Cantik, Kok Minder?

Cantik, Kok Minder?
lampu hijau


__ADS_3

"Sini, duduk dekat gue" kata Richard dengan isyarat yang dimengerti Widya untuk menggeser kursi dan mengganti dengan kursi roda Aish.


Setelahnya, Widya pergi ke dapur. Membiarkan majikannya menyelesaikan sarapan.


Richard memberi piring dan mengisinya dengan nasi goreng, berbeda dengan yang lainnya yang hanya memakan roti isi.


Dia mengerti jika Aish tidak akan kenyang jika hanya mengisi perutnya dengan roti. Pasti dijalan nanti dia akan merengek pada Yopi untuk membeli nasi.


"Segini kurang?" tanya Richard yang mengisi piring Aish dengan dua centong nasi goreng.


"Sudah, makasih" kata Aish yang tiba-tiba diam dan menurut.


Sungguh aneh jika bibir tipis Aish tidak berkata-kata.


Kembali Richard memberi sepotong ayam krispi dan acar.


"Ayo makan, jangan dilihatin terus" kata Richard santai, tidak mengerti jika perasaan Aish saat ini sangat tidak karuan.


Diperhatikan oleh kedua orang tua Richard, apalagi makan semeja dengan mereka. Membuatnya tidak bisa leluasa untuk melakukan apapun. Semuanya terasa canggung.


"Jadi, ini teman yang kamu bilang jatuh ke jurang?" tanya papa Richard memecah kesunyian.


"Iya pa" jawab Richard yang sudah mulai sarapannya sendiri.


"Kamu, pacarnya Richard?" tanya papa Richard yang malah membuat Aish tersedak makanannya.


Tiba-tiba saja gumpalan nasi itu masuk ke dalam kerongkongan Aish meski tanpa adanya perintah dari otaknya.


Tentu saja ketidaksiapan kerongkongan untuk melakukan gerakan peristaltiknya malah membuat gumpalan nasi itu terdorong hingga masuk ke hidungnya.


"Makanya pelan-pelan kalau makan, Ra. Nggak ada yang bakalan ngrebut nasinya kok. Lo sudah baca doa apa belum sih?" Richard membalas perkataan Aish tadi pagi padanya.


Tak lupa Richard memberikan segelas air putih yang sudah ada diatas meja untuk Aish.


Aish melotot pada Richard, sementara Yopi sudah menahan tawanya hingga kedua pipi itu bergelembung seperti ikan gembung.


"Papa ini, kasih pertanyaan tuh yang bermutu sedikit dong" kata mama Richard masih tanpa ekspresi. Dengan kedua tangannya sibuk memotong roti dan menyuapkan ke dalam mulut.


"Pertanyaan seperti apa contohnya, ma?" tanya papa Richard serius.


"Kamu sudah pernah ciuman sama anak tante?" pertanyaan konyol macam apa itu?


Bukannya tersedak, kini mulut Aish malah menganga. Terlalu terkejut dengan berondongan pertanyaan yang baru kali ini dipertanyakan padanya.


Richard mengatupkan bibir Aish, "Entar lalatnya masuk" kata Richard sambil menyuapkan sesendok nasi pada mulut Aishyah.


Aish tersadar dan segera mengunyah makannanya.


"Jadi, benar Richard pernah cium kamu?" ya ampun, mamanya Richard ini masih ngotot mempertanyakan hal itu.


Aish sedikit berpikir, akan seperti apa dia menjawabnya.


Richard dan papanya, juga Yopi sudah menunggu jawaban macam apa yang akan Aish katakan.


Semuanya fokus menatap Aish yang melihat pada piringnya.


Aish mengingat kejadian sebelum dia pergi camping. Saat dimana Richard sangat marah saat tahu dia memberi nafas buatan untuk Mike.


Dan tiba-tiba Richard memaksa Aish berciuman. Jadi, benar dong mereka pernah berciuman.


"Dosa nggak sih kalau bilang nggak pernah? Tapi kan pernah?" Aish berdebat sendiri dengan batinnya.


Mama Richard menatap penuh pada Aish, menunggu jawabannya.


"Harus dijawab ya tante?" pertanyaan Aish malah membuat semuanya kecewa.


"Harus dong" kekeuh mama Richard.


