
"Rumah gue gimana kabarnya, Yop?" tanya Aish memecah rasa hening di dalam mobil sepulang sekolah.
"Aman semuanya, gue semalam tidur dirumah lo kok" kata Yopi.
"Gue kangen sama rumah gue, Yop. Berasa sudah bertahun-tahun nggak pulang, sudah kayak anaknya bang Toyib nih gue" gumam Aish, tapi terdengar ditelinga Yopi.
Yopi menoleh ke arah Aish saat lampu merah, "lo kan masih sakit, Sya. Wajar sih kalau Richard ngelarang lo tinggal sendirian. Tadi pagi saja lo masih dibantuin buat siap-siap. Entar kalau lo sudah sembuh, pasti Richard ngijinin lo pulang kok".
Aish terdiam, memang benar dia masih sakit. Tapi canggung juga lama-lama berada dirumah orang lain.
"Tapi gue tuh nggak enak kalau terus-terusan ngrepotin Richard. Hutang budi gue sama dia sudah seperti gunung Jabal Uhud. Ya Allah, gimana coba caranya gue balas kebaikannya tuh anak. Meski kadang nyebelin, tapi memang dia tuh baik banget ya, Yop" kata Aish sambil mengusap wajah dengan kedua telapak tangannya.
"Iya, asal lo tahu juga nih, Sya. Sekolah gue tuh juga si Richard yang bayarin. Dia ngelarang gue putus sekolah. Lebih banyak siapa coba hutang budinya. Jadi, lo dirumahnya Richard dulu ya" kata Yopi membujuk.
"Tapi gue maunya pulang saja deh, Yop. Gue nggak enak sama ortunya Richard juga" rengek Aish masih ingin pulang.
"Lo tuh, lembut-lembut keras kepala ya. Ngeyel banget jadi orang" kata Yopi yang mendapat lirikan tajam dari Aish.
Aish sudah enggan menanggapi. Kalau Yopi sudah berkata sepedas mulut Richard, pasti sudah nggak enak lah diajak bicara.
Keduanya terdiam, hingga mobil berbelok ke halaman rumah Richard. Masih saja keheningan tercipta antara Yopi dan Aish.
Bersamaan dengan mobil yang berhenti, Richard juga datang tepat setelah Yopi mematikan mesin mobil.
"Pacar lo juga sudah dateng, Sya. Pasti gara-gara lo disini, dia jadi pulang tepat waktu" komentar Yopi yang sudah melepaskan seat beltnya.
Aish diam saja, setelah membuka seatbelt, Richard juga membuka pintu mobilnya. Cowok itu tersenyum, tapi Aish malah cemberut.
"Kenapa lagi?" tanya Richard sambil membantu Aish turun dari mobil, tapi saat melihat ke arah Yopi untuk mencari tahu, malah Yopi hanya mengendikkan bahunya.
"Gue mau pulang, Richard. Boleh ya?" rengek Aish. Entah tiba-tiba dia rindu suasana rumahnya.
"Nggak boleh. Kenapa sih tiba-tiba mau pulang?" tanya Richard.
"Ya, nggak apa-apa. Kangen rumah doang" jawab Aish.
"Nanti kalau lo sudah sembuh, gue anterin lo pulang. Gue khawatir kalau lo sendirian" kata Richard yang mendorong kursi roda Aish memasuki rumah besarnya.
Lagi, Richard menggendong Aish hingga diujung tangga. Dan Yopi juga selalu sigap membantu sahabatnya. Juga Widya yang langsung mengekor saat melihat Aish datang.
"Makasih" kata Aish setelah Richard mendudukkannya lagi dikursinya.
"Gue ke kamar dulu ya, nanti gue temuin lo lagi" kata Richard yang kemudian meninggalkan Aish yang masih saja cemberut.
Dua jam berlalu, Aish sedang sibuk dengan tugasnya saat Richard mengetuk pintu kamarnya.
"Ra, boleh masuk nggak?" tanya Richard dari balik pintu.
"Masuk saja, nggak dikunci kok" kata Aish dengan pandangan masih pada layar laptopnya.
"Lagi ngapain sih?" tanya Richard dengan pandangan menelisik.
"Ngerjain soal kimia nih, ada beberapa yang belum selesai. Kok agak sulit gitu ya" jawab Aish.
