Cantik, Kok Minder?

Cantik, Kok Minder?
ancaman dua perusahaan besar


__ADS_3

"Gimana Ren? Sudah dapat informasinya?" tanya Richard pada Reno yang kemarin ditugaskan mencari penyebar berita mengenai Aish.


"Sudah, ini gue kesini juga mau ngasih lo kabar mengenai itu semua" kata Reno.


Reno selain bermulut tajam, dia juga punya skill bagus dan bisa diandalkan untuk urusan hacker dan dia juga sangat teliti.


Dia juga konsisten dan sangat loyal. Itulah mengapa Richard juga sangat menyukainya sebagai teman kerja disamping sebagai teman pribadinya.


"Akurat nggak nih?" tanya Richard sementara Reno sedang menghidupkan laptopnya.


"Lo ngeraguin gue?" tanya Reno.


"Kita lihat saja" jawab Richard.


"Jadi berita itu disebarkan oleh akun Lambe Lamis itu setelah adminnya mendapatkan informasi dari seorang wartawan yang tak mau diketahui namanya" kata Reno mengawali laporannya.


"Terus?" tanya Richard yang mendengarkan laporan Reno dengan serius sambil fokus pada layar laptop Reno.


"Gue sudah berhasil menghubungi admin dari portal berita itu, terus gue tanya secara baik-baik awalnya. Tapi dia tetap konsisten sama jawabannya semula. Terus gue minta file asli dari berita itu sebelum di sebarluaskan" kata Reno.


"Tapi admin itu nggak ngasih juga filenya. Akhirnya, terpaksa gue masuk secara paksa dong ke email pribadinya. Syukur aja gue berhasil dapetin file aslinya".


"Dari sini gue tahu kalau file itu dikirim oleh seseorang dari sebuah klub malam yang terkenal gitu" Reno menjelaskan dengan rinci pada sahabatnya.


"Klub malam?" tanya Richard.


"Iya, dan gara-gara itu, gue jadi nyabotase nama perusahaan bokap lo, Bro. Soalnya susah banget dapat informasi dari klub sekelas itu" kata Reno.


"Tapi lo bisa dapetin siapa pelakunya?" tanya Richard.


"Tentu dong. Lo nggak akan pernah kecewa kalau lo kerja sama bareng gue" kata Reno menyombongkan diri.


"Setelah gue berhasil ngedapetin rekaman cctv dari dalam klub itu, gue bisa lihat dengan jelas siapa penulis beritanya, dan siapa orang yang ada di sebelahnya" kata Reno menampilkan rekaman cctv dari dalam klub di malam sebelum berita itu tersebar.


"Indira?" gumam Richard yang sudah mengetahui pelakunya.


"Ya. Dan gue jadi heran. Kenapa dia ngelakuin ini sama Aishyah? Setahu gue kan dia itu dekatnya sama si Brian. Sekarang kenapa dia mau ngehancurin nama baiknya Aishyah?" tanya Reno yang tak tahu jika Indira lebih tertarik pada Richard.


"Apa dia cemburu sama Aishyah gara-gara sahabatan sama gebetannya gitu ya, bro?" tanya Reno.


"Cg, gue yakin dia itu suka sama gue, Ren" kata Richard yang malah menjadi bahan ejekan oleh Reno.


"Lo kepedean banget sih, Ri? heran gue" ejek Reno.


"Beneran. Gue jijik kalau dia lihatin gue dengan muka penuh nafsu" kata Richard.


"Awas ya tuh anak. Biar selanjutnya jadi urusan gue Ren. Langsung gue atasi hari ini juga" kata Richard penuh emosi pada Indira.


"Saran gue nih, Ri. Lo pakai nama perusahaan bokap lo juga buat ngancam dia. Bilang aja Aishyah itu sudah menjadi salah satu bagian dari keluarga Hutama. Dia pasti ketakutan, percaya deh sama gue" saran Reno.


"Boleh juga ide lo. Sekali-sekali gue nebeng nama sama papa. Dia sih kelamaan buat ngobrol sama Aish. Mereka belum pulang juga dari Surabaya yang katanya cuma sebentar kesananya, Ren" keluh Richard yang hanya mendapat lirikan tajam dari Reno.


