Cantik, Kok Minder?

Cantik, Kok Minder?
Firasat


__ADS_3

Janganlah seperti lilin


yang mengorbankan diri sendiri untuk kepentingan orang lain


Tapi jadilah seperti Matahari


Tetap berdiri tegak meskipun banyak petir dan mendung yang menghalangi sinarnya


Memberi manfaat dan diperlukan oleh orang lain


anonim


"Perasaan bunda jadi tidak enak, kira-kira kenapa ya kita harus datang ke rumah sakit, is?" tanya bunda yang dari tadi gelisah.


"Aish juga nggak tahu bun. Semoga saja tidak ada apa-apa" kata Aish mencoba menguatkan bundanya.


Richard benar-benar mengantar Aish dan bundanya ke rumah sakit, setelah sebelumnya sedikit berselisih paham dengan Rian yang kemarin sudah janji pada Hendra dan Falen untuk menjemput Aish. Jadinya, Rian yang mengiringi mobil Richard dari belakang.


"Bunda lihat-lihat, akhir-akhir ini kalian sedang dekat, ya?" tanya bunda dari kursi belakang.


Aish dan Richard saling melirik dan sedikit menoleh untuk melihat satu sama lainnya. Mereka belum mengutarakan kedekatan mereka pada orang tua masing-masing. Tapi sepertinya bunda menyadari itu semua.


"Ya dekat bun, kan sering ketemu" jawab Aish asal.


"Ya, terserah kamu is. Bunda rasa nak Richard ini anak yang baik. Sepertinya bunda percaya kalau nantinya bunda minta tolong sama kamu untuk jagain Aishyah ya, Richard?" tanya bunda.


"Pasti tante, saya akan jagain Aishyah dengan sepenuh hati" jawab Richard dengan senyum termanisnya saat menoleh sebentar pada Aish yang duduk disampingnya.


"Bunda ini ngomong apa sih. Ngapain juga pakai minta tolong buat jagain Aish, memangnya Aish ini anak TK?" tanya Aish sedikit tidak suka.


"Bukan begitu is, bunda kan jadi tenang kalau kamu ada yang menjaga. Bunda tidak bisa setiap waktu memantau kamu kan, jadi kalau ada orang jahat, pasti ada yang menolong kamu selama bunda tidak ada disamping kamu" kata bunda.


"Bunda nggak usah ngomong yang aneh-aneh ya. Aish nggak suka dengarnya. Memang sih selama ini Aish masih saja merepotkan bunda, tapi Aish janji deh kedepannya akan lebih banyak membantu bunda" kata Aish yang kini sampai menoleh saat mengatakannya hanya untuk melihat ekspresi bundanya.


"Tante tenang saja, nanti saya yang akan menghajar setiap orang jahat yang mau mencelakakan Aishyah" kata Richard di tengah obrolan ibu dan anak itu.


Bunda sedikit terisak mendengar penuturan Richard. "Bunda titip Aish sama kamu ya Richard, tolong jaga dia selama dia jauh dari bunda" kata bunda dengan air mata yang segera di sekanya saat menetes.


"Bunda jangan ngomong yang aneh-aneh lagi deh, Aish nggak akan kemana-mana kok. Aish akan selalu di samping bunda, ya" kata Aish tersenyum meskipun ada sedikit perasaan bersalah dalam hatinya jika mengingat selama ini dia masih manjadi gadis manja untuk bundanya yang sekuat baja.


Bunda kembai tersenyum, "Iya, masih jauh nggak? Bunda sudah sangat penasaran sama berita yang dibawa teman kamu is" kata bunda.


"Aish juga bun, kenapa harus ke rumah sakit segala. Tapi ini sudah dekat kok bun, sebentar lagi sampai" kata Aish.


Tak begitu lama, mobil yang Aish tumpangi sudah sampai di parkiran basemen rumah sakit. Bunda terlihat sudah sangat tidak sabaran untuk mengetahui kejelasan mengapa mereka harus kesana.


Aish dan bunda sedang menunggu Richard yang mengambil sesuatu di mobilnya saat Rian dan beberapa anak buahnya menghampiri mereka.


"Bang Ruan bisa kasih tahu kita duluan nggak, kenapa harus sampai ke rumah sakit segala?" tanya Aish.


"Sorry is, gue nggak punya hak buat cerita masalah ini dulu sama lo sebelum semuanya kumpul. Dan sepertinya sekarang memang kita sudah ditungguin di dalam. Teman lo si Falen sudah telponin gue daritadi" kata bang Rian.


"Bentar bang, nunggu Richard sebentar ya. Nah tuh orangnya sudah kelihatan" kata Aish yang arah pandangnya diikuti oleh yang lain.


"Sorry, lama. Ayo sekarang masuk" kata Richard yang sudah berada diantara rombongan sore itu.


Dengan hati yang sangat penasaran, Aish dan bunda digiring untuk menjenguk kamar jenazah sore itu. Sejuta pertanyaan hinggap di hati Aishyah, untuk apa mereka menuju ruang jenazah? Tapi sebisa mungkin Aish memendam rasa penasarannya, karena pasti sebentar lagi dia akan tahu juga.

