Cantik, Kok Minder?

Cantik, Kok Minder?
Malam Natal


__ADS_3

Jadwal jaga kali ini terasa berbeda, karena Aish harus bertugas tanpa kawalan dari Hendra. Cowok itu sedang mempersiapkan diri di rumahnya untuk acara natal esok hari.


Aish pergi ke rs Persada seorang diri, naik angkot dua kali. Karena meskipun letak rumah sakit itu tidak begitu jauh, namun harus oper angkot agar bisa sampai kesana.


Dokter Siras masih saja suka balas dendam meskipun terkadang sikapnya juga baik. Dan kalau dipikir-pikir, dokter itu sangat suka semena-mena jika Aish berdua dengan Hendra. Jika Aish sedang sendirian, dokter itu baik juga ternyata. Tapi yang tidak bisa dirubah adalah, dimana ada Aish pasti akan ada Hendra. Jadi bisa dipastikan kalau dokter itu akan lebih sering rese.


"Akhirnya sampai dengan selamat dan tidak terlambat" batin Aish sambil memasukkan tasnya ke dalam loker.


Gadis itu segera menuju nurse corner untuk absen dan mengambil masker dan hand scoon untuk perlengkapan perangnya.


"Tumben sendirian saja?" tanya dokter Siras yang entah datang darimana.


"Iya bang dokter, Hendra lagi siap-siap buat hari Natal besok" kata Aish sambil mengisi lembar jaga.


"Oh, jadi kalian beda keyakinan?" tanya dokter itu.


"He em, dia Kristen, saya muslim" kata Aish masih tanpa memandang lawan bicaranya.


"Saya pikir kalian itu pacaran loh" kata Siras.


"Bukan bang, dia itu bestie saya" kata Aish menampilkan senyum Pepsodentnya.


"Kok agak sepi yah bang, mungkin orang-orang sedang menyiapkan Natal besok ya. Alhamdulillah yang masuk UGD nggak banyak" kata Aish sambil memindai ruangan itu.


"Kita lihat saja nanti malam. Kamu kelas berapa sih?" tanya Siras.


"Saya baru kelas sepuluh bang, semester dua. Bang dokter, ingat nggak pernah ada dua anak periksa ke rumah sakit ini waktu tengah malam?" tanya Aish.


"Banyak sih anak muda yang periksa tengah malam. Kenapa memangnya?" tanya Siras.


"Ish abang nih, yang dua anak. Cewek cowok bonyok, ceweknya pakai hijab. Yang habis ngelawan preman. Belum ada setahun kok bang kejadiannya" kata Aish.


"Hengmh, bentar-bentar. Yang sekolah di Mahardika bukan?" tanya Siras.


"Iya benar bang" kata Aish.


"Yang ceweknya nggak punya duit pas mau nebus obat?" tanyanya lagi.


"Ish, yang itu juga ingat ya. Iya benar yang itu bang" kata Aish lesu.


"Kenapa memangnya sama mereka? Eh iya, kalian kan satu sekolah ya? kamu kenal sama mereka?" tanya Siras.


"Abang nih, masak lupa sih. Yang cewek itu saya bang, yang nggak punya duit itu" kata Aish.


"Oiya.. Jadi kamu yang waktu itu? Memang beda sih, kan waktu itu wajah kamu lebam banget. Kamu abis tawuran ya?" tanya Siras sinis.


"Enggak lah bang, malam itu saya dipalak waktu pulang dari nganterin baju jahitannya bunda. Untung ketemu teman Aish yang malam itu juga, akhirnya Aish selamat deh" cerita Aish.

__ADS_1


"Teman kamu itu juga sekolah di Mahardika?" tanya Siras.


"Iya bang, tapi beda kelas" jawab Aish.


"Ceritakan sama saya, kenapa kamu bisa dipalak?" tanya Siras.


Aish menjawab pertanyaan Siras dengan semangat. Dia sangat mendramatisir ceritanya. Kedua orang beda generasi itu saling tukar cerita hingga menjelang Maghrib. Suasana di ruang UGD tampak lengang. Semua yang berjaga sedang santai.


Hingga suara adzan membuyarkan kegiatan santai mereka. Dan saling berdiskusi sesama partner kerja untuk menentukan siapa yang jaga dan siapa yang akan ishoma terlebih dahulu.


"Maaf mengganggu dok, saya mau ada perlu sama Aish" kata Fendi, rekan jaga Aish.


"Iya silahkan" kata Siras.


"Syah, lo atau gue duluan yang mau istirahat?" tanyanya.


"Terserah lo Fen. Lo maunya sekarang apa nanti?" tanya Aish.


"Gue duluan boleh ya Syah? Tadi gue belum sempat makan siang waktu berangkat, gue laper, hehe" kata cowok itu malu-malu.


"Hehe, iya Fen. Nggak apa-apa lo duluan saja" kata Aish.


