Cantik, Kok Minder?

Cantik, Kok Minder?
Romeo itu, menyenangkan


__ADS_3

"Jadi, kak Romeo ini ya yang Richard bilang lagi kuliah di luar negeri?" tanya Aish sementara Romeo masih mendorongnya ke ruang tengah.


"Iya, bilang apalagi tuh anak?" tanya Romeo. Penasaran seperti apa adiknya memperkenalkan keluarganya.


"Nggak bilang apa-apa sih, kak. Gue sendiri juga nggak pernah tanya" kata Aish sambil mengendikkan bahu.


Berbeda dengan Richard, pribadi dari seorang Romeo lebih nyaman diajak bicara. Dia terlalu mudah bergaul.


Aish memilih untuk duduk di sofa panjang, dan menaikkan kedua kakinya, memposisikan kedua kakinya lurus, senyaman mungkin. Masih dibantu oleh Romeo.


Sedangkan Romeo duduk di sofa single, didepan Aish.


"Enak nggak kuliah di luar negri, kak?" tanya Aish.


"Tergantung sih..." Romeo bingung mau memanggil apa.


"Panggil saja gue Aish, kak" kata Aish.


"Tergantung sih, Aish. Awalnya gue nggak betah, tapi lama-lama suka juga. Disana ceweknya cantik-cantik, hahaha" kata Romeo si pemikat wanita.


Aish melirik tajam, "Pria dimana saja sama" gumam Aish.


"Bilang apa lo barusan? Gue denger, dek. Normal lah gue suka sama cewek, yang nggak normal kakak pertama gue tuh. Nggak pernah pacaran. Heran gue" kata Romeo.


"Emang iya?" tanya Aish yang merasa tertarik untuk menggibah keluarga Richard.


"Nggak tahu juga sih gue. Tapi memang dari dulu gue nggak pernah dengar dia dekat sama cewek kok. Beda lagi sama kakak gue yang nomer dua. Istrinya ada dua, dek" kata Romeo yang lebih nyaman memanggil Aish dengan sebutan adek.


"Aish, kak" kata Aish mengingatkan nama panggilannya.


"Kok gue lebih suka nyebut lo adek, lo imut banget sih. Jadi pengen nyubit pipi lo" kata Romeo diakhiri gelak tawa yang terdengar renyah.


"Memangnya kenapa sama kakak kedua kalian?" Aish masih penasaran dengan sudut pandang seorang Romeo terhadap saudaranya.


"Dia tuh diam-diam istrinya dua, yang gue denger sih istri keduanya meninggal gara-gara dibunuh sama istri pertamanya" kata Romeo.


"Iya, almarhumah itu kakak gue tahu" kata Aish yang membuat Romeo jadi melongo, bibirnya sampai sedikit terbuka karena merasa tak percaya.


"Bohong lo, dek" kata Romeo.


"Beneran, kak Alif itu kakak kandung gue. Dan memang benar kalau kak Alif dibunuh sama mbak Helda, istri pertamanya mas Willy" kata Aish setenang mungkin.


"Yang benar, dek?" tanya Romeo masih tak percaya.


Aish mengangguk, "Kok gue jadi akrab sih sama lo, kak?" heran Aish, padahal mereka berdua baru bertemu beberapa menit yang lalu.


"Mungkin sebenarnya lo tuh jodohnya gue, dek. Pasti lo lebih ngerasa nyaman sama gue kan daripada sama si Richard? Secara Richard itu sebenarnya adalah sebongkah batu es dari kutub Utara yang nggak sengaja keisi nyawa" kata Romeo ngelantur.


"Maksudnya?" tanya Aish tak mengerti dengan gurauan Romeo.


"Bercanda, dek. Muka lo serius banget sih" kata Romeo.


"Bik ... Bikinin minuman dong" teriak Romeo memerintahkan art nya.


"Nggak sopan banget sih kak, panggil dulu lah. Baru minta tolong. Jangan teriak-teriak" kata Aish mengingatkan.


"Suka-suka gue sih, dek".


"Kakak nih. Dulu kakak SMA nya dimana?" tanya Aish.


"Mahardika. Lo juga kan?" tanya Romeo.


