Cantik, Kok Minder?

Cantik, Kok Minder?
pulang


__ADS_3

"Saya mau ajak Aishyah pulang, Richard" sama, Fianpun juga tak ingin basa-basi lagi.


"Ada masalah apa sampai bang Fian maksa Aish pulang?" sedikit tersulut emosi, tapi Richard menyadari siapa yang sedang dia hadapi.


"Menurut gue, lebih baik dia disini, bang. Dia terjamin disini, keamanan, kenyamanan, dan semua kebutuhan dia terpenuhi. Gue bahkan sudah nyiapin art khusus buat bantuin dia".


Mulai menjelaskan dengan otak, Richard sadar kemampuan ototnya tidak berpengaruh disini.


"Daripada dia sendirian dirumahnya, nggak ada yang bantuin dia, bang. Seperti yang abang lihat sendiri, Aish lagi sakit. Tega abang ngebiarin dia sendiri?" tanya Richard.


Sedikit berfikir, memang benar ucapan Richard. Tapi membiarkan Aish tinggal disini juga bukan jalan keluar yang terbaik.


"Kamu memang benar, tapi juga bukan hal yang baik untuk membiarkan perempuan tinggal dirumah laki-laki yang bukan muhrimnya. Saya yakin Aish tahu akan hal itu" kata Fian sedikit menjelaskan.


"Mungkin memang kalian tidak berbuat apa-apa, karena bukan cuma kalian berdua yang tinggal dirumah ini. Ada kakak kamu, ada banyak art kamu. Tapi apa kamu sudah memikirkan bagaimana tanggapan orang-orang kalau mereka tahu Aish tinggal dirumah kamu, sementara orang lain juga tahu kalian berdua punya hubungan spesial?".


"Kalau kamu tinggal di kampung, pasti kalian berdua sudah diusir dari kampung karena dianggap kumpul kebo. Astaghfirullah, abang sampai nggak kenal sama kamu yang sekarang, Is" sedikit kecewa, Fian tak tahu bagaimana meyakinkan Aish agar mau pulang.


Aish hanya diam, karena untuk mengatakan bahwa Richard yang memaksanya juga tidak mungkin.


Bisa-bisa Fian tambah tidak suka pada Richard.


"Gue cuma nggak tega ninggalin Aish sendirian dirumahnya, bang. Lo mikirnya kejauhan banget sih kalau sampai kita kumpul kebo" Richard tidak suka dengan anggapan Fian yang seperti itu.


"Orang tua gue juga sudah ngijinin Aish tinggal disini kok, bang. Biasanya juga ada papa sama mama dirumah, cuma kebetulan mereka berdua sedang ada kerjaan di Kalimantan" kata Richard.


"Ada enyak gue yang pasti mau ngerawat Aish dirumahnya, Richard. Nggak harus kalian tinggal dalam satu atap seperti ini" masih saja Fian tidak suka Aish yang menginap disini.


"Lo boleh kok nikahin kita berdua sekarang juga, asalkan lo nggak berusaha untuk bawa Aish balik ke rumahnya" seisi ruangan langsung menatap Richard setelah mendengar ucapannya.


"Jujur bang, gue cuma nggak tega ngebiarin dia sendiri. Dia lagi sakit bang, gue khawatir sama dia. Bagaimana setiap harinya harus nyiapain semua sendiri, padahal dia lagi kena musibah".


"Kalau dia ada disini, dia terjamin bang. Semuanya sudah ada yang bantuin" Richard pun keukeh dengan pendiriannya.


"Kamu juga Yop, kenapa kamu nggak kasih tahu abang kalau Aish lagi sakit? Jadi alasan setiap hari kamu tidur dirumahnya Aish itu karena nggak mau ada yang tanya-tanya sama kamu tentang keberadaan Aish?" geram Fian yang merasa tidak dihargai.


"Aish yang minta gue tidur dirumahnya, bang. Dia kasihan ninggalin rumahnya sendirian katanya" dengan tertunduk, Yopi mengatakan alasan yang Aish berikan.


"Gini saja deh, selama kamu sakit, biar enyak tidur dirumah kamu, Is. Semua keperluan biar enyak yang bantuin kamu. Abang cuma pengen jagain kamu doang. Abang sayang sama kamu, abang nggak pingin sesuatu yang buruk terjadi sama kamu, Is" terlihat raut wajah yang tulus dari ucapan Fian.


