
"Baiklah, yang pertama kita akan membahas mengenai tempat tinggal Khalifah Khadijah terlebih dahulu. Untuk yang satu ini, saya masih minim informasi. Bisa kamu beritahu kami Aish, dimana mereka tinggal selama ini?" tanya Fian.
"Kak Alif tinggal di kontrakan haji Jamal bang, di Bekasi. Tapi sudah lama Aish nggak kesana" kata Aish.
"Baik, nanti tim kami akan bergerak kesana. Lalu, ada juga beberapa informasi yang kami dapatkan dari beberapa anggota keluarga Hutama. Keluarga itu sangat sulit disentuh, informasi yang kami dapat hanya sedikit tapi sangat mahal. Mereka benar-benar licin" kata Fian.
Falen dan Hendra berpandangan, sepertinya Aish masih belum sadar jika pembahasan selanjutnya akan membawa nama keluarga besar pacarnya.
"Keluarga siapa bang?" tanya Aish memastikan.
"Keluarga Hutama, karena Hendra bilang dia melihat sesuatu dari pertemuannya dengan Khalifah" kata Fian.
"Kok seperti nama panjangnya Richard ya bang? Richard Putra Hutama" kata Aish menyebut nama panjang Richard.
"Jadi, sebelumnya gue sama Fian sudah diskusikan ini is. Peran lo disini sangat penting untuk mengetahui kejelasan dari campur tangan salah satu keluarga Hutama dalam kasus kakak lo ini. Karena seperti yang lo tahu, keluarga mereka sangat menutup diri dari publik. Mereka tak tersentuh, kesan bersih selalu menonjol" kata Rian.
"Maksud abang, saya harus bisa mengorek informasi dari Richard gitu ya?" tanya Aish.
"Ya, itu jalan terbaik tanpa harus mengeluarkan banyak waktu dan tenaga. Semoga saja bukan mereka pelakunya" kata Fian.
Aish kembali merasa sedih, bagaiman jika memang salah satu keluarga Hutama adalah pelakunya? Apakah masih bisa Aish mempertahankan hubungannya yang masih seumur jagung dengan Richard?
Hubungan yang sangat sulit, haruskah Aish menyerah sekarang? Tapi tunggu, dia masih butuh Richard untuk bisa mengungkap kematian kakaknya, dan mencari keponakannya.
"Baiklah bang, akan saya usahakan mencari informasi sebanyak mungkin dari Richard. Meskipun setahu saya, hubungannya dengan keluarganya tidak begitu baik. Mereka tidak pernah saling memperhatikan satu sama lainnya bang" kata Aish setelah berpikir sejenak.
"Lalu mengenai orang yang berbeda dalam penglihatan kamu, Hendra. Kamu bilang ada dua orang yang terlihat bersama Khalifah sebelum dia menjadi korban pembunuhan kan?" tanya Fian.
"Iya bang. Saya melihat kak Alif dibawa oleh seseorang dengan mobil hitam, dia memakai setelan jas formal saat sore hari bersama anaknya. Dan yang saya lihat lagi, kak Alif bersama orang yang berbeda saat berada di rumah kecil itu" kata Hendra.
Seno hanya diam, dia mendengarkan dengan baik karena selama ini tidak pernah ikut campur dalam urusan ini. Kejadian semacam ini adalah hal baru baginya, seperti sebuah film detektif.
"Oke, jadi mulai sekarang kita bagi tugas ya. Saya dan Rian akan mencari rumah kontrakan yang kamu maksud. Tidak akan sulit mencari informasi mengenai seseorang di lingkungan seperti itu".
"Dan kamu Aishyah, pastikan kamu mendapatkan informasi sebanyak mungkin tentang keluarga Hutama. Mengenai nama-nama mereka, status perkawinan, pekerjaan dan apapun itu. Yang penting bisa kita jadikan acuan untuk penyelidikan".
"Tapi ingat, selama proses penyidikan masih berlangsung, seseorang dianggap sebagai saksi. Jangan pernah berpikiran bahwa seseorang itu adalah penjahat. Kesimpulan bisa didapatkan jika kita telah mendapat bukti yang jelas dan akurat" kata Fian mengingatkan semua yang ada disana, mengingat Aish sedang dekat dengan Richard. Membuat Fian sedikit khawatir jika gadis itu akan salah bicara.
Karena perempuan kan biasanya lebih mementingkan hati daripada logika. Membuatnya teringat Retno, dokter cantik itu masih saja tidak mau memilih antara dirinya atau Rian. Membuatnya seolah-olah merasa betah berstatus sebagai jomblo abadi.