__ADS_1


Aish melihat beberapa orang sedang berkumpul si depan ruang jenazah, ada Falen, Hendra, seorang dokter wanita yang tidak dikenalnya, dan ada juga bang Fian. Sudah lama Aish tak berjumpa dengan kembaran dari Rian yang seorang anggota kepolisian itu, juga ada dua polisi yang Aish yakini datang bersama bang Fian.


"Assalamualaikum semuanya" sapa Aish dengan senyuman saat mereka sudah berdekatan.


"Waalaikumsalam" jawab mereka kompak.


"Ini sebenarnya ada apa sih, kok bang Fian ada disini juga?" tanya Aish yang memandang sekilas pada semua orang.


Hendra melihat Aish dengan tatapan sendu, dia yakin, pasti sebentar lagi senyum ceria di wajah sahabat tercantiknya itu akan segera hilang.


Sedangkan Falen yang memang dari awal yang paling menyayangi Aish, sekarang dia bahkan sudah duduk dengan mata yang berkaca-kaca.


"Kamu sama bunda duduk dulu ya, nanti saya jelaskan sama kamu" kata Fian membimbing Aish dan bundanya untuk duduk di samping Falen.


"Iya, Aish kan sudah duduk bang Fian. Sekarang abang cepat kasih tahu sama kita dong, ada apa sebenarnya?" tanya Aish.


"Oh iya, kenalkan ini dokter Retno. Dia ini dokter ahli forensik di rumah sakit Persada ini" kata Fian mengenalkan Retno pada Aish.


"Salam kenal dokter, saya Aishyah" kata Aish menyambut uluran tangan Retno.


"Saya Retno, senang berkenalan dengan kamu Aishyah" kata Retno dengan senyum manisnya.


"Baiklah, sekarang saya akan mengatakan sebuah informasi pada kamu Aishyah dan bunda. Semoga kamu akan bisa bersikap wajar setelah mendengarnya" kata Fian sambil mengeluarkan sebuah amplop hasil tes dna yang kemarin mereka dapatkan.


"Beberapa minggu yang lalu, kami mendapat laporan mengenai dugaan adanya mayat yang terkubur di suatu tempat dari saudara Hendra. Dan setelah kami telusuri, ternyata memang ditemukan mayat yang telah terkubur di suatu tempat dan diyakini telah beberapa minggu mayat tersebut dikuburkan".


"Karena saat kami menemukannya, mayat tersebut sudah dalam keadaan membusuk dan juga mengalami luka bakar di sekujur tubuh".


"Berdasarkan informasi lainnya, sebelumnya kami benar-benar meminta maaf pada kamu Aishyah, karena tanpa sepengetahuan darimu kami telah dengan sengaja melakukan sebuah tes DNA antara kamu dan mayat tersebut. Dan kami sudah mendapatkan hasil akuratnya". kata Fian, Aish merasa sangat terkejut. Mayat siapa yang mereka maksud? Tapi Aish masih diam dan berusaha mendengarkan penjelasan Fian hingga akhir.


"Dari hasil tes DNA menunjukkan bahwa penemuan sosok mayat wanita muda ini diyakini bernama Khalifah Khadijah, karena penelitian anggota tubuh berupa kuku yang kami dapatkan dari Aishyah Khumaira menunjukkan bahwa hasilnya >99,9% memiliki kesamaan yang meyakinkan kami bahwa kalian saudara sekandung" kata Fian mengakhiri informasinya.


Aish tidak bisa berkata-kata, dia masih mencerna ucapan Fian dengan seksama. Sementara bunda sudah menangis histeris, wanita itu tidak menyangka jika anak gadisnya yang sangat cantik itu akan meninggal dengan cara seperti ini.


Falen memeluk Aish dari samping, dia bahkan sudah menitikkan air matanya sebelum Aish tersadar jika kakaknya sudah tiada. Aish membiarkan saja Falen mendekapnya. Dia bahkan masih mematung, Aish sangat syok.


"Kak Alif sudah nggak ada princess" kata Hendra yang kini duduk berjongkok di hadapan Aish, memegang kedua tangan Aish yang sudah sangat dingin.


Richard sebenarnya sudah sangat ingin menghajar Falen yang sudah seenaknya sendiri mendekap kekasihnya didepan kedua matanya. Tapi dia berusaha mengontrol emosinya, karena sekarang dia sedang memeluk sang calon mertua. Membiarkan wanita paruh baya itu menangis menumpahkan segala kesedihannya. Richard mengelus pundak bunda yang sedang dia rangkul.


"Kak Alif ... Kenapa jadi seperti ini kak... Aish lebih senang lihat kak Alif memarahi Aish daripada harus kayak gini Fal...." kata Aish yang kini sudah mulai menangis.


Dua wanita berbeda usia itu sedang menangis bersama, sementara yang lain masih terdiam. Menunggu kesedihan sedikit berkurang, agar bisa melanjutkan rencana ke depannya seperti apa.