Sesayang itu dia pada Aish, karena memang dia tak punya saudara perempuan. Satu-satunya saudara kembarnya malah tidak pernah kompak dengannya.


"Aish juga nggak mau ngrepotin enyak terus-menerus, bang. Nggak apa-apa biar Aish tinggal sendirian saja dirumah. Aish kasihan sama enyak" akhirnya sang lakon berujar juga.


"Yopi awalnya juga kepikiran sama kayak abang, minta enyak nemenin Aish. Tapi yang gue jadi nggak enak hati, enyak sama engkong sudah mau nerima Yopi dirumahnya itu sudah sangat luar biasa buat gue, bang".


"Gue nggak mau ngrepotin orang tua abang lagi dengan minta tolong nemenin Aish. Kalau dirumah ini Aish diterima dengan baik, kenapa harus dipermasalahkan lagi sih bang?" heran Richard karena Fian yang tak kunjung mengizinkan Aish untuk tetap tinggal.


"Saya masih keberatan sih buat membiarkan Aish disini" kata Fian.


"Hem.... Bagaimana kalau Aish tinggal dirumahnya, tapi biar art dirumah ini yang biasanya membantu Aish supaya juga ikut tinggal sementara dirumah Aishyah?" Willy memberi jalan tengah terbaik.


Semua orang terlihat manggut-manggut mendengar usulan Willy.


"Kalau papa kamu nggak mengizinkan kita pinjam satu saja artnya, biar nanti saya yang akan mengganti uang mereka" kata Willy lagi.


"Papa Richard itu juga papa lo kan, kak?" celetuk Romeo heran. Seberapa jauh sudah keretakan Rumah tangga diantara mereka.


"Coba saja kamu tanyakan sama beliau, apa saya masih dianggap anak olehnya?" kata Willy, akhirnya bisa mengutarakan isi hatinya sebagai anak yang tak dianggap.


"Cg, kekanak-kanakan sekali" gumam Richard.


Dan, yah. Kadang memang sebanyak apapun usia, tetap saja seorang anak akan menjadi manja pada orang tuanya.


"Oke, gue pulang bang. Memang dari awal sudah salah kalau Aish tinggal disini. Aish ngerti maksud abang" Aish menurut pada abangnya, dia akan pulang. Seperti keinginnannya sejak kemarin.


Dengan tatapan tak suka, Richard berharap Aish masih mau mendengarnya agar tetap tinggal. Sungguh, niat Richard tulus. Hanya tak ingin gadis itu kesulitan untuk menjalani kesehariannya.


"Oke, lo boleh pulang. Tapi jangan sekarang, sudah malam, Ra. Besok pulang sekolah, langsung gue anterin ke rumah lo, ya?" bujuk Richard untuk yang terakhir kalinya.


Melihat ke jam tangannya, memang sudah cukup malam, jarum jam sudah bertengger di angka sebelas.


Fian tidak sadar jika perdebatan mereka membutuhkan waktu yang cukup lama.


"Oke, baiklah. Besok sore, abang tunggu kamu dirumah ya Is. Asal kamu tahu Is, enyak nggak bakalan ninggalin kamu sendiri. Kamu nggak usah takut sendirian" keputusan Fian juga sudah bulat.

__ADS_1


Willy juga menyadari itu, tidak baik seorang gadis berada di kandang harimau seperti ini. Romeo juga tidak bisa dianggap enteng, bisa saja anak itu khilaf. Kelakuannya sudah tidak bisa dipercaya.


"Yopi, abang minta kamu bantu Aish bawa barang-barangnya pulang ya. Sisain secukupnya untuk besok ke sekolah" perintah Fian juga tak bisa Yopi remehkan, dia menumpang di rumahnya.


"Iya, bang" pasrah Yopi, tak menurut pada Richard kali ini.


Richard hanya bisa diam, sudah bagus Aish tak dibawa pulang malam ini juga. Kalau tidak, pasti gadis itu bisa lolos begitu saja.


"Yasudah, saya permisi dulu. Jangan lupa besok kamu sudah harus pulang, Is. Kalau tidak, abang paksa kamu pulang" ancam Fian kali ini, tidak bisa lagi bersikap lunak.


