Cantik, Kok Minder?

Cantik, Kok Minder?
Usaha Falen


__ADS_3

"Eh, princess gue lagi jalan sama Richard" kata Falen tersenyum.


"Kebetulan ketemu tadi di parkiran, gue duluan aja deh" kata Richard.


"Dah Richard" kata Aish gugup, takut Falen mendengar percakapannya dengan Richard.


"Ngobrolin apa sih kalian?" tanya Falen penuh selidik.


"Nggak ada, dia cuma tanya keadaan gue Fal. Kemarin lusa kan dia yang bantuin gue, terus kemarin gue nggak masuk, jadi dia cuma mastiin kondisi gue aja kok" kata Aish.


"Yakin cuma itu doang?" tanya Falen.


"Iya, beneran. Lo nggak percaya sama gue?" tanya Aish.


"Gue percaya kok, bahkan kalau dengan sengaja lo bohongin gue, terus gue tahu lo lagi bohong, gue pastiin kalau gue pasti bakalan tetap percaya sama kebohongan lo" kata Falen enteng, tapi menusuk hati Aish.


Aish berhenti, lalu berdiri menghadap Falen yang juga ikut berhenti. Dia memandang mata biru Falen dalam, ragu untuk berterus terang atau tidak.


Bagi Aish, kebahagiaan sahabatnya juga adalah kebahagiaannya. Jika berpacaran dengan kak Dewi adalah bahagianya Falen, maka Aish akan menutup mata pada semua tingkah buruk kakak tingkatnya itu.


"Kalian lagi ngapain sih? berantem ya?" tanya Seno yang tiba-tiba datang membuyarkan pikiran bingung Aish.


Mereka kembali berjalan pelan, Falen masih menunggu ucapan apa yang akan Aish katakan padanya sebelum kedatangan Seno.


"Lo nggak jadi ngomong sesuatu?" tanya Falen.


"Nggak ada Fal, lo seneng gue juga seneng. Semua hal yang bikin sahabat gue hepi, pasti juga bikin gue hepi" kata Aish sambil menunduk memainkan tali tas punggungnya.


Falen kembali merangkul pundak Aish, Seno yang berdiri disamping lainnya hanya berjalan lurus. Membiarkan tingkah kedua sahabatnya itu.


"Kalian lagi bahas apa sih? Gue nggak ngerti" kata Seno.


"Nggak ada Sen, lo bawa bekal apa hari ini?" tanya Aish mengalihkan pembicaraan seriusnya.


"Nggak tahu juga gue, mommy yang siapin semuanya" kata Seno.


"Mommy lo cantik ya Sen, asli mana sih?" tanya Aish.


"Mommy gue tuh ada keturunan Korea gitu, kalau daddy gue asli Jawa" kata Seno.


"Seriusan lo? jadi nggak salah kata anak-anak kecil di komplek gue kalau lo tuh oppa-oppa ya?" tanya Aish cekikikan.


"Gue belom tua, masak dipanggil oppa?" Seno mendesah, bagaimanapun oppa baginya adalah kakek.


"Eh diem aja lo Fal, lagi sariawan ya" sindir Seno.


"Nggak apa-apa, jalan aja yuk ke kelas" kata Falen dengan pikirannya.


**********


Siang saat jam istirahat, Falen seperti biasa menemani pacarnya makan di kantin. Tapi ada yang berbeda kali ini. Dia akan memastikan tentang apa yang didengarnya tadi pagi.


"Mau makan apa biar aku pesenin?" tanya Dewi.

__ADS_1


"Bakso aja deh, minumnya teh botol aja" kata Falen menunggu pacarnya memesan makanan.


Dia sedang memilih kata yang tepat untuk ditanyakan pada Dewi agar tidak timbul masalah baru.


"Nih makanan kamu" kata Dewi membawa nampan lalu duduk dihadapan Falen.


Bukan rahasia lagi jika Dewi sang ketua OSIS menjalin hubungan dengan Falen murid bule baru di sekolahnya. Bahkan gosip yang beredar bahwa Aish lebih penting daripada Dewipun juga ada. Entah siapa yang memulainya. Membuat Dewi merasa tidak nyaman dengan kedekatan Aish dan Falen sebagai sahabat.


"Kamu keberatan nggak sih kalau aku berteman sama Aish?" tanya Falen.


Dewi sampai menghentikan makannya saat mendengar pertanyaan Falen."Itu sih hak kamu, aku nggak mau membatasi pergaulan kamu sampai nanti dikiranya aku posessive".


"Jadi nggak masalah aku sahabatan sama Aish?" tanya Falen lagi.


"Why not?" jawab Dewi.


"Sebenarnya kalau kamu ngelarang, aku bakalan pikirin buat ngejauhin Aish loh" pancing Falen.


"Kalau boleh jujur sih emang aku agak sedikit terganggu sama kedekatan kalian, dia tuh ngintilin kamu mulu, udah kayak daki aja" Dewi menggerutu.