"Lo perlu udara segar kayaknya, gimana kalau ngerjain tugas di balkon saja?" tanya Richard.
"Ehm, boleh tuh" kata Aish yang kemudian membereskan laptopnya, dan menata buku-buku dan alat tulisnya dipangkuan.
Richard mendorong kursi roda ke balkon, Aish belum tahu jika ada pintu di sebelah jendela besar di seberang ranjangnya. Dia kira hanya ada jendela saja.
Semilir angin sore menyambut wajah Aish saat pintu sidah terbuka. Pandangan indah dari tatanan kolam dan gazebo terlihat rapi.
Richard duduk di sebelah Aish yang menghidupkan laptop dan membuka bukunya. Dan mulai berpikir keras untuk menyelesaikan soal yang belum terjawab.
"Kurang berapa soal?" tanya Richard yang ikut melihat tugas Aish.
"Cuma kurang tiga soal saja sih, tapi susah banget. Dari kemarin gue coba kerjain tapi nggak bisa-bisa nih" kata Aish.
"Sini coba gue lihat" kata Richard yang langsung mendapat lirikan dari Aish.
"Kenapa? Lo ngeraguin kemampuan gue?" tanya Richard dengan menaikkan satu alisnya, merasa tidak terima dengan tatapan Aish yang seolah mengejek.
"Yopi sudah balik?" tanya Aish yang melenceng jauh dari topik mereka.
__ADS_1
"Ngapain nanya Yopi? Sudah balik daritadi, gue suruh ke cafe sama Reno" kata Richard.
"Oh, yaudah" kata Aish.
"Sini, mana soal yang belum selesai?" tanya Richard.
"Yakin lo bisa? Lo kan IPS, mana ada pelajaran kimia" kata Aish, tapi tetap dia memperlihatkan soal yang belum selesai. Nanti dia akan mengejek Richard kalau dia tidak bisa mengerjakannya.
Richard membaca soal itu dengan serius, lalu memulai mencorat-coret di buku Aish. Dan tak butuh waktu lama, dia memperlihatkan hasil kerjanya pada Aish dengan senyuman yang mengejek pada Aish.
"Nggak yakin gue" Aish berkata lirih.
"Kalau jawaban gue benar, lo harus penuhi permintaan gue" kata Richard yang kembali mendapat lirikan tajam dari Aish.
"Kalau benar, tapi kalau jawaban lo salah, lo yang harus penuhi permintaan gue" kata Aish.
"Oke" kata Richard tenang, yakin sekali dia dengan jawabannya.
"Eh... Iya, benar. Kok lo bisa sih? Padahal gue agak kesulitan loh" kata Aish memicingkan matanya demi bisa menggali kejujuran dari Richard.
"Gue kan cerdas sebenarnya, cuma gue belagak bego" kata Richard menyombongkan diri dengan cara merendahkan dirinya.
"Nggak mungkin, ini kan sulit. Di kelas lo nggak ada pelajaran kimia, jadi darimana lo bisa caranya ngerjakan ini?" tanya Aish dengan tatapan penuh pada Richard, dia terlalu penasaran.
"Gue tuh sebenernya pintar, Ra. Cuma gue sembunyiin kepintaran gue ini" kata Richard.
"Kenapa? Kalau lo bisa, seharusnya lo tuh ada di jelas IPA saja, Richard. Sayang kan otak lo kalau dianggurin" kata Aish.
"Enak saja, otak gue nggak pernah nganggur. Kalau gue tunjukin kepintaran gue, bisa-bisa beasiswa lo nggak akan bertahan lama. Gue kan kasihan sama lo" kata Richard mengejek.
Aish mencebikkan bibirnya, masih tak percaya dengan omongan Richard.
"Jujur sama gue, Richard. Bagaimana caranya sampai lo bisa ngerjakan soal serumit ini?" Aish sampai mencubit lengan Richard, memaksanya agar mau menjawab.
"Aduh, sakit. Iya gue kasih tahu, nggak usah nyubit, Ra. Sakit banget sih" Richard mengusap lengan bekas cubitan Aish.
"Jadi, kok lo bisa ngerjakan soal serumit ini bagaimana caranya?" tanya Aish ngotot.
"Dulu, gue sering bantuin Emily ngerjain tugas-tugasnya. Dia kan juga masuk kelas IPA" jawab Richard jujur.