"Iya bang, Aish ngerti" hati Aish menghangat dengan sikap prosesif Fian. Berasa punya abang yang sayang pada adiknya.


"Kamu hati-hati ya, kalau ada apa-apa itu kasih tahu abang. Lain kali jangan simpan masalah kamu sendiri" Fian mengingatkan sekali lagi.


"Iya bang" Aish mengangguk, tersenyum juga dia.


"Saya permisi ya, pak Willy. Assalamualaikum" pamit Fian pada semuanya.


"Waalaikumsalam" jawab Willy dan Aish.


Setelah kepergian Fian, mulailah Richard dengan mode ngambeknya.


"Lo dari mana?" tanyanya pada Aish.


Sudah bisa diduga, cowok itu pasti marah.


"Sudahlah Richard, nggak usah dipermasalahkan lagi. Sudah malam, biarkan Aishyah istirahat" ada Willy kali ini yang pasti memihak Aish juga.


"Cg, selamat lo kali ini" dalam hati Richard hanya bisa menyayangkan perbuatan Aish.


"Gua anterin ke atas" kata Richard yabg sudah mendorong kursi roda ke belakang, Richard membawa Aish ke atas melewati tangga yang berada di dekat gazebo.


Tak ada pembicaraan apapun, keduanya sedang dilanda emosi.


Sebenarnya Aish sedang mencari cara agar Richard tak marah. Jadi, dia diam sebenarnya sedang memutar otak.


Sampai di kamar, Richard membantu Aish pidah ke ranjang. Lalu berdiri di hadapan gadis yang juga menatapnya.


"Apa? Lo mau marah sama gue? Marah saja terus, memang gue selalu salah kan? Semua yang gue lakuin selalu salah" dengan mata berkaca-kaca, Aish sudah membuat ancang-ancang.


Richard berlutut di hadapan Aish, memegang tangan Aish yang matanya sudah mulai basah.


"Gue nggak marah, Ra. Gue cuma kesel sama lo. Kenapa sih lo nggak pernah mau dengerin omongan gue?" sesal Richard, karena jika Aish mendengarnya, bisa jadi Fian tak bertemu dengannya.


Dan Aish bisa tetap ada dirumahnya.


"Gue bosan Richard, dirumah ini gue nggak ada temannya. Untung saja kak Romeo mau ngajak gue jalan-jalan" masih dengan gaya sok sedih, Aish meneruskan rencananya.


Richard menyadari itu, seharusnya dia tak membiarkan Aish sendirian.


"Lo kan sibuk sama urusan lo sendiri, gue jadi ngerasa kalau lo tuh ngurung gue" mulai terisak, Aish mengusap pipinya.


Berhasil, Richard tak jadi marah. Tatapan tajamnya sudah tak ada. Berganti pandangan penyesalan kali ini.


"Sial, seharusnya kan gue marah sama dia. Kenapa jadi gue yang merasa bersalah kali ini?" batin Richard bingung karena keadaan jadi berubah.


"Maafin gue ya, Ra. Seharusnya gue nggak ninggalin lo" kata Richard mulai menyesal.


Dalam hati Aish bersorak, barhasil, berhasil!


Aish hanya mengangguk. Membiarkan Richard mengusap air matanya.


"Besok gue anterin lo ke sekolah ya, pulangnya juga gue yang jemput" kata Richard.


"Terserah lo" kata Aish.


"Sekarang lo istirahat ya, sudah malam" kata Richard, dia berdiri dan mengusap ujung hijab Aish.


Lalu tersenyum sebelum meninggalkan kamar kekasihnya.


Setelah Richard menutup pintu, kelegaan menerpa hati Aish.


"Akhirnya gue bisa pulang" gumam Aish.


Sebenarnya dia juga lebih suka kalau berada dirumahnya sendiri. Sebagus dan semewah apapun rumah orang lain, akan lebih nyaman saat menempati rumah sendiri.

__ADS_1


★★★★★


Hari ini, seperti yang Richard janjikan. Berangkat dan pulang sekolah, Richard sendiri yang mengantar dan menjemput Aish.


Kembali Yopi harus berkendara motor biru milik Aish.


"Loh, kenapa ada mbak Widya juga, Richard?" tanya Aish yang heran melihat Widya juga berdiri di ambang pintu mobil Richard.


"Buat nemenin lo, kali ini jangan bandel ya, Ra".


