Cantik, Kok Minder?

Cantik, Kok Minder?
galau


__ADS_3

Aish tiba di kantor barunya pukul setengah empat sore, dia tidak mau terlambat dihari pertamanya bekerja. Dia memarkirkan motor birunya dibawah pohon dekat pos satpam.


Setelah melepas helmnya, dia bergegas menemui pak Ridwan, atasannya disini. "Bismillah, semoga hari pertama kerja diberi kelancaran, aamiin" doa Aish sebelum masuk ke tempat kerjanya.


"Permisi pak" kata Aish saat memasuki ruang HRD.


"Silahkan masuk, ayo duduk dulu" kata Ridwan.


"Iya pak" jawab Aish duduk dihadapan Ridwan.


"Saya Ridwan, kepala bagian HRD. Ini kontrak kerjanya ya, kamu akan ditraining dulu selama tiga bulan ke depan. Setelah itu, baru kamu bisa pengajuan kontrak selama satu tahun. Jika kinerja kamu bagus, tidak menutup kemungkinan untuk bisa menjadi pegawai tetap di perusahaan ini" kata Ridwan memberi penjelasan.


"Ini seragam kamu saat training, tiga bulan lagi kamu akan mendapatkan seragam tambahan yang model dan warnanya sama dengan yang lainnya" kata Ridwan.


"Iya pak, terimakasih" kata Aish menerima dua stel seragam dengan warna yang sama, kemeja putih dam celana hitam.


"Silahkan kamu ganti baju dulu sebelum mulai kerja ya. Tolong tandatangan disini dulu, ini kontrak kerja kamu" kata Ridwan.


"Sudah pak. Saya ganti dulu ya pak" kata Aish.


Setelah beberapa saat, Aish sudah selesai ganti dan bersiap berjaga di pos satpam. Satpam lain sudah diberitahu jika akan ada anak baru. Jadi, mereka sudah menyiapkan diri.


"Assalamualaikum" kata Aish saat melihat dua orang di dalam pos.


"Waalaikumsalam, jadi lo yang jadi satpam barunya?" tanya satpam yang masih muda.


"Iya pak. Mohon bimbingannya ya" kata Aish dengan senyum manisnya.


"Kalau satpamnya gini mah, gue betah nongkrong disini pak" katanya lagi.


"Lo nih, ingat anak bini. Eh neng, gue Kamil. Yang agak nggak waras itu Tomi. Malam ini lo jaga sama gue. Jadi, aman dah" kata satpam yang lebih tua.


"Iya pak. Tas saya ini ditaruh dimana ya pak?" tanya Aish.


"Sini neng, lo nyantai aja sama kita. Kerjaan kita juga nggak berat kok" kata Kamil mempersilahkan Aish masuk.


"Jadi neng, karena lo jaganya dari sore, kita berdua nih yang jaga pagi sama malam. Tapi lo nggak usah takut ya, shift malam itu jam sepuluh sudah harus disini kok" kata Kamil lagi.


"Iya pak, jadi tugas saya apa pak?" tanya Aish.


"Setiap jam delapan malam, lo masuk kantor ya. Terus lo cek listrik, sudah pada mati apa belum. Kalau ada yang belum mati ya lo matiin aja. Terus lo keliling tiap dua jam sekali ya neng" kata Kamil.


"Oh, gitu ya pak. Siap deh" kata Aish.


"Lo tenang saja neng. Bos kita dari sore sudah pulang kok, kalau ngeliat dari jadwal shift lo nih, lo pasti nggak bakalan pernah ketemu sama bos kita deh" kata Kamil. Aish hanya manggut-manggut, dia masih jaim jadi anak baru.


"Terus kalau ada tamu, lo isi di buku besar ini ya neng. Lo tanya namanya, keperluannya apa, terus tinggal catet disini deh" kali ini Tomi yang menjelaskan.


"Iya bang" kata Aish tersenyum.


"Lo masih sekolah neng?" tanya Kamil.


"Iya pak, tapi sekarang lagi liburan semester" kata Aish.


*****

__ADS_1


Hari pertama kerjanya dilalui dengan baik, rekan kerjanya sangat welcome. Tidak seperti yang dia bayangkan sebelumnya. Meskipun jarak usia mereka sangat jauh, tapi mereka sangat menyenangkan.


