
Jika tidak dalam kondisi genting, Aish dan Mike terlihat seperti pasangan romantis karena posisi Aish yang bersender di dada Mike.
"Badan gue sakit semua, Mike" keluh Aish yang semakin lemas. Rupanya darah masih juga merembes dari luka Aish yang sudah ditutupi kaos kaki. Kaos kaki putih milik Mike sudah berwarna merah.
"Please, Sya. Lo harus kuat, sebentar gue berusaha cari bantuan, ya" kata Mike.
Dengan pelan dan hati-hati, Mike membiarkan Aish rebahan diatas permukaan tanah tempat mereka berdua berpijak.
Mike pun sama, rasanya semua sendi dalam tubuhnya sangat lemas. Tapi dia harus kuat karena sebagai ketua tim, dia harus memastikan kondisi semua anggotanya aman.
Dia melangkahkan kakinya sedikit menjauh, mengamati seluruh tempat dimana dia berada.
Ada sungai, jaraknya cukup jauh. Tapi Mike bisa melihatnya dari sini. Dia hanya butuh berjalan menuruni tepian jurang agar bisa sampai di sungai itu. Jika dilakukan dengan hati-hati, dia pasti bisa menjangkaunya.
Tiba-tiba tenggorokannya kering, melihat air sebanyak itu rasanya Mike ingin menceburkan diri ke dalam sungai. Tapi itu tentu tidak mungkin karena ada Aish yang membutuhkan pertolongannya.
Mike berjalan tertatih mendekati sungai, cukup lama dia mencoba untuk berusaha berjalan agar tidak tergelincir. Tanah basah dan bebatuan runcing cukup menyulitkannya.
Saat berhasil menggapai tepian sungai, Mike segera membasuh wajahnya dengan kesegaran air sungai pagi ini.
Begitu dia menemukan sumber air di tepian sungai, dia meminum air itu untuk melepas dahaganya. Dia juga mencari pelepah daun untuk membawakan Aish air secukupnya.
Sementara diatas sana, beberapa orang yang mendengar teriakan Nindi dan Adit mulai berdatangan untuk melihat kondisi jurang.
Tapi mereka enggan untuk berusaha menuruni jurang yang terlihat berbahaya seperti itu.
Salah seorang diantara mereka berlari kembali ke arah perkemahan, dia melaporkan kejadian itu kepada pembina Pramuka yang ada.
"Eh, ada apa sih? Kenapa lo buru-buru banget?" tanya Yopi pada murid yang datang melaporkan kejadian di jurang.
"Ada yang jatuh ke jurang" kata murid itu.
"Siapa?" tanya Yopi mulai was-was.
"Mike dan satu lagi cewek, namanya Aishyah kalau gue nggak salah dengar" jawabnya.
Bagai disambar petir di siang bolong, Yopi terkejut bukan main.
"Aishyah? Kok dia bisa jatuh sih?" tanya Yopi bingung.
"Gue nggak begitu paham ceritanya, lo bisa tanya langsung sama temannya yang masih nangis terus di pinggir jurang" jawab murid itu.
"Bisa lo tolongin gue, anterin ke tempat mereka jatuh" kata Yopi.
"Boleh" kata murid itu mulai berjalan, memandu Yopi menuju tempat Nindi berada.
Yopi berjalan dalam kebingungan, bisa mati dia kalau sampai Richard tahu tentang Aish yang hilang. Tapi untuk tidak segera memberitahu Richard juga bukan jalan yang benar.
Karena kalau Richard tahu, dia bisa memfasilitasi untuk proses pencarian tuan putri.
"Ya ampun, kenapa lo nyusahin gue banget sih, Sya" kata Yopi yang frustasi, berulang kali dia menyugar rambutnya dengan kasar.
"Lo khawatir banget sama Aishyah, dia pacar lo ya?" tanya murid yang mengantarnya menuju lokasi.
"Bukan, dia junjungan gue" jawab Yopi asal. Tapi murid itu mengangguk, seperti percaya saja dengan ucapan Yopi.
Samar terdengar suara Nindi memanggil Aish diiringi tangisan. Yopi sudah bisa melihatnya dari jarak beberapa meter. Segera dia berlari mendekati Nindi, dia sudah sangat penasaran kenapa Aish bisa jatuh.
