Cantik, Kok Minder?

Cantik, Kok Minder?
menjelang pergantian tahun


__ADS_3

Di tempat Richard, cowok itu sudah sangat bad mood saat ini. Sebenarnya dia ingin Aishyah yang menemaninya jika dia bisa memilih. Entah mengapa melihat senyum gadis itu, membuatnya merasa nyaman. Senyum itu seolah menyihirnya hingga bunga di hatinya bermekaran seperti saat musim semi.


"Sayang, kamu kenapa sih?" tanya Emily manja, menggamit lengan Richard kedalam dadanya.


Richard hanya diam, mengingat perbuatannya selama ini yang semau hatinya, membuatnya merasa seperti bumi yang menginginkan langit jika berharap bisa mendapatkan Aishyah. Apalagi dengan adanya ketiga pengawal setia Aishyah, pasti akan sangat menyulitkannya meski hanya ingin bertemu.


"Nggak apa-apa" jawab Richard setelah beberapa kali Emily menggoyang lengan Richard.


"Kamu mikirin cewek sialan itu ya?" tanya Emily ketus.


"Namanya Aishyah, kamu jangan suka ganti nama orang dong" kata Richard.


"Nggak usah belain dia. Yang pacar kamu tuh aku, jadi kamu harus selalu dukung aku" kata Emily, gadis itu memang sedikit keras kepala.


Emily memajukan wajahnya mendekati Richard, dia ingin melanjutkan kegiatannya tadi dengan sang pacar sebelum pengganggunya datang.


Tapi Richard menolak, moodnya sudah tidak bagus. Wajah Aishyah terbayang lagi di benaknya.


"Kamu kenapa sih sayang? Sebel aku sama kamu" kata Emily. Richard bergeming, dia benar-benar bingung dengan hatinya sendiri.


"Aku ngantuk, pusing. Aku istirahat saja ya" kata Richard.


"Kamu kenapa sih, aku kesini buat nemenin kamu untuk menyambut tahun baru loh sayang. Aku bahkan sudah batalin semua janji aku sama teman-teman aku demi nemenin kamu biar nggak sendirian, biar nggak kesepian" kata Emily.


"Sudah biasa aku sepi tiap hari, jadi kamu nggak usah meramaikan malam ini nggak masalah buat aku" kata Richard.


"Kamu tuh nyebelin banget sih,aku pulang saja deh. Nggak guna juga nungguin orang yang nggak mau ditungguin" kata Emily marah, dia langsung pulang dan menggebrak pintu saat keluar.


Richard menghela napas, bingung dengan dirinya sendiri.Dia merebahkan diri, menutup tubuhnya hingga dada. Dan berusaha menutup mata.


*******


"Eh, kebo pribumi. Bangun, sudah sampai nih" kata Falen.


Aish masih tidur, seolah tak terganggu sedikitpun.


"Ah, gue tahu" kata Hendra.


Dia mengambil hp nya, mendekatkan ke telinga Aish dan memutar sebuah musik.


"Toloooooonnnggggg" suara teriakan yang sangat keras keluar dari ponsel Hendra. Aish tentu kaget, secara reflek dia terbangun dan duduk. Tangannya tak sengaja menyenggol hp Hendra hingga jatuh ke kolong kursi yang diduduki Falen.


"Iya, saya tolongin" kata Aish mencari sumber suara.


Falen dan Hendra tertawa melihat ekspresi Aish, membuat cewek itu menekuk wajahnya dan memajukan bibirnya.


"Jahat banget sih, dasar kumpulan penjajah" kata Aish merapikan hijab dan mengeratkan jaketnya.

__ADS_1


"Hp gue dong tolongin princess" kata Hendra memohon.


"Bodo, ambil sendiri. Dasar nyebelin" kata Aish keluar dari mobil Falen.


"Lo sih, ngambek deh tuh bebek" kata Falen.


"Terus aja ledekin, sekalian sekebon binatang sebutin satu-satu" kata Aish.


"Hehe, maafin kita ya princess yang cantik. Jangan marah dong" kata Falen merangkul pundak Aish, mengacak ujung kepala Aish yang tertutup hijab.


"Ih, singkirkan tangan jahat raksasa ini" kata Aish berusaha melepas tangan Falen dari pundaknya.


"Ayo cari Seno" kata Hendra yang baru keluar dari mobil.


"Ayo" Falen beranjak sambil merangkul pundak Aish, tak memperdulikan pemberontakan yang dilakukan gadis itu.


"Uwaahh, kayak gini yah pemandangan pantai saat malam hari" kata Aish sudah tidak cemberut lagi.


"Keren kan" kata Falen.


"He em" kata Aish senang. Baru kali ini dia keluar rumah selarut ini. Apalagi ke pantai, mungkin hanya angan-angan saja jika tanpa ketiga temannya yang berusaha meminta izin pada bundanya.


"Makasih ya, kalian sudah banyak ngasih kebahagiaan buat gue" kata Aish tulus.


"Apaan sih, masak diajak ke pantai gini doang sudah bilang makasih" kata Falen tersenyum


"Haaaiii teman-teman" teriak Seno girang melihat kedatangan sahabatnya.


