
Senyum masam tengah di tunjukkan oleh manager Indira pada model di bawah naungannya ini.
"Lo bikin heboh kali ini, Indira. Kalau sampai lo kena masalah gara-gara berita itu, jangan sampai lo bawa-bawa nama gue" bisik managernya.
Indira seketika berwajah pias, mana bisa dia berdiri sendiri tanpa bantuan managernya?
Belum sempat Indira membela diri, Seno sudah sampai di mejanya.
"Hai, selamat siang" kata Seno dengan tawa riang yang khas.
"Selamat siang, Senopati. Senang bertemu denganmu" kata Manager Indira sambil menjabat tangan Seno.
"Gue agak nggak senang sih ketemu sama kalian" kata Senopati masih tersenyum menawan.
Tapi perkataannya malah membuat wajah Indira dan managernya berubah masam.
"Gue langsung ke inti permasalahannya saja ya. Soalnya setelah ini gue langsung ke lokasi syuting" kata Seno masih dengan tenang.
"Jadi begini, mengenai berita di sebuah portal Online, ada seseorang yang dengan sengaja ingin menjatuhkan nama baik princess gue. Dan gue yakin kalau kalian berdua sudah tahu kan mengenai berita itu?" tanya Senopati.
"Ya, saya tahu" kata manager Indira, sedangkan Indira hanya diam tanpa ekspresi apapun.
"Gue kan juga disangkutpautkan nih dalam berita itu, jadi gue cari tahu dong tentang siapa penyebarnya. Dan kalian tahu nggak, ternyata siapa yang nyebarin berita itu?" tanya Seno.
Indira masih bergeming, sementara managernya sudah terlihat tak berminat dengan pembicaraan ini.
"Ternyata tim gue nemuin sebuah nama yang di duga sebagai penyebar dari berita nggak bermutu itu, namanya Tika. Kalian kenal nggak?" tanya Seno.
"Gue pernah tahu sama orang itu, tapi gue nggak cukup dekat untuk bisa berteman dengannya" kata manager Indira.
"Seingat gue, waktu itu lo kan yang ngenalin orang itu sama gue, Indira?" tanya managernya.
Lagi-lagi Indira hanya bergeming, tak berucap meski hanya sepatah kata.
"Oke kalau lo masih nggak mau bicara apapun. Tapi asal lo tahu ya, Indira" kali ini Seno berbicara dengan serius. Tak ada lagi wajah sumringah yang sejak tadi ditampilkannya.
"Gue sudah pernah bilang kan kalau buat gue princess Aishyah itu lebih dari sekedar sahabat. Dia saudara gue. Jadi, semua masalah yang menimpanya, itu juga jadi masalah buat gue" kata Seno yang wajahnya terlihat sangat dewasa kali ini.
"Dan kali ini, karena princess memutuskan untuk menyerahkan semua masalah tentang berita itu untuk gue selidiki, gue tahu kalau Tika punya hubungan yang cukup dekat sama lo" Indira dan managernya masih berusaha mendengarkan semua ucapan Seno.
"Bisa lo jelasin sedekat apa hubungan lo sama dia?" tanya Seno dengan tatapan penuh pada Indira.
"Gue rasa, urusan pertemanan gue sama siapapun itu bukanlah urusan lo. Karena itu privasi gue" kata Indira.
"Masalahnya, pertemanan lo sama Tika itu sudah banyak merugikan gue dan terutama princess gue" kata Seno.
"Lo itu kan setahu gue dekatnya sama Falen kan ya? Dan buat gue dan Falen, princess Aishyah itu punya tempat khusus dalam pertemanan kami. Jadi, apa alasan yang bikin lo benci sama princess? Atau lo jealous sama dia?" tanya Seno.
Indira hanya diam.
"Oh, jadi benar kalau lo jealous sama princess. Tapi karena apa? Kenapa dalam berita itu lo nggak nyebut nama Falen sama sekali?" tanya penasaran.
Dan Indira masih saja bergeming.
