
Dalam kekhawatiran, akhirnya tuan muda datang juga. Richard membawa tiga buah kantong kresek berukuran lumayan besar yang langsung diletakkan di atas ranjang Aish.
Muka Richard masih menampilkan wajah masam yang sepertinya sedikit kepanasan.
"Banyak banget, lo habis borong apaan?" tanya Yopi pura-pura tidak tahu.
"Cg, diem lo" kaya Richard malu.
Sejak tadi saat dia memilih roti-roti khusus wanita itu sudah dipandang aneh oleh orang-orang disekitarnya. Dia tidak mau lagi dipermalukan oleh kedua sahabatnya ini.
"Lagian lo berdua kenapa pagi-pagi sudah nyamperin sih?" tanya Richard.
"Kita cuma mau menemani tuan putri biar nggak sendirian. Lagian lo habis darimana sih?" tanya Reno.
"Gue tadi habis dari minimarket, terus mampir ke toko baju" kata Richard
Sementara Aish malah sibuk melihat isi dalam kantong belanjaan Richard.
"Lo belinya banyak banget sih? Terus itu apalagi yang di kantong sebelah sana? Tangan gue nggak nyampek buat lihat sendiri" kata Aish yang memang tangannya sedang tertancap jarum dari selang infus.
"Gue kan sudah bilang kalau nggak ngerti, jadi ya gue beli satu dari tiap merk dan tiap model. Ya, itu dapatnya. Banyak banget macamnya, gue saja bingung. Lo nggak bingung ya?" tanya Richard sambil melihat-lihat berbagai macam pembalut dengan warna kemasan yang beraneka ragam.
"Nggak dong, kan pakainya tergantung merek dan kecocokannya. Nggak semua dipakai" kata Aish tersenyum geli, akhirnya dia berkesempatan merasakan seperti gadis-gadis lain yang pernah dibelikan pembalut oleh pacarnya.
Tapi tangannya segera merebut sesuatu yang sedang Richard amati dengan seksama. Aish khawatir kalau Richard akan membayangkan bagaimana pemakaian barang itu.
"Cara pakainya gampang banget ya. Gue nggak habis pikir bagaimana kalau sampai benda itu terjatuh saat sudah lama dipakai" kata Richard, Yopi dan Reno malah ikutan membayangkan.
"Kalian lagi mikir apaan?" tanya Aish.
Ketiga cowok dihadapannya ini malah memandang pada Aish.
"Kenapa? Horor banget lihatinnya?" tanya Aish.
Ketiganya malah menggeleng, raut wajah mereka sulit ditebak.
"Aneh" gumam Aish.
"Nih, gue sengaja beliin lo daster sama hijab baru. Gue nggak suka kalau rambut dan kecantikan lo dilihat sama orang lain, termasuk sama lo dan juga lo" kata Richard menunjuk wajah kedua sahabatnya, Reno dan Yopi yang sudah menyuguhkan tampang malas karena keposesifan Richard kembali kumat.
Sebenarnya alasan utama Richard membelikan hijab untuk Aish karena dia tidak suka melihat Siras yang terus saja mengelus sayang pada rambut kekasihnya.
"Baiknya pacarku" kata Aish semakin menggoda Richard.
Tapi jujur dalam hatinya dia merasa senang, karena Richard mau memperhatikan hingga pada hal sekecil itu.
"Tapi kenapa belinya daster sih?" tanya Aish sedikit tidak suka.
"Ya gue kepikirannya daster, soalnya lo kan pakai bajunya mirip daster cuma warnanya polos" kata Richard sambil mengamati baju yang Aish kenakan.
"Iya juga sih, nggak apa-apa deh. Makasih ya" kata Aish tersenyum.
Mereka berdua sudah melupakan kejadian sebelum camping rupanya.
"Mau dipakai sekarang?" tanya Richard.
Aish jadi berpikir lagi, dia tidak membawa ****** ***** kan? Terus bagaimana caranya memakai pembalut?
"Lo lihat tas camping gue nggak, Yop?" tanya Aish.
"Ada, sudah gue taruh di rumah lo" kata Yopi.
"Yaahh" kata Aish.
"Kenapa lagi sih?" tanya Richard.
"Nggak apa-apa kok" kata Aish bingung, dia terlalu malu untuk meminta bantuan tentang itu pada Richard.