"Nggak sih, gue nggak suka belajar. Ya bantuin dia doang, dia kan nggak begitu pintar" kata Richard yang mulai mengerjakan soal lainnya.
"Kalian belajarnya dimana kalau gue boleh tahu?" masih saja Aish bertanya.
"Lebih sering sih ya dirumahnya Emily, kan gue nggak pernah ngajakin cewek pulang, Ra. Selain lo" kata Richard dengan fokus masih pada alat tulisnya.
Entah harus senang atau biasa saja, tapi Richard mengatakan itu dengan ekspresi datar.
"Ehm, emangnya lo sering ke rumah Emily ya?" tanya Aish.
"Sering banget, kan ortunya Emily tuh sibuk semua. Jadi pasti dirumahnya sepi, jadi gue sering bantuin ngerjain tugasnya dia ya dirumahnya" kata Richard.
"Terus? kalian ngapain aja kalau sudah nggak ngerjain tugas?" sudah sedikit tidak suka dengan pembicaraannya, tapi masih saja Aish bertanya.
"Ya nggak ngapa-ngapain, Ra. Emang lo pikir ngapain?" tanya Richard dengan alis yang dinaikkan sebelah, pertanyaan yang aneh menurut Richard.
"Ya, apa kalian tuh ngelakuin adegan dewasa kayak waktu gue nggak sengaja lihat pas lo berduaan doang waktu lo dirawat dirumah sakit waktu itu" kata Aish lirih, dengan menundukkan kepalanya.
Richard menoleh pada Aish, apa iya dia harus menjawab pertanyaan Aish? Itu kan cuma bagian dari masa lalunya.
Bimbang kan jadinya, dijawab salah, nggak dijawab pun juga salah.
"Harus jujur nih?" kata Richard.
Aish menatap mata Richard sambil mengangguk ragu.
"Ya, kadang-kadang sih, Ra. Kalau suasananya mendukung gitu" jawab Richard jujur.
Aish menghela napasnya, tiba-tiba merasa tak enak hati. Dia menunduk dengan pandangan sendu.
"Jadi, rasanya seperti ini ya. Pantas saja Richard marah waktu tahu gue kasih Mike nafas buatan. Rasanya tuh seperti, rasa kesal karena harus menghapus coretan bolpoin dengan penghapus karet. Nggak mungkin bisa hilang nodanya, meski kertasnya sampai sobek" batin Aish berdebat sendiri.
"Kenapa diam?" tanya Richard yang aneh karena Aish yang tiba-tiba diam.
__ADS_1
"Kok gue jadi nyesel ya tanya itu sama lo" kata Aish.
"Itu kan cuma masa lalu gue, Ra. Tiap orang punya masa lalu yang nggak mungkin bisa dirubah" kata Richard yang menyadari ada kekecewaan dari raut wajah Aish.
"Gue nggak bisa menghilangkan semua kenangan yang sudah terjadi di masa lalu gue. Tapi gue bisa jamin kalau perasaan gue ke lo tuh beda, gue beneran sayang sama lo" kata Richard.
"Ehm... iya, gue percaya kok sama lo. Itu, ehm... sudah apa belum ngerjain soalnya?" tanya Aish gugup.
Tiap kali Richard menyatakan perasaannya, yang Aish rasakan jantungnya tak bisa bekerja normal. Jadi, lebih baik mengalihkan pembicaraan secepatnya.
"Sedikit lagi, lo jangan gangguin gue terus dong. Lo sengaja ya biar gue nggak bisa jawab" kata Richard yang kini sudah fokus lagi pada tugas Aish.
"Kita kerjain sama-sama ya, biar cepat selesai" kata Aish.
Mereka saling bekerja sama untuk menyelesaikan tugas kimia yang harus Aish kumpulkan besok.
Aish jadi tahu kalau Richard benar-benar cerdas karena ternyata dia juga bisa pelajaran memusingkan itu.
Tugas Aish telah selesai sempurna, tinggal menyalin di buku tugas dan besok bisa dikumpulkan. Tak lupa dia juga mengirimkan email pada Yopi.
"Ngapain ngasih jawaban lo sama Yopi?" tanya Richard.