"Oke kalau lo nggak mau jawab. Biar polisi saja yang introgasi lo sendiri. Dan gue tinggal nunggu berita dari pihak kepolisian saja nanti' kata Seno.
"Gue cuma mau tanya itu doang sih. Tapi karena lo berdua nggak mau jawab, yasudah nggak apa-apa biar semua masalah ini gue serahin ke pihak berwajib saja" kata Seno yang sudah berdiri. Ingin segera pergi karena dia tak mendapat informasi apapun untuk menjawab rasa penasarannya.
"Tunggu" kata Manager Indira.
Seno kembali duduk di tempatnya untuk mendengar penuturan manager Indira
"Jujur sebagai manager, gue nggak tahu menahu tentang masalah siapa penyebar berita yang akhir-akhir ini cukup viral itu" kata manager Indira.
"Yang gue heran adalah, kenapa banyak pihak malah menyudutkan model asuhan gue. Dan karena gue merasa kalau model gue ini sudah bertindak terlalu jauh dan tanpa persetujuan gue, maka dari itu Indira, dengan berat hati gue putusin kalau lo boleh hengkang dari perusahaan gue" kata manager Indira yang tiba-tiba memutuskan kontrak kerja mereka secara sepihak.
"Nggak bisa gitu dong, gue kan belum terbukti kalau ikut andil dalam penyebaran berita itu, kak. Jadi lo jangan tinggalin gue dong" kata Indira memelas.
"Oke, lebih baik lo selesaikan dulu masalah lo sama mereka. Nanti setelah lo terbukti tidak bersalah dan nama lo bersih, lo boleh temuin gue lagi. Lo boleh cuti dulu mulai sekarang" kata managernya.
"Jangan dong, kak. Please lo dampingi gue buat menghadapi masalah ini dong" kata Indira.
__ADS_1
"No, Indira. Karena saat lo memutuskan sesuatu, lo nggak diskusikan dulu sama gue. Jadi, sekarang lo sendiri dong yang harus menyelesaikan semuanya" kata Managernya.
Sementara Seno malah asyik melihat perdebatan antara manager dan artis asuhannya dengan tenang. Serasa melihat film secara langsung.
"Please kak, jangan pergi. Gue nggak akan bisa melalui semua ini sendiri" kata Indira masih merengek.
Ya, memang begitulah manusia. Sering menelan pil kekecewaan setelah semua sudah terjadi.
Dan orang terdekat kita pasti menjauh saat kita sedang terjatuh.
"Maaf Senopati, gue rasa lo sudah dengar sendiri kan kalau dia sudah bukan lagi artis asuhan gue. Jadi, apapun hasil dari pemeriksaan nanti, gue harap nama baik gue nggak akan terbawa sampai ke meja hijau" kata Manager Indira.
"Ok, terserah kalian saja. Cuma disini gue cuma mau tahu apa motif dari lo sampai tega menfitnah princess gue sampai kayak gitu lewat berita online?" tanya Seno.
"Gue kan sudah bilang kalau bukan gue pelakunya" kekeuh Indira.
"Sayangnya, gue ada buktinya lho Indira. Lihat deh!" kata Seno yang sudah mencetak beberapa foto yang diambil dari rekaman cctv di klub tempat bertemunya Indira dan Tika.
"Asal lo tahu ya Indira. Di setiap perusahaan besar, ada tim khusus yang dipakai insidental saja. Seperti tim hukum yang dipakai jika diperlukan saat bersinggungan dengan hukum" celoteh Seno memberi gambaran buruk pada Indira.
"Ada juga tim cyber yang digunakan saat memerlukan bantuan para hacker".
"Dan di kasus princess gue ini, asal lo tahu ya Indira. Gue sampai harus mengeluarkan dua tim insidental ini. Dan karena tim ini adalah tim khusus, maka perusahaan papi gue harus menggelontorkan cukup banyak dana meskipun hanya menangani kasus ringan semacam kasusnya princess" kata Seno.