"Nin, kenapa Aish bisa jatuh?" tanya Yopi.
"Maafin gue, Yop. Tadi gue lihat hantu, terus gue lari sambil nyeret tangan Aish. Gue nggak tahu kalau kita salah arah, waktu Mike nemuin kita, malah Aish terpeleset ke jurang itu. Dan Mike ngikutin Aish" kata Nindi bercerita sambil terisak karena takut terjadi sesuatu pada Aish dan Mike.
Yopi melihat ke dalam jurang, cukup dalam kalau harus dituruni tanpa alat pengaman.
"Ah.. Sial" umpat Yopi.
Dia meraih benda pipih dari dalam kantongnya, memencet serangkaian nomer untuk menghubungi tuan mudanya. Richard harus tahu kondisi Aish. Daripada berlama-lama menutupinya, cepat atau lambat juga dia akan mendapatkan amukan dari titisan Hercules itu.
Cukup sulit untuk mendapatkan signal, tapi masih bisa untuk menghubungi Richard meski dengan suara terbata-bata.
"Iya, ada apa Yop? Bukannya lo lagi camping?"
tanya Richard sedikit penasaran, dia sendiri sedang ada latihan di ruang kesenian.
"Gue minta maaf, Ri. Aish jatuh ke jurang"
kata Yopi tanpa berbasa-basi.
"Coba lo bilang sekali lagi"
kata Richard tak percaya.
"Aish jatuh ke dalam jurang tadi pagi, waktu dia nyari kayu bakar di hutan. Sekarang kita disini masih kesulitan buat nyariin dia"
__ADS_1
kata Yopi dalam jaringan yang buruk, tapi masih bisa Richard dengar dengan jelas jika Yopi memberitahukannya bahwa Aish terjatuh ke dalam jurang.
Richard segera mengakhiri panggilannya, langkahnya tergesa menuju keluar ruangan setelah mengambil tasnya.
"Mau kemana lo? Buru-buru amat?" tanya Reno mengikuti Richard dari belakang.
"Gue mau ke tempat Aish camping. Dasar Yopi tolol, jagain Aish doang nggak bisa. Aish jatuh ke jurang, Ren" kata Richard, kebetulan Falen sedang melintas menuju ruang OSIS dan bertemu Richard dan Reno di lorong sekolah.
"Apa lo bilang? Aish jatuh ke jurang?" tanya Falen mendekat ke arah Richard.
"Cg, lo nggak usah ikut campur, Brian" kata Richard.
"Aish sahabat gue, jangan sok ngelarang lo" kata Falen tak mau kalah. Persaingan masa lalu mereka masih tak bisa dihilangkan.
"Sudah deh, kalian berdua mendingan fokus sama Aishyah. Kalau mau berantem nanti dulu, Aishyah lagi jatuh ke jurang lho ini" kata Reno berusaha melerai sengketa kedua pria jangkung itu.
Merasa ucapan Reno benar, keduanya segera bergegas menuju parkiran. Mereka akan menyusul ke tempat perkemahan.
Di jalan, Falen sibuk memberitahu pada Hendra dan juga Seno. Dia ingin lebih banyak yang tahu agar pencarian terhadap Aish bisa segera dilakukan. Falen tahu medannya sangat sulit, dia berharap Aish tidak apa-apa.
"Halo, Hen. Princess jatuh ke jurang tadi pagi, gue lagi perjalanan ke perkemahan sekarang"
kata Falen mengejutkan Hendra yang sedang berlatih ekskul PMR.
"Kok bisa? Oke, gue kesana sekarang juga".
kata hendra.
Falen juga menghubungi Seno, tapi berita itu masih tertahan di mommynya. Seno sedang melakukan syuting, sedikit lagi scene nya selesai. Mommy Seno sudah tidak bisa tenang sejak mendapat berita dari Falen.
Satu jam berkendara, Richard datang bersama Reno sedangkan Falen sendiri juga sudah keluar dari mobil mereka.
Langkah tergesa dari ketiga murid Mahardika itu mengundang perhatian dari murid lain yang sedang berkemah. Siswa dari sekolah elit itu selalu menjadi topik yang hangat untuk dibicarakan.