"Yaudah, ayo gue bantu ke kamar mandi kalau mau pakai" kaya Richard.
"Nanti saja deh" kata Aish bingung.
"Cg, tahu gitu kan juga bisa nanti-nanti saja gue beliin lo pembalut, Ra" kata Richard sedikit kecewa.
"Ehm, gue minta bantuan sama suster saja ya" kata Aish.
"Terserah lo. Bentar gue panggil susternya" kata Richard memencet bel yang ada di dinding dekat ranjang.
Tak lama, datang seorang suster yang sigap membantu.
"Ada apa?" tanya suster itu.
"Sini deh, sus" kata Aish meminta suster untuk mendekat.
__ADS_1
Aish membisikkan sesuatu ke telinga suster itu. Sang suster manggut-manggut, dia mengerti keadaan Aish.
"Oh, baiklah. Kamu tunggu sebentar ya. Nanti saya datang lagi buat bantuin kamu" kata suster itu berlalu pergi.
"Lo yakin nggak butuh bantuan gue?" tanya Richard lagi.
Aish menggeleng sambil tersenyum, sekarang dia sadar, entah bagaimana dia tanpa Richard disampingnya.
★★★★★
Menjelang siang, Seno datang bersama mommynya. Tepat setelah Aish selesai sarapan dan meminum obatnya lagi.
"Oh my princess, kamu sudah baikan? Kok bisa jatuh ke jurang sih?" tanya Seno yang langsung berhambur memeluk Aish. Belum menyadari keberadaan Richard yang duduk di seberangnya.
Aish menepuk-nepuk pundak Seno, sementara Richard segera berdiri untuk mengurai pelukan tiba-tiba yang Seno berikan.
Seno menatap malas pada Richard, dibalas dengan tatapan tajam. Richard sangat tidak suka saat Seno yang selalu tiba-tiba memeluk Aish seperti ini. Meski pelukan itu adalah tanda rasa sayang dari seorang sahabat yang sudah seperti saudara.
Mommy Seno hanya geleng-geleng kepala melihat adu tatapan dari dua pria remaja didepannya.
"Sudah ya, nanti saja dilanjutkan aksi saling tatapnya. Mommy mau lihat kondisi Aish dulu" kata Mommy Seno melerai keduanya. Dia mendekat pada Aish dan memberi pelukan singkat.
"Bagaimana keadaan kamu sayang?" tanya Mommy.
"Sudah lebih baik mom, makasih sudah mau datang jenguk aku ya" kata Aish.
"Iya, sama-sama. Maaf ya baru bisa datang sekarang. Kemarin waktu dapat kabar kalau kamu jatuh, Seno sedang syuting. Dikejar dead line, maaf ya" kata Mommy.
"Nggak apa-apa kok mok, Aish ngerti kalau Seno memang sibuk banget sekarang. Tapi Aish bangga bisa punya sahabat seorang artis terkenal seperti Seno" kata Aish dengan senyum mengembang, membuat Seno malu.
"Gue juga senang punya princess kayak lo" kata Seno.
"Ngomong-ngomong, daster kamu bagus loh" kata Mommy, dia bingung kenapa dirumah sakit malah Aish memakai daster.
Aish melirik pada Richard yang berdiri santai disana. Tadi setelah suster membantunya ganti pakaian dan mandi, malah Richard memaksa suster itu untuk mengganti pakaian Aish dengan daster yang dibawanya.
Jadilah Aish kembali ganti baju, tidak memakai baju pasien pada umumnya.
"Iya nih, mommy suka?" tanya Aish bercanda.
"Suka sih, tapi mommy jarang pakai daster" kata Mommy Seno.
Saat sedang berbincang santai, terdengar seseorang mengetuk pintu.
Semua orang yang ada didalam ruangan itu menoleh. Terlihat Mike datang bersama guru pembimbing mereka, pak Bagyo.
"Selamat pagi, Aishyah" kata pak Bagyo memasuki ruangan, sementara Mike hanya mengekor pada gurunya.
"Pagi, pak" kata Aish tersenyum ramah.
"Maafkan bapak baru bisa datang hari ini ya, kemarin bapak sibuk mencari tahu siapa penyebab kamu dan Nindi sampai lari ketakutan. Dan juga, bapak masih harus meneruskan kegiatan camping yang baru saja usai" kata pak Bagyo memberi penjelasan.