Semua perkataan Seno hanya digunakan agar Indira mengalami mental breakdown, dan jika dia telah mengalami kecemasan berlebihan. Bukan tidak mungkin jika nanti dia akan mengaku dengan sendirinya.
Seno mulai melihat sedikit kepanikan di wajah Indira. Dan dia sangat menikmatinya.
"Sebenarnya gue masih setengah jalan doang sih menyelidiki ini semua. Dan nanti kalau sampai pelakunya tertangkap, gue bakalan minta ganti rugi yang banyak banget" Seno masih saja mengatakan sesuatu yang membuat Indira semakin kalut.
"Yang pertama kerugian buat princess gue. Meski gue yakin kalau dia nggak akan mau menerima hasilnya nanti, tetap gue perjuangkan".
"Dan yang kedua, kerugian buat perusahaan gue yang harus menangani kasus diluar masalah perusahaan. Jadi, pelakunya bisa mendapatkan sangsi denda yang mungkin nggak akan bisa terbayarkan meski harus bekerja tanpa gaji seumur hidupnya" kata Seno penuh penekanan.
Tentu Indira mulai panik kali ini. Manusia mana yang sudi untuk bekerja tanpa gaji?
Seno mulai tahu jika Indira adalah tipe orang yang suka hidup mewah tanpa isi kepala yang bagus untuk berfikir.
Jadi, dengan permainan kata-kata saja bisa dipastikan jika lama-kelamaan dia pasti akan mengaku dengan sendirinya.
Seperti memainkan kuku jarinya, menggerakkan kakinya, menoleh ke segala arah, dan yang pasti, sebentar lagi dia pasti akan ke toilet.
"Ehm, gue permisi mau ke toilet dulu" benar kan dugaan Seno. Indira pasti akan ke toilet.
"Silahkan, tapi satu bodyguard gue harus ikut lo. Males gue kalau lo tiba-tiba kabur" kata Seno dengan senyuman yang mengejek.
"Terserah" kata Indira.
Diapun pergi ke toilet. Awalnya dia memang akan kabur, tapi dengan mudahnya Seno membaca rencananya.
Kalau sudah begini, Indira tidak bisa kemana-mana kan.
Dia yang sedang didalam toilet hanya bisa menjambak rambutnya kali ini. Dibandingkan Yopi, kenapa perkataan Seno lebih mengena ke dalam hatinya ya?
"Gimana nasib gue kalau harus membayar denda? Masak sih sampai sebesar itu cuma gara-gara berita biasa aja?" gumam Indira yang sedang melihat tampilan wajahnya di depan cermin wastafel.
"Coba gue cari tahu di internet" gumamnya.
Diapun berusaha mencari kebenaran dari semua perkataan Seno di internet.
"Hah denda paling banyak satu milyar?" gumam Indira yang hanya membaca sekilas informasi yang dia dapatkan dari internet.
"Benar nggak sih ini? Pasti gue salah. Nggak mungkin sampai satu milyar" kata Indira masih tak percaya.
Dia juga melihat beberapa kasus hukum yang pernah dilalui oleh perusahaan Widjojo. Dan hasilnya membuktikan jika hampir semuanya menang dengan denda yang fantastis.
Indira benar-benar ketakutan sekarang.
"Bagaimana nasib gue kalau harus mendekam di balik jeruji besi cuma gara-gara hal bodoh yang nggak sengaja gue lakuin?" kesal Indira karena setuju saat Tika akan menyebarkan beritanya malam itu.
"Tika sialan, kenapa jadi runyam gini sih" keluh Indira frustasi.
__ADS_1
Cukup lama di dalam toilet, saat Indira keluarpun masih disambut oleh body guard Seno.
"Masih nungguin juga tuh anak" gumam Indira tidak suka pada wajah tampan Senopati.
"Jadi, bagaimana?" tanya Seno.
"Maksud lo?" tanya Indira.
"Lo mau jujur saja atau gue tetap melanjutkan kasus ini? Dan kalau lo pilih yang kedua, bisa gue pastikan kalau masa depan lo cuma bisa jadi sampah doang" kata Seno.
