Cantik, Kok Minder?

Cantik, Kok Minder?
Jadi, ternyata Siras adalah...


__ADS_3

"Hoaammm..... Capek banget" Hendra menguap beberapa kali.


Sudah cukup lama Hendra berlayar di dunia maya, netranya sudah terlalu lelah untuk meneruskan kegiatannya. Tanpa banyak kata, dia menuju kasur nyamannya. Ingin segera memejamkan mata dan melupakan kejadian yang menghantuinya sejenak. Biarlah sosok itu diam di tempatnya tanpa mengganggu.


Hendra tertidur tanpa sempat mematikan laptopnya.


**********


Lain halnya Falen, dirumahnya sedang kedatangan pria yang katanya adalah kakak laki-lakinya. Seorang kakak yang berbeda ayah dengannya.


"Hai Brian, long time no see. Don't you miss me?" tanya kakaknya saat melihat sang adik baru memasuki rumahnya.


"Never" ucap Falen, hubungannya tidak terlalu baik dengan kakaknya.


"Sit down here Brian, I want to ask something to you" kata kakaknya.


Bule itu masih menghormati kakaknya, diapun duduk di sampingnya. Menunggu pertanyaan yang akan dilontarkan.


"Kamu kenal Aishyah?" tanya Siras, ternyata Siras adalah kakak dari Falen.


"No, I don't know about her" jawab Falen menutupi kedekatannya dengan Aishyah.


"Really? I'm not sure about that" kata Siras.


"What ever, That's not my bussiness" kata Falen cuek.


Falen sudah menyangka jika cepat atau lambat, kakaknya akan menanyakan perihal Aishyah kepadanya. Begitupun Aishyah, pasti nanti akan timbul pertanyaan yang sama darinya.


"Oh come on Brian, Saya hanya bertanya. Jawab saja yang jujur" kata Siras.


"Eh, anak-anak mama lagi ngumpul disini. Mama senang kalian akur" kata mama Falen yang datang membawakan senampan penuh berisi minuman dan camilan.


Falen memalingkan muka, sedangkan Siras hanya tersenyum kecil.


"Gimana liburan kamu sayang?" tanya mamanya.


"Happy dong ma. Sekarang Falen mau ke kamar dulu ma, capek, mau istirahat" kata Falen beranjak dari ruang tamu. Dia menaiki tangga menuju ke lantai dua, dimana kamarnya berada.


"Kamu tumben mau pulang kesini nak?" tanya mamanya pada sang kakak, percakapan mereka masih terdengar di telinga Falen.


Falen memasuki kamarnya, perpaduan warna biru dan abu-abu memberikan ketenangan baginya. Dia merebahkan diri diatas ranjang tanpa membuka sepatunya. Mengingat hubungan tak sehat diantaranya dengan sang kakak.


Siras Abdullah bin Walid, kakaknya itu keturunan Turki. Karena menikah dengan ayahnya, mama Falen mengikuti jejak sang suami yang seorang muslim. Dan melahirkan Siras tak lama kemudian.


Tapi karena ketidakcocokan dengan keluarga mamanya yang berbeda keyakinan, dengan terpaksa keduanya harus berpisah. Hak asuh atas Siras jatuh pada mamanya sampai usia Siras enam tahun. Setelahnya, dia diasuh ayahnya dan menetap di Turki hingga lulus kedokteran.

__ADS_1


Tak lebih dari dua tahun yang lalu Siras menjadi dokter muda di rumah sakit Persada, yang masih satu yayasan dengan SMA Mahardika. Tempatnya sekolah saat ini. Namun, pria itu tidak mau serumah dengan mamanya. Dia memilih tinggal di apartemennya sendiri.


Dan untuk papi dari seorang Brian Falentino Usmany adalah seseorang yang berasal dari Amerika. Papinya mengikuti keyakinan mamanya saat akan melangsungkan pernikahan.


Meski telah bercerai dengan ayahnya Siras, rupanya mama Falen tetap pada pendiriannya sebagai seorang muslim. Hingga membawa suami barunya untuk menjadi mualaf hingga sekarang mereka mempunyai satu anak laki-laki yaitu Falentino.


Lelah dengan pikirannya, Falen tertidur tanpa sempat mandi ataupun melepas sepatunya.


*********


Hendra masih terlelap saat menjelang maghrib. Di waktu yang katanya tidak baik untuk tidur dan keluar rumah seperti ini, membuat tidur Hendra mendadak tidak nyenyak.


Dalam mimpinya, dia melihat sosok perempuan hitam yang mengikutinya dari semalam itu sedang berada ditepi pantai.


Tapi gaun hitam yang dia kenakan ternyata sebenarnya berwarna navy. Gaun selutut dengan model sabrina itu sangat indah melekat di tubuh wanita yang berambut sepinggang dihiasi bando dikepalanya untuk menjaga agar rambut depannya tidak mengganggu penglihatan.


Wanita itu mengenakan high heels berwarna senada, sepatu yang tidak cocok untuk digunakan di pantai seperti ini.