"Huft, kenapa pikiran saya jadi ngelantur" batin Fian merutuki diri sendiri.
"Oke, sepertinya cukup untuk hari ini. Nanti kita akan bertemu lagi jika telah mendapat lebih banyak bukti yang akurat, bukan dengan penglihatan batin yang pastinya tidak akan digunakan oleh pihak kepolisian" kata Fian mengakhiri pertemuan mereka.
"Tunggu bang, boleh saya tahu apa penyebab kakak saya sampai meninggal?" tanya Aish, sebenarnya dia tidak tega untuk mengetahui penyebab kematian kak Alif, tapi dia juga penasaran.
"Berdasarkan hasil autopsi, korban dijerat lehernya dengan sesuatu hingga meninggal. Setelah itu, dalam keadaan tanpa busana, dia dibakar oleh pelaku, dan kembali dipakaikan gaun berwarna navy sebelum korban dikubur di daerah pantai" kata Fian menjelaskan.
"Sungguh keji, tega sekali orang itu melakukannya pada kak Alif. Setelah orang itu ditemukan, abang harus pastikan kalau dia akan mendapatkan hukuman yang setimpal" kata Aish yang matanya sudah berkaca-kaca, tangannya bahkan terkepal untuk menahan emosi yang menguasai hatinya.
"Sabar ya princess, tahan emosi lo. Kita perlu otak yang dingin untuk memecahkan kasus ini" kata Seno berusaha menenangkan Aish.
__ADS_1
★★★★★
Jam tujuh malam Aish baru sampai dirumahnya, Falen hanya bisa mengantar sampai gang karena tadi ada keperluan dengan keluarganya.
"Assalamualaikum, bunda... Aish pulang" kata Aish lirih saat memasuki rumahnya yang masih gelap. Biasanya bunda akan marah jika Aish berteriak saat baru sampai dirumah.
Kembali air matanya menetes, mengingat keadaan bahwa dirinya sudah sendirian sekarang.
Terdengar suara ketukan dari pintu saat Aish baru saja selesai solat Isya. Dengan masih mengenakan mukena, dia membuka pintu.
"Assalamualaikum, apa kabar Aishyah?" ternyata dokter Siras yang datang.
"Waalaikumsalam bang dokter. Tumben kesini nggak bilang-bilang?" tanya Aish.
"Saya sudah menghubungi kamu berkali-kali, tapi tidak dijawab" kata Siras tersenyum mendapati gadis cantik yang soleha itu.
"Oh, iya. Ponsel Aish ada di kamar. Abang duduk didepan saja ya? Saya takut orang-orang salah paham kalau mempersilahkan abang masuk ke dalam" kata Aish.
"Tidak masalah, kamu memang benar. Lebih baik memang saya diteras saja" kata Siras, dia melangkah untuk duduk dikursi teras rumah Aishyah.
"Sebentar ya bang dokter, saya masuk dulu. Mau ganti hijab yang biasa" kata Aish yang mendapat anggukan kepala dari Siras.
Tak lama Aish masuk, gadis itu sudah keluar lagi dengan tampilan yang sedikit berbeda. Dia juga membawa sebuah nampan berisi secangkir minuman.
"Maaf bang dokter, cuma ada teh. Silahkan diminum ya" kata Aish dengan senyum yang manis, senyum yang selalu ada di pikiran Siras.
"Terimakasih ya. Oh iya, ini ada sedikit oleh-oleh buat kamu" kata Siras memberikan paper bag pada Aishyah.
"Maafkan saya baru bisa menemui kamu sekarang ya. Saat ibu kamu meninggal, saya harus terbang ke Turki. Ayah saya juga sedang sakit disana, beliau meminta saya untuk datang" kata Siras beralasan.
"Iya bang, tidak apa-apa. Bagaimana keadaan ayahnya abang sekarang?" tanya Aish.
"Sudah lebih baik, makanya saya bisa kembali ke sini. Saya sudah sangat rindu sama kamu" kata Siras.
"Bang dokter ada-ada saja. Syukurlah kalau keadaan orang tua abang sudah lebih baik" kata Aish.
Siras merasa jika Aish masih bersedih, tentu saja. Gadis itu harus ditinggalkan oleh dua orang terdekatnya dalam waktu yang sama. Untuk tidak mendapat gangguan jiwa adalah sesuatu yang luar biasa. Dan Aishyah adalah gadis luar biasa itu. Siras semakin kagum pada sosok kecil dihadapannya ini.
"Kamu sudah makan?" tanya Siras. Aish hanya menjawab dengan gelengan kepala. Memang terakhir dia makan saat bersama teman-temannya tadi siang.
