Cantik, Kok Minder?

Cantik, Kok Minder?
menjenguk


__ADS_3

Jam 8 malam, Aish masih membantu bundanya menyetrika baju yang telah selesai dijahit oleh bundanya. Baju pesanan teman pkk nya bunda.


"Hatcim" daritadi Aish bersin-bersin.


"Kenapa bersin-bersin is? kamu sakit?" tanya bunda.


"Enggak kok bun, Aish nggak kenapa-kenapa. Lagi ada yang ngomongin aku paling nih, jadinya bersin mulu daritadi" sangkal Aish, padahal sekarang dia sangat pusing hingga pandangan matanya menggabur.


"Kalau capek tidur aja is, jangan dipaksain. PR kamu sudah apa belum?" tanya bunda.


"Sudah bun, nggak apa-apa kok, tinggal sedikit lagi kelar ini" kata Aish.


"Kamu tadi kehujanan ya pulang sekolah?".


"Iya bun, turun dari angkot hujannya tiba-tiba deras. Yasudah aku lari aja, nanggung bun".


"Bunda bikinin teh panas ya, apa perlu bunda kerokin aja? kayaknya kamu masuk angin deh".


"Nggak usah bun, Aish nggak apa-apa, beneran".


"Tapi kalau memang capek ya istirahat aja is, kalau kamu sakit repot sendiri loh, rugi juga kan kalau sampai nggak masuk sekolah. Kamu harapan bunda satu-satunya is".


"Bunda jangan gitu dong, yakinlah nanti suatu saat kakak pasti pulang. Bunda pernah lihat anaknya kakak belum? Dia tuh lucu banget bun, keponakan aku tuh cewek, gemes banget deh".


"Kapan kamu ketemu?".


"Pernah sekali, dulu di warung mie ayam langganan aku sama kakak dulu".


"Terus?"


"Ya kakak masih tetep ketus sama aku bun, padahal aku pengen banget gendong anaknya".


"Huft, dia memang keras kepala, sama kayak ayah kamu. Semoga saja kakak kamu segera sadar ya is, bunda pasti terima dia kalau mau pulang".


"Berarti aku baik ya bun? nggak keras kepala kayak ayah?".


"Iya, kamu nggak keras kepala tapi kepala batu" kata bunda tersenyum, tapi hatinya pedih mengingat kebersamaannya dengan keluarganya saat masih utuh.


"Sudah selesai bun, sekarang aku ngantuk. Aku istirahat dulu ya bun" kata Aish.


"Iya, bunda juga sudahan deh. Capek nih, besok lagi dilanjut. Yuk, tidur yuk" kata bunda.


Aish berusaha bangkit, kepalanya terasa sangat berat. Hingga dia jatuh terduduk di kursi yang tadi dia tempati sambil memegangi kepalanya yang terus berdenyut sakit.


"Ya Allah is... kamu sakit beneran kalau kayak gini" kata bunda sambil memegang kening Aish. "Tuh kan, kamu panas banget. Kamu mandi air hujan sih tadi, bandel banget jadi anak" omel bunda.


"Bunda ih, anaknya lagi pusing malah diomelin" kata Aish.


"Ayo bunda bantuin ke kamar kamu, sekalian bunda kerokin aja deh biar mendingan" kata bunda, sementara Aish pasrah saja.


Tiba dikamarnya, bunda benar-benar menyuruh Aish membuka baju atasannya untuk mengeroki punggung Aish yang katanya masuk angin. Dan sudah tentu harus dipatuhi oleh sang anak.


Setelah mengoles punggung anaknya dengan minyak kayu putih, bunda mulai menggoreskan koin seratusan ke punggung mulus itu.

__ADS_1


"Aduh bun.... sakit itu, jangan keras-keras dong kalau ngerokin, sakiittttt..... aduh duh duh" kata Aish merintih menahan sakit di punggungnya.


"Sudah diem aja kamu, makanya jangan bandel, dibilangin jangan main air hujan, kan jadi sakit" omel bundanya.


Selanjutnya Aish hanya bisa pasrah dan menahan sakitnya agar proses pengerokan bisa segera selesai.


Setelah kerokan, bukannya membaik, Aish malah makin pusing. Kini ditambah dengan sensasi mabuk kendaraan, semua terlihat berputar saat dia mengedarkan pandangan.


Dia tidur telentang sambil memejamkan mata diatas ranjangnya. Berharap bisa mengurangi rasa keliyengan yang dideritanya.


"Gimana is? sudah mendingan?" tanya bunda.


"Iya bun" bohong Aish.


"Yasudah kamu istirahat, tidur. Bunda juga mau ke kamar" kata bundanya sambil menyelimuti dan mengecek dahi Aish.


"Tapi masih panas is. Bunda ambilin obat sebentar ya". kata bunda, Aish hanya mengangguk.


Bunda datang dengan sebotol obat penurun panas, setelah meminum obat, Aish berusaha untuk memejamkan matanya dan tidur.


Tak butuh waktu lama baginya yang memang lelah untuk menuju ke alam mimpi. Tapi tidurnya benar-benar tidak nyenyak.


Dalam mimpi buruknya, dia melihat kobaran api, dan banyaknya orang yang berkelahi. Teriakannya untuk menghentikan mereka seolah tak terdengar oleh satu orang pun.


Mereka saling menjatuhkan, hingga ekor mata Aish melihat seseorang yang dia kenal sedang meminta pertolongan.


