
Sekar menangis tersedu-sedu, dicampakkan dan dilupakan. Sampai dia merasa tak ada sedikitpun rasa cinta yang tertinggal di hati kekasihnya.
Bagaimana dulu Frans yang rela melakukan apapun demi Sekar. Kini bahkan tidak ada waktu barang sedikitpun untuk berdua saja.
Sekar sangat cemburu pada Aishyah, bagaimana bisa mereka bisa sedekat itu dalam waktu tidak lebih dari tiga hari?
"Dayang, kemarilah" ucap Sekar pada seorang dayang kepercayaannya.
"Kulo kanjeng" kata dayang itu mendekati Sekar.
"Amati semua kegiatan putri Aishyah dan teman-temannya, laporkan padaku semua tingkah laku mereka. Terutama jika ada sesuatu yang aneh" kata Sekar.
"Injih kanjeng" jawab dayang itu sambil keluar kamar Sekar dan bersiap memulai tugasnya.
"Awas kau Aish, kenapa baru sekarang kau memperlihatkan tabiat aslimu. Dari dulu kita berteman, memang kalian para orang asing tidak pernah bisa dipercaya" kata Sekar sambil membanting barang-barang disekitarnya.
*******
Sementara sang dayang telah melakukan tugasnya. Dia bersembunyi di tempat yang aman sambil terus mengikuti kemanapun Aishyah pergi.
Kali ini, Aishyah masih ditemani ketiga sahabatnya setelah melaksanakan solat dhuhur. Mereka berbincang ringan seputar kejadian yang menimpa mereka.
"Sumpah sih, gue masih tetap penasaran banget sama orang yang sudah ngejebak elo Ai" kata Seno.
"Kenapa juga harus menimpa gue ya? Secara gue tuh orang baik-baik di zaman ini" kata Hendra.
"Iya, elo baik disini, lah di zaman kita, elo tuh sakit jiwa"Falen meledek.
"Lo emang nggak pernah baik sama gue, sebenarnya lo ada dendam apa sih sama gue bule bego?" balas Hendra.
"Sudah deh, jangan bercanda terus. Ini beneran gue juga bingung, kalau memang ada yang berniat buruk sama gue waktu di rumah lo, kenapa bisa gue ditemuinya tuh malah pingsan di klenteng? Aneh banget kan?" tanya Aish sambil menahan perih di bibirnya.
"Iya juga ya, terus kenapa ada kuda istana juga di deket rumah gue ya? Tapi memang jarak rumah gue sama klenteng kan nggak jauh-jauh amat kan?" tanya Hendra.
"Kira-kira kenapa ya? Terus juga niatnya apa coba sampai pura-pura jadi elo Hen?" tanya Seno.
"Bibir lo masih sakit nggak Ai?" tanya Falen sambil memegang pelan bibir Aish, memang sejak awal Falen yang paling perhatian pada teman-temannya.
"Sedikit sih, tapi gue jadi tambah jelek nih kalau bonyok gini" kata Aish.
"Lo sih nggak fokus, lagian lo lihat apa sih sampai nggak konsen gitu?" tanya Falen lagi.
"Tadi gue lihat Sekar, dia ada dipinggir lapangan. Kayaknya lagi nyariin elo deh Fal, terus pas gue abis diperiksa sama tabib, dia udah nggak ada. Kalian ngelihat dia juga nggak sih?" tanya Aish.
"Gue lihat sih tadi, tapi gue biarin aja. Entah kenapa gue punya firasat jelek aja sama dia selama ada disini" kata Seno.
"Nggak boleh negatif thinking gitu deh Sen. Pasti dia nangis lagi deh" Aish mendesah.
"Yaudah sih, biarin aja. Yang penting sekarang gimana caranya biar kita bisa cepat pulang" kata Seno lagi.
"Iya nih, gue udah bener-bener khawatir sama bunda. Kira-kira kita sudah berapa lama ninggalin dunia kita ya?" tanya Aish, dan hanya ditanggapi gelengan kepala oleh teman-temannya.
Mereka jadi melamun bersama, mencari jalan keluarnya.
"Main di kali yuk" ajak Hendra tiba-tiba.
"Jangan aneh-aneh deh, lo pikir nggak akan ada tai ngambang gitu? secara zaman sekarang kan buang hajat di kali, lo aja tadi pagi juga gitu kan?" Falen menggeleng membayangkan tidak enaknya buang hajat di kali.
