
"Thank's ya, Mike. Untung besar gue kalau lo yang jadi sales donat gue" kata Ilham yang menerima uang setoran beserta kotak kue dari Mike.
Tiga hari berlalu, Mike selalu menghabiskan donat Ilham tanpa sisa. Dan kini, tiba waktunya Aish mengetes seberapa serius Mike menjalankan hukumannya.
"Lo untung, gue buntung, Ham" kata Mike kesal saat melihat Ilham yang tersenyum senang.
"Assalamualaikum" sapa Aish yang baru tiba bersama Yopi.
Siang ini mereka berempat akan belajar di kelas Ilham, sambil menunggu Ilham yang mendapat tugas piket siang.
"Waalaikumsalam" jawab Ilham, sedang Mike hanya melengos melihat kedatangan Aish.
"Kenapa muka lo? Sangat terbaca kalau nggak suka ngelihat kedatangan gue" kata Aish yang duduk dihadapan Mike.
"Lihat muka lo kayak lihat sekumpulan angka. pusing gue" kata Mike.
"Enak aja, Muka gini nih yang disukai banyak lelaki" kata Aish bercanda.
"Iya, tahu gue, Sya. Ada yang bucin sama lo" kata Yopi menggoda.
"Hehe, nggak gitu juga maksud gue, Yop" kata Aish malu.
"Cantik sebenarnya, tapi belagu" batin Mike yang hanya melirik Aish yang bercanda dengan Yopi.
"Kenapa lo lihatin Aish kayak gitu, Mike?" tanya Ilham.
"Nggak apa-apa, laper gue" Mike menjawab dengan malas.
"Oke, langsung kita mulai saja deh kalau gitu. Coba sekarang lo kerjain tugas ini ya. Ini tuh cuma sekumpulan soal Matematika yang gampang banget, adeknya Ilham saja pasti bisa ngerjain. Jadi, gue yakin pasti lo juga bisa" kata Aish menyerahkan selembar kertas soal yang sengaja dia buat untuk Mike.
Mike menerimanya dengan malas, membacanya sekilas sebelum berusaha mengerjakan.
"Gampang ini mah" kata Mike.
"Kerjain kalau gampang" kata Aish.
Ponsel Aish berdering, terpampang nama Richard yang memanggilnya.
Mike melirik Aish sekilas saat gadis itu tersenyum sebelum mengangkat panggilan dari ponselnya.
Sedangkan Yopi dan Ilham sudah belajar dengan sangat serius.
"Hallo, iya Richard"
kata Aish mengawali percakapan dari ponselnya.
"......"
"*iya, ini juga lagi sama Yopi. Lo sudah pulang?"
"....."
"Oh, iya. Berapa hari*?"
"...."
"*Iya, nggak apa-apa. Lo hati-hati ya. Berarti baliknya hari Minggu?"
"......"
"Iya, ok. Nggak apa-apa. Have fun ya, gue lanjutin belajarnya ya".
"......"
"Iya, gue berangkat dan pulang sekolah, terus kalau mau kemana-mana pasti bareng sama Yopi. Lo tenang saja".
"....."
"Iya, yasudah gue tutup dulu teleponnya. Dah Richard*"
Aish menutup panggilan dari Richard.
Saat dia mendongak, ternyata Mike sedang menatap padanya.
"Ngapain lo lihat-lihat gue? Soalnya sudah dikerjain apa belum?" tanya Aish membuyarkan lamunan Mike.
"Cg, belum. Gue nggak konsen denger lo telponan didepan gue" kata Mike.
__ADS_1
"Alasan doang. Sudah, cepetan kerjain. Jangan pake lama" perintah Aish.
Mike kembali fokus pada lembar soalnya. Berusaha mengerjakan dengan sebaik mungkin.
Sepuluh menit berlalu, Mike sudah selesai dengan soal-soalnya.
"Nih, sudah" kata Mike.
"Uwah, cepat juga. Awas kalau banyak yang salah" ancam Aish yang mengoreksi pekerjaan Mike.
Senyum Aish terukir melihat hasil kerja Mike. "Bagus, semuanya benar. Sekarang kita belajar rumus, ya" kata Aish yang mulai membuka buku paket Matematika.
"Cowok lo mau camping ya?" tanya Mike yang sedang memperhatikan Aish.
"Iya, kok lo tahu? Nguping ya?" tanya Aish yang masih sibuk mencari bahan pelajaran di buku tebal Matematika.
"Kedengeran bego, gue kan nggak tuli" kata Mike.
