Cantik, Kok Minder?

Cantik, Kok Minder?
lulus


__ADS_3

Ponsel Aish bergetar dari dalam tas slempang mungilnya. Padahal Aish masih diliputi amarah, napasnya masih tersengal saat ini.


Gadis itu masih berusaha tenang dengan kedua tangan yang digenggam erat oleh Richard.


Aish masih menatap tajam pada Yopi yang masih bergeming, tak bergerak ditempatnya.


"Lepas, Richard" kata Aish.


"Nggak akan, lo bisa bikin Yopi babak belur kalau gue lepasin tangan lo" kata Richard.


"Ada telpon, gue mau ambil hape di tas" kata Aish memberontak dari Richard.


"Oh, ok" kata Richard, dia hanya melepas satu tangan Aish.


"Sulit buka tasnya, lepasin semuanya" rengek Aish dengan tatapan tajam.


Seolah tak terdengar, Richard hanya membantu Aish membuka tasnya. Membuat Aish mendecak sebal.


"Emily" gumam Aish saat melihat nama Emily terpampang di ponselnya.


Entah kebetulan macam apa, biasanya Emily akan mengabari Aish melalui chatting sebelum melakukan video call.


"Gue angkat ya?" tanya Aish meminta persetujuan dari Richard.


Richard hanya mengangguk pelan, kembali netra Aish menatap Yopi.


"Hai, Em"


sapa Aish pada wanita cantik yang kini terlihat akrab dengannya.


"Hallo aunty Aish, Are you ok? Silvia kangen tante" Emily menirukan suara anak kecil.


Layar ponsel Aish dipenuhi oleh wajah lucu gadis mungil itu.


"Do you want to see your daddy's face, Silvia? See him over there" kata Aish sedikit mengeraskan suaranya.


Memperlihatkan wajah Yopi yang menatapnya dengan nanar, dengan bekas pukulan di pipinya yang membuat ujung bibirnya sedikit berdarah.


"Are you crazy, Aishyah. Gue sudah bilang sama lo jangan beri tahu siapapun. Kenapa lo malah kasih tahu Yopi?" Emily terdengar agak emosi dari nada suaranya.


Yopi mendekat, melihat tampilan wajah kekasihnya di belahan bumi yang berbeda. Air matanya kembali turun, bukannya cengeng. Hanya saja Yopi merasa jika dia menjadi tak berguna kali ini.


"Em, lo nggak kangen sama gue?"


pertanyaan pertama dari mulut Yopi membuatnya mendapat satu cubitan keras dari Aish.


"Lo nggak ada pertanyaan lainnya, ya? Otak lo memang mesum banget" kata Aish dengan pelototan tajam pada Yopi.


"Auwh, sakit Sya" gumam Yopi yang kembali meringis kesakitan.


"Kamu kenapa, Yop?" tanya Emily dengan suara parau, dia mulai menangis haru.


"Gue nggak apa-apa, Em. Maafin gue yang nggak ada disamping lo disaat tersulit dalam hidup lo" kata Yopi yang sudah merebut ponsel Aish dan memonopolinya.


Tak terasa buliran air mata juga berjatuhan di pipi Aish. Rasa haru menyelimutinya, melihat pertemuan Emily, Yopi, dan Silvia meski hanya lewat video call.


Richard menghapus jejak air mata Aish dengan jempolnya. Bukannya terharu, Richard malah mengamati Aish yang bersikap haru seperti ini.


"Gue ngerasa aneh kalau lo gini, Ra. Mendingan denger lo yang cerewet" kata Richard lirih, dia sedikit menertawakan Aish.


Aish melirik tajam pada Richard, sedikit memukul dadanya karena malu. Tapi masih ada air mata disana, dan juga ada senyuman. Malu bercampur haru.


Senang saja rasanya bisa mempertemukan Yopi dan anaknya. Semoga Yopi bisa berubah kali ini.


"Lo juga harus lihat keadaan Nindi, dia bisa bunuh diri kalau ditinggal sendirian" kata Richard.


"Ya Allah, Nindi" Aish terlupakan pada temannya yang satu itu.


Segera Aish masuk kembali ke dalam kamar Nindi, dan berjalan mendekatinya. Nindi masih menangis sesenggukan di atas ranjangnya.


