Cantik, Kok Minder?

Cantik, Kok Minder?
Dokter Siras aneh


__ADS_3

Mata Aish sudah berkaca-kaca mendengar penuturan ayahnya yang seakan mengusirnya dari tempat ini.


"Ayah nggak suka ya Aish ada disini?" tanyanya.


"Ayah suka nak, ayah bahagia. Tapi tempat kamu bukan disini. Kamu masih harus melanjutkan cerita hidup kamu disana. Banyak yang menunggu kamu pulang nak" kata ayah.


"Aish nggak mau yah, Aish masih betah disini. Aish mau memancing dulu sama ayah" kata Aish.


"Baiklah, kita memancing dulu ya. Ayah rasa kamu masih boleh sedikit bahagia disini" kata Ayah.


Tak lama, bunda sudah kembali dengan tiga buah jaring ditangannya. Bunda membagikan jaring itu pada Aish dan ayahnya, satu lagi untuk bunda sendiri.


"Ayo kita nyebur ke sungai, tapi airnya sangat dingin is. Kamu harus kuat ya" kata bunda.


"Pasti dong bunda" kata Aish.


Aish mengangkat gaunnya, menampilkan kakinya yang tertutup celana dalaman gamis berwarna gelap. Dia mengikat gaun lebarnya dipinggang, masih menyisakan juntaian gaun hingga lutut.


Saat kakinya masuk kedalam air sungai, memang terasa bahwa airnya sangat dingin. Aish sedikit menggigil, tapi semangatnya mengalahkan semua rasa dingin itu. Dia tetap melangkah untuk mendapatkan banyak ikan.


Mereka sangat senang dengan kegiatannya, meskipun ikan-ikan disana seperti tahu bahwa mereka sedang diincar untuk ditangkap. Ikan-ikan itu sangat sulit untuk didapatkan.


********


Dokter Siras masih belum bisa menyadarkan Aishyah. Pria itu tahu jika gadis ini sedang bermain dengan alam bawah sadarnya, karena pria itu sering mendapati si gadis tersenyum meskipun matanya tertutup rapat.


Ada secuil rasa sedih di hatinya mendapati si gadis yang bahagia di tidur lelapnya. Mungkinkah semua tingkah riangnya selama ini juga untuk menutupi kesedihan yang berlarut dalam hatinya?


Dokter Siras belum mengenal Aishyah dengan baik, tapi dia mempunyai keinginan yang kuat untuk melindunginya, atau bahkan membahagiakannya.


Sedangkan kondisi Richard sudah lebih baik, remaja itu dipastikan tidur karena efek obat bius yang harus diberikan pasca penanganan akibat kecelakaannya tadi, sementara kasus Aishyah lain lagi. Gadis ini sedang berjalan-jalan di alam bawah sadarnya, satu-satunya jalan agar dia kembali membuka mata adalah dengan mengajaknya berinteraksi untuk mau kembali pulang, dan yang terpenting adalah keinginannya sendiri untuk mau 'pulang'.


Siras takut, pria itu takut jika Aishyah lebih suka dengan dunianya sendiri. Dia takut Aishyah tidak punya keinginan untuk kembali.

__ADS_1


Hari sudah menjelang pagi, dokter Siras kembali menemani Aishyah yang sedang tertidur. Jadwal jaganya sudah selesai, biasanya dia akan tidur sebentar lalu melanjutkan aktivitasnya untuk pergi sebentar ke kantornya.


Tapi pagi ini sedikit berbeda, pria itu masih tetap menjaga Aishyah. Entah mengapa hatinya tergerak untuk tetap memantaunya secara langsung.


"Maaf dokter, ini barang-barang pribadi Aishyah" kata suster menyerahkan tas ransel yang biasa Aish bawa.


"Iya, terimakasih sus" jawab dokter itu lesu.


"Sama-sama dok" jawab suster, dia masih berdiri ditempatnya, sedikit rasa penasaran tinggal dibenaknya karena sang dokter yang menjaga gadis remaja yang sedang terbaring itu.


"Ada perlu lainnya suster?" tanya Siras.


"Oh, maaf. Tidak ada dok, saya permisi" kata suster itu saat tersadar dari lamunannya, Siras hanya mengangguk.


Pria itu membuka tas Aishyah, bukan bermaksud lancang, hanya saja sekarang dia membutuhkan informasi untuk bisa menghubungi keluarga atau teman dekatnya.


Dia membuka ponsel Aishyah, ponsel murahan yang didapat sebagai ganti dari ponselnya terdahulu yang lebih jadul, sekarang layarnya sedikit retak, sungguh mengenaskan.


