Cantik, Kok Minder?

Cantik, Kok Minder?
Brian vs Richard


__ADS_3

"Aaarrghhhhhh.... Sialaaann...." teriak Richard di parkiran cafe.


Aish benar-benar meninggalkan Richard tanpa kata.


Menggunakan motor birunya, Aish memutuskan untuk pergi saja meski jam kerjanya belum habis.


Richard masih berdiri dengan tangan yang menjambak sebagian rambutnya. Dia merasa sangat frustasi.


"Oke, kalau ini memang mau lo, Ra" kata Richard yang berjalan menuju mobilnya.


Secepat kilat dia mengendarai mobil itu menuju arena balap. Dia sudah tidak sabar untuk menguji keahlian yang sudah lama terpendam.


"Hei, bro. Lo beneran datang rupanya. Sendirian doang nih?" ledek Acing.


"Bacot. Buruan mulai" kata Richard yang sudah tidak sabar.


"Siap, bro. Semuanya sudah kumpul nih. Tinggal nunggu si cantik" kata Acing.


Si cantik adalah pembawa bendera yang menandakan jika balapan dimulai.


Richard memasuki mobilnya, sedikit bergerak menuju garis start. Beberapa mobil berjejer di sebelah mobil Richard.


Suara bising knalpot dan teriakan penonton membuat semangat semakin membara. Richard sangat menyukai ketegangan semacam ini.


Setelah si cantik mengangkat benderanya, banyak mobil melaju kencang dan berlomba menuju garis finish secepatnya.


Cukup dua kali putaran saja, dan Richard malam ini kembali menjadi juara.


"Richard, Richard, Richard" teriak penonton yang melihat Richard keluar dari mobilnya.


Dia bersender di badan mobil dan segera beberapa wanita cantik dengan pakaian yang sangat seksi datang menggodanya.


Awalnya Richard happy saja, tapi tiba-tiba dia teringat Aish yang melotot dan mencubitnya dengan sangat keras saat melakukan kesalahan.


"Ugghh!" Serasa cubitan itu ada di pinggangnya. Richard memicing menahan sakit hatinya.


"Pergi kalian" kata Richard mengusir wanita-wanita itu.


"Dasar homo" ejek salah satu dari mereka.


Tentu segera mendapat tamparan keras di wajahnya. Richard sedang emosi malam ini, tak boleh ada seorangpun yang mengganggunya.


"Sudah, pergi saja lo semua" kata Acing melerai perbuatan Richard.


"Lo lagi bermasalah ya bro?" tanya Acing.


"Bukan urusan lo" jawab Richard yang sudah menghisap uap nikotin dari sebatang rokok.


"Hahaha, sialan lo bro. Tapi nggak apa-apa. Berhubung lo yang jadi pemenang malam ini, gue terima saja perlakuan lo ke gue" kata Acing yang selalu dikawal oleh dua orang berpakaian formal di belakangnya.


"Jangan lupa dua minggu lagi lo harus datang lagi kesini buat pertandingan finalnya. Hadiahnya mantep banget bro" kata Acing menaikkan kedua jempolnya.


"Apa hadiahnya?" tanya Richard yang masih memainkan uap nikotin ke udara.


"Voucher VVIP di club XXX dan seorang gadis perawan tingting siap dinikmati" kata Acing dengan kerlingan mata nakalnya.


Richard sedikit tertarik dengan voucher clubnya, tapi untuk gadis perawannya, dia masih berpikir ulang.


"Oke, dua minggu lagi gue pasti datang" kata Richard.


★★★★★


Dua hari ini Aish sengaja tak masuk kerja, rencananya dia akan resign saja agar tak lagi bertemu dengan Richard.


Sebenarnya Richard amat sangat merindukan suara cerewet Aish. Tapi dia bisa apa?


Untuk menelponnya saja dia tidak punya banyak keberanian karena kesalahpahaman di malam itu.


"Jadi, karena itu Richard nuduh gue yang enggak-enggak ya princess?" tanya Seno.


Sejak pagi tadi, punggawa tak meninggalkan princessnya barang sebentar saja. Mereka sedang asyik mengobrol untuk mendengarkan curhatan dari princess.