"Iya, dulu. Cuma siswi yang kebetulan dapat beasiswa sih, terus gara-gara ada yang sirik, gue di DO dari sekolah itu. Sekarang gue sekolah di 72, kak" kata Aish sedikit bercerita.


"Kok bisa? Sirik kenapa kalau gue boleh tahu" tanya Romeo yang memang tidak tahu kejadian itu.


"Kebetulan ada yang suka sama Richard waktu gue sudah jadian sama tuh anak. Terus, tuh cewek malah fitnah gue. Berhubung nggak ada bukti, akhirnya gue dikeluarin dari Mahardika" kata Aish.


"Serius ada yang suka sama Richard? Gue kira cuma lo doang cewek yang keblinger otaknya sampai mau pacaran sama tuh batu es" kata Romeo yang takjub pada Richard.


"Banyak sih cewek yang suka ngejar-ngejar Richard" kata Aish.


"Masak sih? Kalah dong pamor gue. Sudah gede ternyata adek gue" kata Romeo yang tak pernah bisa mengingat kebersamaan keluarga mereka.


"Jadi, dalam rangka apa kak Romeo pulang ke rumah?" tanya Aish.


"Liburan semester, kelamaan di Aussie ternyata bikin gue kangen rumah juga. Eh, pas pulang disambut cewek cantik. Tambah betah deh gue dirumah" kata Romeo sambil menaikturunkan alisnya, menggoda Aish.


Keduanya tertawa, ternyata Romeo cocok dengan Aish.


"Lo sendiri, kenapa ada dirumah gue?" tanya Romeo yang sebenarnya ingin menanyakan hal itu daritadi, tapi lupa karena teralihkan dengan topik lainnya.


"Beberapa hari yang lalu gue jatuh ke jurang, kak. Waktu camping, untung Richard nolongin gue. Terus, waktu gue sudah boleh keluar dari rumah sakit, malah nggak dibolehin tinggal dirumah gue sama si Richard" cerita singkat Aish pada Romeo.


"Kok bisa jatuh ke jurang? Lo kayak kucing ya?" kata Romeo terdengar nyeleneh.


"Kok kucing sih, kak?" tanya Aish.

__ADS_1


"Iya, nyawa lo banyak. Baru kali ini gue dengar ada orang jatuh ke jurang tapi nggak mati, hahaha" tawa Romeo terdengar bahagia.


"Lo senang ya kak kalau gue mati?" tanya Aish dengan lirikan tajam.


"Jangan dong, sayang kan kalau cewek secantik lo mati muda" kata Romeo.


Aish hanya menghembuskan nafasnya kasar. Sungguh Romeo ini sangat berbeda jauh dengan saudaranya yang lain.


Dia terlihat sangat ringan dalam mengutarakan pendapatnya.


"Memangnya kenapa sampai Richard nggak ngebolehin lo pulang ke rumah lo sendiri? Apa kalian nggak direstui sama ortu lo?" tanya Romeo.


"Bukan karena itu. Masalahnya, dirumah nggak ada siapa-siapa. Gue sendirian" kata Aish.


"Oh, lo ngekos?" tanya Romeo.


Aish menggeleng, "Enggak, ortu gue sudah di surga. Nemenin kakak gue, mereka pikir kakak gue lebih butuh teman disana. Jadi, mereka ninggalin gue sendirian deh di dunia ini" kata Aish yang sudah lumayan bisa merelakan keluarganya.


"Serius? Jadi, lo tinggal sendirian? Nggak ada saudara yang nemenin?" tanya Romeo penasaran.


"Nggak ada, kak. Makanya Richard ngelarang gue pulang ke rumah. Sebenarnya gue juga nggak enak tinggal disini, cuma Richard yang maksa" kata Aish.


"Gue sih setuju sama Richard. Kalau gue punya cewek cantik kayak lo, meskipun nggak sakit juga pasti gue larang kemana-mana" kata Romeo.


"Itu sih maunya lo. Halalin dulu dong sebelum dicobain" kata Aish yang membuat Romeo merasa tersindir.


"Gue nggak siap tuh buat jadi suami, lebih enak single. Bebas" kata Romeo.


"Terserah lo sih, kak. Pandangan tiap orang kan beda-beda" kata Aish.


Cukup lama mereka berdua mengobrol. Sampai jam sepuluh malam, masih belum ada tanda-tanda kedatangan Richard.