Siras membuka aplikasi WA, melihat riwayat chattingnya. Terakhir kali dia menghubungi bundanya. Pria itu pun melakukan panggilan. Tapi tidak terhubung, diapun mencoba nomor kontak lainnya. Ada nama Falen disana, pria yang diingatnya menghubungi Aishyah sebelum gadis itu hilang kesadaran.


Berulang kali mencoba melakukan panggilan namun gagal, pria itu mencoba mengirim pesan pada salah satu kontak di ponsel Aish. Hanya centang satu, sepertinya Siras tahu permasalahannya.


Dan benar saja, setelah mengecek sebentar, ternyata kuota datanya habis. Siras tidak habis fikir, dia menggelengkan kepalanya. Mengambil ponselnya sendiri kemudian mengaktifkan hotspot dari ponselnya untuk disambungkan ke ponsel Aishyah.


Segera saja setelah mendapat sambungan data, banyak sekali pesan masuk ke akun WA Aish. Terutama dari Falen. "Siapa Falen? Sepertinya dia punya hubungan yang cukup dekat dengan Aishyah" batin Siras.


Namun kontak pertama yang harus dia hubungi adalah bunda dari Aisyah. Panggilannya terhubung, tapi masih belum diangkat juga, hingga Siras melakukan panggilan beberapa kali, masih nihil.


Siras memeriksa daftar chatting, ada beberapa grup sekolah, grup silat, dan yang aneh adalah grup yang bernama 'punggawa princess'. Merasa tertarik, pria itu membukanya, banyak sekali percakapan bermunculan, terutama menanyakan princess yang tak kunjung muncul.


Merasa tidak penting, dia lebih memilih untuk menghubungi Hendra. Setahu Siras, Hendra selalu lengket dengan Aishyah.


Pria itu menghubungi kontak Mahendra, panggilannya tersambung.

__ADS_1


..."Selamat pagi princess, *lo kemana aja sih? tumben bangunnya siang?"...


..."Ini saya, dokter Siras. Bukan princess"...


..."Loh, kenapa hp princess, eh maksud gue, hengmh... maksud saya, kenapa hp Aishyah bisa ada sama dokter?" ...


..."Aishyah pingsan, lebih tepatnya dia tersesat di alam bawah sadarnya. Kamu bisa tolong saya untuk menghubungi keluarganya? karena dari tadi saya mencoba menghubungi bundanya tapi tidak diangkat juga"...


..."Kenapa bisa pingsan dok? Dokter menyuruh Aishyah melakukan tugas yang berat ya mentang-mentang saya tidak bersamanya?"...


..."Tidak mungkin saya berbuat seperti itu, dia mendonorkan darahnya tadi. Sudahlah, nanti saya ceritakan saat kamu sudah membawa orang tua Aishyah kemari"...


..."Baiklah dokter, saya akan segera membawa bundanya Aishyah ke rumah sakit segera. Terimakasih informasinya, selamat pagi*"....


Hendra langsung saja menutup panggilan dari Siras, terdengar dari nada suaranya jika Hendra tidak percaya dan sepertinya marah pada dokter muda itu.


Siras masih mengecek akun wa Aishyah, melihat riwayat chattingnya. Sebenarnya itu tidak sopan, tapi pria itu penasaran saja hingga jemarinya asyik meneliti isi dari aplikasi hijau milik Aishyah.


Beberapa lama dia mengutak-atik ponsel milik Aishyah, kini dia melihat galeri foto Aishyah. Banyak foto selfie Aishyah disana, ada yang tersenyum, ada yang cemberut, ada juga yang melotot. Seutas senyum terukir di bibir Siras melihat foto-foto Aishyah. Bisa dipastikan bahwa pria itu akan dimarahi habis-habisan jika Aishyah sedang dalam keadaan sadar.


Dia masih penasaran dengan pria bernama Falen, sungguh akun itu sangat familiar baginya. Tapi dia lupa itu akun milik siapa.


Melihat isi percakapan Falen dan Aishyah, mereka sepertinya adalah teman dekat. Aishyah sering menyebut Falen dengan sebutan bule.


"Mungkinkah jika Falen itu adalah Falentino?" Siras bertanya dalam hatinya.


Tiba-tiba suster datang membuka pintu ruang rawat Aish, membuat Siras cepat-cepat mematikan ponsel Aishyah dan menaruhnya di dalam tas.


Ternyata Hendra sudah datang dengan dua wanita dibelakangnya. Mungkinkah itu orang tua Aishyah?


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2