"Menurut gue sih mendingan lo pastiin dulu sama ortunya Richard deh princess. Mereka tuh kelihatan banget kalau suka sama lo. Nggak mungkin deh kalau mereka nggak setuju sama hubungan kalian" kata Falen yang lebih berpengalaman soal percintaan.


"Kuping gue masih sehat waktu mendengar obrolan mereka, Fal. Mereka nggak mau Richard kayak Mas Willy" kata Aish sambil menyedot es boba milik Seno yang menurut Aish lebih enak.


"Tapi kan lo cuma dengernya sepatah doang, princess. Siapa tahu kelanjutan dari obrolan itu masih ada yang belum lo dengar" kata Falen.


Mereka berempat sedang duduk lesehan di teras rumah Aish. Mengenang kegiatan semasa dulu saat mereka masih satu sekolah dan ada bunda yang selalu menyiapkan banyak camilan.


Bedanya kali ini, mereka sudah beranjak dewasa. Tanpa tugas rumah yang harus diselesaikan.


"Itu punya gue, princess" kata Seno yang tidak terima minumannya di sikat Aish.


"Enakan punya lo, Seno" kata Aish mengembalikan cup boba milik Seno.


"Punya lo rasa apa sih?" tanya Falen.


"Rasa Taro, kemanisan kalau menurut gue" kata Aish yang biasanya membeli rasa coklat.


"Nih tukeran sama punya gue aja" kata Falen yang tadi membeli rasa capuccino.


"Boleh deh, enak juga" kata Aish.


Hendra hanya menjadi pendengar setia. Dari dulu memang dia sangat irit bicara.


"Jadi gimana? Lo beneran ikhlas putus sama Richard?" tanya Hendra, akhirnya buka suara.


"Nggak ikhlas sih sebenarnya, tapi mau gimana lagi? Nggak disetujui, Hen" kata Aish.


Seno menepuk pundak Aish, berusaha menghiburnya.


"Yaudah, besok gue anterin ke cafenya Richard buat nyerahin surat resign lo ya" kata Falen.

__ADS_1


Aish hanya mengangguk pasrah. Berharap keputusannya kali ini sudah benar.


Sejak kejadian malam itu, Aish berfikir untuk keluar saja dari pekerjaannya. Dan dia akan berusaha mencari pekerjaan di tempat lain.


"Pokoknya kalau gue berangkat akhir bulan nanti, lo sudah harus jadi Aishyah yang gue kenal ya princess" kata Falen.


"Aishyah yang ceria, nggak mudah putus asa, dan harus kembali jadi Aish yang cantik nggak ada lebamnya kayak gitu" kata Falen.


Para punggawanya tertawa kejam setelah mendengar cerita Aishyah melawan preman yang ternyata anak buah Rian.


Mereka bertiga tak ada hentinya memanjakan sang princess yang sedang patah hati. Memenuhi segala keinginannya yang ternyata tak pernah meminta macam-macam.


"Kalau lo sudah di Amerika, jangan lupain kita ya Fal" kata Aish sedikit bersedih.


"Nggak akan, princess. Gue janji setiap hari selama belum ada kesibukan gue akan video call sama kalian" kata Falen yang hanya bisa berjanji karena belum merasakan padatnya jadwal kuliah.


Tin.


Suara klakson dari mobil Yopi menyapa Aish dan teman-temannya. Aish yakin kalau Yopi akan pergi ke cafe.


Mereka berempat melambaikan tangan, menandakan jika mereka juga menyapa Yopi.


Dan pemandangan menyesakkan yang Yopi lihat di rooftop cafe sore ini adalah Richard dengan banyak botol alkohol dan bungkus rokok.


"Kenapa nggak lo larang sih, Ren" kata Yopi.


"Gue bisa apa, Yop. Bisa mati di tangannya kalau gue ngelarang dia" tunjuk Reno pada Richard yang sudah teler.


Dari kemarin Richard hanya menghabiskan waktu dengan bersantai dan menikmati alkohol.


"Apa kita perlu kasih tahu ibu negara ya? Gue kasihan ngelihat Richard yang kayak gini" saran Yopi.


