Cantik, Kok Minder?

Cantik, Kok Minder?
punggawa sedang sedih


__ADS_3

Seno telah mengantarkan Aish dengan selamat sampai dirumahnya setelah Adzan Isyak berkumandang.


"Makasih banyak ya Seno, hari ini gue seneng banget" kata Aish.


"Iya, sama-sama. Apalagi tadi sempat masuk tipi ya, pasti tambah hepi" kata Seno sambil mengacak puncak hijab Aish.


"Iya, nanti gue jadi lebih terkenal daripada lo" kata Aish dengan senyum ceria.


"Gue balik dulu ya, lo cepetan istirahat. Sampai jumpa besok, Assalamualaikum" kata Seno.


"Waalaikumsalam, sampai ketemu besok, Seno" kata Aish yang masuk ke dalam rumahnya setelah Seno hilang dari pandangan.


Lain halnya Falen, dia masih sempat mengajak Sekar makan malam sebelum mengantarkannya kembali ke rumahnya.


"Thank's for today, Sekar. I'm really happy" kata Falen sebelum melepas Sekar turun dari mobilnya.


"You are Welcome, Falen. Aku juga senang banget hari ini" kata Sekar.


"Aku balik ya, maaf nggak mampir dulu, keburu malam kan nggak enak sama orang rumah" kata Falen setelah membukakan pintu mobilnya.


"Good night, cantik" kata Falen yang membuat pipi Sekar bersemu merah. Dia sangat bahagia seharian ini karena bisa bersama dengan Falen.


★★★★★


"Dimohon untuk ketua OSIS, Brian Falentino dan juga Aishyah Khumaira kelas 11 IPA-2 untuk ke ruang kepala sekolah setelah upacara berlangsung" sebuah pengumuman terdengar setelah semua murid selesai melakukan upacara bendera.


Kebetulan Aish yang saat itu sedang mendapat tugas jaga di PMR sedang berada di ruang UKS. "Kak Aish, panggilannya bukannya buat kakak ya yang barusan itu?" kata adik kelasnya memberitahu.


"Iya kayaknya, nggak apa-apa ya kamu ditinggal dulu?" tanya Aish.


"Iya kak, nggak apa-apa" kata adik kelasnya melanjutkan mencatat obat-obatan yang sudah habis.


Sebelum Aish mengunjungi ruang kepala sekolah, dia melangkahkan kakinya ke lapangan untuk mencari Falen.


"Princess, lo mau ke ruang kepsek sekarang?" tanya Falen yang ternyata muncul dari belakangnya.


"Eh, iya. Ada apa ya Fal?" tanya Aish.


"Gue juga belum tahu, kita kesana yuk" ajak Falen. Mereka bersama menuju ruang kepala sekolah.


Tok.. Tok.. Tok ..


"Assalamualaikum, permisi pak"


kata Aish


"Iya, masuk. Waalaikumsalam. Silahkan duduk"


jawab kepala sekolah, rupanya sudah ada bu Kris didalam ruangan itu.


"Ada apa ya bapak panggil kita?" tanya Falen setelah duduk dihadapan kepala sekolah itu bersama Aish.


"Kamu lupa ya dengan waktu yang bapak berikan, ini sudah mencapai batasnya lho, Brian" kata kepala sekolah.


"Iya, saya minta maaf pak. Tapi saya belum bisa mendapatkan buktinya. Saya sudah bertanya pada security untuk melihat rekaman cctv, tapi ternyata di malam kejadian itu kamera cctvnya mati pak" kata Falen membela diri.


"Itu bukan urusan saya, Brian. Yang jelas, Aishyah telah mencoreng nama baik sekolah kita. Belum pernah ada kasus semacam ini sebelumnya. Kalau kasus ini dibiarkan, bisa membahayakan generasi penerus sekolah ini. Bisa-bisa mereka juga bertindak sesuka hati. Ini jelas tidak bisa dibiarkan berlarut-larut" kata kepala sekolah itu menegur Aish.


"Saya minta maaf pak, tapi sungguh foto itu hanya diambil dalam pose yang kebetulan saja pak. Karena yang sebenarnya tidak seperti itu" kata Aish berusaha membela diri.


"Atau bila perlu, akan saya telpon bang dokter Siras untuk lebih jelasnya, bagaimana?" tanya Aish.

__ADS_1


"Boleh, silahkan. Hubungi dokter Siras sekarang juga. Lakukan panggilan video agar kita semua disini bisa tahu isi percakapan kalian" kata kepala sekolah itu.


Aish segera mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi nomer Siras. Semoga panggilannya segera diangkat oleh dokter mesum itu.


