
Besok sudah hari Senin, tidak terasa tahun ajaran baru akan segera dimulai. Sebagai anak yang rajin, tentu Aish sudah mempersiapkan segala keperluan belajarnya besok.
Richard selalu menyempatkan diri untuk memastikan keselamatan Aish dengan menelpon atau mengirim chatt di waktu senggangnya. Ternyata banyak sekali yang harus dilakukannya di Jepang, dia kira mereka akan pulang setelah prosesi pemakaman kakeknya, ternyata banyak agenda dengan keluarga besarnya.
Jam setengah sembilan malam, Aish sudah bersiap untuk mengarungi pulau kapuk saat ponselnya kembali berdering. Pasti Richard yang menghubunginya. Aish membuka pesannya dengan hati gembira.
"*Lagi ngapain?"
^^^"Rebahan, mau tidur"^^^
"Masih sore, kenapa sudah tidur?"
^^^"Besok kan sudah masuk sekolah"^^^
"Oh, iya. Lo berangkat sama siapa?"
^^^"Sendiri, kan gue sudah punya motor 😁"^^^
"Hati-hati ya, nanti kalau gue sudah balik, tiap hari biar gue yang antar jemput lo"
^^^"Nggak usah, kasihan motor gue malah dianggurin"^^^
"Kalau gitu kita berangkat pakai motor lo saja"
^^^"Terserah lo tuan... Sudahan dulu yah, gue ngantuk nih. Dah Richard"^^^
"Have a nive dream, My Khumaira. Love you*"
Aish hanya membaca pesan terakhir Richard tanpa mau membalasnya, dia terlalu malu untuk menjawab ungkapan sayang dari Richard. Untung saja cowok itu terlalu pengertian untuk gadis sepolos Aish.
★★★★★
Aish sampai di sekolah saat jam masuk masih kurang lima belas menit. Bersamaan dengan Falen yang datang. Mereka keluar bersama dari parkiran menuju kelas barunya.
Seperti biasa, Falen selalu merangkul pundak Aish saat berjalan bersama. Mereka berdua mendapat perhatian dari adik kelasnya.
"Mereka lihatin kita Fal" kata Aish.
"Biarin" kata Falen.
"Jadi, ini ya pacarnya kak Brian?" tanya seorang siswi baru.
"No, She is my princess, not my girlfriend" jawab Falen. Sementara Aish hanya bisa melempar senyum. Adik tingkatnya punya keberanian lebih untuk bertanya secara langsung.
"Benar begitu? Jadi gue masih ada kesempatan dong kak?" tanya siswi itu dengan mata berbinar.
"Ini hadiah dari gue buat kak Brian" katanya memberi sebungkus coklat yang diberi pita merah.
Falen hanya tersenyum dan mengambil coklat itu dari tangan adik kelasnya. "Thank's ya. Kalau lo mau deketin gue, lo harus dapat restu dari ketua regu gue ini" kata Falen menunjuk Aish.
"Kok jadi gue sih" kata Aish menggelengkan kepala, tidak habis pikir dengan temannya yang satu ini.
"Gue ke kelas dulu ya" kata Falen mengajak Aish pergi, anak itu mengangguk senang karena coklatnya diterima oleh Falen.
"Lo kok jadi terkenal sih?" tanya Aish.
"Gue kan OSIS, waktu mereka mos kan gue yang jadi panitianya" jawab Falen.
"Oh, iya. Pantesan lo kayak artis, laku banget" komentar Aish.
"Aishyah, bisa bicara sebentar?" kata Sekar saat Aish dan Falen diambang pintu kelasnya.
__ADS_1
"Ok, bentar ya Falentino" kata Aish melepas rangkulan tangan Falen dan mendekati Sekar.
"Ada apa?" tanya Aish.
"Gue boleh nitip ini buat Falen?" tanya Sekar.
"Kenapa nggak dikasih langsung sama orangnya tadi?" tanya Aish, tapi tetap dia mengambil bungkusan di tangan Sekar.
"Kata Falen kan kalau mau deketin dia harus dapet restu dari lo" kata Sekar.
"Ya Allah, ya kalau mau ngasih langsung saja ke orangnya, Sekar. Tadi tuh dia cuma main-main sama adik kelas. Lo lihat semuanya ya?" tanya Aish.
"Iya. Nggak apa-apa, gue titip sama lo saja ya. Tolong berikan ke Falen" kata Sekar.
"Iya, yasudah gue ke kelas duluan ya" kata Aish, Sekar hanya mengangguk dan tersenyum.
"Nih buat lo Fal" kata Aish setelah memasuki kelasnya, dia tetap duduk diposisi yang sama seperti waktu kelas sepuluh dulu.
"Apaan nih?" tanya Falen membuka bungkusan pemberian Aish.
"Lo jadi terkenal sekarang" kata Aish.
"Memang gue ganteng, princess" kata Falen.
★★★★★
Pelajaran hari ini cukup menguras pikiran, Aish menyempatkan diri untuk mengunjungi mie ayam favoritnya. Dia sengaja pergi sendirian, ingin mengulang memori saat dia bersama dengan kakaknya dulu saat mereka masih bersama.
Semangkuk mie yang tersaji membuat air matanya menetes tiap suapan yang dia lakukan. Dia menaruh cukup banyak sambal agar air mata yang orang lain lihat bukanlah air mata kesedihan.
Dia rindu kakaknya, rindu bundanya, rindu ayahnya. Mengingat sekarang dia yang sebatang kara, membuat air matanya semakin meleleh.
★★★★★
"Butuh bantuan?" tanya Hendra. Siswi itu sedikit menjaga jarak melihat kedatangan Hendra.