"Ehm, pernah sih tante. Richard maksa Aish, Aish nggak kuat mau melarang. Soalnya dia pegangin tangan Aish kenceng banget" kata Aish lirih sambil menunduk.


"Eh, gue nggak pegang tangan lo ya" balas Richard sengit, tak terima dengan perkataan bahwa dia menahan tangan Aish.


"Masak sih? Tapi kan gue nggak kuat buat dorong lo, Richard. Lo maksa gue waktu itu, masak sih lo nggak ingat?" tanya Aish agak ngegas, dia lupa kalau ada orang tua Richard disana.


"Tapi kan benar kalau gue nggak pegang tangan lo" kembali Richard menyanggahnya.


"Tapi kan gue juga nggak kuat buat dorong lo, Richard. Kan waktu itu lo marah-marah. Makanya, jangan suka marah. Tuh kan rambut lo jadi putih semua" kata Aish sambil mengamati rambut Richard.


"Eh, kok sudah nggak putih lagi sih warna rambut lo? Kapan coba lo ganti warna rambut?" tanya Aish sambil tangannya memegangi rambut Richard yang masih sedikit basah.


Kebetulan saja saat itu Richard sedikit mencondongkan wajahnya ke arah Aish yang mengajaknya berdebat.


"Ganteng nggak? Cocok nggak pakai warna coklat gini?" tanya Richard sambil menaik turunkan alisnya, yang menerbitkan senyum di wajah Aish.


Aish mengangguk, menarik tangannya dari rambut Richard. Lalu tersenyum manis, sudah lupa dengan perdebatan mereka barusan.


"Cocok, bagus. Sudah nggak kayak kakek-kakek" kata Aish sambil mengangkat kedua ibu jarinya, membuat Yopi tak tahan untuk tidak tertawa.

__ADS_1


Sesuai sumpahnya, Richard sudah mengganti warna rambutnya. Tidak lagi berwarna putih. Dia melakukannya kemarin malam setelah memastikan Aish tidur dikamar.


Aish dan Richard kompak melihat ke arah Yopi yang masih tergelak.


"Kenapa?" tanya Aish dengan polosnya.


"Lo berdua nih, bentar-bentar berantem, terus damai lagi. Mana cara damainya lucu. Memang unik kalian ini" kata Yopi yang sudah menyelesaikan sarapan. Lalu meneguk susu coklat yang dihidangkan untuknya.


Papa dan mama Richard tak berekspresi lebih, hanya kesan serius yang mereka tampilkan. Meski pertanyaan yang diberikan pada Aish terkesan aneh.


Hanya Aishyah, pacar yang diijinkan menemui Richard dirumahnya. Bahkan sampai menginap. Tidak pernah sebelumnya Richard meminta teman dekatnya selain Reno dan Yopi masuk ke rumahnya, sering juga dulu Falen datang.


"Ayo ma, berangkat. Sebentar lagi jalanan pasti macet. Ada rapat penting pagi ini" kata papa Richard sambil membersihkan bibirnya dengan tisu.


"Kalian juga cepat berangkat, jangan sampai terlambat" kata mama Richard yang ikut berdiri.


"Iya om, tante" kata Aish yang mengulurkan tangannya pada mama Richard yang berdiri didekatnya.


Sedikit heran, tapi mama Richard membalas uluran tangan Aish.


Aish mencium punggung tangan mama Richard, cukup lama dia melakukannya. Dia teringat saat bundanya masih ada, setiap pagi pasti Aish mencium tangan bundanya.


Tiba-tiba saja pandangan mata Aish menggabur, sepertinya air matanya sudah akan keluar kalau tidak segera diatasi.


"Hati-hati dijalan om, tante" kata Aish yang juga menyalami punggung tangan papa Richard.


Aish mengiringi kepergian orang tua Richard dengan senyuman hangat. Sehangat mentari pagi.


Papa Richard menyukai Aish di kesan pertamanya. Tidak pernah beliau membedakan orang lain meski status sosialnya berbeda.


Sedangkan Richard dan Yopi hanya diam melihat semua itu. Mereka berdua tidak terbiasa melakukan hal yang seperti Aish lakukan.


Terlalu canggung untuk ikut-ikutan.


Aish segera menghabiskan makanannya, tak lupa meminum obat dan vitamin yang sudah diberikan dokter untuknya.


