Cantik, Kok Minder?

Cantik, Kok Minder?
Hutama Group


__ADS_3

"Lo nggak punya PR ya?" tanya Aish karena Richard masih tetap betah tinggal di rumahnya.


"Nggak ada" jawabnya singkat.


"Memangnya nggak dicariin sama orang tua lo" tanya Aish lagi.


"Nggak, mereka sibuk" kata Richard.


"Lo nggak capek ya, kan tadi habis berantem?" tanya Aish lagi.


"Berantemnya kan sudah dari pagi tadi" kata Richard.


"Lo nggak..." belum sempat Aish bicara, Richard sudah memotongnya.


"Lo nggak suka gue disini? Kalau mau usir ya tinggal usir saja, nggak usah tanya yang aneh-aneh" kata Richard, tapi dia tetap duduk di halaman belakang.


Aish hanya menghela napas dan memandang Richard dengan malas. "Sudah mau maghrib Richard, acara di depan juga sudah selesai. Gue mau nyuci piring" kata Aish.


"Gue bantuin" kata Richard.


"Memangnya lo bisa?" tanya Aish.


"Kecil" jawabnya.


"is, makan dulu ya. Sekalian ajak Richard juga, baru boleh kalau mau nyuci piring setelah makan" kata bunda.


"Terimakasih tante" kata Richard tersenyum.


"Ayo masuk, makan dulu" ajak Aish, Richard mengikutinya dari belakang.


Richard melihat menu yang ada, "ini apa?" tanyanya.


"Itu ayam kemangi, yang itu tempe bacem, terus yang itu sambal bawang dan yang itu pasti lo tahu, namanya kerupuk" Aish menyebutkan semua menu yang ada diatas meja.


Richard mengisi piringnya dengan secentong nasi, kemudian mengambil semua lauk dan mencoba makanannya.


"Hem... enak juga ya" kata Richard.


"Enak dong, bunda gue pinter masak" kata Aish membanggakan bundanya.


Richard nambah lagi rupanya, dia baru tahu jika ayam dengan daun kemangi seperti ini rasanya enak. Besok dia akan meminta art dirumahnya untuk membuat yang seperti ini.


Aish senang karena Richard tidak pilih-pilih makanan rupanya. Dan setelah ini, sudah bisa dipastikan kalau cucian piring akan menumpuk. Tugasnya sudah menunggu.


Piring, gelas, sendok dan peralatan makan lainnya yang kotor sudah ditata di dapur. Semua itu sedang menunggu giliran untuk dicuci.


"Banyaknya" kata Aish menggumam.


"Gue bantuin" kata Richard yang mendengar Aish menggumam.


"Sangsi gue kalau lo bisa" kata Aish.


"Biar gue buktiin" kata Richard mendekat pada tumpukan piring kotor. Lalu dia bingung bagaimana cara memulainya.


"Kenapa bengong? nggak bisa ya? biar hamba ajari tuan muda" kata Aish meremehkan Richard, membuat Richard semakin gemas akan tingkah laku Aishyah.

__ADS_1


Aish menuang sabun cuci piring yang disukai para mama dengan wangi lemon segar ke dalam baskom, lalu menambah sedikit air dan mengucek dengan spons.


Setelah berbusa, dia menggosokkan ke permukaan piring. "Begini caranya tuan muda" kata Aish.


"Oke, biar gue yang lakuin" kata Richard.


"Jangan deh, bisa pecah semua nanti. Lo bilas piring yang sudah gue cuci saja ya, terus lo taruh di rak sebelah sana" kata Aish memerintah Richard.


Richard mematuhi perkataan Aish, kalau sedang di rumahnya, mana ada yang berani memerintah sang tuan muda ini. Sikapnya yang sedikit berandalan dan sulit diatur membuat orang rumahnya yang selalu diatur olehnya.


Semua pekerjaan selesai saat tamu bunda sudah pulang semua. "Uwah.... senangnya, kalian rajin sekali. Kalau begini bunda nggak capek deh" kata bunda senang.


"Sudah mau maghrib is, kamu siap-siap dulu ya. Mau solat dirumah apa ke mushola depan?" tanya bunda.


"Engmh, ke mushola saja deh bun. Lo mau ikut gue atau nunggu disini saja?" tanya Aish pada Richard.


"Gue pulang deh, makasih ya lo sudah ngebolehin seharian ini jadi tamu dirumah lo" kata Richard.


"Iya sama-sama. Lo hati-hati kalau pulang ya" kata Aish.


"Saya pamit pulang ya tante, makasih" kata Richard.


"Loh, kenapa nggak sekalian solat disini saja nak Richard?" tanya bunda.


Mendengar pertanyaan itu, kembali Richard harus dipaksa untuk sadar atas kesalahan hatinya yang telah memberi ruang pada gadis seperti Aishyah. Richard terdiam, dia tidak bisa menjawab.


Melihatnya terdiam, Aish segera membisikkan sesuatu di telinga bundanya. Membuat wanita paruh baya itu mangangguk-angguk.


"Oh begitu, jadi kamu sama seperti Hendra. Sayang sekali, kalau kalian berdua sama nih ya, pasti kamu sudah tante ambil jadi menantu" kata bunda berusaha mencairkan suasana, tapi malah membuat gurat merah di wajah Aishyah dan Richard.


"Tante serius?" tanya Richard menantang.


Richard sangat suka melihat wajah Aish memerah, dan kali ini tanpa dia sadari, wajahnya pun juga memerah.


★★★★★


Hendra sedang konsentrasi, kali ini dia harus bisa berkomunikasi dengan sosok itu. Hendra sudah tidak sabaran untuk menunggu kejelasan tentang sosok jenazah yang mereka temukan.