Melihat lawan bicaranya hanya diam, Hendra membuka resleting jaketnya. Memperlihatkan bedge sekolah mereka yang sama.
"Lo anak baru ya? Ngapain sendirian disini?" tanya Hendra.
"Oh, kakak kelas. Tadi kakak gue nyuruh gue turun disini, gue nggak tahu harus naik apa. Hape gue lowbat, jadi nggak bisa pesan taxol" katanya beralasan.
"Gue Hendra, nama lo siapa?" tanya Hendra.
"Gue Queen, kakak tahu nggak kalau ke perumahan Gold Emerald harus naik apa?" tanya Queen.
"Ayo gue anterin, rumah gue juga disana" kata Hendra yang memang kebetulan arahnya sama.
"Uwah, beneran kak? Makasih ya" kata Queen senang, dia naik ke atas motor Hendra dengan hati-hati.
"Kok kayaknya gue nggak pernah lihat kakak sih?" tanya Queen sedikit berteriak.
"Iya, baru-baru ini gue balik ke rumah. Dulu gue tinggal sama om gue" kata Hendra.
Tak ada obrolan lagi diantara mereka hingga tak terasa sudah sampai didepan rumah Queen.
"Ayo mampir dulu kak" kata Queen.
Entah mengapa Hendra menurut saja pada adik kelasnya itu. Hendra mengekor pada Queen yang mempersilahkan Hendra masuk ke ruang tamunya. Hendra duduk setelah dipersilahkan, Queen beralasan akan ganti baju, jadi Hendra sendirian di ruang tamu itu.
Hendra memindai ruangan itu sepeninggal Queen. Ruangan bernuansa krem dan putih itu terasa nyaman. Ada gambar Yesus dalam pigura besar yang diletakkan di tengah dinding menghadap pintu masuk, dibawahnya ada jam bernuansa retro.
__ADS_1
Foto keluarga berada di dinding sebelah kanan dari tempat Hendra duduk, keluarga yang harmonis. Queen dan seseorang yang Hendra yakini adalah kakaknya, dan kedua orang tuanya.
Cukup lama menunggu, Queen datang dengan baju santai rumahan. Gadis itu terlihat manis dengan rambut lurus yang dicepol ke atas dan kacamata bertengger dihidungnya yang sedikit pesek.
"Kakak mau minum apa?" tanya Queen membuyarkan lamunan Hendra.
"Nggak usah, gue nggak lama kok. Lo duduk saja" kata Hendra.
"Oh, iya" Queen menurut saja, dia duduk dihadapan Hendra.
"Rumah kakak di blok mana?" tanya Queen.
"Blok 2A nomer 15. Lo berangkat sekolah sendiri?" tanya Hendra.
"Iya kak" jawab Queen.
"Besok pagi gue jemput, kita berangkat sama-sama. Sekarang gue mau balik ya" kata Hendra berdiri.
Seperti orang ling-lung, Queen setuju saja dengan perintah Hendra. Dan hanya mengekor saat Hendra keluar dan kembali masuk ke dalam rumahnya saat Hendra sudah tak ada dalam pandangan.
★★★★★
"Uwaahh, lihat siapa yang baru datang?" tanya Falen saat keluar dari parkiran bersama Aish. Mereka berdua berhenti, sengaja menunggu Hendra yang terlihat membonceng seseorang saat datang tadi.
"Lo gercep banget Mahendra. Sudah dapat gebetan rupanya lo, iya?" tanya Falen membuat Queen yang ada disamping Hendra menunduk malu.
"Kenalin dong" kata Aish menimpali candaan Falen.
"Dia Queen, tetangga gue" kata Hendra singkat.
"Oh, tetangga rupanya" kata Aish dan Falen menggoda Hendra dan Quee, semakin membuat keduanya semakin malu.
"Saya duluan ya kak" kata Queen langsung berlari setelah mengatakannya. Falen dan Aish tertawa melihat tingkah lucu Queen.
"Tiba-tiba saja lo datang lebih awal ya? Kekuatan cinta memang menakjubkan" kata Falen saat berjalan bersama menuju kelas.
"Gue ketinggalan berita apa nih?" tanya Seno yang baru saja sampai.
"Nanti kita bahas waktu istirahat" kata Hendra yang memang saat ini bel masuk sudah berbunyi.
★★★★★
Kebiasaan mereka masih sama, diwaktu istirahat, maka mereka berempat akan makan bersama di taman dekat perpustakaan. Mereka jarang sekali ke kantin ataupun lapangan sekolah, kecuali saat pelajaran olahraga.
"Gue mau sampein sesuatu sama lo, princess" kata Hendra, ketiga temannya menoleh ke arahnya sekarang.
"Apa?" tanya Aish.
"Bang Fian kasih tahu gue semalam, Tomi sudah dipanggil untuk menjadi saksi di kantor polisi" kata Hendra.
"Terus?" tanya Aish yang kini sudah mengakhiri acara makannya.
"Ternyata memang Tomi yang jadi tersangka. Dia mau mengakui perbuatannya setelah lebih dari lima jam diintrogasi" kata Hendra yang sukses membuat Aish membulatkan matanya.
"Ya Allah, tega banget bang Tomi lakuin itu sama kakak. Terus sekarang dia sudah dipenjara kan, Hen?" tanya Aish yang matanya sudah mulai berkaca-kaca.
"Dia sudah ditahan, tapi belum sidang tentunya. Dia masih bungkam tentang motif dibalik itu semua. Besok kita temuin bang Fian lagi ya, princess" kata Hendra.
.
.
__ADS_1
.