"Nin, sudah ya. Lo jangan nangis lagi, gue minta maaf karena sudah bikin pipi lo sakit" Aish berkata dengan lembut, sambil mengelus pundak Nindi yang menangis dengan menutup wajahnya.


"Seharusnya aku ndak berbuat itu sama Yopi kan, Aish? Aku ngerasa jadi cewek murahan banget" kata Nindi.


Aish merangkul Nindi, memberinya pelukan hangat.


"Sudah ya Nin, yang sudah terjadi jadikan pelajaran buat lo. Sekarang yang harus lo pikirin cuma kesehatan lo, biar lo cepat pulih. Ingat kalau sebentar lagi kita ujian Nin, kita harus lulus sama-sama" kata Aish.


"Lo jangan nangis lagi ya, sebentar lagi ibu lo pasti datang. Jangan bikin beliau curiga" kata Aish lagi.


Nindi melepas pelukannya, menghapus air matanya dan memandang wajah Aish yang ada di hadapannya.


"Kamu mau kan merahasiakan semuanya?" tanya Nindi.


"Tentu, gue nggak akan bicarakan sama siapapun" kata Aish.


Nindi mencoba tersenyum, "Makasih ya, Aish" kata Nindi yang membuat air matanya kembali jatuh.


"Sudah Nin, jangan nangis lagi. Jangan bikin ibu lo khawatir ya" Aish mengusap air mata Nindi.


Setiap orang pasti punya kesalahan, tinggal dianya mau atau tidak untuk menyadari dan memperbaiki diri.


Kesempatan kedua harus kita beri untuk menghargai niat tulus mereka yang berusaha untuk berubah.


Sementara di luar sana, Yopi sudah bisa menerbitkan senyumnya saat bercengkerama dengan Emily dan Silvia.

__ADS_1


"Kalau aku sudah ada tabungan nanti, aku janji akan mengunjungi kamu dan Silvia, Em. Maafin aku ya, aku janji nggak akan pernah berpaling dari kamu" kata Yopi, rupanya dia terlupakan dengan kejadian Nindi.


Dasar buaya darat.


"Iya, aku sama Silvia pasti setia menunggu saat itu. Saat dimana kamu datang untuk bertemu dengan kami disini" kata Emily yang membuat semangat Yopi untuk menjadi lebih baik meningkat seribu kali lipat.


Ada keyakinan dalam hatinya kali ini, keyakinan yang membuatnya harus bisa berubah demi Silvia.


Dan Yopi kembali mendapatkan pelajaran yang berharga dalam hidupnya.


★★★★★


Aish dan Ilham mendapat cuti kerja untuk persiapan ujian Nasional. Beruntung mereka bekerja ditempat Richard yang juga seorang pelajar.


Di hari tenang sebelum ujian, Aish menyendiri. Memutuskan untuk berziarah ke makam keluarganya. Dan dia mematikan ponselnya karena tak ingin ada gangguan saat berdoa.


Mengendarai motor birunya yang sudah Yopi kembalikan, Aish meluncur sendirian ke makam. Dia berangkat terlalu pagi, saat semua orang masih berkegiatan di dalam rumah masing-masing.


"Assalamualaikum bun, kak Alif. Aish datang lagi hari ini, dan Aish sendirian saja" Aish mengawali ziarah kuburnya dengan ucapan salam.


"Bun, besok Aish ujian nasional. Nggak kerasa sudah lama ya Aish jadi anak SMA, sebentar lagi mau jadi anak kuliahan, Bun" kata Aish yang tersenyum saat bercerita pada nisan bundanya.


"Aish akan buktikan kalau Aish bisa jadi kebanggaan ayah dan bunda, kak Alif jangan cemburu, ya" kata Aish yang mulai tak kuasa menahan air matanya.


"Aish selalu mendoakan kalian, semoga kalian selalu mendapat tempat yang terindah disisi Allah. Selalu jaga Aish dari sana ya, bun" kata Aish yang memulai ritual ziarah kuburnya.


Setelah mengeluarkan buku yasin dari dalam tas mungilnya, Aish mulai membacakan serangkaian adab ziarah kubur.


Setelah dari makam bunda dan kakaknya, Aish menuju ke makam ayahnya yang berada tak jauh dari tempat bundanya.


"Assalamualaikum, yah" salam Aish saat sampai di makam ayahnya.


Aish menaburkan kelopak bunga dan menyiram air mawar diatas makam ayahnya.