"Berangkat yuk" ajak Aish pada kedua cowok yang memperhatikannya dari tadi.


Richard berdiri, mendorong Aish diatas kursi rodanya hingga mendekati mobil. Dan membantunya masuk. Yopi sudah melipat kursi roda itu dan memasukkan ke jok belakang.


"Gue berangkat ya, Ri" Yopi berpamitan.


"Iya, hati-hati. Jagain baik-baik cewek gue, jangan sampai teledor lagi" kata Richard.


"Iya bawel" kata Yopi sambil berlari mengitari mobil Richard.


"Kalau ada apa-apa, telpon gue ya" kata Richard pada Aish.


Richard segera ke garasi, dia menggunakan mobil lain yang sudah disiapkan oleh supir papanya.


★★★★★


"Menurut mama, Aishyah itu bagaimana?" tanya papa Richard saat mereka berdua dalam perjalanan.


"Ehm, baik sih menurut mama" jawab mamanya.


"Cantik juga kan, ma?" tanya papa Richard lagi.


"Papa nih, selalu memandang fisik" mama Richard sedikit memicingkan matanya.


"Tapi yang mama dengar, dia itu dapat peringkat terbaik di Mahardika dulu. Sebelum dia dikeluarkan dari sana" mama Richard berkata sambil melihat keluar jendela mobil.


"Iya, papa juga tahu info tentang itu. Papa kan tahu segala sesuatu yang berhubungan dengan anak-anak papa" kata papanya dengan senyuman genit.


"Ya ampun, ingat umur pa" kata mamanya tersenyum jijik.


"Tapi benar, ma. Richard banyak berubah sekarang. Papa sih setuju-setuju saja kalau Richard memang menyukai gadis itu. Papa nggak mau seperti Willy, keegoisan kita membuatnya menjauh" kata papa Richard.


"Nggak semudah itu pa. Mama masih mau mengetes seberapa seriusnya si Aishyah itu sama anak mama. Meskipun mama tahu, kalau Richard yang lebih jadi bucinnya Aishyah. Mama nggak habis fikir. Mungkin Richard kena karma ya pa, jadi nggak bisa berkutik kalau sudah berurusan dengan si Aishyah itu" panjang lebar mama Richard berpendapat.


"Dulu banyak anak gadis yang menangis karena ditinggalkan oleh Richard, sekarang malah Richard yang akan menangis kalau dijauhkan dari Aishyah" tambahnya.


"Iya ma. Untung saja dia suka sama anak baik kayak Aishyah ya, ma. Menang banyak Richard kali ini, ma" komentar papanya.


"Mama cuma mau yang terbaik buat Richard, pa. Dia kan anak bungsu kita. Jangan sampai dia seperti kakak-kakaknya. Cuma dia harapan mama agar bisa menjadi anak yang baik" harapan Mamanya hanya Richard bisa bahagia.


"Iya, ma. Kayaknya Richard itu berjiwa kesatria, seperti papa yang nekat nikahin mama diakhir masa kuliah kita" kata papa Richard mengenang masa lalunya dengan sang istri.


Bedanya, papa dan mama Richard berasal dari keluarga yang sama-sama dari kalangan berada, cenderung kaya raya.


"Aishyah itu sepertinya masih polos ya, pa? Mama suka karena dia itu sangat sopan" kata mama Richard yang mengingat Aish mencium tangannya tadi.


Sepertinya lampu hijau sudah diberikan oleh orang tua Richard.


★★★★★


Para murid di SMAN 72 melihat heran pada sebuah mobil mewah yang memasuki pelataran parkir murid.

__ADS_1


Beberapa dari mereka bahkan berhenti untuk melihat siapa yang datang.


Yopi sedikit berlari mengitari mobil yang sudah terparkir rapi. Lalu mengeluarkan kursi roda dari jok belakang.


Setelah menaruh disebelah pintu depan, Yopi membuka pintu dan membantu Aish untuk keluar dan menduduki kursi rodanya.


"Makasih ya, Yopi" kata Aish tersenyum.


"Sama-sama, Sya" kata Yopi yang mendorong kursi itu setelah memastikan mobil Richard terkunci.


"Kok lo sudah masuk sih, Aish?" tanya Mike yang tiba-tiba mendatangi Aish. Ikut berjalan disamping Yopi.


