Cantik, Kok Minder?

Cantik, Kok Minder?
Takut darah?


__ADS_3

Malam Minggu memang malamnya anak muda. Tidak ada istilah larut malam dikhususkan untuk malam yang satu ini.


Aish dan Hendra kebagian jadwal jaga hingga pagi hari. Jadi, khusus tiap malam Minggu ada dua shift yang menjaga hingga pagi tiba. Dimulai pukul tiga sore hingga pukul sepuluh malam, dilanjutkan dari pukul sepuluh hingga pagi tiba.


Sejak tadi datang di UGD, tampak ruangan tergawat itu memang agak ramai pengunjung. Mulai dari kakek-kakek yang terpeleset di kamar mandi, hingga balita yang hidungnya kemasukan benda asing.


Semua staf medis sibuk sekali, begitupun dokter Siras yang harus siap sedia jika ada pasien yang baru masuk. Dokter itu belum istirahat sama sekali sejak sore, karena dokter jaga di shift malam mendadak cuti.


Suasana baru agak lengang saat waktu menunjukkan pukul satu dini hari. Dan Aish sudah merasa sangat mengantuk.


Untung saja tidak ada pasien dengan pendarahan, semua pasien dari tadi sore kebanyakan mengalami luka dalam.


Melihat Aish yang kepayahan, dokter Siras merasa kasihan juga. Mata Aish sampai terlihat memerah dan sayu.


"Kamu istirahat dulu saja, gantian. Tidur di brankar kosong" kata dokter Siras.


"Iya, makasih dokter. Saya memang tidak terbiasa begadang" jawab Aish jujur.


Tapi saat akan mendudukkan diri di satu brankar yang terletak di pojok ruangan. Tiba-tiba Hendra menghalanginya.


"Jangan tidur di brankar yang itu princess" kata Hendra sedikit berteriak, sontak hal itu mengagetkan beberapa orang disana. Apalagi Aish yang sudah siap sedia untuk tidur.


"Eh maaf" kata Hendra cengir kuda dan menghampiri Aish, menarik tangannya untuk menjauh dari sana.


"Sudah, lo tidur di sini saja, aman" kata Hendra mendudukkan Aish di brankar dekat pintu masuk.


"Kenapa disini sih? kalau ada yang datang gimana?" tanya Aish.


"Kalau ada yang datang ya lo bangun aja" jawab Hendra.


"Lagian kenapa sih kalau disana?" tanya Aish.


"Sudah ada yang nempati, lo jangan coba-coba tidur di sana ya" kata Hendra memperingatkan Aish.


"Kosong Mahendra, brankar itu kosong" kata Aish.


"Lo lupa kalau gue tahu yang lo nggak tahu?" tanya Hendra.


"Eh .. ada itunya ya? Ok deh, gue paham. Lo jangan jelasin apa-apa dulu ke gue sekarang. Gue lagi ngantuk berat, nanti aja kalau gue sudah bangun tidur, baru boleh lo jelasin ke gue ya" kata Aish sambil bersiap untuk tidur, dia ingat Hendra yang terbuka indra ke enamnya gara-gara kejadian tersesatnya mereka di negri aneh waktu itu.


"Iya, gue jagain lo disini" kata Hendra mengambil satu kursi plastik dan mendudukinya sambil bermain ponsel.


Dokter Siras memandang tidak suka pada mereka berdua yang terlihat akrab dan berbicara berbisik-bisik. Diapun beranjak ke nurse corner dan mencatat beberapa laporan rs hari ini, berusaha mengurangi rasa tidak sukanya dengan menyibukkan diri.


Pukul dua dini hari, terdengar suara keributan dari luar UGD. Seperti suara sirine ambulance yang berbaur dengan sirine polisi. Suaranya benar-benar memekakkan telinga.


"Princess, bangun. Kayaknya ada banyak prang baru datang. Lo siap-siap juga ya" kata Hendra membangunkan Aish yang terlelap.


Untung saja gadis itu mudah dibangunkan, jadi tidak butuh waktu lama untuk membuatnya terjaga. Dan segera saja Aish mengumpulkan nyawanya, bersiap dengan kedatangan pasien baru.

__ADS_1


Dan benar saja, memang itu suara sirine polisi. Setelah membuka pintu UGD, tampak banyak orang mengalami luka, dan yang terparah sepertinya yang akan dikeluarkan dari ambulance.


Para petugas medis segera mendorong beberapa brankar untuk digunakan menyambut para pasien yang datang. Ada dua pasien dengan kondisi gawat dan tidak sadarkan diri dengan banyak luka di wajah dan tubuhnya. Sepertinya dua orang ini laki-laki dan masih muda.


Sementara lima lainnya hanya mengalami luka ringan meskipun darah juga bercucuran dari beberapa bagian tubuh mereka.


Aish sempat panik melihat banyaknya darah seperti itu. Tapi dia berusaha sekuat tenaga untuk melawan rasa takutnya. Keringatnya mulai bercucuran.


"Lo ok princess?" tanya Hendra khawatir.


"Gue usahain ok" jawab Aish.


Dokter Siras langsung menyambut dua pasien dengan keadaan serius. Saat ini dia meminta Aish ikut dengannya untuk membantu beberapa keperluan pemeriksaan. Aish setuju dan berlari beriringan dengan dokter Siras yang juga selalu siaga.


Satu orang suster juga ikut menemani dokter Siras. Sementara yang lain juga panik untuk bisa memberi pertolongan pada pasien yang datang bersamaan.


"Periksa tekanan darah dan nadinya" perintah dokter Siras.


