
"Sudah nggak betah ya kakak tinggal di apartemen?" tanya Falen, Hendra masih berdiri di belakangnya.
"Jangan ngomong gitu dong nak sama kakak kamu, mama senang loh kalau keluarga kita ngumpul kayak gini, iya kan pi?" tanya mama Falen mencari dukungan sang suami.
"Yeah, of course. Kalian darimana saja jam segini baru pulang? Tidak sekalian saja menginap di sekolah?" tanya papinya.
"Baru pulang dari tempatnya Aishyah, kita habis latihan disana" jawab Falen.
"Latihan? kalian latihan apa?" tanya Siras yang penasaran saat nama Aishyah disebutkan.
"Mereka latihan bela diri loh, Aishyah itu gadis yang unik. Sudah cantik, mandiri, pintar, jago bela diri pula, paket komplit pokoknya" kata mama Falen yang mengidolakan Aish.
Tersungging senyum di bibir Siras, pria itu selalu dibuat penasaran dengan Aishyah yang katanya tangguh. Tapi malah lemah jika berhadapan dengan darah.
"Sudah ma, kita mau naik dulu ya" kata Falen berlalu pergi ke kamarnya.
"Permisi om, tante, dokter Siras" kata Hendra mengikuti perginya Falen.
"Iya, silahkan Hendra" kata mama Falen tersenyum ramah.
Di dalam kamarnya, Falen sudah sangat penasaran. Dia sampai menarik tangan Hendra yang berjalan di belakangnya.
"Ok, sekarang kasih tahu gue semuanya" kata Falen duduk diatas ranjangnya.
"Gue nggak nyangka kalau bang Rian ternyata mengerti dengan hal semacam itu, Fal. Tadi dia ngasih tahu gue bagaimana caranya untuk belajar mengerti maksud mereka" kata Hendra ikut duduk disana, melempar tas punggungnya ke atas ranjang Falen.
"Terus?" tanya Falen.
"Gue masih gagal paham sama maksud dari sosok itu. Dia terus-terusan nunjuk ke arah bangku dari batang pohon yang lo sama Aishyah duduk malam itu" kata Hendra.
"Apa ya maksudnya?" tanya Falen.
"Gue dikasih nomernya bang Rian, dia bilang kalau sewaktu-waktu gue mau berusaha lagi, bisa hubungi dia" kata Hendra.
"By the way, sekarang apa sosok itu ada disini Hen?" tanya Falen mengedarkan pandangan, tangannya mengusap tengkuk yang tiba-tiba terasa dingin.
"Selama ini dia selalu ngikuti gue, kemanapun. Tapi nggak pernah ngapa-ngapain, itu yang bikin gue bingung, bule" kata Hendra.
"Oh, coba deh kalau sekarang lo berkomunikasi lagi sama dia. Telpon bang Rian dulu deh" kata Falen.
"Ok, gue coba ya" kata Hendra, dia mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Rian.
..."*Halo bang"...
..."(...)...
..."Boleh nggak bang kalau gue nyoba meditasi lagi?"...
..."(...)...
..."Ada bang, gue lagi sama Falen sekarang*"...
..."(...)"...
"Jadi gimana?" tanya Falen setelah sambungan telpon Hendra terputus.
"Boleh kata bang Rian asalkan ada yang jagain badan gue selama gue tinggal" kata Hendra.
"Terus gue ngapain?" tanya Falen.
"Kalau lo lihat ada yang aneh sama gue, cepat lo usahain supaya gue bangun ya" kata Hendra.
__ADS_1
"Itu mah gampang, cepetan deh. Biar cepet hilang tuh makhluk astral" kata Falen.
Hendra membuka jaketnya, lalu duduk bersila di atas karpet. Dia berusaha rileks, lalu memejamkan matanya. Seperti yang sudah Rian ajarkan.
Lambat laun dia mulai terbiasa dengan peralihan dimensi. Segera dia bisa bertemu lagi dengan sosok itu.
Kedua makhluk beda dimensi itu sepertinya sudah saling mengenal. Sosok itu tidak lagi menjauh saat Hendra mendekatinya.
Suasana kali ini berbeda, Hendra melihat sosok itu sedang duduk di salah satu bangku taman. Sepertinya sore hari, keadaan taman itu lumayan ramai oleh banyaknya pengunjung.
Wanita itu sedang menunggui balita yang sedang bermain didampingi susternya. Dia hanya duduk sambil memainkan ponsel.
Lagi-lagi wajahnya masih samar, rambutnya menjuntai menutupi sebagian wajahnya yang menunduk. Dan dia masih mengenakan gaun berwarna navy.
Sungguh Hendra merasa tidak asing dengan wanita ini, pembawaan dan penampilannya menegaskan jika dia berasal dari kalangan berada.
Cukup lama menunggu, seorang pria datang menghampiri wanita itu. Pria dengan setelan jas berwarna senada dengan pakaian wanitanya. Kacamata hitam terpasang indah di wajah tampan si pria.
Wanita itu segera berdiri menyambut kedatangan si pria. Mereka berciuman singkat di tengah keramaian, tidak canggung melakukan hal tabu semacam itu. Mungkin mereka pasangan suami istri?
Hendra masih terpaku di tempatnya berdiri, pandangannya kali ini seperti penonton yang sedang melihat pentas seni. Hendra hanya penikmat sandiwara yang sedang berlangsung.
Pria dan wanita itu berbincang-bincang, tapi Hendra tak mampu menjangkau suaranya. Hendra tak mengerti apa yang sedang mereka bicarakan.
Pria itu berdiri, sepertinya marah. Si wanita itu rupanya menangis, dia memegang lengan pria itu dan memeluknya. Pria itu mulai luluh, memeluk balik wanitanya dengan posesif. Terpancar cinta yang besar dari pandangan mata si pria.