"Iya, gue takut ketinggalan pelajaran" kata Aish singkat, takut Yopi akan melapor pada Richard kalau dia terlalu banyak berinteraksi dengan Mike.


"Aishyah, ya ampun... Aku tuh kangen banget sama kamu. Sekolah tanpa kamu rasanya sepi luar biasa" Nindi ikut berjalan disamping Yopi dan mensejajarkan langkahnya.


"Lebay, Nin.... Tapi gue juga kangen sama lo" kata Aish dengan senyum mengembang. Temannya yang satu ini selalu memeriahkan suasana.


"Tugas kamu buat besok sudah apa belum? Tugas kimia itu loh, susah banget. Mumet sirahku" kata Nindi yang sukses membuat Yopi terpingkal.


"Bahasa lo, Nin. Nggak paham gue" komentar Yopi.


"Iya, ada beberapa soal yang belum selesai, Nin. Tapi selebihnya sudah" kata Aish.


"Besok gue nyontek ya, Sya" kata Yopi tenang, selama ini Aish selalu membantunya dalam menyelesaikan tugas sekolah.


"Beres deh" kata Aish mengacungkan dua jempolnya.


"Kapan dilepas gibsnya?" tanya Nindi.


"Nggak tahu, Nin. Bisa seminggu lagi atau sebulan lagi. Gue masih belum tahu" jawab Aish yang ikut mengamati gibs dikakinya.


"So sweet banget tuh tulisannya" komentar Nindi yang tak sengaja membaca tulisan dari spidol merah yang dibuat oleh Richard.


"Jangan dibaca, haram hukumnya" kata Aish berusaha menutupi tulisan itu.


"Hahahaha, sudah kebaca, Aish" Nindi menertawakan ekspresi cemberut temannya.


"Oh, iya. Sudah ketemu apa belum tuh yang nakut-nakutin lo sampai bikin gue jatuh, Nin?" tanya Aish. Dia masih belum tahu pelakunya.


"Belum ,Aish. Licin pelakunya kayak belut" kata Nindi.


Mike sedikit menghentikan langkahnya, membuat Yopi menoleh ke arahnya.


Kecurigaan Yopi mengatakan jika Mike tahu tentang si pelaku. Ataukah Mike ikut terlibat?


"Kenapa lo?" tanya Yopi pada Mike yang berhenti.


"Nggak apa-apa kok, gue jadi ingat kalau ada tugas yang belum gue selesaikan. Gue duluan ke kelas ya" Mike berpamitan dengan tergesa saat semua membicarakan tentang kejadian itu.


Membuat Yopi semakin curiga.


"Aneh" gumam Yopi.


"Nggak usah dipikirin, mungkin memang lagi ada tugas" kata Aish.


Yopi mendorong kursi roda Aish hingga ke kelasnya, diiringi Nindi yang juga berjalan bersama mereka pagi ini.


Sudah ada beberapa murid yang datang, mereka segera bergerumbul di meja Aish saat melihatnya memasuki ruang kelas.


Yopi menggeser bangku Aish, lalu mendorong kursi rodanya agar bisa sejajar dengan bangku Nindi.


"Makasih Yopi" kata Aish.


Yopi tersenyum dan mengangkat ibu jarinya.


"Lo perhatian banget sama Aish, jangan-jangan kalian pacaran ya?" tanya seorang teman sekelas mereka.


"Bukan, dia itu istrinya bos gue" jawab Yopi sebenarnya benar. Tapi dianggap bercanda oleh teman-temannya.


"Lo jongosnya ya?" kata temannya yang lain, membuat yang lainnya tambah tertawa.


"Bisa dibilang begitu sih" jawab Yopi cuek.


"Bukan, Yopi itu masih ada hubungan saudara sama gue. Dia itu anaknya engkong gue. Dia memang suka bercanda" kata Aish yang tak terima saat Yopi dibilang jongos.


"Mau gue kalau jongosnya seganteng lo, Yop" kata Cellin, cewek tercentil dikelas itu.


Yopi memandang ngeri pada tatapan mendamba yang Cellin berikan.


"Gue yang ogah punya majikan model kayak lo" kata Yopi.


"Sakit hati adek, bang" kata Cellin yang membuat seisi kelas itu terbahak melihat kelakuan absurd darinya.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2