"Iya pak, tidak apa-apa. Terimakasih sudah mau menjenguk saya" kata Aish.
Pak Bagyo berjalan mendekat, setelah meletakkan sekeranjang buah segar diatas meja.
"Bagaimana keadaan kamu sekarang?" tanya Pak Bagyo.
"Sudah lebih baik, pak. Cuma kaki saya yang masih sakit" kata Aish.
Pak Bagyo melihat ke arah kaki kanan Aish yang dililit perban.
"Kenapa itu? Apa sampai patah?" tanya pak Bagyo memastikan.
"Enggak kok pak, cuma retak saja kata dokternya. Mungkin beberapa minggu lagi sudah bisa berjalan lagi" kata Aish menjelaskan.
Pak Bagyo manggut-manggut, dia mulai memindai ruangan untuk melihat orang-orang yang berada di sekitar Aish.
Matanya terkejut melihat penampakan Seno disana.
"Loh, bukannya ini Senopati OW ya? Artis yang sedang naik daun itu?" tanya Pak Bagyo.
Seno hanya mengangguk, "Iya pak, Seno teman baik saya" kata Aish.
Pak Bagyo mendekat lada Seno, malah mengajak foto bareng.
"Lah, niat jenguk apa mau foto sama artis sih pak guru ini" gumam Mike yang daritadi hanya diam.
Mommy Seno tersenyum melihatnya, guru Aish yang satu ini memang masih berjiwa muda meski tubuhnya sudah jelas termakan usia.
Banyak garis halus tercipta di wajahnya, tapi semangatnya mengalahkan para pemuda. Beliau masih aktif di banyak kegiatan sekolah, maklum saja, beliau memang dulunya anggota militer yang sekarang sudah pensiun.
"Masih kurang fotonya, pak?" tanya Seno yang sudah banyak mendapat jepreten kamera dari ponsel guru pembina Aish.
__ADS_1
"Sebentar ya, nanti saya mau pamerkan sama anak hadis saya. Dia sangat ngefans sekali sama kamu, pasti dia histeris kalau tahu ayahnya sudah pernah foto bareng sama idolanya" kata pak Bagyo yang melihat hasil jepretan di ponselnya.
"Terimakasih ya" kata pak Bagyo sambil menepuk pundak Seno.
"Lo sudah baikan? Kalan lo keluar dari rumah sakit?" tanya Mike, semua kembali fokus pada Aish setelah mendengar pertanyaan Mike.
"Nggak tahu juga nih kapan gue keluar dari sini. Sebenarnya gue nggak betah kalau lama-lama di sini" kata Aish.
Richard jadi kepikiran, bagaimana nanti kalau Aish sudah diperbolehkan keluar dari rumah sakit?
Apa dia bisa beraktifitas seperti biasa kalau kakinya masih sakit seperti ini. Dia harus mencari solusi untuk ini. Dia tidak akan membiarkan Aish sendirian dirumahnya, tapi untuk tinggal bersamanya juga tidak mungkin.
Nanti lah, akan Richard cari jalan keluarnya. Dia butuh Yopi dan Reno untuk mencari solusi bersama.
"Kalau lo pulang, jadi sendirian dong princess? Mending lo tinggal dirumah gue saja. Iya kan mom? Dirumah kan banyak art yang bisa bantuin Aish" kata Seno.
"Iya, boleh. Kamu tinggal dirumah mommy saja ya selama masih sakit. Mommy senang sekali kalau ada kamu dirumah" kata mommy.
"Memangnya kemana orang tua Aish? Kenapa harus tinggal dirumah Seno kalau dia sendiri kuga punya rumah?" tanya Mike dalam hatinya.
"Sebenarnya, bagaimana kehidupan Aish yang sebenarnya?" batin Mike masih belum mendapat jawaban setelah beberapa lama mengenal Aish.
"Nggak usah, nanti Aish bisa ditemani art dari rumah gue kalau dia mau tinggal dirumahnya. Gue nggak mau ngrepotin lo, Sen. Lagian lo juga sibuk sama kerjaan lo. Gue takutnya Aish malah ngerasa sungkan kalau tinggal sendiri dirumah lo nanti" kata Richard.
"Benar juga sih, mom. Syuting Seno kan lagi padat sekarang. Nanti kalau ada aku, malah dia nggak fokus sama kerjaannya. Nggak apa-apa, nanti Aish tinggal dirumah Aish sendiri saja" kata Aish menolak secara halus, masih dengan senyuman.