Aish tiba dirumahnya pukul setengah dua belas, dia terkejut karena mendapati Richard yang sedang menunggunya. Dia duduk di teras rumah Aish yang gelap.


Richard memandang Aish dengan tatapan tajam. Apalagi saat melihat Aish datang dengan motor.


"Sudah daritadi ya?" tanya Aish yang merasa risih karena tatapan membunuh dari pacarnya.


"Motor siapa?" tanya Richard.


"Motor gue, hehe" kata Aish sambil melepas helmnya.


"Lo beli motor? Buat apa?" tanya Richard.


"Iya, kemarin gue minta bang Rian bantuin nyari motor. Ya dibuat alat transportasi dong, memangnya buat apalagi?" tanya Aish yang membuka pintu rumahnya, dan menyalakan lampu.


"Terus lo dari mana saja? Kenapa gue hubungi tapi nggak lo angkat?" tanya Richard sedikit emosi.


"Gue kerja, lo lihat sendiri kan? Gue lupa nggak bawa hp tadi, ketinggalan waktu di charge" kata Aish beralasan.


Richard memandang kasihan pada pacarnya, dia harus kerja sambil sekolah? Dia tidak tega.


"Kenapa nggak ngabari gue, Ra? Gue khawatir sama lo, sudah dari tadi sore gue tungguin lo disini" kata Richard melunak.


"Iya, maaf. Ini hari pertama gue kerja. Gue harap lo ngerti sama kondisi gue ya. Gue harus menghidupi diri gue sendiri, kalau gue nggak kerja, darimana gue dapat uang buat lanjutin hidup gue?" kata Aish.


Richard memejamkan matanya, rasa bersalah karena belum bisa menjadi segalanya untuk kekasihnya membuatnya merasa sesak. Aish harus bekerja disusianya yang sangat muda.


"Lo tenang saja, gue happy kok sama kerjaan gue. Teman-teman disana juga baik, lo doain gue sanggup ya jalani hidup gue" kata Aish lirih.


Tanpa terasa, buliran bening meleleh dari netranya. Semakin lama, semakin banyak. Membuatnya sesenggukan, bahunya naik turun.


"Maafin gue yang masih belum bisa jadi segalanya buat lo. Gue janji Ra, gue akan berusaha lebih keras supaya lo nggak susah lagi. Supaya gue bisa jadi sandaran hidup lo, maafin gue ya, Ra" kata Richard. Dia membiarkan gadisnya menumpahkan rasa.


"Lo sudah makan?" tanya Richard disela tangisan Aish yang dijawab gelengan kepala.


"Kita cari makan ya?" tanya Richard lagi.


"Gue mau masak" kata Aish mendongak pada Richard.


"Nggak capek?" tanya Richard, Aish menggeleng lagi.


Aish berjalan ke dapur, Richard masih mengekor. Dengan cekatan, Aish mencuci beras dan memasukkan ke dalam magic com. Lalu dia mengambil beberapa sayuran dari dalam kulkas, ada ayam yang sudah dimarinasi. Dia akan membuat tumis brokoli dan ayam goreng.


"Lo jadi satpam ya?" tanya Richard yang melihat seragam kerja Aish.


"Iya, lo malu ya punya pacar satpam kayak gue?" tanya Aish.


"Nggak, tapi resikonya kan besar. Kenapa nggak cari kerjaan lainnya saja? kayak jaga toko atau apa lah" kata Richard.


"Yang butuh cepat cuma satpam, kemarin gue interview, sekarang sudah kerja. Jadi, bulan depan kan gue sudah dapat gaji. Lo bakalan gue traktir kalau gue gajian" kata Aish menoleh dan tersenyum pada Richard.


Masakan Aish selesai bersamaan dengan nasi yang matang. Dia cukup ahli dalam mengolah makanan.


Setelah mengambil air minum, Aish menyiapkan masakannya diatas meja makan. Memberikan piring yang sudah diisi nasi pada Richard, membiarkannya mengambil sendiri lauk yang ada.

__ADS_1


"Kok nggak dimakan?" tanya Aish.


"Masih panas, Ra. Lo bisa masak ya?" tanya Richard memandangi Aish yang mengipasi nasinya dengan tutup panci.


"Sedikit, dulu sering bantuin bunda" jawab Aish.


