Cantik, Kok Minder?

Cantik, Kok Minder?
sadar


__ADS_3

Aish masih belum sadar juga sejak kejadian di malam Natal itu. Sudah dua hari gadis itu masih betah dengan tidurnya. Berbagai upaya sudah dilakukan, tapi rupanya dia masih enggan membuka mata.


Semalam Hendra dan Falen menginap di rumah sakit, mereka menemani bunda menjaga Aish. Sementara Seno tidak bisa menemani sahabatnya karena memang sudah mulai syuting film barunya.


Dia harus profesional, jadwal syuting sudah tersusun rapi. Teman-temannya menyadari kesibukan baru Seno. Tapi Seno selalu menyempatkan diri untuk datang meskipun hanya sebentar untuk numpang mandi dan makan siang, dia juga selalu melakukan panggilan video di sela break syutingnya.


"Bagaimana keadaannya?" tanya Seno saat melakukan video call pada kedua sahabatnya.


"Masih betah dalam tidurnya. Kita nunggu keajaiban saja, semoga dia bisa cepat bangun" kata Falen.


"Bunda gimana?" tanya Seno lagi.


"Baik, kita menemani bunda dengan sangat baik" kata Falen, memperlihatkan bunda yang sedang duduk di seberang ranjang Aish, bunda melambaikan tangannya pada Seno dengan senyum terpaksa.


"Bunda yang sabar ya, semoga Aish bisa cepat kembali" kata Seno.


"Aamiin, kamu juga semoga lancar ya nak. Jaga kesehatan kamu" kata bunda.


"Siap boss. Yasudah, Seno balik ke lokasi ya bunda dan teman-teman. Assalamualaikum" kata Seno.


"Waalaikumsalam" jawab ketiganya kompak sambil melambaikan tangan.


Ponsel Falen berdering lagi setelah menutup video callnya dengan Seno. Rupanya sang mama yang menyuruhnya pulang karena meminta diantar ke tempat papanya untuk menyerahkan dokumen.


Pria bule itupun pergi meskipun hatinya masih ingin disana. Bunda mempersilahkan jika Falen akan datang lagi setelah urusan dengan papanya selesai. Dan Falen mengerti, dia pergi meninggalkan bunda bersama Hendra untuk menunggui Aishyah yang masih belum mau bangun.


***********


Sedangkan Aishyah yang merasa dirinya sedang tenggelam, masih saja belum bisa mengendalikan dirinya.


Air sungai yang jernih lama-kelamaan menjadi keruh berwarna coklat, persis seperti air bah saat banjir bandang.


"Ya Allah, jika ini akhir perjalananku, aku mohon maafkan segala kesalahanku, berikan keikhlasan di hati orang yang hamba tinggalkan. Jika kau masih menghendaki hambamu ini melanjutkan perjalanan hamba dan meraih segala cita-cita hamba, maka hamba mohon selamatkan hamba dengan caramu ya Allah. Kaulah tuhan yang mampu mendengar suara hati tiap pendoa" Aish berdoa dalam hati di tengah perjuangan hidup dan matinya.


Pergerakannya melambat, sepertinya air menjadi lebih kental saja, atau memang gadis itu sudah kelelahan?


Aishyah mencoba membuka matanya, gelap. Dia mencoba meraih permukaan, dan melihat ke sekelilingnya. Tidak mungkin! Air sungai yang jernih berubah menjadi linangan darah.


Sejauh mata memandang, sungai itu menjadi aliran darah yang mengerikan. Dengan bau anyir dan amis yang sangat menusuk hidung.


Perut Aish kembali terasa sangat mual, kepalanya berdenyut nyeri, pandangannya jangan ditanya lagi, semua menjadi gelap.


**********


Tubuh Aish bergetar hebat diatas ranjang rumah sakit. Bunyi gemeretak besi di ranjang yang bergetar akibat tubuh Aish yang tak terkendali terdengar berdenyit keras di malam sepi khas rumah sakit.


Hendra dan bunda panik melihat kondisi Aish saat ini. Bunda memegang kedua lengan Aish, tangisannya sudah sangat keras sambil memanggil nama putrinya.


"Sebentar saya carikan dokter ya bunda" kata Hendra panik, bunda hanya mengangguk sambil terus melafalkan doa ditelinga Aish, air matanya tumpah.


Hendra berlari, dia mencari dokter Siras. Semoga pria itu masih ada dalam jadwal tugasnya. Langkahnya terhenti melihat dokter Siras yang baru saja keluar dari UGD.


"Dokter, tunggu dokter" kata Hendra saat berhasil menghampiri sang dokter.


"Ada apa Hendra?" tanya dokter itu.

__ADS_1


"Aish dok, tubuhnya bergetar hebat, tapi masih tertidur" kata Hendra cemas.


"Gawat" kata dokter Siras berlari menuju ruang rawat Aishyah.


Sampai di dalam ruangan, bunda masih memegangi kedua bahu Aish yang bergetar. Hijab yang Aish kenakan sudah tidak karuan, bunda menarik paksa kain penutup kepala itu.


"Ya Allah nak ... kamu kenapa?" tanya bunda pada Aish yang masih terpejam.


"Permisi sebentar bu, saya periksa dulu Aishyahnya" kata dokter Siras.