"Jadi sebenarnya kamu nggak suka dong kalau aku berteman sama Aish?" tanya Falen meyakinkan.


"Bisa dibilang gitu sih" kata Dewi.


"Biasanya kamu kalau nggak suka sama sesuatu tuh dibiarin aja atau melakukan sesuatu yang?" tanya Falen.


"Hengmh ... gimana ya, aku tuh kalau suka sama sesuatu ya harus aku jagain banget dong. Punya aku nggak boleh diusik sama orang lain" jawab Dewi.


Setelah makan, Falen meminta ijin pada Dewi untuk ke toilet. Padahal tujuannya adalah menemui Richard.


Richard pasti ada di ruang kesenian, setiap hari anak itu selalu berlatih band bersama grupnya. Mereka digadang-gadang band terbaik di sekolah mereka. Kombinasi yang pas sebagai grup band baru di SMA Mahardika.


"Gue ada perlu sama lo" kata Falen tanpa basa-basi, membuat anggota band lainnya menoleh ke sumber suara.


"Tapi gue nggak ngerasa ada kepentingan sama lo" kata Richard sambil tetap memainkan gitarnya.


"Plis, gue butuh informasi dari lo" kata Falen.


"cg!" Richard mendecak sambil menaruh gitarnya, berjalan menuju Falen yang mengajaknya bicara di luar ruangan.


"Lo pasti tahu siapa yang ngerundung Aish waktu itu kan?" tanya Falen to the poin.


"Tau" jawab Richard cuek.


"Kasih tahu gue siapa orangnya" kata Falen.


"Lo tanya aja sama temen lo, kenapa malah tanya sama gue?" kata Richard.


"Aish nggak mau ngomong siapa orangnya, makanya gue tanya sama lo" kata Falen.


"Gua nggak ada hak buat ngomong selama Aishyah nggak ngijinin itu" kata Richard


"Oh, atau lo bisa tanya sama pacar lo aja" kata Richard dengan senyum mengejek.

__ADS_1


"Apa ada hubungannya sama Dewi?" tanya Falen.


"Cuma itu yang bisa gue kasih tahu ke elo, selebihnya lo usaha aja sendiri kalau memang mau tahu" kata Richard meninggalkan Falen.


"Sial!" umpat Falen, memang dari dulu hubungannya dengan Richard tidak baik, sejarahnya mereka dulu rival di ekskul taekwondo saat masih smp.


Falen kembali ke kelasnya, karena memang sebentar lagi bel. Ternyata sahabatnya sudah sampai di kelas juga.


"Darimana? tadi kak Dewi and the gang sampai nyariin kesini loh" tanya Aish.


"Toilet" kata Falen sambil duduk di kursinya.


Aish saling melirik pada temannya yang lain, "Kenapa?" tanya mereka dengan bahasa isyarat. Dan sama-sama mengendikkan bahu.


Sampai bel pulang berbunyi, Falen tetap mode diam. Tak seperti biasanya yang bawel dan usil. Ketiga temannya sampai heran, kenapa dengan anak satu itu.


Bahkan dia pulang lebih dulu setelah berpamitan, katanya ada perlu. Tentu saja ketiga temannya mengiyakan.


"Aneh banget tuh anak" kata Aish.


"Iya, kenapa ya?" tanya Seno.


"Gue juga nggak tahu" kata Hendra.


Mereka bertiga berjalan bersama menuju parkiran, sementara Aish ke gerbang untuk menanti angkot 07.


Aish melambaikan tangan saat Seno dan supirnya melewatinya. Dan sebuah motor sport hitam berhenti di depannya.


"Ayolah gue anter" kata Hendra.


"Nggak usah Hendra, bentar lagi pasti dapat angkot kok" kata Aish, karena angkot sebelumnya sudah pergi setelah penuh dan dia tidak bisa masuk.


"Hengmg, gue mau ketemu bunda lo nih. Mau ngajarin bikin spaghetti yang enak. Bunda lo sendiri yang mau diajari" kata Hendra.


"Cg, ayo deh. Lo tukang maksa" kata Aish.


"Lo lagi nggak enak badan Ai, nggak mungkin gue tinggalin lo sendiri" kata Hendra saat Aish sudah berhasil menaiki motornya.


"Terus rencana lo bikin spaghetti sama bunda?" tanya Aish.


"Tetap dong. Kita mampir ke minimarket dulu yah" kata Hendra.


"Terserah kalian deh Hen, bunda seneng, lo seneng, gue juga seneng" kata Aish tertawa.


Dan benar saja, hari itu Hendra memasak spaghetti bersama bunda Aish. Dan Aish memposting hasil masakan bundanya beserta Hendra dan juga dirinya dalam sebuah foto yang dibagikan di akun medsosnya.


"Saat orang lain terasa seperti saudara, berbagi tawa dan canda bersama. Dari perut naik ke hati, sayang sahabat-sahabatku, @Falentino @Senopati @Mahendra" Tulis Aish dalam captionnya disertai emot love kuning.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2