"Nggak apa-apa, simbiosis mutualisme. Dia sudah rela lo suruh ngintilin gue tanpa protes, jadi nggak ada salahnya sih menurut gue untuk mengurangi beban hidupnya" jawaban tak berbobot, tapi Richard tak bisa melarangnya.
Selesai, Aish meregangkan otot-ototnya. Rasanya lega telah menyelesaikan tugasnya.
"Richard, ehm... Makasih ya, lo sudah banyak banget bantuin gue selama ini. Bahkan dari awal sejak kita baru kenal dulu, lo sudah mau bantuin gue. Nggak tahu gue gimana caranya buat balas kebaikan lo sama gue" kata Aish, sungguh dia sudah tidak tahan dengan segala kebaikan yang Richard berikan padanya.
Mendengar ucapan Aish yang terkesan melow, membuat Richard mengernyit heran.
"Tumben lo bicara serius? Perasaan gue jadi nggak enak" kata Richard.
"Ya, gimana ya. Gue heran saja, dari sekian banyak cewek yang gue yakin mau sama lo, kenapa lo maunya sama gue?" mulai sisi tak percaya diri Aish mencuat.
"Gue kan nggak ada istimewanya, dari segi manapun" kembali Aish merasa dirinya tak lebih dari sekedar beban bagi Richard.
Mulai serius nih, Richard harus menghentikan aktivitasnya sebentar. Pacarnya sedang dilanda minder akut.
"Lo dengerin gue ya, Ra. Gue nggak punya alasan kenapa bisa jatuh hati sama lo. Saat gue merasa ada sesuatu dalam diri lo yang bikin gue tertarik, itu artinya perasaaan gue ke lo tuh nggak tulus. Ngerti maksud gue?" tanya Richard, tapi Aish hanya menggeleng.
Pengetahuannya tentang hati dan perasaan memang hanya sebesar biji sawi.
"Jadi gini, kalau gue tertarik sama lo karena kecantikan lo. Berarti rasa sayang gue bakalan berkurang saat kecantikan lo juga berkurang, misalnya kita menua seiring usia".
"Kalau gue tertarik sama lo karena kepintaran lo, berarti rasa sayang gue ke lo juga berkurang saat gue nemuin kebodohan kecil dalam diri lo".
"Dan misalnya, gue tertarik karena agama lo, perasaan sayang gue juga bakalan hilang saat gue tahu kalau lo nggak sealim yang gue fikir".
"Tapi yang gue rasain, gue nggak nemu satu alasan apapun yang bikin gue harus sayang sama lo. Yang gue rasain, perasaan sayang gue ke lo masih tetap ada, dan semakin bertambah. Meskipun gue temuin satu kesalahan dalam diri lo".
"Gue nggak cari kesempurnaan dari lo, Ra. Yang gue harap, lo mau tetap berada disamping gue, apapun kondisinya" kata Richard panjang dan lebar, entah bagaimana lagi caranya menjelaskan pada Aishyah tentang ketulusan perasaannya.
Heran, kenapa Aish tidak yakin dengan hubungan mereka.
"Gue takut lo tinggalin saat nanti gue sudah terlalu bergantung sama lo, Richard" Aish berucap dengan kepala menunduk.
"Gue janji nggak akan pernah tinggalin lo, Ra. Gue harap, lo juga lakuin hal yang sama" kata Richard yang sudah tak tahan untuk tak menggenggam tangan Aish.
"Gue nggak bisa menjanjikan apapun sama lo. Gue cuma bisa berdoa sama Allah, semoga tuhan gue punya rencana yang memang terbaik buat kita".
"Karena dalam hubungan kita nanti, suatu saat, pasti akan ada salah satu diantara kita yang harus berkorban".
"Dan jika nanti saatnya sudah tiba, gue nggak tahu Richard, bagaimana lagi caranya menyiapkan hati gue supaya bisa sekali lagi berharap jadi manusia yang tegar dengan rasa kehilangan" Aish berujar dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Sebanyak apapun rintangan, memang inilah rintangan terberat dalam hubungan mereka.
Masalah keyakinan yang tak bisa terbantahkan. Tak bisa dianggap remeh.
Keduanya terdiam, ketidak berdayaan yang sedang Aish rasakan karena kondisi fisiknya, telah membuat sebagian hatinya meragu.
.
.
__ADS_1
.
.