"Karena dari semua kasus yang tim Widjojo tangani, hampir semuanya menang dan tuntutan kamipun disetujui" ancamnya.
"Lo bisa menghentikan keinginan gue cuma dengan ngomong jujur saja. Kenapa lo lakuin ini sama princess gue, dan meminta maaf sama dia secara offline maupun online" pinta Seno.
"Dan semuanya usai. Lo bebas" kata Seno.
Melihat Indira yang masih bergeming. Seno jadi geregetan sendiri.
"Waktu gue nggak banyak, sepuluh menit lagi kalau lo masih diam saja. Gue pastikan lo masuk penjara, Indira" kata Seno dengan wajah yang terlalu serius kali ini.
Sangat berbeda dengan Seno yang biasanya.
Indira masih berfikir, mengingat masa depannya yang masih panjang. Masak iya harus suram hanya gara-gara berita receh yang dia sebarkan?
Dia semakin takut jika denda yang Seno ancamkan padanya menjadi kenyataan.
"Gue nggak akan bisa shopping lagi dong. Terus nasib gue sebagai model juga bakalan terancam" gumam Indira dalam hatinya.
"Cg. Sudah cukup. Lo bikin gue muak, Indira. Kita selesaikan di jalur hukum saja" kata Seno yang sudah berdiri dan bersiap pergi.
"Tunggu" cegah Indira.
"Oke gue ngaku" akhirnya Seno menerbitkan kembali senyumnya.
"Rekam pak" perintah Seno pada salah satu anak buahnya.
"Jadi, apa yang mau lo sampaikan?" tanya Seno.
"Oke gue ngaku. Malam itu Tika ngasih gue informasi kalau dia dapat berita bagus mengenai Aishyah dan Hendra. Dia dapat foto-foto yang bagus dan terkesan romantis" kata Indira mengawali kisahnya.
"Gue nggak suka sama Aishyah yang bisa jadi pacarnya Richard. Karena gue suka sama Richard sejak pandangan pertama" kata Indira malu-malu.
"Bentar deh, bukannya lo waktu pertama kali bertemu sama Richard itu lagi dekat dengan Falen?" tanya Seno.
"Nggak, gue sama Falen cuma berteman biasa" kata Indira.
"Terus kenapa lo jelek-jelekin princess gue?" tanya Seno.
"Gue cuma ingin Aishyah terlihat buruk dimata semua orang. Dan dengan begitu, Richard pasti akan benci sama dia dan gue bisa deketin dia" dengan menunduk malu, Indira menjawab semua pertanyaan Seno.
Dan tanpa dia ketahui, semua perkataan yang dia sampaikan sudah Seno sebarkan di akun sosial media miliknya sendiri.
"Oh, gue baru tahu sekarang. Jadi lo suka sama Richard? Si es batu itu lo sukai? Nggak salah dengar nih gue?" tanya Seno menegaskan.
"Ya, Richard itu beda. Dia itu idaman semua wanita" kata Indira dengan membayangkan wajah Richard.
"Hii.. Najis. Jadi, lo lakuin semua ini cuma karena lo suka sama Richard? Oh god, gue nggak habis pikir sama kelakuan lo" kata Seno.
"Oke, semua memang hak lo sih. Tapi disini gue cuma mau lo minta maaf sama princess gue, dan hapus semua berita nggak bermutu itu. Dan gue pastiin kalau lo bisa lepas dari segala jerat hukum yang sudah tim Widjojo rencanakan" perintah Seno.
"Ok. Gue pasti akan langsung minta maaf sama Aishyah" kata Indira meski hanya separuh hati.
"Dan gue sudah angkat tangan sama lo, Indira. Gue nggak mau punya asuhan orang yang nggak penting kayak lo. Mulai sekarang, gue bukan manager lo lagi" kata manager Indira.
Indira hanya bisa tertunduk malu. Dia belum sadar kalau ini adalah awal hancurnya karirnya sebagai model yang bahkan belum begitu terkenal.
.
.
.
__ADS_1
.
.