"Itu kan Sekar?" batin Aish sambil berlari ke tempat Sekar.


Gadis itu sedang diangkat beramai-ramai. "Mau dibawa kemana dia?" Aish bertanya pada orang-orang, tapi tak satupun mendengarnya. Seolah dia sedang melihat film pada layar 3 dimensi yang terlihat sangat nyata dengan memakai kacamata.


"satu .. dua .. tiga .." seseorang memberi aba-aba, lalu mereka benar-benar melemparkan Sekar.


Aish berusaha berlari menyelamatkan, tapi terlambat. Sekar telah masuk dalam kobaran api, tubuhnya menggeliat seperti cacing kepanasan. Suara letusan api yang membakar tubuhnya terdengar sangat menyeramkan.


"Sekaaaaaarrrrrr" Aish menjerit histeris.


Dia terbangun dari mimpinya yang terasa nyata, keringatnya membasahi rambut dan bajunya. Air matanya benar-benar menetes, deras. Napasnya memburu.


"Astaghfirullah, mimpi yang mengerikan" lirih Aish berbicara, masih merasakan sakit di kepalanya, melihat jam dinding di kamarnya. "Masih jam dua pagi" gumamnya.


"Haus" menoleh ke arah nakas, tidak ada minuman, gelasnya kosong.


Diapun beranjak menuju dapur untuk mengambil minumnya. Saat berusaha berdiri, kepalanya berdenyut sakit. Dia sampai harus melangkah dengan pelan sambil memejamkan mata dan meraba-raba.


Sampai di ruang tengah, saat akan menyalakan saklar lampu, terasa kepalanya berdenyut hebat ketika membuka mata. Hingga semuanya terasa gelap kembali.


***************


"Engmh"


Aish mengerang mengumpulkan tenaganya, membuka pelan matanya untuk menyesuaikan pendar cahaya yang masuk ke dalam bola matanya.


"Aduh ... pusing banget" lirihnya sambil memegang kepalanya untuk berusaha duduk.

__ADS_1


"Lo sudah bangun Ai?, mau apa biar gue bantu?" tanya seseorang.


"Hah? kayak suaranya Falen? tapi kan gue lagi ada dikamar?" lirih Aish bertanya.


"Lo pingsan lama banget sih? tidur pasti nih?" tanya Seno.


"Kok ada Seno juga?" tanyanya.


"Gue juga ada kali, makanya buka mata lo" kata Hendra.


"Aduuhh.... kepala gue pusing banget, kenapa kalian ada disini?" tanya Aish sambil duduk senderan diatas dipan kecilnya.


"Tadi bunda lo ngabarin ke sekolah kalau lo pingsan, yaudah gue telpon deh lo pas istirahat buat pastiin kondisi lo. Ternyata bunda bilang masih belum sadar juga, padahal gue telponnya jam istirahat" kata Falen.


"Terus kita ke rumah lo sama-sama pulang sekolah tadi. Kata bunda, lo sudah disuntik sama dokter, makanya pingsannya lama, sekalian tidur biar bisa istirahat" lanjutnya menjelaskan.


"Pantesan gue kok ngerasa laper banget, sudah sore ya?" tanya Aish.


"Iya, sekarang sudah setengah tiga"jawab Seno.


"Gue bawain mie ayam kesukaan lo tadi, makan dulu yuk" kata Hendra.


"Bunda kok ngijinin kalian masuk kamar gue sih? mana coba bunda nih. Nggak takut apa kalau gue diculik sama kalian?" kata Aish.


"Cg! rugi kita nyulik elo, makan lo banyak" kata Falen memberikan mangkok berisi mie ayam kesukaan Aish.


"Uwaahh.... enak baunya, makin laper gue" kata Aish lirih.


"Tapi rasanya kok hambar yah?" lanjutnya.


"Ya kan lo lagi pilek, makanan jadi nggak ada rasanya" kata Seno.


"Bunda gue kemana sih? tega banget nibggalin gue sendiri"kata Aish.


"Lo kira kita disini semua hantu ya?" kata Hendra.


"hehehe... ya kan nggak biasanya ninggalin gue sendiri, apalagi gue lagi sakit loh" kata Aish sambil terus menyendok mie nya.


"Bunda lo lagi nganterin baju jahitan katanya, lo nggak usah khawatir, dianterin sama supirnya Seno. Seneng banget tadi bunda lo naik mobilnya Seno" kata Hendra.


"Cg! emak gue malu-maluin ih. Maafin kelakuan bunda gue ya Sen" kata Aish.


"nggak apa-apalah Ai, kayak sama siapa aja sih lo" jawan Aish.


"Tapi gue jadi penasaran, lo kalau tidur juga pakai kerudung gitu ya?" tanya Hendra.


"Kalau gue sendirian sih biasanya enggak, mungkin tahu kalau kalian mau kesini tuh bunda gue makein jilbab instan kayak gini" kata Aish.


"Lo kapan jeleknya sih Ai? baru bangun gini masih aja cantik meskipun lagi sakit" kata Falen sebenarnya jujur.


"Lo orang ke 20345 yang bilang gitu" jawab Aish datar.


"Beneran lo tuh cantik Ai"kata Falen.

__ADS_1


"Iya iya, yang ganteng itu cowok. Kalau cewek mah cantik" kata Aish.


"Lo belum lihat kakaknya Aish sih Fal, beuh... Cantik banget, tapi galak" kata Hendra, membuat Aish menunduk sedih.


__ADS_2