Dia berdiri di tepi pantai, didekat bangku yang sebenarnya adalah sebatang pohon yang telah mati. Tempat dimana semalam Aish dan Falen berbincang.


Wanita itu hanya diam memandangi lautan lepas. Namun Hendra hanya bisa melihatnya dari belakang. Dia tak mampu menggerakkan anggota tubuhnya untuk sekedar maju selangkah.


Lama kelamaan, wanita itu berubah. Dari yang awalnya Hendra yakini adalah wanita yang cantik, tubuhnya perlahan membiru.


Wajahnya samar karena membelakangi matahari. Gaunnya berubah berwarna hitam. Dia bersiap menerkam Hendra, gerakannya cepat sekali saat melesat menuju Hendra yang terpaku di tempatnya.


"Aaahhhh" teriak Hendra terduduk, ternyata hanya mimpi. Peluhnya berjatuhan, dia masih berusaha mengatur napasnya.


Segera dia meminum air putih yang selalu tersedia di atas nakas dekat ranjangnya.


"Sialan, mimpi yang mengerikan" gumam Hendra sambil mengamati seluruh sudut kamarnya.


Dia sudah tak mendapati adanya sosok itu di dalam kamarnya. Sedikit dia bisa bernapas lega.


"Baru jam setengah tujuh rupanya" kata Hendra saat melihat jam di ponselnya, padahal ada juga jam dinding, tapi kebanyakan orang lebih suka melihat penunjuk waktu dari ponsel.


Hendra keluar dari kamarnya, dia menuju lantai satu untuk mencari keberadaan sang mama yang ternyata sedang mencoba memasak di dapur.


"Mama ngapain?" tanya Hendra.


"Masak dong, mama ingin membuat makan malam buat kamu" kata mamanya.


"Biar Hendra bantuin ya ma" kata Hendra tak yakin dengan keinginan mamanya untuk memasak, setahunya mamanya ini nol besar untuk urusan semacam ini.


"Biar mama saja, mama sambil lihat tutorialnya di yutub ini" kata mamanya.

__ADS_1


Hendra tetap mendekat, melihat layar ponsel mamanya yang terlihat tutorial membuat ayam asam manis, semacam koloke.


"Sudah dalam tahap apa ini ma?" tanya Hendra.


"Baru saja menyiapkan bumbu-bumbunya sayang" kata mama.


"Hendra cuci ayamnya saja ya" kata Hendra, mamanya mengangguk setuju.


Dengan cekatan, Hendra membersihkan ayam yang telah mamanya sediakan. Kemudian memotongnya menjadi beberapa bagian lebih kecil.


Selanjutnya cowok itu menyiapkan panci untuk merebus ayamnya. Selanjutnya menambahkan daun jeruk, sereh dan jahe geprek agar tidak terlalu amis.


"Uwah, anak mama ini ternyata pintar memasak ya. Mama seharusnya belajar sama kamu saja. Darimana kamu busa semua ini Hendra?" tanya mamanya.


"Mama terlalu lama tidak memperhatikan tumbuh kembang Hendra. Sampai Hendra belajar semuanya sendiri" ucap Hendra santai, tapi membuat sangat menohok di hati mamanya.


"Maafkan mama ya nak, mama terlalu sibuk dengan pekerjaan, hingga tidak tahu kamu sudah tumbuh menjadi lelaki yang lebih dewasa" kata mama.


"It's ok ma. Mama nggak usah khawatir, sebisa mungkin Hendra akan tetap menjadi anak yang baik. Sekarang Hendra sudah punya Aishyah yang sangat cerewet untuk memarahi Hendra jika berbuat salah" kata Hendra.


"Iya, mama juga suka dengan anak itu. Dia memberi pengaruh positif pada teman-temannya. Mommy Seno dan mamanya Falen juga sangat suka padanya" kata mama Hendra.


"Sekarang mama lanjutin bikin bumbunya ya, Hendra mau bikin adonan untuk membuat ayam krispinya" kata Hendra.


"Are you sure that you can do it, son?" tanya mamanya.


"Ini terlalu gampang buat Hendra ma" ucap Hendra.


"Mama kalah sama kamu ya, hehehehe" kata Mama Hendra.


Sore itu tercipta sedikit kedekatan antara Hendra dan mamanya yang hampir tidak pernah bertemu selain saat sarapan dan makan malam.


Ada sedikit kebahagiaan kecil diantara keduanya. Dari memasak bersama, timbul rasa yang lebih dalam untuk saling menyayangi. Seperti itulah seharusnya keluarga, saling menolong dan saling melengkapi.


Sebisa mungkin, Hendra akan menjadi anak yang bisa membuat mamanya bangga. Itulah yang kini terbesit dalam hatinya saat melihat senyum tulus dari bibir mamanya.


.


.


.


penampakan dokter Siras versi othor, kalau kalian ada referensi lain, boleh kok. Dokter Siras Abdullah bin Walid ini sekarang usianya 25 tahun yaa ...


__ADS_1


__ADS_2