
"Hei, tunggu" kata Hendra berjalan semakin cepat, dan wanita itu juga mundur semakin cepat juga.
Yang Hendra lihat, wanita itu melayang. Caranya berjalan mundur, tapi tidak ada pergerakan di kedua kakinya. Pundaknyapun tenang, pandangannya tajam, tapi wajahnya tertutupi oleh rambut panjangnya.
Seperti kejadian yang lalu, wajah wanita itu tidak terlihat karena membelakangi cahaya. Tapi kalau diingat-ingat, sepertinya Hendra familiar dengannya. Siapa dia?
"Berhenti, tunggu" kata Hendra mengejar wanita yang melayang semakin cepat.
Hingga napas Hendra ngos-ngosan, cowok itu masih belum bisa mengejar sosok misterius yang menghantuinya akhir-akhir ini.
Saat Hendra berhenti, wanita itu juga berhenti. Hendra mendongak untuk bisa melihat sosok itu. Sepertinya tangannya terangkat dan menunjuk sesuatu di belakangnya.
Hendra melihat ke arah yang wanita itu tunjukkan.
"Itu kan pantai yang waktu itu" kata Hendra.
Pantai dengan hamparan pasir putih yang indah, ada bangku yang sebenarnya adalah sebuah kayu yang berasal dari pohon yang roboh.
Tangan wanita itu terus saja menunjuk ke arah bangku kayu itu. "Kenapa dengan bangkunya?" tanya Hendra, tapi sosok wanita itu hanya diam sambil tangannya terus menunjuk kesana.
Hendra semakin bingung, napasnya masih belum bisa teratur lagi. Dia merasa sangat lelah, rasanya seperti habis lari keliling lapangan. Hendra sudah tidak kuat lagi, tubuhnya terjatuh. Rasanya seperti pingsan.
Hendra terjaga, ternyata dia masih duduk bersila. Keringatnya jatuh bercucuran. Kaosnya basah terkena keringatnya.
"Capek banget bang" kata Hendra lemas.
"Wajar sih, masih permulaan buat lo" kata bang Rian.
"Jadi, apa yang lo dapat?" tanya bang Rian.
"Gue cuma lihat hamparan pasir pantai yang waktu itu bang. Wanita itu nunjuk ke arah situ melulu. Gue nggak paham maksudnya bang" kata Hendra.
"Mungkin ada yang mau dia sampaikan dengan nunjuk pantai itu ya?" bang Rian menerka maksud dari yang sosok itu ingin sampaikan.
"Gue haus banget bang. Capek banget cuma gitu doang" kata Hendra.
"Tentu lo capek, lo habis melintas dimensi. Lo masuk ke alam mereka. Satu yang harus lo tahu, saat lo masuk ke sana jangan sampai lo melangkah terlalu jauh. Kalau enggak, lo bakalan tersesat dan nggak bisa balik lagi" kata bang Rian.
"Terus gimana kalau secara nggak sadar gue masuk terlalu dalam bang? kayaknya disana nggak ada penunjuk waktu dan arah. Semua terlihat sama" kata Hendra sambil meminum air untuk melepas dahaganya.
"Ada caranya, lo sudah sangat bagus karena masih di awal tapi lo sudah bisa masuk dan keluar dari dimensi itu tanpa tersesat" kata bang Rian.
"Boleh nggak kalau gue coba meditasi lagi tanpa pantauan dari bang Rian?" tanya Hendra.
"Terserah lo sih, yang gue takutkan kalau lo tersesat tanpa ada orang yang tahu" kata bang Rian.
"Jadi, lebih baik gue meditasi kalau ada bang Rian saja ya?" tanya Hendra lagi.
"Begitu lebih baik, nanti gue cari waktu biar bisa nemuin lo secepatnya" kata bang Rian.
"Makasih ya bang, semoga semua bisa segera terpecahkan" kata Hendra.
__ADS_1
"Lo masih lemas nggak nih?" tanya bang Rian.
"Masih bang" kata Hendra malah merosot dari duduknya, sekarang malah rebahan.
"Lemah banget lo jadi cowok" ledek bang Rian.
"Ternyata lo disini Hen, ngapain tiduran di karpet?" tanya Aish, diikuti Falen dibelakangnya. Rupanya sesi latihan sudah selesai.
"Nyantai aja princess, capek habis latihan sama bang Rian. Nggak dikasih waktu istirahat gue daritadi" kata Hendra mengeluh.
"Benar bang?" tanya Aish.
"Lemah banget teman lo yang satu ini memang" kata bang Rian meledek Hendra.
"Geser Mahendra, gue juga mau duduk disini" kata Falen.
Hendra duduk kembali, menggeser posisinya yang tadi ada di tengah, sekarang minggir agar semua bisa duduk santai bersama.
"Malah nyantai disini lo semua?" kata engkong yang baru keluar dari dalam rumah.
"Iya kong, enak juga nyantai gini" kata Aish.