Mereka berdua sudah tahu cerita tentang Aish yang tiba-tiba memutuskan hubungannya dengan Richard.


Richard yang tidak pernah mempersiapkan diri untuk berpisah dari Aish tentu sangat syok dan hilang kendali atas kewarasannya.


"Ortunya belum balik juga ya?" tanya Reno.


"Belum, minggu depan katanya" jawab Yopi.


"Kok lo bisa tahu, Yop?" tanya Reno sedikit tak percaya.


"Gue ke kantornya, bahkan gue tanya langsung sama sekretarisnya" kata Yopi.


"Bagus deh kalau lo gercep" kata Reno.


★★★★★


"Yakin siap?" tanya Falen sekali lagi.


Dia sedang mengantarkan Aish ke cafe Destinasi, Aish akan menyerahkan surat resign nya secara langsung pada Richard.


"Siap, Bismillah" kata Aish memantapkan hatinya.


Richard baru turun dari roof top siang ini, penampilannya sungguh acak-acakan. Dan tebak siapa yang dia temui.


Gadis yang tiga hari yang lalu tidak sengaja tertabrak olehnya di kampus.


Dia tidak tahu kalau cafe itu milik Richard, dan saat melihat Richard turun, gadis itu menyapanya lagi.


Mereka terlihat akrab di meja yang ada di dekat panggung.


"Richard, kita ada perlu sama lo" kata Falen mengganggu interaksi dua orang yang baru mengenal itu.


Richard menoleh, mengamati Aishyah yang membawa sebuah amplop kecil berwarna coklat dan Falen yang datang dengan pakaian santai sedang digandeng oleh Aish.


Hati Richard berdegub kencang, masih terasa getarannya saat melihat Aish yang hanya menundukkan kepalanya.


Tapi dia tidak suka saat tangan Aish menggamit erat lengan Falen.


Meski Richard tahu jika tidak mudah bagi Aish untuk berdiri di hadapannya, tapi sungguh Richard masih tak rela jika harus berpisah darinya.


"Ada apa?" tanya Richard sok cuek dan tak memperdulikan Aish.


Hati Richard serasa tercubit saat saling bertatapan dengan Aish yang salah satu matanya masih lebam meski sudah agak pudar.


Dan lagi, matanya berkaca-kaca. Membuat Richard semakin merasa lemas tak berdaya. Dia jadi ingin menangis juga.


"Bentar ya, Len. Gue tinggal dulu, lo have fun ya" kata Richard berpamitan pada temannya.


Aish menatap sebentar pada gadis itu, dan dia menelisik lagi penampilannya sendiri.


Gadis itu hanya tersenyum sambil mengangkat kedua jempolnya.


"Kayak mirip gue" gumam Aish yang ikut melangkah saat Falen menyeretnya.


Mereka bertiga duduk di meja lain, sedikit jauh dari tempat Helen.


"Ada apa?" taya Richard singkat, mode diamnya mendominasi lagi.


Aish menyerahkan surat resign nya, "Gue ijin keluar dari pekerjaan gue disini".


Sangat terlihat jika Richard terkejut, tapi dia tetap diam saja.


"Makasih sudah banyak bantuin gue selama ini. Gue harap di masa depan kita bisa berteman dengan baik" kata Aish yang sekuat tenaga menahan air matanya agar tidak tumpah.


Richard masih memandang penuh pada Aishyah, dia masih tidak percaya jika Aish mengambil keputusan seperti ini.


Richard langsung pergi setelah menerima surat di dalam amplop coklat dari tangan Aish. Dan kembali menuju meja sebelumnya, berinteraksi dengan teman wanitanya lagi.


"Lo nggak apa-apa kan princess?" tanya Falen yang kini merangkul pundak Aish.


Sedikit air matanya turun, dan segera di sekanya agar tak sampai meleleh.

__ADS_1


Falen dan Aish sama-sama menoleh saat terdengar Richard bernyanyi diatas panggung.


Tapi tunggu, apa ini?


Dia membawa serta gadis yang tadi ditemuinya.


Suara Richard terdengar merdu menyanyikan lagu ciptaannya sendiri.


Sebenarnya lagu itu dia ciptakan untuk Aish sejak beberapa bulan yang lalu. Bahkan sebelum ujian nasional.