Sebenarnya Aish sudah mengantuk, tapi dia terlalu senang ngobrol dengan Romeo, hingga diapun menahan rasa kantuknya.


Calon kakak iparnya itu enak banget diajak bercanda. Aish jadi merasa terhibur, tidak merasa sendiri tinggal dirumah sebesar rumah Richard.


Romeo sedang menceritakan kehidupannya di Australia, tapi malah ditinggal tidur oleh Aish. Dia jadi ngobrol sendiri.


"Kalau lo sendiri, cita-citanya mau kuliah dimana, dek?" tanya Romeo di akhir ceritanya.


"Dek?" kata Romeo sambil menengok ke arah Aish yang tak juga menjawab pertanyaannya.


"Lah, ketiduran nih bocah" gumam Romeo.


Cowok itu mendekat ke arah Aish, mengamati dengan seksama cewek yang diseriusi oleh adiknya.


Senyum Romeo terukir, "Pinter juga adek gue nyari cewek. Cantik gini, heran gue kenapa nih cewek bisa suka sama es batu model Richard begitu".


"Sudah cantik, enak banget diajak ngobrol, lucu juga. Sayang banget lo nggak ketemu sama gue duluan" gumam Romeo.


"Memangnya kenapa kalau dia ketemu sama lo duluan, kak?" tanya Richard yang ternyata sudah berada di belakang Romeo. Bahkan dia mendengar gumaman kakaknya yang suka seenaknya sendiri saat berbicara.


"Eh, adek gue sudah pulang. Sejak kapan lo disitu?" tanya Romeo sedikit malu. Dia memuji kecantikan pacar adiknya sendiri.


"Sejak lo ngomongin pacar gue, terus menyayangkan pertemuan gue sama Aishyah" kata Richard dengan senyum smirknya.


"Hahaha, memang kenyataannya seperti itu kan, adikku. Kalau lo sudah bosan sama dia, gue mau kok nampung dia" kata Romeo tanpa malu.


"Berantem dulu lo sama gue. Kalau lo menang, lo boleh tanyain ke pacar gue yang ini. Apa mau dia sama cowok model kayak lo?" kata Richard telak mengejek sang kakak.


Romeo berdiri, dan kembali duduk ditempatnya semula. Lalu menyilangkan kakinya, senyumnya masih saja mengembang.


"Lo terlalu percaya diri. Nanti kalau dia pilih gue, malah lo yang nangis" kata Romeo.


"Kalau cewek lain mungkin seperti apa yang lo bilang, tapi kalau ceweknya Aishyah, gue bisa jamin seratus persen, dia nggak bakalan berpaling daru gue" kata Richard meyakini perasaan Aish padanya.


"Lo pede banget, Richard" kata Romeo.


"Of course" kata Richard.


Richard berjalan mendekat pada Aish, dan segera menggendongnya seperti biasa. Dia akan memindahkan Aish ke kamarnya agar bisa tidur dengan nyaman.


Dan Romeo mengekor pada Richard yang menggendong Aish menaiki anak tangga.


"Ngapain lo ngikutin gue?" tanya Richard yang telah sampai diujung tangga.


"Lo lupa kalau kamar gue juga ada di lantai dua, disebelah kamar lo, Richard" kata Romeo.


Tanpa mengindahkan ucapan Romeo, Richard memasuki kamar Aish. Dan menurunkan Aish diatas ranjang dengan hati-hati. Beruntung Romeo tidak mengikutinya masuk.


"Gue jadi nggak tenang ngebiarin lo sendirian dirumah kalau ada Romeo disini" gumam Richard yang menunjukkan kembali sisi posesifnya.


Hampir jam setengah dua malam, Richard baru saja tiba dirumahnya. Meetingnya tadi berjalan cukup sulit, butuh waktu untuk mencapai kesepakatan.


Lelah, apalagi ditambah sedikit gangguan dari Romeo, membuat Richard semakin pusing saja.


Richard keluar dari kamar Aish setelah menyelimutinya.

__ADS_1


"Lama banget, lo apain tuh pacar lo selagi masih tidur?" selidik Romeo, dia agak kepo karena adiknya ini terlalu cuek.


"Bukan urusan lo. Awas lo ya, jangan berani-beraninya masuk kamar Aish tanpa ijin" ancam Richard.