Engkong jadi ikutan bersantai disana, semua anggota yang tadi ikut latihan juga ikut bersantai juga. Mereka bersama melepas penat setelah capek latihan, hingga senja menjelang. Mereka pamit satu per satu untuk undur diri, menyisakan bang Rian dan engkong yang masih duduk diatas karpet, bersama anak buah bang Rian yang seperti tak lelah berdiri.
******
"Kita pamit pulang ya princess, bunda juga. Terimakasih sudah mau memberi kami makanan" kata Falen yang humoris.
"Kalian hati-hati ya, Hendra ikut Falen ya?" tanya bunda.
"Iya bun, kita lagi rukun-rukunnya ini sekarang" kata Hendra.
"Bilang aja lo senang nginep si rumah gue" kata Falen.
"Sudah, diem lo bule" kata Hendra.
"Kita pamit deh, sekali lagi makasih ya bunda. Assalamualaikum" kata Falen.
"Hati-hati ya, waalaikumsalam" sahut Aish dan bunda.
"Oh iya bun, ada yang perlu Aish anterin apa nggak nih hasil jahitannya bunda?" tanya Aish.
"Belum ada sih is, besok mungkin ada. Ini masih dalam proses, kurang sedikit lagi" kata bunda.
"Aish bantu ngapain nih bun?" tanya Aish sambil menutup pintu dan menguncinya.
"Kamu kerjain tugas sekolah kamu saja deh. Ini tinggal finishing saja kok, nyetrikanya baru besok kayaknya" kata bunda.
"Oh, iya bun. Tadi Aish dikasih coklat sama Richard. Kita makan sama-sama yuk bun. Kotak coklatnya bagis loh bun, lucu. Ada pitanya" kata Aish mengeluarkan sekotak coklat dari dalam tasnya.
"Iya, baru lihat juga yang seperti ini bunda" kata bunda.
__ADS_1
"Kita cobain rasanya yuk bun" kata Aish.
Mereka berdua menikmati sekotak coklat pemberian Richard. Rasa bahagia timbul dari hal yang sederhana seperti ini.
*******
Di dalam mobil Falen, Hendra masih melihat sosok wanita itu ikut duduk di jok belakang. Hendra diam saja tidak memberitahukan keberadaannya kepada Falen, takut bule itu merasa takut.
"Lo tadi latihan apa saja sama bang Rian Hen?" tanya Falen.
"Gue nggak habis pikir, tepatnya nggak kepikiran juga sih bule. Ternyata bang Rian ngerti soal yang begituan loh" kata Hendra.
"Uwah, yang benar lo Hen? Nggak sia-sia dong kita ikut Aish latihan hari ini ya" kata Falen senang.
"Iya, nanti gue ceritain kalau sudah sampai di rumah lo ya. Ngomong-ngomong, abang lo masih nginep di rumah lo apa nggak?" tanya Hendra.
"Nggak tahu juga gue, tuh orang sudah kayak jelangkung saja. Datang tak diundang, pulang tak diantar. Semaunya saja kalau mau nginep dirumah gue" kata Falen.
"Ya bukan salah dia juga sih, kan rumah lo itu rumah dia juga bule" kata Hendra.
"Iya juga sih, hahaha" kata Falen tertawa.
"Tapi yang paling penting, lo jangan sampai bilang ke Aish ya kalau Siras itu abang gue. Males banget gue ditakdirkan punya abang kayak dia" kata Falen.
"Kenapa memangnya?" tanya Hendra.
"Papi gue selalu membandingkan kita berdua, padahal gue loh yang anak kandungnya. Tapi papi selalu ngunggulin tuh bule Timur Tengah daripada gue" kata Falen tidak terima dengan perlakuan papinya.
"Kenapa memangnya? Dia dokter yang hebat, begitu?" tanya Hendra.
"Dia kan juga punya usaha gitu Hen, benar sih kalau modalnya didapat dari ayahnya sendiri, tapi katanya sekarang usahanya dia tuh lagi berkembang pesat banget. Dan dia juga masih bisa mempertahankan profesi kedokterannya" kata Falen menjelaskan kecemburuannya pada sang kakak
"Papi selalu ngunggulin dia, gue harus kayak dia lah, gue harus nyontoh dia lah, gue harus bisa sukses kayak dia lah. Males banget pokoknya gue sama tuh orang" kata Falen.
"Hahaha, jadi ceritanya lo cemburu gitu?" tanya Hendra.
"Ya bukan cemburu juga sih, lebih ke nggak suka saja. Gue ya gue, garis tangan dan garis nasib kita kan beda. Siapa tahu nanti gue malah jadi presiden, kan masa depan nggak ada yang tahu Mahendra" Falen terus saja mengeluarkan unek-uneknya tentang sang abang, hingga sampai di rumahnya.
Rupanya sang abang memang sedang ingin bermanja-manja dengan mamanya, akhir-akhir ini dia sering sekali menginap di rumah mamanya.
"Assalamualaikum" kata Falen yang baru tiba di rumahnya, kedua orangtuanya dan abang tirinya itu sedang berbincang di kursi teras.
"Waalaikumsalam" jawab mereka kompak.
"Hai Brian" sapa Siras pada adiknya.
.
.
.
__ADS_1
.