Richard mengeluarkan ponselnya, dia menghubungi seseorang.
"Lo dimana bego?"
tanya Richard saat panggilannya diangkat oleh Yopi.
"Lo sendiri dimana? Gue lagi di tepi jurang tempat Aish terjatuh. Lo bisa minta tolong diantarkan sama teman gue yang ada di sana. Mereka tahu tempatnya"
kata Yopi.
"Hei, lo. Tolong anterin gue ke jurang tempat Aish jatuh ya" kata Richard.
Sedikit terpana, akhirnya siswi itu mau juga mengantar tiga siswa tampan dari Mahardika itu.
Sepanjang perjalanan, Richard masih saja mengumpati Yopi yang dirasa tidak bisa menjaga Aish dengan benar.
Reno dan Falen hanya menatap malas pada cowok bucin yang tidak bisa tenang itu.
Melihat di kejauhan ada Yopi, Richard segera berlari menghampiri. Lantas memberikan hadiah pukulan telak di pipinya.
"Lo bego banget sih, Yop. Gue sudah bilang buat jagain dia, kenapa bisa Aishyah jatuh ke jurang" kata Richard tepat di wajah Yopi, kedua tangannya sudah menggenggam krah baju Yopi.
"Ada masalah apa ini? Kamu jangan membuat keributan disini ya" kata pak Bagyo melerai.
"Lo tenang dong, Ri. Pasti Aish nggak suka lihat lo masih saja nggak bisa ngontrol emosi" kata Brian.
"Kita juga panik, tapi semua ini kecelakaan. Jangan langsung menuduh Yopi yang tidak-tidak seperti itu" kata Pak Bagyo lagi.
Richard melepas krah Yopi. Tangannya tergerak menghubungi seseorang.
Suasana mencekam meliputi semua orang yang sedang berusaha mencari bantuan untuk menuruni jurang, demi mencari keberadaan kedua murid SMAN 72 yang terjatuh.
★★★★★
Sementara dibawah sana, Mike berhasil membawakan air untuk Aish menggunakan daun yang dibentuk sedemikian rupa agar bisa menampung air untuk Aish minum.
"Sya, lo bisa dengerin gue kan?" tanya Mike.
Mata Aish terpejam, bibirnya berbisik lirih. Mike mendekatkan telinganya agar bisa mendengar gumaman Aish.
"Maafin gue, Richard. Gue nggak dengerin omongan lo. Kaki gue sakit, tolongin gue" gumam Aish sementara matanya masih terpejam.
Mike menghela napasnya, sebegitu pentingnya Richard bagi Aish. Sedikit rasa sesak menghampiri hatinya.
"Sya, bangun. Gue bawain lo air buat minum" kata Mike.
Kelopak mata Aish bergerak, lambat laun terbuka juga. Iris berwarna coklat itu tak seterang biasanya. Seolah redup karena menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya.
Bibir Aish masih sempat tersenyum, "Makasih ya, Mike" kata Aish lirih. Dia berusaha duduk untuk meminum air yang Mike bawakan.
__ADS_1
Aish meminum air itu sedikit demi sedikit, kerongkongannya memang terasa kering karena terlalu banyak menjerit sejak tadi.
"Lo tunggu sebentar ya, gue mau bikin api biar ada yang tahu posisi kita disini kalau ada yang mencari nanti, ya" kata Mike. Aish hanya mengangguk samar. Dia masih tidak berani melihat kakinya, meskipun dia merasakan perih pada kedua kakinya.
Mike mencari ranting pohon, dan segera membuat api dari gesekan batu.
"Semoga kita bisa segera dapat bantuan ya, Sya" kata Mike.
"Iya" jawab Aish singkat.
Mike masih berusaha mengajak Aish bicara agar kesadarannya tetap terjaga.
★★★★★
"Hen, coba lo hubungi bang Fian. Minta tolong sama dia untuk mencari Aish lewat jalur udara, gue khawatir banget sama dia" kata Richard.
Hendra menurut, baru ingat dia kalau bang Fian seorang polisi. Segera dia menghubungi Fian melalui ponselnya.
"Bang, bisa minta tolong kirim helikopter ke daerah puncak perkemahan? Aish hilang bang, dia jatuh ke jurang"
kata Hendra langsung meminta bantuan pada Fian.