"Ish, lo ini posesif banget. Dia itu kan calon adek ipar gue. Mana mungkin sih gue apa-apain" kata Romeo.


Tanpa menunggu Romeo menyelesaikan ucapannya, Richard meninggalkannya untuk memasuki kamarnya sendiri. Richard sudah terlalu lelah, dua ingin segera istirahat. Apalagi besok masih harus sekolah.


Richard harus tetap bangun pagi.


"Dasar adik durhaka" kata Romeo yang ditinggalkan Richard.


Diapun memasuki kamarnya sendiri.


★★★★★


"Non, non Aish. Bangun non, sudah pagi" Widya membangunkan Aish yang masih setia dengan gulungan selimutnya.


"Hengmh... iya, mbak. Memangnya sudah jam berapa?" tanya Aish sambil meregangkan otot-ototnya.


"Hampir jam enam, non" kata Widya.


"Hah, kesiangan dong mbak" Aish terkejut karena saat dia bangun kesiangan, dan berada didalam kamar.


"Loh, kok saya tidur disini mbak? Seingat saya semalam lagi sama kak Romeo, apa dia yang bawa saya ke kamar, mbak?" tanya Aish.


"Bukan non, semalam den Richard yang pindahin non Aish ke kamar" kata Widya yang sudah menyiapkan segala kebutuhan Aish.


"Oh, pulang jam berapa dia mbak? Kok saya nggak tahu?" tanya Aish yang sudah didorong memasuki kamar mandi.


"Sekitar jam setengah dua, non" kata Widya.


"Malam banget Richard pulangnya, kira-kira dia darimana ya mbak?" tanya Aish.


"Mana saya tahu, non" jawab Widya.


"Iya juga ya" kata Aish.


Diapun menyelesaikan ritual paginya masih dengan bantuan Widya.


Baru pukul setengah tujuh dia sampai di meja makan untuk sarapan, ternyata Richard sudah duduk disana bersama dengan Yopi.


Mereka sudah mulai sarapannya masing-masing.


"Kesiangan lo?" tanya Yopi.


"Iya nih, hehe. Gue sarapan di jalan deh, takut nggak keburu" kata Aish yang melihat Yopi sudah selesai makan.


"Lo keasyikan ngobrol sama Romeo" kata Richard yang tak mendapat ucapan selamat pagi dari Aish.


"Oh, iya. Semalam gue ngobrol sama kakak lo, sambil nungguin lo pulang. Kenapa malam banget pulangnya?" tanya Aish.


"Gue dari cafe, meeting sama kak Willy juga, sama Yopi, Reno juga ada" kata Richard.


"Oh, terus sepagi ini kalian sudah bangun? Kalian nggak tidur ya?" tanya Aish.


"Nanti kan bisa tidur di kelas, Sya" kata Yopi.


"Terserah kalian deh, ayo berangkat, Yop" Aish mengajak Yopi, dan sedikit bersikap cuek pada Richard.


Atau hanya perasaan Richard saja?


"Gue anter ke depan" kata Richard yang mendorong kursi roda Aish.


"Makasih" kata Aish setelah memasuki mobil.


"Nanti lo ada jadwal terapi, biar nanti pulang sekolah gue saja yang jemput lo, ya. Kita langsung ke rumah sakit" kata Richard.


"He em" jawab Aish dengan anggukan kepala.


"Jangan lupa minum obat lo nanti setelah makan" kata Richard mengingatkan.


"Iya" jawab Aish.


"Yasudah, lo hati-hati bawa mobilnya, Yop" kata Richard dengan sedikit melambaikan tangannya saat mobil yang Aish tumpangi mulai keluar dari halaman Rumahnya.


"Kok gue ngerasa ada yang beda ya sama Aishyah pagi ini. Dia ngobrolin apa sih sama Romeo sampai berubah gitu" batin Richard yang juga pergi ke sekolahnya.


Biarlah nanti sepulang sekolah akan dia tanyakan langsung pada Aish.


Sekarang dia akan pergi ke sekolahnya untuk tidur. Loh, kok tidur sih Richard?


Iya, gara-gara semalam Richard kurang tidur, jadinya hari ini dia pergi ke sekolah hanya untuk tidur.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2