"Makasih ya Syah. Gue duluan kalau gitu. Permisi dok" kata Fendi berlalu pergi.


"Iya" jawab Siras dengan masih berkutat dengan ponselnya.


Merasa sepi Siras mendongak, mendapati Aish yang sedang sibuk dangan lembaran tugas, sepertinya tugas dari sekolahnya.


Siras menatap wajah serius Aisyah, gadis ini cantik juga. Pembawaannya yang riang memang membuat lawan bicaranya nyaman. Senyumnya tulus, jarang sekali menampilkan wajah suram. Tapi bisa juga menjadi sangat menyebalkan pada orang yang tidak disukainya.


Wajah gadis itu menenangkan dengan balutan hijabnya. Tinggi semampai dan berbadan langsing tertutup pakaian kelewat sopan. Kulitnya putih bersih, meskipun tangannya tidak begitu halus. Mungkin karena dia pekerja keras.


"Kenapa dok?" tanya Aish membuyarkan lamunan dokter Siras.


"Eh, nggak apa-apa" kata Siras gugup karena terlihat mengamati Aishyah.


Suasana canggung langsung tercipta antara keduanya. Aish memilih fokus pada laporan kegiatannya selama membantu di rumah sakit


***********


Beberapa saat lagi waktu pergantian shift, Aish mulai merapikan barang-barangnya dan bersiap pulang.


Mendadak UGD dipenuhi orang-orang, banyak orang terluka datang. Sepertinya korban kecelakaan, Aish buru-buru membantu para dokter menyambut tamunya.


Seorang pria penuh luka terbaring diatas brankar yang sedang didorong oleh seorang suster, tiba-tiba menggenggam tangan Aish. Gadis itu sangat terkejut karena tangannyapun dipenuhi darah.


"Aishyah...." lirih pria itu hampir tak terdengar.

__ADS_1


Dokter Siras segera menghampiri Aish, dokter itu tahu jika Aish phobia darah. Dia ingin menjaga gadis itu agar tetap aman.


Aish sudah gemetaran, tapi dia juga penasaran. Siapa pria ini? Bagaimana bisa tahu namanya?


Diamati lagi wajah pria yang penuh darah itu, perlahan dia berusaha mengingat.


Sesaat dia terperanjat, satu tangan yang tak digenggam pria itu menutup mulutnya yang menganga. Mata Aish melotot sangking terkejutnya.


"Richard, lo kenapa bisa jadi begini?" tanya Aish gugup, air matanya menetes karena temannya sedang menderita, terbaring tak berdaya.


Richard hanya terbaring lemah, matanya tertutup. Darah masih terus mengalir dari kepalanya.


"Lo kenapa Richard?" tanya Aish lagi, tapi pria itu bergeming.


"Kamu kenal dia?" tanya Siras.


"Kenal bang, dia temen Aish. Dia kenapa bang?" tanya Aish dengan linangan air mata.


"Teman kamu nakal, balapan liar" jawab dokter Siras sambil melakukan tindakan.


Jemari Richard tetap memegang tangan Aish, tidak mau dilepas. Sebenarnya, Aish sudah sangat gemetaran. Tapi dia tidak tega untuk meninggalkan teman yang kebetulan selalu ada saat Aish sedang butuh bantuan.


""Are you ok Aishyah?" tanya Siras, perhatiannya terbagi antara Richard dan Aishyah.


"Richard, lo kenapa bisa gini sih? Lo abis ngapain?" tanya Aish lebih pada diri sendiri, karena Richard yang tak membuka mata.


"Darahnya banyak banget bang dokter, dia nggak kenapa-kenapa kan bang?" tanya Aish, dia sudah sangat gemetaran.


"Kamu lepasin tangan dia, terus kamu duduk dulu. Bisa-bisa kamu ikutan pingsan kalau terus seperti ini Aishyah" kata Siras.


"Nggak bisa dilepasin bang. Kenceng banget dia pegangnya" kata Aish.


"Sebentar, biar saya yang coba lepaskan" kata Siras perlahan melepas genggaman tangan Richard.


Awalnya memang terasa sulit, tapi lama-lama jemari itu mau terlepas juga. Aishpun bisa bernafas lega.


"Kamu duduk dulu, tenangin diri kamu. Saya mau bawa teman kamu ini ke ruang tindakan. Sepertinya lukanya lumayan parah" kata dokter Siras membawa Richard ke ruang yang lebih intensif.


"Iya bang dokter" kata Aish mengikuti sang dokter yang membawa Richard. Saat pasien itu memasuki ruang tindakan, Aish menunggu didepan ruangan itu sambil menenangkan dirinya. Dia duduk sendirian di depan ruang tindakan.


Kebetulan juga jadwal jaganya sudah habis, dan sudah waktunya juga Aish pulang. Tapi gadis itu memilih untuk menunggu kabar Richard selanjutnya, agar bisa lebih tenang.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2