"Kita cari makan ya, kamu mau makan apa?" tanya Siras yang tengah mencari alasan lain saat Aish menolak tawarannya.
"Aish makan dirumah saja nanti bang" benar kan dugaan Siras jika Aish pasti menolaknya.
"Saya tidak akan beranjak dari rumah kamu, bahkan mungkin sampai besok jika kamu tidak mau menemani saya makan malam ini" kata Siras.
"Cg, baiklah. Terserah bang dokter mau makan apa" Aish mendecak mendengar penuturan Siras.
Aish langsung berangkat, tanpa membawa ponselnya. Dan saat gadis itu bersama Siras, tentu Richard sebagai pacarnya akan menghubungi untuk memastikan keadaan Aish malam ini.
Pukul sepuluh malam, Aish sampai di rumahnya. Siras sempat mengajaknya main ke taman tadi setelah makan.
__ADS_1
Kembali merasa sepi, Aish merindukan bundanya. Rasa sesak di dadanya karena merindukan orang yang tidak akan pernah lagi ditemui.
Membuatnya melangkah menuju kamar sang bunda. Dia menghirup aroma bunda di dalam kamar itu saat baru saja membuka pintu kamar. Air matanya menetes. "Bunda, Aish kangen banget sama bunda. Aish selalu berdoa semoga bunda, ayah dan kak Alif tenang disana ya. Tungguin Aish ya, nanti Aish akan datang menemui kalian" kata Aish mendekap bantal bunda.
Sebuah gulungan kertas terjatuh dari bantal bunda. Setelah Aish memungutnya, ternyata ada tulisan bunda. "Kotak coklat dalam lemari" begitulah pesan dari kertas itu.
Aish membuka lemari bunda yang dikunci. Mencari keberadaan kotak coklat yang bunda maksud. Ternyata ada di lemari paling atas. Tangannya terulur untuk mengambilnya, Aish membuka kotak itu setelah duduk kembali di ranjang.
Ada buku tabungan, sebuah kalung emas dan juga sepucuk surat. Rupanya bunda telah menulis itu jauh-jauh hari.
^^^"Aishyah, putriku sayang.^^^
^^^Maaf karena bunda pergi, bukan karena bunda nggak sayang sama kamu. Bunda sudah tidak tahan, kepala bunda sering sakit belakangan ini.^^^
^^^Saat kamu tahu isi kotak ini, pasti bunda sudah pergi. Untuk itu bunda mau memberitahukan padamu, nak.^^^
^^^Ada sedikit uang tabungan yang bunda simpan untukmu. Tidak banyak memang, tapi bunda harap bisa membantumu. Dan kalung ini juga bunda siapkan untukmu, sama dengan kakakmu. Diapun juga sudah bunda beri kalung yang sama.^^^
^^^Bunda minta maaf ya nak, doakan bunda selalu. Bunda yakin doa anak soleha sepertimu akan langsung diijabah oleh Allah.^^^
^^^Salam sayang dari bunda"^^^
^^^Aish memeluk surat bunda, jadi selama ini bunda sudah merasakan sakit. Tapi bunda menahannya. Anak macam apa Aish yang tidak memahami kondisi bundanya. Rasa bersalah menyelimuti hatinya.^^^
Aish tertidur dengan masih memeluk surat dari bundanya. Saat adzan subuh berkumandang, Aish terjaga. Seolah bunda membangunkannya untuk menunaikan kewajiban, Aish segera mengambil wudhu. Pagi ini dia ingin solat di mushola depan.
Richard datang saat Aish telah menyiapkan sarapan. Untung saja dia membuat nasi goreng sedikit lebih banyak, jadi bisa mengajak Richard sarapan bersamanya.
"Dari semalam gue hubungi lo, tapi nggak ada jawaban. Kemana saja?" tanya Richard yang tengah menikmati sarapannya.
"Iya, semalam gue ketiduran di kamar bunda. Maaf ya" kata Aish, bahkan sampai saat ini dia belum melihat ponselnya sama sekali.
"Hari ini lo mau kemana?" tanya Richard.
"Nggak kemana-mana. Belum ada rencana" jawab Aish.
"Ikut gue ya" kata Richard.
"Kemana?" tanya Aish.
"Nanti lo juga tahu" jawab Richard.
Aish mengangguk saja, mungkin ini juga adalah saat yang tepat untuknya mencari informasi demi kepentingan penyelidikan kakaknya.
"Gue ganti baju dulu ya" kata Aish, sekarang mereka sudah ada di ruang tamu. Richard mengangguk saja, dia sedang memainkan ponselnya.
.
.
.
__ADS_1