"Mereka baru kemarin berangkat kesananya, Richard. Bukan mereka yang kelamaan, tapi elonya yang nggak sabaran buat balikan sama Aishyah kan?" cibir Reno.


"Sebenarnya memang gitu. Cg, gue takut dia berpaling dari gue Ren. Lo tahu sendiri banyak banget yang keganjenan sama dia, kan" kata Richard yang selalu takut jika Aish akan segera mencari penggantinya.


"Lo sendiri juga sepertinya laris, Ri. Sudah kayak kacang goreng aja kalian ya. Banyak yang minat" kata Reno.


"Tapi gue heran juga, kenapa dulu Aish mau sama lo ya? Apa mungkin awalnya dia cuma terpaksa doang kali, Ri" tanya Reno.


Richard jadi berfikir tentang itu. Dulu kan memang hubungan mereka tak sedekat orang-orang pada umumnya sebelum keduanya mau menjadi sepasang kekasih.


"Lo bikin gue kepikiran, Ren. Mungkin nggak sih si Aishyah cuma terpaksa waktu nerima gue jadi pacarnya?" tanya Richard dengan wajah pias.


Reno terbahak melihat ekspresi sahabatnya ini. Ternyata cinta bisa bikin batu es semacam Richard jadi kepanasan juga.


"Ngapain lo ngetawain gue, bego" kata Richard sambil menjitak kepala Reno.


"Sialan lo ******, nyesel gue ngasih lo informasi ini. Tahu gitu nggak gue kerjain aja sekalian. Biar lo mati penasaran" kata Reno seolah merajuk.


"Haha, sorry dong Ren. Kenapa jadi ngambek sih, dah kayak cewek aja lo" kata Richard mengusap kepala Reno di tempat yang tadi di jitaknya.


"Uwah.... Lagi mesra-mesraan nih" goda Yopi yang baru saja sampai di tempat favorit mereka.

__ADS_1


"Mesra pala lo" kata Reno yang masih uring-uringan.


"Ada apa nih" tanya Yopi.


"Sekarang lo temui Indira ya, Yop. Ancam dia supaya mau go publik dan minta maaf sama Aishyah, terus minta dia supaya menghapus berita buruk tentang Aishyah di portal berita online itu. Ancam dia kalau nggak mau melakukan itu semua" perintah Richard pada Yopi.


Selama ini, Yopi yang sangat supel pada semua orang sangat bisa diandalkan oleh Richard saat memerlukan tim negosiasi.


Gaya bicaranya sangat berbeda saat dalam keadaan serius. Richard sangat menyukai kemampuan bicara Yopi yang membuat hampir seratus persen masalah komunikasi dengan para koleganya selalu sukses.


"Oh, gampang itu. Sekarang juga gue minta janjian bertemu sama dia ke managernya ya. Dia kan model kelas receh yang sok-sokan punya manager" kata Yopi langsung mencari informasi tentang data diri Indira dan managernya.


"Kalau dia nggak takut sama ancaman kita gimana, bro?" tanya Yopi.


"Pakai aja nama keluarga Hutama. Lo bisa hubungi pengacara papa kalau dia masih alot. Lo kan sudah gue kenalin sama pengacaranya papa kan" kata Richard


"Oh siap bos. Gue sudah dapat janji ketemuan sama Indira sore ini di cafe dekat kampusnya" kata Yopi.


Richard bangga punya teman sekaligus tim yang selalu bisa bekerja cepat dan tepat seperti Reno dan Yopi.


Karena memang dalam diri setiap orang pasti memiliki kemampuan yang berbeda dibalik sifat buruknya.


Seperti Yopi yang suka gagal menahan nafsunya, tapi kemampuan komunikasinya sangat bagus.


Dan Reno, si kecil yang bermulut pedas itu sangat bagus ketrampilan komputernya. Dia juga sangat teliti.


Dan poin terpenting adalah, mereka bertiga sangat solid.


Lain tim Hutama, lain juga tim Widjojo.


Seno melimpahkan secara penuh tugas untuk mencari akar permasalahan Aish pada tim dari perusahaan papanya.