Dan kini, Richard membawakan itu untuk gadis lainnya.


Kaulah purnama dalam gelapku


penerang malam-malamku


Kaulah bintang dalam sepiku


pemberi keceriaan dalam hampaku


Entah bagaimana aku tanpamu


tak pernah aku mau memikirkan itu


bahkan semesta alan aku hadapi


demi bisa meyakini


bahwa hanya kau dihati


"Gue sudah berusaha kuat, Fal" kata Aish mulai menangis.


"Tapi kok rasanya sakit, ya?" air mata Aish sudah turun dengan derasnya.


Aish menyembunyikan wajahnya di dada Falen. Menumpahkan semua kesedihannya disana.


Bukan lirik dari lagunya yang membuat Aish bersedih, tapi adanya gadis lain yang menemani Richard disanalah yang membuat hati Aish terasa terbakar.


Rupanya dia masih merasa cemburu. Tak bisa dibohongi jika Aish masih sangat mencintai Richard, begitupun sebaliknya.


Meski Richard ditemani Helen diatas panggung, tapi matanya terus tertuju pada Aish yang menumpahkan tangisannya di dada Falen.


Dan sama seperti Aish, Richard pun merasa cemburu karena Aish berada dalam dekapan Falen.


Richard dan Helen saling melempar senyum setelah lagu itu berakhir. Suasana cafe yang lumayan ramai membuat suara tepuk tangan terdengar kencang.


Falen berdiri dari tempatnya, menghampiri Richard yang mengantarkan Helen duduk.


"Gue sudah bilang sama lo, jangan sakiti princess gue. Seenggaknya, kalau lo mau beradegan mesra seperti itu, tunggulah princess keluar dari sini" kata Falen, sementara Aish masih sibuk merapikan penampilannya setelah menangis.


"Bukan urusan lo. Lagian dia sendiri yang ingin hubungan ini berakhir. Jadi, jangan salahin gue" kata Richard.


Falen mencengkeram krah baju Richard, tentu Richard tidak terima diperlakukan seperti ini.


"Lo mau nyoba kekalahan lagi, Brian?" tanya Richard dengan seringainya yang selalu menjengkelkan di mata Falen.


Richard membalikkan keadaan, menarik krah baju Falen dan membawanya ke rooftop untuk duel disana.


"Richard, berhenti. Jangan perlakukan Falen seperti ini dong" kata Aish yang berusaha melerai perseteruan mereka.


Tapi Richard tak mengindahkan rengekan Aish kali ini.


Sudah lama memang Richard ingin menghajar Falen yang selalu berbuat seenaknya pada Aish saat dulu mereka masih menjadi sepasang kekasih.


Richard berhenti di rooftop, mereka bertiga berdiri saling menatap. Aish segera menggandeng tangan Falen untuk mengajaknya pergi.


"Jangan jadi pengecut Brian. Lo selalu sembunyi di ketiak wanita" ejek Richard yang membuat emosi Falen naik.


Falen pun punya harga diri, mendengar kata-kata Richard tentu membuatnya marah.


Setelah berbalik, Falen langsung saja memukul wajah Richard.


Bugh!


Satu pukulan mendarat di wajah tampan Richard yang belum siap menerima serangan.


"Oke, kita mulai sekarang"


kata Richard yang sudah duel dengan Falen.


"Berhenti, please. Kalian berhenti dong" teriak Aish yang tak didengarkan mereka.


Tak tahu lagi bagaimana cara melerainya, Aish mengedarkan pandangan untuk mencari cara menghentikan mereka berdua.


Aish bingung karena banyak sekali botol minuman yang tak dia mengerti apa isi di dalamnya.


Dia memungut satu yang sudah kosong, menggenggamnya dengan penuh pertimbangan.


Aish melihat Falen sudah tersudut. Memang untuk urusan bela diri, Richard masih menempati urutan pertama diantara mereka semua.


Prang!!


Aish memecahkan ujung botol minuman yang dipungutnya tadi.


Suara pecahan kaca membuat Richard dan Falen sedikit menoleh dan memandang pada Aish.


Menunggu apa yang akan Aish sampaikan.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2