Aish melotot mendengar ucapan Mike. "Lo tuh kasar banget sih, apa dirumah lo juga biasa ngomong kasar gitu ya?" tanya Aish serius, dia menghentikan kegiatannya.
"Mana mungkin gue kasar sama ibu gue" jawab Mike.
"Sekolah kita juga mau camping, mungkin minggu depan kalau nggak ya dua minggu lagi" kata Mike.
"Lo tahu darimana?" tanya Aish.
"Apa sih yang gue nggak tahu" jawab Mike songong.
"Iya, gue paham. Lo kan suka nguping. Makanya lo tahu semuanya" cibir Aish yang membuat Mike yang melotot kali ini.
"Enak saja lo bilang, gue nggak nguping. Cuma kebetulan aja dengar" kata Mike membela diri
"Sama aja, Mike. Sudah deh, nggak usah bahas yang belum jelas. Mendingan sekarang lo coba kerjain soal ini dulu. Gampang kok, lo pasti bisa" kata Aish.
Mike mengambil buku yang Aish sodorkan padanya, lalu mencoba mengerjakan soal yang Aish maksud.
Ternyata Mike sudah cukup paham dengan pelajaran yang selama ini selalu dia hindari. Mungkin karena gurunya secantik Aish yang membuatnya cepat mengerti.
Tentu saja Aish sangat senang dengan perkembangan Mike. Itu artinya, tugasnya untuk menjadi guru dadakan sudah hampir selesai. Kurang tiga hari saja jika Mike tidak kembali berulah.
Sudah hampir jam empat sore. Aish dan ketiga temannya sepakat untuk mengakhiri pertemuan mereka sore ini.
"Gue duluan ya" kata Ilham yang sudah siap meluncur dengan motor keramatnya.
"Iya, Hati-hati ya Ilham" kata Aish sambil melambaikan tangannya.
"Richard ngajak makan, Sya. Kita ke cafe dulu ya" kata Yopi yang memberi helm pada Aish.
"Boleh" kata Aish sambil menaiki motornya.
Lagi-lagi secara tidak sengaja, mike mendengar percakapan Aish dan Yopi.
Dalam hati, Mike sangat penasaran karena Aish dan Yopi sering sekali pergi bersama menuju sebuah cafe.
Menuruti rasa penasarannya, Mike mengikuti arah Aish dan Yopi berkendara. Dia mengikuti dengan hati-hati, tentunya dari jarak yang aman.
"Cafe apa sih yang sering mereka kunjungi?" tanya Mike dalam hati. Aish dan Yopi tidak sadar jika Mike sedang membuntutinya.
Cukup lama berkendara, sekitar tiga puluh menit akhirnya Mike melihat Yopi membelokkan motornya menuju sebuah cafe yang lumayan besar dan ramai.
"Ini kan cafe yang lagi ramai itu. Ngapain mereka berdua kesini?" batin Mike yang tidak ikut masuk ke dalam. Dia hanya melihat keduanya sedang memasuki bangunan besar di depannya.
"Lagian ngapain juga gue ngikutin mereka?" batin Mike merutuki kebodohannya sendiri. Tanpa Mike sadari, dia sedang penasaran dengan kehidupan Aish.
★★★★★
"Aaahh.... Seno... Gue kangen banget sama lo" teriak Aish yang melihat ada Seno di dalam ruangan khusus yang ada di dalam cafe.
Richard sengaja memberi surprise pada Aish, dia tahu jika Aish sangat merindukan punggawanya. Jadi, dengan senang hati Richard mengundang Seno, Hendra dan Falen untuk datang ke cafenya.
"Apalagi gue, princess. Gue lebih kangen sama lo" kata Seno yang langsung membalas pelukan persahabatan dari Aish.
Hendra dan Falen ikut-ikutan memeluk saudara wanita satu-satunya di persahabatan mereka. Pelukan Teletubbies dilakukan didepan mata Richard. Membuatnya merasa sedikit menyesal telah menghadirkan mereka bertiga.
"Sudah, nggak usah kayak anak kecil" kata Richard yang menarik Aish dari pelukan singa-singa seperti Brian.
Aish merengut sebal, dia sangat merindukan ketiga sahabatnya.
__ADS_1
"Duduk, nggak usah berdiri" kata Richard yang menyuruh Aish duduk disebelahnya.
"Lo pelit banget sih. Lagian ya, princess ini lebih duluan dekat sama kita daripada sama lo. Sekarang saja lo sok-sokan mendominasi dia dari kita" keluh Seno sebal.