Aish dan perawat itu melakukan dengan cekatan. Untung saja sekarang serba digital, jadi tensimeter, termometer, dan penghitung nadi juga sudah digital. Aish terlihat cekatan, dokter Siras yang meliriknya merasa terbantu. Tersungging satu senyum samar di wajahnya. Dia senang melihat Aish yang tanggap dan tunggu, gadis itu berkeringat tidak wajar? dan juga sedikit tremor?


Dokter Siras menganggap itu wajar karena kejadian panik yang baru dialami oleh petugas medis dadakan sepertinya. Jadi, pria itu tetap menjalankan tugasnya yang lain.


Sementara Hendra juga disibukkan dengan menolong pasien lainnya. Cowok itu sedang belajar menjahit luka bersama seorang perawat senior.


Hampir dua jam dokter Siras, Aish dan seorang perawat membantu menangani pasien gawat itu. Sungguh ketahanan batin Aish benar-benar diuji saat ini.


Berurusan dengan darah membuat jiwanya sedikit terganggu. Pasiennya saat ini benar-benar berlumuran darah. Entah apa yang terjadi padanya hingga bisa seperti ini.


Aish mendorong salah satu pasien dengan bantuan dokter Siras di dekatnya, menuju ruang foto yang terletak di lantai dua.


Keringat Aish tetap mengalir deras, tangannya sudah sangat tremor, pandangannya mulai menggabur.


Dokter Siras yang melihat itu menjadi khawatir, "Kamu kenapa Aishyah?" tanyanya sambil mendorong brankar pasien, Aish masih berusaha tegar dan tetap berjalan.


Hingga sampai di lantai dua, saat pasien akan menjalani foto rontgen dan semua diharuskan keluar, barulah Aish menjatuhkan dirinya memegangi lengan dokter galak itu.


"Bang dokter, tolongin saya" kata Aish sambil memejamkan matanya.


"Jangan pura-pura kamu, pasti cuma ingin mendekati saya ya?" tanya dokter Siras ingin menepis tangan Aish.


Tapi saat memegang telapak tangannya, benar saja jika tangan Aish sangat dingin. Keringatnya masih bercucuran, dan nafasnya tersengal.


"Kamu kenapa?" tanya dokter itu sedikit panik.


Aish memejamkan matanya, wajahnya sangat pucat.


Dokter itu membawa Aish duduk di kursi panjang, tapi Aish malah tiduran.


"Kamu kenapa?" tanya dokter Siras.

__ADS_1


"Maafin saya bang dokter, saya takut darah" jawab Aish lirih, berusaha tidak hilang kesadaran meskipun matanya terpejam.


"Phobia darah?" tanya Siras, dan Aish menganggukkan kepalanya.


Tangan Aish mencengkram lengan Siras dengan kuat saat dirasa bahwa pria itu akan meninggalkannya.


"Bang dokter mau kemana?" tanyanya dengan mata terpejam.


"Tunggu, saya ambilkan kamu air" kata Siras. Sungguh keadaan Aish memang mengundang rasa kasihan, terlepas dari kebiasaannya yang belum bisa akur dengannya.


Siras benar-benar kembali dengan sebotol air mineral di tangannya. "Ini kamu minum dulu" katanya sambil membantu Aish duduk dengan benar sebelum meminum air.


"Terimakasih bang dokter" ucapnya setelah meminum beberapa teguk air.


Setelah meminum air, semakin membuat perutnya terasa seperti diaduk-aduk. Aish segera berlari ke toilet terdekat untuk memuntahkan isi dalam perutnya. Siras malah ikut mengejarnya ke toilet.


Huweekk.... Huweekk...


Selurus isi perut Aish keluar dengan sempurna. Siras masih menunggui tanpa rasa jijik, pria itu membantu memijit tengkuk Aish. Dan menekan tombol flush saat Aish sudah selesai dengan acara muntahnya.


Gadis itu semakin pucat, Siras tahu ini bukan sesuatu yang bagus. Pria itu segera membawa Aish duduk dan melakukan beberapa pertolongan.


Aish merasa ada gerakan di lengan atas dan kakinya, dokter Siras yang melakukan itu. Gadis itu pasrah saja, mengingat Siras adalah seorang dokter, maka dia pasti tahu apa yang sedang dilakukan. Dia tetap menutup matanya, dan sesekali melirik pada dokter galak yang seolah sedang memijitnya.


Perlahan wajah pucat Aish mulai memerah, pertanda jika dia sudah lebih baik.


"Sejak kapan kamu hemopobhia?" tanya Siras.


"Apa itu bang?" tanya Aish.


"Takut darah" jawab Siras.


"Oh, nggak paham juga saya. Seingat saya, setelah saya tahu cairan berwarna merah itu adalah darah, saya takut" jawab Aish.


"Lantas, bagaimana jika kamu menstruasi? bukankah itu juga darah?" tanya Siras.


Sebenarnya Aish merasa risih saat Siras bertanya tentang itu, tapi tidak ada salahnya kan dijawab? konsultasi gratis, dokternya juga tampan.


"Ehm ... Sepertinya saya takut jika darah yang terlihat itu adalah darah yang proses keluarnya melalui rasa sakit terlebih dahulu bang dokter, seperti kecelakaan, bahkan saat memencet jerawat dan berdarah, saya juga berkeringat meskipun efeknya tidak terlalu ekstrim" jawab Aish dengan mata terpejam, sesekali melirik Siras yang masih melakukan pemijatan di kakinya.


"Kamu cerewet juga ya" kata Siras dengan senyum mengejek.


"Isshh, abang ini ya, kan ditanya, ya harus jawab dong" kata Aish.


"Nyaman ya pijatan saya? Sampai kamu merem melek gitu?" tanyanya lagi.


Aish segera menarik kakinya yang ada di pangkuan si dokter galak, " Kalau nggak ikhlas nolongin ya sudah" katanya langsung terduduk, berusaha mengumpulkan energi setelah hampir pingsan.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2