
Hari menjelang petang, kondisi Aishyah masih tetap tertidur pulas. Mungkin dia sedang balas dendam karena akhir-akhir ini tidurnya banyak berkurang karena jadwal jaganya di rumah sakit, jadi dia sedang tidur dengan puas.
"Sore semuanya" kata Hendra memasuki ruang rawat, dia membawa sekantung putih penuh dengan beraneka makanan.
"Kamu sendirian nak?" tanya bunda.
"Iya bun, mama sedang kedatangan saudara dari Bekasi. Mama titip salam sama bunda" kata Hendra.
"Mommy kamu sudah pulang Sen?" tanya Hendra lagi.
"Iya, tadi papi telpon. Ngajak mommy ikut meeting sama kliennya papi" kata Seno.
"Si bule juga pergi?" tanya Hendra sambil meletakkan kantongnya diatas nakas.
"Sudah juga, tadi kita kesini pakai mobilnya Falen. Jadi dia nganterin mommy gue pulang, sekalian mau ngambil pakaian gue sama dia juga. Kita mau nginep disini nanti malam" jawab Seno.
"Assalamualaikum" terdengar suara dokter Siras datang.
"Waalaikumsalam dokter" jawab bunda.
"Saya mau periksa keadaan Aishyah sebentar" kata dokter Siras.
"Iya silahkan dokter" kata bunda.
"Kenapa dia belum bangun juga ya dokter?" tanya bunda.
"Sabar bu, keadaan Aishyah semuanya baik-baik saja. Untuk sekarang kita harus banyak berdoa dan berusaha mengajaknya untuk bangun. Semoga dia cepat sadar" kata dokter.
"Amin, semoga semuanya cepat berlalu" kata bunda.
Saat dokter Siras berpamitan untuk melanjutkan tugasnya yang lain, terlihat Richard datang juga ke ruangan Aishyah. Dia didorong dengan kursi roda oleh seorang suster, ditemani beberapa orang lagi.
"Permisi, saya mau melihat keadaan Aishyah" kata Richard.
"Kamu kenapa kesini? keadaan kamu belum sepenuhnya pulih, seharusnya kamu tetap beristirahat dikamar kamu Richard" kata dokter Siras.
"Dia ini sangat keras kepala dokter, katanya dia ingin sekali melihat keadaan orang yang sudah menolongnya" kata wanita seumuran bundanya Aish, mungkin adalah ibunya Richard.
"Ma, Richard cuma mau lihat kondisi Aishyah sebentar saja. Dia sampai seperti ini demi menolongku" kata Richard. Dia menyuruh suster mendorongnya mendekat pada Aishyah.
"Jadi kamu yang semalam kecelakaan ya?" tanya bunda.
"Iya bu, maafkan saya kalau ternyata kemalangan saya membuat Aishyah jadi begini" kata Richard.
"Tidak apa-apa nak, Aishyah memang anak yang baik. Dia akan sedih kalau kamu menyalahkan diri sendiri seperti itu" kata bunda.
"Saya hanya minta kamu doakan agar Aishyah bisa segera sadar ya" kata bunda.
__ADS_1
"Pasti bu" kata Richard.
"Baiklah, karena sekarang kamu sudah tahu keadaan Aishyah, lebih baik kamu kembali ke kamar kamu untuk istirahat. Tidak baik terlalu banyak orang dalam satu ruangan seperti ini. Kamu sendiri juga butuh banyak istirahat agar cepat pulih" kata dokter Siras.
"Suster, antarkan pasien ke ruangannya" kata dokter Siras.
"Baik dok. Mari saya antar lagi ke kamar rawat kamu" kata suster.
"Saya permisi bu, terimakasih sudah mengizinkan saya menengok Aishyah" kata Richard. Suster mendorongnya untuk kembali ke ruang rawatnya setelah papa dan mama Richard juga berpamitan dan berterima kasih.
*******
Sementara di tempat Aish sekarang, dia masih sangat betah tinggal bersama ayahnya. Sang bunda tadi berpamitan pergi. Katanya beliau sedang ingin beristirahat.
"Aish capek yah. Ikannya pinter banget larinya".
"Kamu kurang jago. Lihat nih hasil tangkapan ayah" kata ayah Aish memperlihatkan dua ekor ikan sebesar telapak tangan.
"Uwaahh, ayah hebat banget. Aku nggak boleh kalah, aku pasti bisa dapat yang lebih besar" kata Aish.
Aish merasa kalau dia sudah memancing ikan sangat lama, tapi matahari masih bersinar cerah. Tidak ada tanda akan menjelang sore. Seperti tadi saat dia sampai disini, suasana masih tetap sama. Panas terik, tapi sejuk dan angin bertiup sepoi-sepoi. Sehingga tidak menyebabkan peluh keluar dari pori-porinya
"Kenapa nak?" tanya ayah.
"Mataharinya masih terik saja yah, kenapa daritadi sepertinya masih siang terus ya? Padahal rasanya kita sudah memancing sangat lama yah?" tanya Aish.
Aish terdiam memikirkan ucapan ayahnya. Dia bahkan tidak merasakan lapar sama sekali. Semua makanan dan minuman yang daritadi dia makan, rasanya tidak membuatnya kenyang. Hanya saja kenikmatan dari makanan dan minuman itu terasa di mulutnya hingga sampai ke perut.
