengan umpatannya, sementara Richard masih saja tertawa.
"Tidur kayak orang mati. Gue laper boncel, jagain Yopi dulu ya. Gue mau ke kamar mandi, sekalian cari sarapan" kata Richard setelah berhasil meredakan tawanya.
"Si bego ini masih tidur, kenapa harus dijagain? Nggak mungkin juga dia jalan sambil tidur, kan kepalanya masih sakit" keluh Reno yang merasa sedikit pusing akibat ulah Richard.
"Kata dokter, takutnya dia bangun pas nggak ada yang jagain. Makanya harus ada orang didekatnya" kata Richard.
"Okelah, lo pergi saja. Pusing kepala gue gara-gara lo" jawab Reno.
Richard terkekeh dengan penuturan Reno, "Jangan tidur lagi, awasi putra tidur ini baik-baik" kata Richard.
"Sialan lo. Nggak gue bawain makanan baru tahu" kata Richard menggerutu.
"Jangan dong, iya sudah sana pergi saja Richard ganteng pacarnya princess Aishyah" kata Reno.
"Sialan, gue belum ngabari dia, boncel" kata Richard seketika ingat akan janjinya.
Reno menghela napas dan memutar bola matanya jengah. Sedikit menyesal telah mengingatkan Richard tentang Aish.
"Hape gue mati, lo bawa charger nggak?" tanya Richard.
Reno mengeluarkan ponselnya, mengamati sebentar lalu menjawab pertanyaan Richard.
"Hape gue juga mati, dan gue juga lupa nggak bawa charger" kata Reno memperlihatkan hapenya.
"Mendingan sekarang lo cari makan dulu deh, gue laper banget nih. Waktu sarapan sudah kelewatan banget" keluh Reno sambil memegangi perutnya.
"Iya deh, gue juga laper. Lo jagain beneran loh, jangan ditinggal tidur lagi" kata Richard.
"Bawel banget lo kayak emak gue. Sudah sana pergi" kata Reno.
Tanpa pamit, Richard segera melangkahkan kakinya ke kamar mandi yang masih dalam satu ruangan dengan ruang inap ini.
Sepertinya Richard sedang mandi, cukup lama dia berada didalamnya. Dan juga suara gemericik air terus mengalir daritadi.
Hampir setengah jam Richard di dalam kamar mandi, dia keluar dengan tampilan yang lebih segar meski tetap mengenakan pakaian yang sama.
__ADS_1
Tanpa permisi, Richard langsung ke luar ruangan. Tapi Reno tahu kemana arahnya pergi, karena tadi mereka mengeluhkan keadaan yang sama. Mereka kelaparan.
Reno memasuki kamar mandi sepeninggal Richard. Dia juga melakukan rutinitas pagi.
Tak butuh waktu lama, rasa kantuknya sudah hilang setelah mandi. Sekarang dia jadi lebih segar.
Richard datang setelah Reno menunggu hampir satu jam. Cukup lama kalau hanya untuk mencari makanan.
"Lama banget sih lo? Nyari gebetan apa nyari makanan?" tanya Reno saat Richard baru memasuki ruangan itu lagi.
"Lo tuh sudah boncel, cerewet lagi. Antri tau, nih buat lo. Tinggal makan saja masih ngomel" kata Richard memberi bungkusan makanan pada Reno.
"Makasih lo, Ri. Lo memang baik banget, nggak heran banyak cewek yang suka sama lo" kata Reno sambil menikmati makanannya.
Richard hanya melirik tajam, tak berniat membalas omongan Reno yang pasti tidak ada habisnya.
"Habis ini gue mau pulang, ngambil charger sama baju ganti. Lo disini saja ya, tungguin Yopi" kata Richard setelah menghabiskan sarapannya.
"Nggak, gue saja. Punya lo nanti biar gue ambilin ke rumah lo deh. Males gue kalau nggak ngapa-ngapain" kata Reno.
"Cg, oke deh. Nih kunci mobil gue" kata Richard melempar kunci mobilnya pada Reno yang tertangkap sempurna.
★★★★★
Pagi ini Aish sarapan seadanya, hanya roti yang diberi selai stroberi, dan segelas susu hangat. Sejak semalam dia masih belum menerima kabar dari Richard.
"Apa dia baik-baik saja ya? Atau dia memang sudah nggak mau nemuin gue? Atau dia sedang dalam masalah?" kata hati Aish yang gelisah.
"Kenapa juga hapenya nggak bisa dihubungi? Sebenarnya dia kemana sih?" kata Aish yang kesal sendiri.
Jam dinding berbunyi menandakan jika sudah pukul sembilan pagi. Aish menyudahi acara sarapan paginya, lalu mencuci gelas kosong bekas susunya.
Dia akan bersiap untuk mengikuti jalannya persidangan. Semoga hari ini sudah ada keputusan. Sebenarnya Aish sudah jengah, dia ingin semua segera berakhir.
Seno datang pukul setengah sepuluh pagi, nanti rencananya setelah pulang dari pengadilan, Seno akan mengajak Aish untuk mencari baju yang akan digunakan di acaranya besok.
Pasti seharian ini akan sedikit sibuk, Aish berharap bisa sedikit melupakan Richard dengan kesibukannya.
"Ayo berangkat" kata Aish setelah siap.
Seno melihat ke arah sahabatnya, dia tahu sebenarnya Aish sedang gelisah. Tapi semampunya dia akan menghibur sahabat tersayangnya itu.
"Ayo, lo sudah sarapan?" tanya Seno.
Aish hanya mengangguk, kemudian melangkah keluar bersama Seno yang sudah ditunggu oleh supirnya.
Falen dan Hendra bilang akan langsung menuju ke pengadilan. Mereka akan bertemu disana.
.
.
.
.
__ADS_1