"Hai, Aishyah. Akhirnya kamu menghubungi saya duluan. Kamu sudah tidak bisa menahan rindu padaku ya?"


Kata Siras saat mengangkat panggilan video dari Aish. Sontak mata Aish membola mendengar penuturan dokter itu.


Begitupun Falen, dia sangat geram mendengar kakaknya malah mengatakan hal yang seperti itu disaat genting seperti ini.


Aish celingukan, menatap pada satu persatu orang yang ada diruangan itu dengan perasaan malu dan tentu bingung.


"Bang dokter, jangan ngomong yang aneh-aneh deh. Bang, coba deh abang jelasin sama semua yang ada disini kalau hubungan diantara kita itu cuma sebatas dokter pembimbing dengan anak magang saja"


Kata Aish yang saat ini memperlihatkan orang-orang yang ada di dalam ruangan itu.


"Oh, sedang ramai rupanya. Hai, ada Brian juga disana. Apa kabar adikku?"


Kata Siras semakin ngelantur.


"Haduh, lama-lama gue jadi malu punya kakak model seperti ini" gumam Falen dalam hatinya. Duduknya sudah tidak tenang, sekarang malah menunduk dengan tangan yang memijit pangkal hidungnya.


"Bang, tolong fokus dong. Bilang sama semuanya kalau diantara abang dan saya itu nggak ada hubungan apa-apa"


Kata Aish gemas sendiri dengan kelakuan Siras.


"Kenapa saya harus mengatakan hal yang seperti itu? Apa ada masalah?"


tanya Siras mulai fokus, semoga dia tidak menambah masalah baru untuk Aish.


"Ada yang menyebarkan foto kita bang, seolah-olah dalam foto itu kita sedang melakukan hal yang tidak senonoh"


Siras sedikit berfikir, akal liciknya kembali mencuat. Jika Aish tertangkap kamera sedang dalam posisi tidak mengenakkan, berarti dia dalam masalah besar.


Dan jika masalah itu tidak terpecahkan, pasti Aish akan dikeluarkan dari sekolah. Karena setahu Siras, disekolah itu peraturannya cukup ketat untuk masalah seperti ini.


Kalau Aish dikeluarkan, maka dia bisa dengan mudah untuk menemuinya tanpa harus melewati Richard yang telah membuatnya seperti samsak tinju, juga adiknya yang emosian. Senyum licik terukir di wajahnya.


"Saya tidak berfikir jika itu hanya kebetulan Aishyah, bukankah kita memang ada hubungan spesial?"


kata Siras yang semakin membuat kacau. Aish kecewa, seharusnya tadi dia tidak menyarankan untuk menghubungi Siras.


"Maksud abang apa ya? nggak ada yang seperti itu, abang jangan bohong. Tolonglah bang, jangan semakin membuat masalah Aish bertambah besar"


keluh Aish, tapi Siras terlanjur berkata seperti itu.


"Kak, tolong untuk saat ini jangan bercanda. Kita sedang dalam masalah serius"


kata Falen yang sudah sangat emosi pada kelakuan abangnya.


"Sudahlah, terserah kalian saja. Maaf, saya harus menutup panggilan ini karena sedang sibuk"


kata Siras yang langsung mematikan panggilan video itu.


"Bang, abang dokter. Yaahh, kenapa malah dimatikan sih?" tanya Aish menatap nanar pada layar ponselnya.


"Sumpah pak, saya nggak ada hubungan apapun sama dokter Siras. Bapak percaya kan sama saya?" tanya Aish yang matanya mulai berkaca-kaca.


"Saya pribadi percaya sama kamu Aish, kamu itu selain baik juga murid yang berprestasi di sekolah ini. Tapi peraturan tetap peraturan, saya bisa apa kalau nyatanya tidak ada bukti yang memperkuat pernyataan kamu" kata Kepsek itu.


"Saya sangat menyayangkan ada kejadian seperti ini, Aishyah. Ibu sebenarnya bangga punya murid seperti kamu. Tapi ibu minta maaf kalau kali ini tidak bisa membantu kamu" kata Bu Kris yang sebenarnya memang menyukai Aish yang jarang bermasalah.

__ADS_1


"Jadi, keputusannya harus bagaimana pak?" tanya Falen yang sudah berpikiran buruk.


"Maaf, Aishyah. Dengan berat hati kami harus mengeluarkan kamu dari sekolah ini" kata Pak kepsek dengan mengeluarkan sebuah surat keputusan untuk Aishyah.


Seperti yang telah dia katakan sebelumnya, bahwa Aish sebenarnya tidak begitu bersedih dengan keputusan ini, sejak awal dia sudah berfirasat bahwa masalah ini akan sangat memberatkannya.