"Yasudah, terserah kamu saja. Pokoknya jangan pernah sungkan buat minta bantuan apapun itu sama mommy ya, sayang" kata mommy Seno.
"Mommy sama Seno mau pamit dulu ya, ini orang lapangan sudah bolak-balik hubungi mommy buat mengingatkan waktunya Seno syuting" kata Mommy mendekat dan memeluk singkat Aish, tak lupa memberi sebuah kecupan singkat di kening gadis yang sudah dianggapnya sebagai anak sendiri itu.
"Iya mom, hati-hati dijalan ya" kata Aish.
Giliran Seno mendekat, saat akan memeluk Aish, kembali Richard pasang badan untuk menghalangi keinginan Seno.
Tampang masam Seno jelas memandang pada Richard yang sudah menatapnya tajam. Seno belum berani untuk melawan Richard.
"Falen saja kalah, apalagi gue" batin Seno.
"Gue balik ya, princess. Semoga cepat sembuh. Gue sayang sama lo" kata Seno membelai lengan Aish.
"Iya, hati-hati. Makasih sudah mau datang" kata Aish.
"Jadi, apa sudah ketemu pelaku yang menyebabkan kecelakaan itu terjadi, pak?" tanya Richard sepeninggal Seno dan mommynya.
"Sedikit lagi, kami masih mencari keberadaan topeng yang dijadikan oleh pelaku sebagai alat untuk menakuti Nindi waktu itu" kata pak Bagyo.
Mike sebenarnya tahu, tapi dia tentu saja bimbang untuk mengatakannya.
Adit adalah teman dekatnya, dan juga bukan niat Adit untuk mencelakai temannya yang lain. Semua ini diluar keinginan semua pihak.
Tapi untuk melaporkan Adit, juga tidak mungkin Mike lakukan.
Keputusan Mike adalah diam. Dia akan membiarkan orang lain tahu dengan sendirinya.
"Nindi bilang kalau hantu yang dia temui juga memakai seragam olahraga, sama sepertinya. Jadi bisa dipastikan kalau pelaku juga sama-sama anak murid saya. Tapi kami masih kesulitan mencari barang buktinya" kata Pak Bagyo.
"Lo nggak cari tahu juga, ketua tim?" tanya Richard menyindir Mike yang dari tadi hanya diam. Sangat mencurigakan.
Mike membuang muka, tidak suka dengan tatapan dan pertanyaan Richard.
"Gue juga berusaha buat melindungi semua anggota tim gue. Lo lupa kalau ada gue yang nggak pernah ninggalin Aishyah? Gue ikut terjun ke jurang itu buat nyelametin dia" kata Mike.
Richard terdiam, dia ingat bagaimana Nindi bercerita jika Mike memang melepaskan pegangan tangannya, Dan lebih memilih ikut terjatuh bersama Aish.
"Sudah, yang penting kan saya tidak apa-apa pak. Semoga kejadian semacam ini tidak terulang lagi" kata Aish menengahi pertikaian Mike dan Richard.
"Lo sendiri bagaimana keadaannya Mike? Lo kan juga jatuh, sama kayak gue" tanya Aish yang tidak mendapati luka serius di tubuh Mike.
"Gue nggak apa-apa, Sya. Gue sempat pegangan ke pohon waktu itu, jadi luka gue nggak separah lo" kata Mike.
"Untung juga lo bawa penghisap bisa ular waktu itu, jadi lo tertolong banget. Kok lo bisa kepikiran untuk membawa alat semacam itu sih?" tanya Mike.
"Ya buat jaga-jaga doang sih sebenarnya, tapi ternyata memang benar-benar kepakai ya" kata Aish.
Perbincangan mereka diakhiri karena adanya panggilan mendesak dari sekolah untuk pak Bagyo, membuatnya harus segera kembali ke sekolah dan membawa Mike bersama.
Tinggallah Aish dan Richard disana. Richard masih kepikiran dengan Aish setelah diperbolehkan keluar dari rumah sakit.
"Kenapa kelihatan bingung gitu sih?" tanya Aish.
Yang ada dalam pikiran Aish adalah Richard bingung dengan biaya rumah sakitnya. Dia jadi merasa semakin tidak enak pada Richard.
.
__ADS_1
.
.