Dalam waktu singkat, dia juga sudah berhasil menemukan pelakunya.


Sama seperti tim Richard, orang-orang dari timnya juga akan melakukan pertemuan dengan manager Indira.


"Sudah ketemu pelakunya?" tanya Seno saat menemui timnya.


"Sudah tuan. Kami juga sudah melakukan rencana pertemuan dengan pihak manager dari seorang model yang bernama Indira dan seorang wartawan lepas yang terlihat sedang bersamanya saat membuat berita ini tuan" jawab salah seorang anak buah Seno.


"Benar tuan" jawab orang itu.


"Kenapa jadi Indira? Dia kan dekat sama Falen, tapi kenapa mau membuat nama baik princess jadi buruk di mata publik ya?" tanya Seno.


"Kami belum tahu mengenai hal itu, tuan. Mungkin nanti setelah pertemuan dengannya kita bisa tahu alasannya" kata orang itu.


"Ya, lo benar juga. Nanti gue ikut ya kalau kalian mau ketemu sama dia" kata Seno yang penasaran pada alasan Indira.


Sedangkan dari pihak Indira, managernya merasa senang karena dua perusahaan besar sedang mengajaknya untuk bertemu sore ini.


Jadi, manager Indira sengaja membuat janji di sebuah cafe di dekat kampus Indira karena hari ini Indira ada kegiatan di kampusnya untuk menyambut mahasiswa baru di tahun ajaran baru, dua minggu lagi.


Dia pikir akan lebih praktis karena jarak yang dekat akan memudahkan Indira untuk datang tanpa takut terkena macet.


★★★★★


"Hai, Indira. Apa kabar?" tanya Yopi yang ditemani dua orang bodyguard dan seorang karyawan yang dipinjamnya dari firma hukum yang menaungi pengacara keluarga Hutama.


Indira sedikit terkejut saat melihat penampilan formal Yopi. Sangat berbeda dengan Yopi yang biasanya santai.


Memakai setelan formal dan berjas, ada seseorang yang duduk di dekatnya dengan tumpukan dokumen yang terlihat penting.


Dan dua orang berpakaian serba hitam khas bodyguard bayaran yang berdiri tegap di belakangnya.


"Eh, hai Yop. Gue baik, lo sendiri bagaimana?" tanya Indira dengan senyum terpaksa.


Awalnya dia pikir Richard sendiri yang akan datang menemuinya. Tadi saat menuju ke sini semangatnya sudah sangat berapi-api.


"Gue juga baik" kata Yopi setelah melepaskan jabatan tangannya.


"Bisa langsung ke pokok pertemuan kita saja, ya Indira?" tanya Yopi.


Indira sedang menikmati minuman yang tersaji di mejanya, tadi managernya sudah memesankan untuknya sebelum dia datang.

__ADS_1


"Oh, boleh. Jadi ada job apalagi dari perusahaan Richard yang perlu gue bintangi?" tanya Indira penuh percaya diri.


Managernya sedikit menegur perbuatan Indira, karena bertanya seperti itu adalah tugasnya sebagai seorang manager.


"Oh sorry" kata Indira yang hanya menggunakan isyarat bibir tanpa suara pada managernya.


"Gue diutus oleh keluarga Hutama bukan untuk meminta jasa lo sebagai seorang model, tapi gue datang untuk meminta lo supaya mau meminta maaf pada publik karena lo dengan sengaja telah mencemarkan nama baik Aishyah" kata Yopi mengawalinya.


Indira terkejut, dia bingung karena Yopi bisa tahu jika dia dan temannya yang telah membuat berita itu.


"Lo jangan asal tuduh ya, Yop. Gue nggak bikin berita apa-apa mengenai Aishyah" kata Indira yang agak panik.


"Gue nggak bilang kalau lo bikin berita ya, Indira. Tadi gue cuma bilang kalau lo mencemarkan nama baik Aishyah" kata Yopi tersenyum jahat.


Indira jadi tambah panik, dia keceplosan. bicara.


Dan managernya hanya bisa melotot padanya.


"Tapi kan nama baiknya tercemar gara-gara berita yang tersebar di berita online kan?" sanggah Indira.