"Ya, baiklah jika memang keputusannya harus begitu, pak. Saya terima, tapi saya mohon sama kamu ya Falen. Sebagai ketua OSIS, saya minta kamu tetap menyelidiki kasus ini".


"Bukan masalah besar bagi saya untuk sekolah di tempat lain, hanya saja, saya tidak mau nama baik saya disalah gunakan oleh orang lain untuk kepentingan diri mereka sendiri. Dan itu sangat merugikan saya" kata Aish dengan mata yang masih fokus pada kepala sekolahnya.


Sebentar, hanya sebentar saja, Aish melihat raut kekhawatiran di wajah kepala sekolah itu. Setelahnya, orang itu sudah bisa mengendalikan dirinya. Memasang raut wajah biasa saja. Seperti sebelumnya.


"Maafin gue, princess. Gue nggak becus jadi teman yang harusnya bisa lindungi lo dari orang jahat" kata Falen menunduk, dia sangat sedih.


"Nggak, Fal. Bagi gue, lo teman terbaik gue. Kita cuma pisah sekolah, tapi pertemanan kita nggak akan pernah berakhir kan?" tanya Aish dengan menggenggam tangan Falen.


"Maafin ibu juga ya, Aishyah. Nanti kalau Falen sudah menemukan pelakunya, ibu pastikan dia mendapat perlakuan yang sama seperti kamu" kata bu Kris.


"Iya, bu. Semoga pelakunya bisa cepat ditemukan. Saya minta maaf ya sama bu Kris kalau selama saya sekolah disini ada kesalahan" kata Aish yang masih bisa tersenyum.


"Nggak nak, kamu anak yang baik. Ibu yang sudah gagal sebagai guru BP" kata Bu Kris yang malah menitikkan air mata.


"Ibu jangan nangis dong, Saya nggak apa-apa kok bu. Cuma sedikit sedih saja karena harus jauh dari sahabat-sahabatnya Aish" kata Aish memeluk Bu Kris.


Falen dan Aish sudah keluar dari ruang kepala sekolah, mereka menuju ruang kelas untuk berpamitan.


Dengan kepala tertunduk, Falen benar-benar merasa tidak becus sebagai ketua OSIS.


"Sudah dong, Fal. Jangan sedih, kan kita tetap best friend forever" kata Aish dengan senyum ceria dan melingkarkan tangannya dilengan Falen.


Sampai di kelasnya, pelajaran sudah dimulai. Falen dan Aish masuk setelah meminta ijin. Aish masih diperbolehkan untuk mengikuti pelajaran hari ini.


Sampai bel istirahat berbunyi, Aish masih beristirahat bersama ketiga temannya di taman dekat perpustakaan.


"Gue minta maaf ya sama kalian" kata Aish yang membuat Seno dan Hendra menoleh padanya, sedangkan Falen hanya bisa menunduk sedih.


"Kenapa?" tanya Seno dengan sendok yang masih berada di dalam mulutnya.


"Mulai besok gue sudah nggak sekolah disini lagi" kata Aish.


Seno dan Hendra terkejut, wajah melongonya menatap Aish tidak mengerti.


"Gue dikeluarin gara-gara kasus foto itu. Nggak ada bukti yang menguatkan gue buat meyakinkan kalau gue nggak bersalah" kata Aish.


"Jangan bercanda begitu, princess. Gue nggak suka" kata Seno merajuk.


"Gue serius, nih suratnya. Kita tetap sahabat kan?" tanya Aish dengan wajah melucu, dia tidak mau sahabatnya sedih. Apalagi Seno yang memang sedikit cengeng.


Benar kan, mata Seno sudah berkaca-kaca. Sedikit saja air matanya akan turun. Tiba-tiba dia memeluk Aish dan menangis.


Aish menepuk punggung Seno, menyemangatinya. "Sudah dong, nggak boleh nangis. Gue tetap sayang kok sama lo, Seno" kata Aish.


"Nanti siapa yang belain gue kalau mereka berdua ngebully gue, princess?" kata Seno yang masih terisak dipelukan Aish.


"Tiap istirahat kita video call ya, biar mereka berdua nggak nakal sama lo" kata Aish.


Baru kali ini Hendra merasakan kehilangan yang teramat sangat, selain saat adiknya meninggal dulu.


"Gue juga sedih, princess. Lo nggak mau peluk gue juga?" kata Hendra.


Aish merentangkan tangan lainnya untuk memeluk Hendra juga. Mereka berpelukan seperti Teletubbies. Tapi dalam keadaan sedih, bukannya bahagia.

__ADS_1


__ADS_2