Aish, Falen dan Hendra mencium punggung tangan mommy Seno terlebih dahulu. Setelahnya, baru menemui Seno.


"Kalian bantuin kita bakar-bakar ya, kita mau pesta barbeque" kata mommy.


"Uwahh, asyik nih" kata Falen yang langsung membantu.


Waktu masih menunjukkan pukul setengah dua belas malam, kurang setengah jam lagi untuk menyambut tahun baru.


Aish, tersenyum melihat ke sekelilingnya. Ada letupan perasaan senang karena dia dikelilingi orang-orang yang menyayanginya dengan tulus.


Gadis itu menatap langit yang cerah, dia teringat dulu ayahnya pernah membawanya ke salah satu pantai yang sangat indah saat mengajaknya pulang ke kampung halaman ayahnya di kota Batu, Jawa Timur.


Sebuah pantai di kabupaten Malang, yaitu pantai Goa Cina. Pantai yang saat dia kesana dulu, suasananya masih sangat sepi. Serasa dia sekeluarga yang memiliki pantai itu.


Tawa riang penuh kebahagiaan terukir di wajah ayah, bunda, kakak dan dia sendiri yang saat itu masih SD. Suasana saat itu sangat menyenangkan, apalagi saat mereka memasuki sebuah goa diatas tumpukan batu karang yang tinggi.


Aish melihat ke sekelilingnya saat ini, suasana ramai memenuhi, apalagi beberapa kru dari tim yang tadi sempat syuting dengan Seno juga ada yang bergabung.


Setetes air mata Aish terjatuh, buru-buru dia hapus sebelum ada yang melihatnya. Dia kangen ayahnya, sepertinya baru beberapa hari yang lalu dia bertemu dalam tidurnya. Kini dia sudah tak bisa lagi menemui untuk sekedar berbagi cerita.

__ADS_1


Falen melihat kesedihan Aish, cowok itu peka juga. Dia mengajak Aish sedikit menjauh dari kerumunan.


"Princess, ikut gue bentar yuk. Kayaknya ada yang ketinggalan di mobil" kata Falen.


Aish tersenyum dan mengangguk. "Lo takut ya pergi sendiri?" ledek Aish.


"Buruan" kata Falen.


"Kayaknya ini bukan jalan ke parkiran deh Falentino" kata Aish.


"Duduk sini bentar yuk" kata Falen saat melihat ada kayu yang sepertinya juga dibuat untuk tempat duduk.


"Cerita sama gue dong, kenapa lo tadi nangis?" tanya Falen.


"Nggak ada tuh, kapan gue nangis?" tanya Aish.


"Gue lihat kok waktu lo hapus air mata lo" kata Falen.


"Oh, itu. Nggak apa-apa sih. Gue cuman keinget ayah sama kakak, gue kangen kebersamaan kita kayak dulu" kata Aish.


"Duluuuu banget, waktu gue masih SD. Gue pernah berkunjung ke sebuah pantai yang jauh banget, di Malang sana. Sama ayah, bunda, kakak dan gue juga. Kita hepi banget, pokoknya seneng banget waktu itu" Aish mulai mengeluarkan isi hatinya, dan Falen masih setia mendengarkan.


"Gue nggak nyangka kalau ayah bakalan ninggalin gue secepat ini, kakak juga, malah seperti musuh. Gue tahu bunda tiap malam nangis Fal, nangisin kepergian ayah gue yang sudah pasti nggak akan balik lagi. Nangisin kakak gue yang nganggap gue dan bunda seperti musuhnya".


"Gue kasihan sama bunda, Fal. Tiap hari bunda berusaha terlihat kuat, terlihat tegar di hadapan gue. Bunda nggak pernah nunjukin kesedihannya di depan gue".


Falen melingkarkan tangannya di pundak Aish, kadang menepuk pundak sahabatnya itu saat air mata yang jatuh terlalu deras ketika dia menyampaikan isi hati yang selama ini dipendam sendirian.


"Makasih ya, kalian sudah mau jadi sahabat gue. Kalian sudah seperti saudara buat gue. Gue bersyukur banget karena tuhan ngirim kalian buat jadi sahabat gue" kata Aish tersenyum di sela tangisannya.


"Sudah lega?" tanya Falen, Aish tersenyum dan mengangguk.


"Sudah ya, jangan nangis lagi. Ayah lo pasti sudah bahagia disana, di sisi Allah. Tugas lo sekarang lindungi dan bahagiain bunda lo, ya. Dan kita sebagai sahabat lo, pasti akan selalu ada di setiap lo susah, sedih maupun bahagia. Kita sayang sama lo princess. Waktu lo nggak sadar di rumah sakit kemarin, gue sempat benci banget sama Richard. Seandainya ada apa-apa sama lo, tuh anak pasti bakal gue hajar" kata Falen.


"Kalian disini ngapain?" tanya Seno yang datang bersama Hendra.


"Ayo, mendingan kita segera ngumpul sama yang lain ya. Bentar lagi acaranya mau dimulai, kembang apinya sudah siap, dan satu lagi" kata Hendra menggantung kalimatnya.


Cowok itu membisikkan sesuatu ke telinga Falen, membuat bule itu sedikit terkejut dan segera mengajak Aish dan lainnya pergi dari tempat itu.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2