Tubuh Hendra yang tertinggal di kamar Falen mulai tidak kuat, lama-lama tubuhnya merosot dan jatuh telungkup di atas karpet. Falen bingung, segera dia mengguncang tubuh Hendra.
"Hen, bangun. Lo nggak apa-apa kan?" tanya Falen sambil terus berusaha menyadarkan Hendra.
Butuh waktu sekitar lima menit untuk menyadarkannya. Mata Hendra yang mulai terbuka, menatap sayu pada Falen.
"Lo nggak apa-apa kan?" tanya Falen, membiarkan Hendra membenarkan posisi tidurnya.
"Sialan lo, gue khawatir malah lo kelaparan" kata Falen sebal, tapi beranjak dari duduknya dan berjalan menuju pintu kamarnya.
"Bik... Bik Atun..." teriak Falen memanggil Art nya.
"Iya den, ada apa?" tanya bi Atun setelah berlari-lari kecil untuk bisa menemui tuannya.
"Ada makanan nggak? Atau camilan dulu deh, saya lapar bi" kata Falen.
"Sebentar bibi ambilkan ya den" kata bi Atun, Falen hanya mengangguk dam masuk kembali ke kamarnya tanpa menutup pintu.
"Jadi, apa yang lo dapat?" tanya Falen.
"Masih nggak jelas, sekarang malah gue lihat pasangan yang lagi jagain anak di taman" kata Hendra dengan posisi masih telentang.
"Permisi den, ini pesanan den Brian" kata bi Atun bersama seorang lagi art, memberi makanan dan minuman. Dan pergi setelah tugasnya selesai.
Hendra semangat mendengar ada makanan, dia segera duduk dan menikmati camilan yang ada.
"Duduk bersila doang bisa bikin laper ya?" tanya Falen ikut memakan hidangan yang ada.
"Yang begitu bisa menguras energi. Lo mana paham" kata Hendra.
"Sialan lo. Terus apa lagi yang lo dapatkan?" tanya Falen.
"Gue kayak familiar sama wanita ini, Fal. Kayak nggak asing gitu loh, cuma gue tuh lupa pernah lihat dia dimana. Semakin gue berusaha mengingat, semakin lupa gue" kata Hendra.
Siras yang melintas jadi penasaran mendengar Hendra mengatakan tentang wanita. Pria itu takut adiknya salah bergaul. Jadi dia berdiri di ambang pintu kamar Falen yang sedikit terbuka, berusaha mendengar obrolan kedua remaja tanggung itu.
__ADS_1
"Lo beneran lupa sama wanita itu?" tanya Falen.
"Iya" jawab Hendra singkat sambil mengunyah.
"Kebanyakan makan pantat ayam sih lo" ledek Falen.
"Nggak ada hubungannya bule" kata Hendra.
"Jadi, selama kita sekolah juga sosok itu ngikutin lo?" tanya Falen lagi.
"Iya, dan selama kita lagi sama Aish, sosok itu selalu berusaha mendekati. Tapi kayak nggak bisa gitu deh, mungkin karena princess kita itu rajin ibadah kali ya? Nggak kayak gue" kata Hendra.
"Iya, lo jauh dari tuhan lo deh kayaknya. Makanya gampang dikintilin hantu" kata Falen mengejek, gerakannya menakut-nakuti Hendra yang memandangnya remeh.
"Kayak lo sendiri anak soleh" balas Hendra.
"Mereka ini sedang bicara apa sih? Hantu, sosok, Aishyah, ibadah" Siras bingung sendiri, dia meninggalkan kamar Falen untuk menuju kamarnya sendiri.
"Ayo kita makan malam" ajak mama Falen mengagetkan Falen dan Hendra yang sedang berdiskusi.
"Oke ma" kata Falen.
"Kita makan dulu Hen. Ngisi tenaga biar lo kuat menerima penjelasan daru makhluk astral itu" kata Falen.
"Iya, gue lemas banget nih. Kayak nggak pernah makan satu bulan" kata Hendra mendramatisir keadaannya.
Mereka berdua duduk berdampingan, di seberang kursi yang biasa Siras tempati. Tapi masih tak melihat keberadaan sang dokter yang disukai kaum hawa itu.
Siras turun dari kamarnya lengkap dengan setelan dokter kebanggaannya. Sepertinya sedang terburu-buru.
"Loh, katanya kamu sedang libur?" tanya mama Falen.
"Operasi mendadak ma. Siras berangkat dulu ya" katanya sambil mencium kedua pipi mamanya.
"Siras berangkat pi" kata Siras pada papinya, orang tua itu hanya mengangguk dan tersenyum.
"Mama dengar, Hendra ada tugas dari sekolah ya buat bantuin di rumah sakit?" tanya mama Falen.
"Iya tante, sudah jalan satu bulan lebih" jawab Hendra.
"Jadi, kamu kenal Siras ya?" tanya mama Falen lagi.
"Kenal tante, dokter Siras itu pembimbing kami. Karena jam tugasnya sesuai dengan jadwal jaga kami" kata Hendra.
"Iya, kalau siang dia memang ada pekerjaan lain. Jadi bisa membantu di rumah sakit waktu sore sampai malam saja" kata mama Falen.
"Kamu kalau tidak ada pekerjaan sepulang sekolah, bisa membantu di perusahaan papi saja Brian" kata papinya.
"Brian usahakan pi" kata Falen malas.
"Kamu selalu saja malas" kata papinya.
Falen hanya memutar bola matanya jengah, selalu saja papinya menyuruh belajar bisnis keluarganya.
.
.
.
Silahkan tekan like, dan tinggalkan komen.
__ADS_1
Terimakasih.