"Silahkan dokter" kata bunda mundur beberapa langkah, Hendra berdiri disamping bunda, menangkup kedua bahu bunda dari samping. Menenangkan bunda yang terus terisak melihat kondisi putrinya.


Getaran tubuh Aishyah semakin parah, keringatnya mengalir deras dari semua pori-porinya, sampai bajunyapun basah.


******


Di pikirannya, Aish merasa semua air telah berubah menjadi darah. Arusnya semakin deras, tubuhnya terombang-ambing aliran sungai yang kian deras.


Kepalanya terasa berputar-putar, perutnya sudah tidak bisa menahan lagi. Dia sudah sangat ingin muntah.


"Huweekk.... Huweekkkk"


******


Akhirnya Aish terjaga, dia langsung terduduk dan memuntahkan semua isi dalam perutnya.


Setelah tuntas dengan urusan muntahannya, Aish duduk dengan peluh membasahi hampir seluruh bajunya, juga rambutnya.


"Alhamdulillah kamu sudah bangun Aishyah" kata dokter Siras. Pria itu menekan bel khusus untuk memanggil suster, selanjutnya dia melipat selimut yang terkena muntahan Aishyah dan menaruhnya dikolong ranjang.


"Bagaimana perasaan kamu Aishyah?" tanya dokter Siras.


"Lemas bang dokter, haus" jawab Aish.


"Ini minum dulu" kata Hendra dengan sigap menyiapkan air mineral untuk Aishyah.


"Makasih Hen" kata Aish, lalu meneguk air mineral dari sedotan.


"Bunda..." kata Aish sambil memeluk bundanya, dia terisak.


"Kenapa nangis nak?" tanya bunda.


"Bunda jangan tinggalin Aish ya, Aish nggak punya siapa-siapa lagi selain bunda.. Hiks... hiks" Aish menangis dalam pelukan bundanya.


Siras dan Hendra terdiam melihat interaksi antara ibu dan anak itu.


"Memangnya bunda mau kemana lagi? Kamu jangan aneh-aneh deh" kata bunda.


"Ayah bilang kalau bunda mau menemani ayah di rumah barunya, Aish nggak dibolehin ikut sama kalian. Ayah kok gitu sih bun?" tanya Aish masih dengan tangisan.


"Kamu mungkin cuma mimpi nak. Sudah jangan dipikirkan lagi ya, sekarang biar dokter periksa kamu dulu ya" kata bunda, Aish hanya menganggukkan kepalanya.


"Silahkan dokter kalau mau periksa anak saya lagi" kata bunda.


"Iya bu, sebentar tunggu suster membawa perlengkapan yang lainnya" kata Siras.

__ADS_1


"Sekarang bagaimana perasaan kamu Aishyah?"tanya Siras.


"Abang dokter kenapa tanya perasaan Aish terus sih? Aish masih pusing bang, lemes banget" kata Aish.


Ponsel Hendra berdering, panggilan video dari Seno rupanya. Daritadi Hendra diam saja karena sibuk menghubungi Falen dan Seno bahwa princess mereka sudah sadar.


"Hai Senopati, lo lagi break ya?" tanya Hendra


"Gue baru saja nyampek rumah, sekarang gimana keadaan Aish?" tanya Seno.


"Assalamualaikum semua" kata Falen.


"Gue seneng banget denger princess gue sudah bangun. Mana nih si princess? Enak banget dia tidurnya ya, kita yang nungguin dibikin dag dig dug aja nih" kata Falen


Hendra mendekat ke arah Aishyah, memperlihatkan keadaan Aishyah yang masih dalam dekapan bundanya.


"Lo kelihatan lemas banget princess? Lo lapar ya?" tanya Seno.


"Iya, gue pengen makan lo tahu?" kata Aish.


"Loh, kok lo nangis sih princess? Hendra jahat ya sama lo?" tanya Falen.


"Iya, dia nyubit gue biar gue bangun katanya" jawab Aish. Hendra hanya mendecak mendengar penuturan Aishyah.


"Terimakasih doanya ya nak, berkat doa kalian juga Aishyah jadi mau bangun" kata bunda.


"Iya bunda, sama-sama. Kita seneng banget lihat Aishyah sudah sadar" kata Falen.


Dokter Siras melihat kedekatan mereka, ternyata Aishyah dikelilingi orang yang baik.


"Bentar lagi gue kesana deh, gue kangen banget sama lo princess" kata Seno.


"Jangan, lo kan baru pulang, masak mau pergi lagi sih. Nanti kecapekan" kata Aish.


"Tapi gue kangen sama lo princess, pokoknya gue mau kesana, mau nginep deh. Biar nanti gue minta anterin supir gue. Besok kita berangkat sekolah bareng ya teman-teman" kata Seno.


"Gue juga mau kesana deh, lo mau dibawain apa princess?"tanya Falen.


"Nggak usah bawa apa-apa. Gue seneng kalau kalian peduli sama gue" kata Aishyah.


"Oke deh, lo tungguin ya, kita siap-siap dulu. Assalamualaikum" kata Falen.


"Waalaikumsalam" jawab Aishyah.


"Mereka mau datang" kata Hendra setelah mematikan ponselnya.


"Makasih ya Hen, lo selalu ada buat gue" kata Aishyah.


"Kita kan saudara princess" kata Hendra tersenyum.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2