"Yah, tolong jaga bunda dan kakak disana ya. Aish janji, pasti Aish bisa menjaga diri sendiri di sini. Ayah hanya perlu mengawasi Aish dari sana" kembali air mata itu menetes.


Seorang gadis remaja yang sudah ditinggalkan orang tuanya, beruntung dia dibekali dengan ilmu adab yang baik oleh orang tuanya dulu saat mereka masih ada.


Sehingga dia tak sampai terjerumus ke dalam pergaulan bebas yang meresahkan para orang tua.


Aish masih betah untuk bercerita pada ayahnya tentang kehidupan yang dia lalui selama ini.


Dia tak menyadari jika matahari sudah terlampau tinggi, dan Aish masih belum juga mengakhiri sesi curhatnya.


Sementara ditempat lain, Richard yang daritadi tak bisa menghubungi Aish sudah merasa gelisah. Dan sasaran empuknya tentu saja Yopi.


"Lo sudah lihat ke rumahnya apa belum sih, Yop?" tanya Richard melalui sambungan telepon.


"Sudah, Ri. Nggak ada orang dirumahnya. Motornya nggak ada" kata Yopi yang sudah jengah menjadi sasaran amarah Richard.


"Palingan juga ke makam ibunya" kata Yopi.


"Oh iya, benar juga lo. Pokoknya kalau sampai nanti dhuhur dia belum pulang juga, lo harus nyusulin dia ke makam ibunya ya. Cariin sampai ketemu" ancam Richard.


"Iya bawel. Lo yang punya pacar kenapa jadi gue yang ribet sih" gerutu Yopi.


"Berani lo sama gue?" tantang Richard.


Yopi memutar bola matanya jengah, ancaman Richard sudah tak membuatnya takut.


"Eh, Ri. Sudah dulu ya, Emily telpon gue nih. Gue juga kangen kali sama buah hati gue" kata Yopi yang tiba-tiba memutus panggilan teleponnya dengan Richard.


"Sialan lo, Yop" gerutu Richard. Biasanya dia yang semena-mena menutup panggilan telepon.


Di area makam, Aish merasa tengkuknya panas. Dan saat dia mendongak, rupanya matahari sudah terlampau tinggi.


Dia tak menyadarinya.


"Pantesan lapar" gumam Aish.


"Aish pulang dulu ya, yah. Sudah siang, Aish lapar" kata Aish tersenyum, seolah bisa mengatakannya secara langsung pada sang ayah.


"Assalamualaikum, yah" kata Aish yang mengelus sebentar pusara di depannya.


Saat berada diatas motornya, Aish memutuskan untuk mencari makan terlebih dahulu. Mengisi perutnya yang kosong karena dia tadi tidak sarapan.


Perjalanan membawanya ke sebuah warteg langganannya. Tak jauh dari rumahnya.


"Tumben sendirian neng?" tanya penjual warteg, biasanya Aish datang bersama Yopi ke tempat ini.


"Iya bu, Yopi lagi dirumah" kata Aish.


"Mau makan kayak biasanya neng?" tanya penjual itu.


"Iya bu" jawab Aish singkat.


Dia sedang menghidupkan ponselnya lagi, dan benar saja. Banyak sekali chatting dan panggilan masuk dari Richard.


Aish membalas satu pesan dari Richard.


Gue lagi makan, Richard. Nanti gue telpon lo kalau sudah dirumah ✓


Pesan itu langsung dibaca oleh Richard, bahkan langsung menelepon.


"Iya halo" Aish mengangkat sambungan telepon yang Richard lakukan.

__ADS_1


"Kemana saja sih? Gue nyariin lo tahu" gerutu Richard yang khawatir.


"Nanti gue telpon lagi, ya. Gue lagi makan soalnya" kata Aish yang langsung menutup telepon dari Richard.


"Sialan, nggak Yopi nggak Aishyah. Awas kalian ya" gerutu Richard yang teleponnya juga tiba-tiba ditutup oleh Aish.


Dan Aish bisa melanjutkan makan siangnya dengan nyaman.


★★★★★


Tak banyak kegiatan yang Aish lakukan di hari tenang ini. Sejak sore, Aish, Richard dan Yopi menghabiskan waktu bersama dengan belajar untuk ujian esok hari.