Suara tangis bersahutan antara Aish dan bunda, sementara Falen sesekali mengusap air mata yang juga jatuh membasahi pipinya.


Richard memegang tangan bunda, juga membiarkan wanita itu bersandar di bahunya untuk mengurai kesedihan. Saat menunduk, Richard melihat cairan merah berjatuhan ke tangannya yang berada dalam pangkuan bunda.


"Tante mimisan?" tanya Richard yang membuat semua menoleh ke arah bunda.


"Ya Allah bun, kenapa bisa mimisan? Bunda pusing?" tanya Aish yang kini sangat takut melihat keadaan bundanya.


Bunda menatap Aishyah, anak gadis satu-satunya yang kini dia punya. Anak itu masih menangisi sang kakak yang sudah berpulang.


Air mata bunda semakin menetes, kini kepalanya sakit lagi, pandangan matanya berputar-putar.


"Bunda kenapa? Jangan bikin Aish takut bun. Apa yang bunda rasakan?" tanya Aish, kini dia berlutut di hadapan bunda, memegang tangan bunda yang juga digenggam oleh Richard.

__ADS_1


"Kepala bunda sakit is" akhirnya bunda mengutarakan keluhan yang selama ini telah dia simpan sendiri.


"Sebaiknya ibu segera diperiksa, biar saya panggilkan dokter yang bersangkutan ya" kata dokter Retno setengah berlari mencari dokter umum.


"Kita temui dokternya saja ya bun, mimisannya semakin banyak ini" kata Aish dengan sesenggukan karena berbicara sambil menangis.


Richard dan Aish memapah bunda, mereka ingin mencari pertolongan secepatnya. Masih beberapa langkah, bunda sudah tumbang. Beliau kini tak sadarkan diri.


"Bundaa... hiks .. hiks...hiks" teriak Aish membuat semua yang ada di sana ikut panik.


Hendra berlari ke luar ruangan untuk mencari brankar. Falen juga berlari untuk mencari dokter. Rian memerintah anak buahnya mencari suster.


Richard membaringkan bunda di bangku, dengan kepala berada di pangkuan Aish. Tangisan Aish semakin menjadi. Kini Richard berada disampingnya untuk menenangkan.


"Tenang Aishyah, semoga semua baik-baik saja ya" kata Richard mengelus sayang pada Aish.


Hendra datang bersama beberapa suster dengan brankar yang didorong dengan tergesa. Dia ingin segera menolong bunda.


"Tolong dipindahkan ke atas brankar ya" kata seorang suster.


Semua yang ada disana saling membantu. Bunda segera dilarikan ke UGD. Ditengah perjalanan, bunda muntah darah. Membuat Aish semakin menangis histeris. Mimisannya juga masih mengalir.


Sampai di UGD, ternyata dokter Siras yang sedang bertugas."Ada apa Aishyah?" tanya Siras panik, mendapati Aishyah yang menangis.


"Tolong bunda Aish ya bang dokter, jangan biarkan apapun terjadi sama bunda" kata Aish memegang tangan Siras untuk memohon.


"Kamu tenang dulu, tunggu di luar ya. Biar bunda kamu saya periksa dulu" kata Siras yang ingin membawa masuk bunda.


"Tapi saya mau menemani bunda. Biarkan saya ikut masuk bang" kata Aish.


"Jangan, biarkan dokter memeriksa dengan tenang. Lo disini saja sama gue" kata Richard yang memeluk Aishyah karena bersikeras ingin ikut bundanya.


Siras sedikit cemburu saat melihat Richard memeluk Aishyah. Tapi sekarang dia harus memeriksa keadaan bunda Aish terlebih dahulu, jadi dia segera membawa bunda masuk saat Aish berada dalam dekapan Richard.


Pintu ruangan sudah tertutup, Aish menangis di dada Richard. Baju keduanya sudah penuh dengan noda darah. Richard membiarkan kekasihnya menangis sejadi-jadinya.


"Tensinya tinggi dok" kata suster yang memeriksa bunda.


"Mimisannya masih ada, kesadarannya semakin menurun dok" kata suster lainnya.


Siras berusaha sebisa mungkin untuk menangani bunda. Dia memasang beberapa alat di tubuh bunda untuk menopang kinerja organ-organ vital di dalam tubuhnya.


Cukup lama Aish menunggu diluar ruangan. Dia masih berada dalam dekapan Richard. Duduk di bangku ruang tunggu, sementara di dalam dokter Siras sedang berjibaku untuk menyelamatkan nyawa bunda.


Falen dan Hendra mondar-mandir di depan pintu, Ruan dan Fian terlihat tenang meskipun sebenarnya juga khawatir. Mereka duduk bersisian.


Dua jam berlalu, pintu ruangan terbuka. Siras keluar dengan wajah murung.


"Bagaimana keadaan bunda bang dokter? Kenapa lama sekali? Bunda baik-baik saja kan bang dokter?" tanya Aish mengguncang-guncangkan lengan Siras.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2