"Gue mohon sama lo, jangan keluyuran. Kalau pengen jalan, lo kasih tau gue aja. Pasti gue anterin lo, sampai ke ujung duniapun gue anterin" Richard mewanti-wanti Aish yang sangat nakal menurutnya.


Aish mencebikkan bibirnya, "Sekarang saja lo bilang gitu. Nanti pasti sibuk sendiri" sindir Aish.


"Iya, maafin gue ya kalau sering ninggalin lo sendiri. Nanti kalau pasti gue ajak lo jalan-jalan" kata Richard tersenyum.


"Sudah ah, malu dilihatin orang. Yuk pulang" ajak Aish.


Richard mengangguk, masih dengan senyum manisnya, dia membantu Aish memasuki mobil.


"Yop, lo mau langsung ke cafe apa pulang dulu?" ternyata Yopi masih berdiri di belakang Widya sejak tadi.


"Pulang dulu deh, Ri. Laper gue, mau makan dulu" kata Yopi.


"Yasudah, lo hati-hati ya. Gue nganterin Aishyah dulu" kata Richard.


"Oke" jawab Yopi sambil melangkahkan kakinya menuju motor Aish yang terparkir tak jauh dari tempatnya berdiri.


Melaju keluar gerbang, ternyata Yopi masih melihat Nindi yang belum mendapatkan angkot.


"Hai cewek, gue anterin yuk" kata Yopi yang berhenti di depan Nindi.


Merasa kenal dengan suara itu, Nindi mengalihkan pandangannya dari layar ponsel yang sejak tadi dilihatnya.


"Hai juga cowok, boleh deh. Sering-sering juga ndak apa-apa" kata Nindi tersenyum. Mereka berdua jadi sering pulang bareng.


★★★★★


"Uwah, kulkasnya penuh mbak" Aish mengomentari isi kulkasnya.


"Iya non, tadi den Richard yang ngisi kulkasnya sebelum pulang" kata Widya yang masih sibuk membuatkan Aish makanan.


Aish sudah rapi, tadi pulang sekolah dia langsung mandi. Dan sore ini, setelah solat ashar dia masak bersama Widya di dapur kecilnya.


"Jangan panggil saya nona ya mbak, kan nggak ada Richard. Saya sama saja kayak mbak Widya, panggil nama saja lebih baik sih menurut saya. Nyantainlah mbak, anggap saya adik mbak Wid sendiri" kata Aish yang sibuk mengiris daun bawang.


"Iya, Aish" kata Widya sambil tersenyum. Tangannya masih sibuk mengupas bawang, dia akan memasak semur ayam.


"Mbak Widya aslinya mana?" tanya Aish.


"Saya orang Bandung mbak, ikut pak Hutama sudah hampir lima tahun" kata Widya bercerita.


"Mbak Wid nggak sekolah?" tanya Aish, karena sepertinya Widya ini masih sangat muda. Mungkin jarak usianya sekitar empat tahunan lah dengan Aish.


"Enggak, dulu saya nggak ada biaya. Terus mbok Sum, art dirumahnya den Richard juga, nawari kerja disana. Ternyata cocok, yasudah saya kerja saja. Sambil bantu ibu di kampung, biayain adik sekolah" cerita Widya.


Lagi, Aish bersyukur karena meskipun sudah tak memiliki keluarga, tapi masih berkesempatan untuk melanjutkan pendidikannya.


Bahkan untuk kuliahnya nanti, sudah ada beasiswa yang menunggunya.


"Mbak nggak ingin melanjutkan sekolah?" tanya Aish.


"Enggak lah, mbak Aish. Biar adik saya saja yang mengubah nasib keluarga. Saya bantu dia saja" kata Widya.


"Ikut kejar paket C saja mbak. Kan banyak tuh sekarang yang menyediakan programnya" kata Aish.


"Nanti saya pikirkan lagi, mbak. Sementara saya cari rezeki buat adik dan ibu saja" pasrah Widya.


Aish berjanji dalam hatinya, nanti saat ada kesempatan, dia akan membantu Widya melanjutkan pendidikannya.


Kadang manusia lupa jika nikmat dalam hidupnya itu lebih baik daripada orang lain. Jika kita mau berkaca dan mendalami segala yang kita punya, maka rasa syukur itu pasti ada.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2