"Bunda kenapa lama ya yah?" tanya Aish lagi.
"Bundamu sedang pergi cukup lama, nanti dia akan kembali untuk menemani ayah disini, sebentar lagi saat waktunya sudah tiba" kata Ayah.
"Aish juga mau disini sama ayah dan bunda" kata Aish.
"Kamu masih belum boleh nak, ada waktu tersendiri untuk kamu menemani kami nanti" kata ayah.
"Tapi yah .."
"Coba kamu dengar lagi suara hati kamu" kata ayahnya.
Aish terdiam, mencoba mendengar apa yang ayahnya sampaikan. Cukup lama dia mencoba, tapi tak terdengar apapun.
"Aish tidak mendengar suara apapun yah" kata Aish.
"Ish, kamu ini. Dengarkan baik-baik, ingatlah pada orang-orang disekitar kamu, yang sekarang sedang ingin kamu temui. Janji-janji apa yang sudah kamu katakan dan belum kamu penuhi. Tawa dan sedih bersama dengan orang terdekat kamu" kata ayah sambil mengajak Aish duduk ditepian sungai.
Aish duduk berselonjoran kaki disamping sang ayah. Merasakan desiran angin melewati lembut pipinya.
__ADS_1
Dia sedikit mengangkat kepalanya, hingga wajahnya bisa merasakan hangatnya sinar matahari menerpa kulitnya.
Matanya terpejam, kedua tangannya lurus dibelakang badannya, menahannya agar tidak jatuh terbaring diatas tanah. Suara gemericik air sungai memberi efek relaksasi yang sesungguhnya.
Lamat-lamat terdengar suara laki-laki memanggil namanya.
"Aishyah, kamu harus segera bangun. Kasihan bunda kamu, Hendra juga pasti akan memusuhi saya karena lalai menjaga kamu".
Sepertinya itu suara dokter Siras? Aish masih menutup matanya, mencoba mendengar suara-suara lain yang mungkin akan terdengar lagi.
"Princess, kamu harus segera bangun. Besok gue sudah mulai syuting filmnya, lo kan janji mau nonton film gue kalau sudah rilis, hiks ... hiks...".
Sepertinya ini suara Seno, ya, Aish ingat menjanjikan hal itu pada sahabatnya yang akan syuting film.
"Princess, bangun dong.... Kalau lo nggak bangun-bangun, gue bakalan keluar dari ekskul ini. Karena lo, gue mau ikut ekskul ini. Kalau lo begini terus, gue bakalan usulin ke yayasan biar menutup ekskul yang membahayakan muridnya seperti ini".
Ini adalah suara Hendra. Aishyah menggeleng-gelengkan kepalanya, dia tidak setuju dengan ucapan Hendra. Dia ingin memarahi sahabatnya ini.
"Nak, sayang ... Aishyah, bangun dong. Bunda sendirian, kamu nggak kasihan ya sama bunda? Kenapa kamu sulit sekali sih membuka mata kamu?".
Kali ini Aish langsung membuka matanya, dia menolah pada sang ayah.
"Bukankan bunda ada disini yah? Kenapa Aish dengar suara bunda nangis ya?" tanya Aish
"Ayah kan sudah bilang kalau bunda kamu sedang pergi. Kamu seharusnya juga pergi nak, tempat kamu bukan disini. Belum waktunya, masa kamu disana masih panjang. Akan ada banyak orang yang menangisimu jika kamu masih ingin tetap disini" kata ayahnya.
Aish sebal dengan perkataan ayahnya yang selalu menyuruhnya pergi. Gadis itu kembali masuk ke dalam sungai, tak lupa membawa jaring yang sudah bundanya siapkan.
Dengan amarah di hati, gadis itu melampiaskan dengan memukul-mukul permukaan air sungai. Berharap kekesalannya sedikit berkurang. Dia merajuk pada sang ayah. Tapi ayahnya malah tetap tersenyum sambil memandangi Aishyah yang dengan sengaja memukul permukaan air dengan tongkat jaringnya.
Tanpa sengaja Aish terpeleset, tubuhnya terjatuh di sungai dangkal itu. Samar-samar dia melihat ayahnya masih saja duduk dengan senyum yang tetap terukir.
"Ayah, tolongin Aish jatuh" teriak Aishyah, tapi ayahnya seolah membiarkannya.
Arus sungai tiba-tiba menjadi sangat deras, dan sungai yang dangkal berubah sangat dalam. Kaki Aish bahkan tidak bisa memijak di dasar sungai lagi.
Aish kebingungan, dia berusaha mencapai permukaan untuk mencari napas sebanyak-banyaknya. Tapi dia tenggelam lagi, arus sungai sangat deras. Tubuh mungilnya terbawa entah kemana.
Dia sudah banyak meminum air sungai, bahkan sudah masuk hingga ke telinga dan menyakiti matanya. Gadis itu masih berusaha menggapai permukaan, mencari pasokan oksigen sebanyak mungkin.
"Tolong ... ayah tolongin Aish" teriaknya sambil mengikuti arah arus membawanya.
Gaunnya yang berat saat terkena air semakin menyusahkan pergerakan. Aish timbul tenggelam diseret derasnya arus sungai. Napasnya megap-megap, dadanya sesak, kepalanya terasa sakit.
.
.
__ADS_1
.