"Gue pasti nggak pernah kelaperan kalau nanti lo jadi istri gue" kata Richard dengan senyuman, memandang Aish dengan menopang dagu.


Ada rona merah di pipi Aish mendengar perkataan Richard, tapi dia tetap melakukan kegiatannya. Tak berani menatap Richard.


"Gue mau langsung nikahin lo kalau lulus sekolah nanti" kata Richard lagi.


"Tapi gue mau kuliah dulu, gue kan juga punya cita-cita" kata Aish menanggapi obrolan absurd Richard.


"Bisa kok kuliah meskipun sudah nikah, gue takut lo ninggalin gue kalau kelamaan pacaran" kata Richard yang tak menyadari adanya tembok tinggi yang menghalangi hubungan mereka, yaitu keyakinan.


Aish hanya terdiam, menyadari perasaan mereka yang semakin besar membuatnya merasa semakin salah jalan. Keyakinan seseorang tidak bisa dipaksakan, mungkin nanti mereka akan benar-benar berpisah jika tidak ditemukan jalan tengahnya.


"Nggak usah mikirin masa depan dulu, sekarang mendingan makan saja. Pasti sudah nggak terlalu panas" kata Aish.


Aish berdoa, mengangkat kedua tangannya sebatas dada. Melantunkan doa sebelum makan dengan suara lirih. Richardpun sama, dia memejamkan matanya dan berdoa. Setelahnya, mereka saling pandang dan terdiam. Cara mereka bersyukur saat akan memulai makan saja sudah berbeda. Mereka memulai makan dengan cara yang canggung.


★★★★★


Mendengar lantunan adzan subuh dari mushola, membuat Aish terbangun dari tidurnya. Setelah mengumpulkan nyawanya, diapun menuju kamar mandi.


Aish hanya cuci muka dan gosok gigi, setelah mengambil wudhu, dia segera menuju mushola untuk solat subuh berjamaah. Aish tidak menyadari jika semalaman Richard tidak pulang, dia tidur didalam mobilnya.


Aish mengetuk kaca mobil, membuat Richard membuka matanya. "Ngapain?" tanya Aish yang sudah mengenakan mukena.


"Gue ketiduran" jawab Richard beralasan.


"Gue ke mushola dulu ya, mau solat" kata Aish buru-buru, Richard hanya mengangguk.


Setelah solat berjamaah, rupanya pak ustadz masih memberi tausiah. Rutinan pagi setiap hari Minggu. Aish mendengar suara tausiyah pak ustadz, Richardpun sama. Dari dalam mobilnya, dia bisa mendengar tausiah dengan sangat jelas.


"Setiap makhluk diciptakan berpasangan, dari mereka bisa didapatkan ahli waris yang akan meneruskan kehidupan" kata pak ustadz.


"Laki-laki yang baik tercipta untuk wanita yang baik, begitupun sebaliknya. Jadi, bagaimana kalau ada orang tidak baik, tapi mau punya pasangan yang baik? Maka, perbaikilah diri sendiri terlebih dahulu. Disolawati saja dulu, sambil berusaha menjadi insan yang dicintai oleh Allah".


"Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik hingga mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik walaupun dia menarik hatimu. Bahkan sudah dijelaskan oleh surat Al Baqarah ayat 221".


"Jadi pilihlah pasangan yang seiman, yang sehaluan, pasti Allah akan melimpahkan rahmatnya ke dalam rumah tanggamu. Semoga kajian kita pagi ini bisa memberi manfaat. Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh" Ustadz menutup tausiahnya.


Richard merasa sangat tersentil hatinya dengan penjelasan ustadz itu. Dari awal dia sudah memaksakan hubungannya dengan Aishyah. Apalagi Aish adalah gadis yang soleha, sudah pasti dia akan berpegang teguh pada akidahnya. Membuat moodnya buruk, diapun pergi dari rumah Aishyah tanpa berpamitan. Dia ingin menenangkan hatinya.


Aish yang tak mendapati mobil Richard, bisa memastikan jika cowok itu sudah pergi, diapun memutuskan untuk melanjutkan tidurnya. Semalam dia tidur cukup larut, karena masih ngobrol dengan Richard di teras rumahnya hingga jam satu malam. Aish tak menyadari jika kekasihnya sedang galau.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2