"Jadi, secara nggak langsung lo sudah nuduh gue pelakunya" kata Indira yang tak mau berurusan dengan pihak berwajib.


"Oke, kalau lo masih menyangkal. Asal lo tahu, kalau saat ini, secara bersamaan di tempat yang terpisah, tim kami juga sedang melakukan pertemuan dengan seorang wartawan lepas yang bernama Tika yang kami ketahui sebagai sumber dan pencetus dari berita itu" kata Yopi yang semakin membuat Indira panik.


Wajahnya pias saat mendengar nama Tika disebutkan. Untuk mengurangi kecanggungan, Indira kembali menyesap minumannya melalui sedotan hingga tandas.


"Kalau lo tahu Tika yang bikin beritanya, kenapa lo masih nuduh gue?" tanya Indira.


Yopi memperlihatkan foto-foto yang diambilnya dari video yang didapatkan dari klub malam tempat Indira dan Tika bertemu malam itu.


Tentu Indira terkejut melihatnya, tapi segera dia bersikap tenang kembali. Dia memang artis yang hebat.


"Gue masih tidak mau melakukan itu karena bukan gue pelakunya" kata Indira.


"Oke kalau lo masih nggak mau. Kita kasih lo kesempatan berfikir selama dua puluh empat jam dari sekarang" kata Yopi.


"Kalau lo masih nggak mau melakukan itu, biar surat dari kepolisian yang langsung meminta lo supaya mau diintrogasi di kantor polisi. Dan mempertanggung jawabkan perbuatan lo dengan masuk ke jeruji besi bersama Tika" kata Yopi.


"Tapi kalau sebelum waktu yang gue kasih ke lo habis, dan lo mau minta maaf dan menghapus berita itu. Kita lepasin lo tanpa tuntutan apapun" kata Yopi memberi pertimbangan untuk Indira.


"Dan gue bakalan buktiin kalau bukan gue pelakunya" kata Indira.


"Ok, semua keputusan ada di tangan lo. Secepatnya gue harap dapat kabar dari lo untuk lebih mau meminta maaf saja daripada ke meja hijau karena bisa gue pastiin kalau lo bakalan kalah" kata Yopi.


"Gue permisi dulu, urusan gue masih banyak. Kalau lo berubah pikiran. Segera telfon gue, nomor gue sudah ada di manager lo" kata Yopi berpamitan dan segera meninggalkan pertemuan itu.


Sepeninggal Yopi dan orang-orangnya, sudah pasti manager Indira yang merasa kecewa pada Indira.


"Lo nggak bohong kan kalau memang bukan lo pelakunya, Indira?" tanya Managernya.


"Nggak dong, memang bukan gue pelakunya kok" kata Indira yang masih merasa percaya diri.


Dia pikir Yopi hanya menggeretaknya saja. Tidak mungkin cowok yang sepantaran dengannya itu sudah berani bermain di ranah hukum.


"Asal lo tahu Indira, Yopi datang bukan atas perintah dari Destinasi cafe and music studio. Tapi dia datang karena diutus oleh keluarga Hutama. Lo tahu kan rumor dari keluarga itu?" tanya managernya.


Indira hanya menggelengkan kepalanya. Dia memang tidak pernah tertarik dengan yang seperti itu.


"Dulu ada sebuah perusahaan yang langsung dihancurkan oleh Adam Hutama karena memfitnah salah satu anaknya. Dan pemilik perusahaan itu beserta seluruh keluarganya juga harus meninggalkan kota ini jika masih mau selamat" kata managernya.


Indira merasa takut sekarang, kenapa urusan gadis sepele seperti Aishyah harus menyeretnya ke masalah sebesar ini?


Rupanya pengetahuannya tentang hubungan sosial masih kurang.


Dan tak lama berselang, kembali dia dipertemukan dengan Senopati dan beberapa orang dari perusahaan Widjojo.


Perusahaan rokok terbesar di negaranya sedang ingin bertemu dengan model rendahan seperti Indira?


Managernya kembali merasa khawatir jika ini masih berhubungan dengan berita kemarin. Karena menyangkut nama Senopati secara langsung yang notabene adalah anak tunggal dari pemilik perusahaan itu.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2