"Tau nih, gue kan kangen sama mereka bertiga" kata Aish yang ikut-ikutan ngambek.
"Iya, gue tahu. Makanya gue sengaja ngundang mereka bertiga supaya bisa ketemu sama lo disini" kata Richard dengan pandangan sayang.
Falen menatap malas pada Richard, dia tidak menyangka jika Richard yang dulu banyak pacarnya alias play boy sekarang malah bertekuk lutut pada Aishyah si gadis yang jauh dari tipe wanita yang sering Richard dekati.
"Kenapa lo lihatin gue kayak gitu, Brian?" tanya Richard.
"Nggak apa-apa" kata Falen sambil mengendikkan bahu.
"Gue ada perlu sama Yopi, lo bisa nyantai disini bareng teman-teman lo" kata Richard.
Aish mengangguk, senyumannya terlihat sangat bahagia.
"Yop, lo ikut gue ke atas ya" ajak Richard. Yopi mengangguk, dia mengikuti Richard tanpa berpamitan pada Aish dan teman-temannya.
"Kita jarang banget ketemu ya? Padahal lo nggak pindah keluar kota loh, princess" keluh Seno.
"Iya, kemarin kan kita sibuk sama kompetisi tahunan. Kalian juga ikut kan" kata Aish.
"Lo lagi nggak sibuk ya, Sen?" tanya Aish.
"Gue sengaja kosongin jadwal gue demi bisa ketemu sama lo. Gue kan beneran kangen, princess" kata Seno.
"Oh iya, hubungan lo sama Queen gimana nih, Hen? Sudah ada kemajuan nggak?" tanya Aish menggoda Hendra.
"Mana ada, Hendra itu terlalu flat orangnya. Si Queen itu sudah ngasih kode-kode, tapi si batu ini mana ngerti" Falen mewakili pertanyaan Aish.
"Hahaha, kasihan Queen. Kak Hendra nggak peka" kata Aish menggoda Hendra.
"Cg, nggak usah ngomongin gue. Oh iya, selamat ya, princess. Gue senang lo dapat hadiah beasiswa lagi. Nanti kita kuliahnya barengan ya, biar bisa sama-sama lagi" kata Hendra yang langsung mendapat persetujuan dari Seno.
"Oh, iya. Harus itu. Lo pokoknya harus kuliah bareng kita bertiga" kata Seno.
"Eh, pesan makanan yuk. Laper gue" kata Aish.
"Boleh, lo mau pesan apa?" tanya Falen.
"Gue pingin makan mie ayam, tapi disini nggak ada. Pesan spaghetti saja deh, minumnya milk shake coklat ya. Tolong pesanin gue ya, tadi gue belum solat ashar. Gue mau solat dulu" kata Aish.
"Iya, gue temenin lo ya. Gue juga belum solat, lo berdua tungguin disini ya" kata Falen yang mendapat anggukan dari kedua temannya.
"Yuk Fal. Keburu sore" kata Aish beranjak.
Mereka berdua berjalan bersama menuju mushola yang tersedia di cafe itu. Meskipun kecil, tapi semua pengunjung diperbolehkan menggunakan mushola yang tersedia.
"Di sekolah lo mau ada acara camping ya, Fal?" tanya Aish.
"Iya, Richard sudah bilang ya sama lo?" tanya Falen.
"Sudah tadi" kata Aish.
"Pasti nanti di sekolah lo juga ada. Palingan juga jadwalnya gantian tiap sekolah. Kan acara camping ini selalu diadakan di kelas sebelas sebelum ujian semester" kata Falen menjelaskan.
"Oh, percaya gue kalau ketua OSIS yang bilang" kata Aish menyenggol lengan Falen dengan sikunya.
Falen tersenyum, tangannya tergerak untuk mengacak ujung hijab Aish. Gerakan yang selalu dia lakukan saat bercanda deng princessnya. Sungguh mereka saling merindukan.
Selesai solat, ternyata pesanan Aish dan Falen sudah tersedia diatas meja. Seno dan Hendra juga baru saja menyantap makanannya.
"Gue tadi sudah nyoba makanan lo, princess. Rasanya enak loh" kata Seno seperti anak kecil.
"Lo mah kebiasaan, Seno" kata Falen.
"Biarin, princess aja nggak marah. Kenapa lo yang sewot" kata Seno. Jika orang lain yang melihatnya, pasti tidak akan percaya jika artis setenar Senopati berkelakuan layaknya anak kecil jika berhadapan dengan ketiga sahabatnya.
.
.
.
.
__ADS_1
.