Dan tak ketinggalan punggawanya yang ikut-ikutan belajar bersama di rumah Aish yang sederhana.


Selama ujian berlangsung, mereka selalu menyempatkan diri untuk belajar bersama. Tentunya Seno dengan pengawalan ketat karena takut kalau tiba-tiba ada fans yang mengganggunya.


Hidupnya tak sebebas dulu, tapi Seno sangat menikmati proses kehidupannya ini. Dia jadi sangat percaya diri.


"Pokoknya gue mau satu kampus sama lo kalau sudah lulus nanti, princess" celetuk Seno.


"Gue juga" kata Hendra.


"Iya, tapi gue di kampus Bunga Bangsa. Kan gue dapat beasiswanya disana" kata Aish.


"Oke, nggak masalah. Kampus itu bagus kok. Pasti reputasi kampus itu bakalan lebih bagus lagi kalau ada artis setenar gue yang masuk disana" kata Seno menyombongkan diri.


"Gaya lo, Senopati. Enek gue dengernya" ejek Falen.


"Lo sendiri mau kemana, Fal?" tanya Aish.


"Mama nyuruh gue masuk kedokteran" kata Falen, dan jurusan itu tak ada di kampus tujuan Aish.


"Yah, kita pisah dong, Fal" kata Seno.


"Ya nggak apa-apa, Sen. Kan masih bisa ngumpul kayak biasanya" kata Hendra.


"Lo sendiri mau kemana rencananya, Ri?" tanya Seno yang penasaran.


Mungkin nggak sih kalau Richard membiarkan Aish berbeda kampus dengannya?


"Nggak tahu gue, lihat nanti saja" kata Richard.


"Yah, nggak seru lo" kata Seno.


Ujian Pamungkas dilalui dengan baik oleh Aish. Tinggal menunggu pengumumannya saja.


"Alhamdulillah.... Kita lulus Nin, kita semua lulus" teriakan bahagia terdengar dari semua murid.


"Iya, ndak sia-sia tiap hari kita belajar ya, Aish" kata Nindi yang juga merayakan kelulusannya dengan bahagia.


Sejak kejadian di rumah sakit waktu itu, hubungan Yopi dan Nindi menjadi canggung. Mereka sudah tidak pernah terlihat berangkat ataupun pulang sekolah bersama.


Mereka sudah bisa menjaga diri, berusaha membatasi pergaulannya.


"Ingat ya anak-anak, prosesi wisuda akan diadakan dua minggu lagi. Kita nggak ada acara rekreasi bersama, ya. Mendingan kalian fokus untuk ujian penerimaan mahasiswa baru" kata bu guru, wali kelas Aish.


"Huuuuuu" teriakan mengejek dikeluarkan oleh para siswa.


"Nanti kalian harus didampingi wali kalian masing-masing saat prosesi wisuda berlangsung, ya" ucapan bu guru kali ini membuat Aish sedikit berfikir.


"Apa mas Willy mau direpotkan untuk wisudanya?" Aish meragu, dia jadi ingat orang tuanya.


"Kok murung sih? Kenapa?" tanya Nindi.


"Nggak apa-apa, Nin. Jadi, dua minggu lagi kita wisuda ya" kata Aish tersenyum, meski dalam hati menangis.


Bahkan sampai pulang sekolah, Aish masih terlihat murung.


"Kenapa, Ra?" tanya Richard. Tak biasanya Aish diam seperti ini.


"Mas Willy mau nggak ya kalau gue minta tolong buat nemenin di acara wisuda nanti?" tanya Aish meragu.


"Pasti mau lah, nanti gue yang bilang sama dia. Kapan acaranya?" tanya Richard.


"Masih dua minggu lagi, sih. Gue takutnya mas Willy sibuk. Andai saja bunda masih ada" gumam Aish .


Richard menoleh pada Aishyah, tentu saja dia jadi merasa kasihan padanya.


"Lo tenang ya, nanti gue pasti minta kak Willy buat nemenin lo" kata Richard.


Aish mengangguk, sudah bisa tersenyum lagi sekarang.


Apa kabar Yopi dengan acara wisudanya?


Ternyata Yopi dengan bangganya meminta engkong dan enyak yang menemani. Yopi sudah menganggap mereka seperti orang tuanya sendiri.


Dan orang tua Yopi sudah benar-benar mencoretnya dari kartu keluarga.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2