"Untuk langsung dikirim tentu tidak bisa, Hen. Ada aturannya, sekarang saya akan melihat medannya dulu kesana, apakah memungkinkan untuk helikopter lepas landas"
kata Fian yang sebenarnya juga khawatir, tapi ada aturan yang harus dia patuhi.
"Oke bang, kita tunggu kedatangan abang. Tolong cepat ya, bang. Gue takut Aish kenapa-kenapa"
kata Hendra, setelahnya dia mengakhiri panggilannya dan memberitahukan info yang dia dapat pada Richard dan semua yang ada disana.
"Lambat sekali mereka, bagaimana keadaan Aishyah dibawah sana?" tanya Richard yang sejak tadi mondar-mandir kebingungan.
Tim SAR juga masih dalam perjalanan menuju lokasi kejadian. Satu detik waktu yang berlalu terasa sangat berharga bagi Richard. Karena ada nyawa Aish yang sangat dia khawatirkan.
Cuaca sangat tidak mendukung, gumpalan awan mendung datang beriringan menutup pancaran sinar matahari siang ini.
"Sya, kayaknya mau hujan. Gue tinggal sebentar buat cari tempat berteduh dulu, ya" kata Mike meninggalkan Aish.
Mike berjalan ke sisi yang berbeda dari tempatnya saat menemukan sungai tadi. Dia berharap akan ada tempat berlindung jika nanti hujan turun.
Ada sebuah gua kecil di lereng jurang ini, sepertinya cukup untuk mereka berdua berteduh. Mike segera kembali menemui Aish.
"Gue nemu gua kecil, Sya. Kita pindah kesana, ya. Semoga nggak turun hujan, ya. Dan semoga ada yang nolongin kita" kata Mike berusaha membantu Aish pindah tempat.
Aish sangat kesulitan untuk menggerakkan kedua kakinya. Bayangkan saja, kaki kirinya digigit ular dan kaki kanannya tertusuk ranting pohon yang menyebabkan lukanya masih meneteskan darah.
Mike tidak tega melihat kondisi Aish, diapun menggendongnya di punggung. Karena tubuh Mike terlalu lelah untuk menggendong Aish ala bridal style.
"Maafin gue ya Mike, gue nyusahin lo" kata Aish lirih.
"Nggak, Sya. Gue yang salah, seharusnya gue nggak ngebiarin lo dalam kondisi bahaya seperti ini" kata Mike yang berjalan tertatih menuju gua kecil yang ditemuinya tadi.
Aish mengeratkan pegangannya pada bahu Mike, dia takut terjatuh saat Mike menapaki pinggiran jurang yang licin dan dipenuhi bebatuan.
"Kita sampai, disini lebih aman" kata Mike menurunkan Aish dan mendudukkannya di tempat yang nyaman.
Aish memandang sekeliling, "Gelap Mike" kata Aish.
"Gue cari kayu dulu ya buat bikin api" kata Mike yang mendapat anggukan kepala Aish.
Tak lama Mike meninggalkan Aish sendiri, dia sudah datang dengan tumpukan ranting di tangannya. Segera dia menyusun ranting-ranting itu dan berusaha membuat api.
Akhirnya, api bisa menyala. Membuat suasana gue tidak segelap tadi.
Nasib baik masih berpihak pada mereka, karena setelah api berhasil dinyalakan, gerimis mulai turun. Lama kelamaan menjadi hujan yang lebat.
"Mike, lo kenapa nggak pakai baju?" tanya Aish saat mengetahui Mike hanya memakai celana olahraganya.
"Iya, sengaja gue tinggal diluar gua ini supaya kalau ada yang kebetulan melintas, mereka tahu kalau kita berada disekitar sini" kata Mike.
"Iya, lo benar juga" kata Aish. Sekarang posisinya sedang bersedekap, Aish merasa sangat kedinginan.
"Boleh gue tidur sebentar, Mike? Kepala gue pusing" kata Aish langsung memejamkan matanya tanpa menunggu persetujuan dari Mike yang daritadi melarangnya untuk tertidur.
Aish sudah tidak kuat menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya.
.
.
.
.
__ADS_1