Dia berhasil menyelami dunia lain, perbedaan atmosfirnya sudah terasa. Hendra menemukan wanita itu.


Benar, dia di cekik, tapi mengapa sekarang dia bersama pria lain? Bukan pria yang waktu itu menjemputnya?


Kini wajah wanita itu sudah terlihat membiru, sepertinya dia sudah kekurangan pasokan oksigen, urat-uratnya sangat kentara menonjol memenuhi seluruh bagian leher dan wajahnya. Matanya melotot, lidahnya mulai keluar, dan ludah kental mulai menetes dari mulutnya. Tapi tak membuat si pria ini menghentikan aksinya.


Wanita itu melihat ke arah Hendra, tangannya seolah melambai untuk memberitahukan sesuatu. Tapi Hendra tak mengerti maksudnya, Hendra yakin sekarang jika wanita itu benar-benar kak Alif, kakaknya Aish.


Hendra melihat ke sekelilingnya, dia berada di sebuah kamar berukuran sekitar 3x4 meter. Sepertinya sebuah kos-kosan, atau mungkin kontrakan. Sangat sederhana, ada foto kak Alif dengan seorang pria, menggendong gadis mungil yang Hendra yakin adalah keponakan Aishyah.


Hendra mengamati wajah pria dalam foto dengan seksama. Menghafal tiap gurat wajahnya, dia akan mengusahakan agar tak melupakan wajah itu saat nanti kembali ke dimensinya sendiri.


Wanita itu menjatuhkan sebuah kertas dari genggaman tangannya, terlihat stempel bertuliskan 'Hutama Group' pada kertas itu.


Setelahnya, Hendra merasa seolah terpental dengan sendirinya. Dia serasa terbang, dipaksa keluar dari dimensi itu. Seperti sebuah kerikil yang dilontarkan dari ketapel. Hendra merasa menjadi kerikilnya, terlontar dengan sangat keras.


"Aaaaaaaaaaaa"

__ADS_1


Hendra berteriak, hingga dia tersadar dari meditasinya, teriakannya masih terdengar di telinga Falen yang menungguinya melakukan meditasi.


"Lo nggak apa-apa kan Hen?" tanya Falen panik.


Hendra berusaha duduk dengan tenang, tangannya memegangi dadanya yang serasa baru saja turun dari roaler coaster. Napasnya memburu, mengambil oksigen sebanyak yang dia mampu.


"Lo minum dulu ya, atur napas lo. Tenang dulu" kata Falen.


Hendra meminum air mineral pemberian Falen dan menenggaknya hingga habis. Keringatnya bercucuran semakin deras, tapi napasnya mulai teratur.


"Apabyang lo dapat?" tanya Falen.


"Hutama Group" kata Hendra.


"Maksudnya?" tanya Falen.


"Gue sempat lihat ada tulisan Hutama Group. Kita harus cari informasi mengenai nama ini" kata Hendra.


"Oke, kita mulai sekarang juga" kata Falen mengambil laptopnya, mulai berselancar di dunia maya.


'Hutama Group'


"Sebuah perusahaan raksasa yang bergerak di bidang pembudidayaan dan pengolahan kelapa sawit. Induk perusahaan berada di ibukota, dengan lahan yang luas sebagai ladang pohon sawit yang berada di pulau Kalimantan dan Sumatra.


Minyak dari hasil pengolahannya sudah didistribusikan secara merata ke seluruh pelosok negri, bahkan sampai ke beberapa negara tetangga.


Wiryawan Putra Hutama, sebagai pimpinan tertinggi yang mewarisi perusahaan keluarganya telah berhasil membawa perusahaannya semakin maju dan berkembang.


Harumi Akiara, istri pimpinan tertinggi Hutama Group yang berasal dari negri Matahari Terbit ini telah menjalani kehidupan rumah tangga sejak tahun 1998 silam terlihat memiliki hubungan yang sangat harmonis dengan keluarganya."


"Gue nggak asing sama nama-nama itu deh, lo pernah dengar nggak Hen?" tanya Falen.


"Iya, kayaknya salah satu donatur di sekolah kita juga deh Fal" kata Hendra.


"Iya, benar. Kayaknya itu orang tuanya Richard deh" Falen mengomentari.


"Mungkin nggak sih kalau yang jadi tersangka masih berhubungan sama Richard?" tanya Hendra.


"Harus kita selidiki sih ini. Apa kita cerita ke Aish saja ya?" tanya Falen.


"Jangan dulu deh Fal, kasihan kalau dia kepikiran. Kita selidiki dulu saja, nanti kalau memang sudah ada kejelasan baru kita ceritain semuanya ke Aishyah" kata Hendra.


"Benar juga sih. Kalau Seno bagaimana?" tanya Falen lagi.


"Jangan deh, dia suka kelepasan kalau bicara. Bisa bahaya kalau salah ngomong" kata Hendra.


"Kita obrolin sama bang Rian dan bang Fian saja ya" Falen menyarankan.


"Iya, kalau yang ini gue setuju. Besok kita janjian lagi sama mereka ya. Gue tadi lihat ada ruangan gitu Fal, semacam kos-kosan atau rumah kontrakan gitu. Nanti coba kita tanyain Aish deh, dimana kakaknya tinggal selama ini" kata Hendra.


"Besok kita perlu quality time sama sahabat-sahabat kita deh Hen. Pulang sekolah jalan bareng ya, atau kita nungguin Seno syuting" kata Falen.


"Iya, begitu lebih baik. Sudah lama sepertinya kita nggak ngumpul gara-gara masalah ini" kata Hendra.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2