"Yaudah ke danau aja, kayaknya gue lihat ada danau di belakang istana" masih kekeuh Hendra mengajak temannya.
"Gue mau dong, siapa tahu nemu portal disana. Bisa pulang deh" kata Aish mengada-ada.
"Kalau princess bersedia, maka kamipun tak keberatan" Falen selalu mengabulkan keinginan Aish.
__ADS_1
"Lo mau kan Seno?" tanya Aish.
"Okelah, daripada bengong" jawabnya.
Mereka berempat berjalan menuju belakang istana, menuju danau untuk merefresh otak mereka.
Dayang suruhan Sekar juga selalu setia mengekor kemanapun Aish pergi. Kini dalam benaknya sudah tersimpan banyak informasi untuk diberikan pada dewinya. Terutama perilaku manis Frans terhadap Aish.
Disisi lain, sebenarnya Raja sudah sangat jengah dengan kehadiran Frans di istana. Raja sangat ingin menghabisi Frans jika bisa, karena adanya dia, masalah perjodohan akan semakin sulit dilakukan.
Apalagi terlihat sekarang dia berteman dengan Senopatinya, juga pimpinan klenteng. Dan mereka terlihat selalu bersama.
Diam-diam raja juga selalu mengintai keempat tamunya itu. Dan kini tanpa disangka-sangka, perempuan dari kaum Arab itu ternyata bisa berkelahi. Sungguh sesuatu yang aneh.
*********
Aish dan ketiga temannya sudah sampai di danau. Mereka sedang asyik bermain di pinggiran sambil bernyanyi bersama.
Melihat ada ikan yang berenang tak jauh dari permukiman air, dia jadi ingin menangkapnya.
Tanpa pikir panjang, Aish menyingsingkan lengan bajunya hingga siku. Ingin menangkap ikan itu.
Tapi tiba-tiba ada ular hijau yang jatuh ke pundaknya, dan tanpa aba-aba ular itu mematuk lengannya karena sama-sama kaget.
Aish mengaduh karena digigit ular, pasti ada bisa yang masuk ke dalam lapisan kulitnya.
Hendra langsung mengambil ular itu dan menginjak kepalanya, sedangkan Falen, dengan reflek langsung mengambil lengan Aish untuk dihisap racunnya, tidak perduli jika akhirnya diapun harus terkena bisanya juga.
Sedangkan Seno, sudah pasti ketakutan karena dia yang dasarnya manja.
Sekar yang mendengar mereka bermain di danau juga ingin ikut. Sesampainya di pinggir danau, betapa terkejutnya dia mendapati sang kekasih seperti sedang mencium tangan Aish. Padahal yang sebenarnya dia sedang menghisap bisa ular yang menggigitnya.
"Jangan lakuin itu Fal, elo bisa kena bisanya juga nanti" kata Aish melarang Falen. Tapi Falen tetap menghisap bisa ular itu, dia khawatir pada keadaan Aishyah.
Sekar sungguh tambah benci pada Aish, Tanpa alasan yang jelas dia malah memerintah prajuritnya.
Aish yang masih kesakitan karena dipatuk ular harus rela diseret ke penjara, begitupun Falen yang mulai terkena efek dari bisa ular yang telah dia hisap, diseret menuju penjara dengan kepala yang berdenyut.
Hendra yang panik langsung menghadang para prajurit, tentu saja dia kalah jumlah dan strategi. Maka, dia juga harus ditahan karena mencoba menghalangi tugas para prajurit.
Tinggallah Seno sendiri saat ini. Sebenarnya dia tidak sanggup untuk menghadapi kenyataan sendirian seperti ini.
Tapi untuk melawan, dia bisa apa? Jika sebelumnya Senopati dikenal pemberani, sedangkan kali ini yang sebenarnya dia adalah Ongkoseno yang manja dan anak mommy.
Bersama Dewi Sekar, dia dipertemukan dengan sang raja. Awalnya raja terkejut karena putrinya menjatuhkan hukuman tanpa alasan yang jelas.
Malah diketahui bukti jika memang ada ular yang telah mematuk putri Aishyah. Tapi karena ingin melindungi anaknya, maka diapun membenarkan tindakan sewenang-wenang itu tanpa memikirkan akibatnya.
Kini, dihadapan pengikut Mahendra, Putri Aishyah dan juga Tuan Frans, raja harus bisa membenarkan tindakan putrinya dengan alasan yang bisa diterima nalar. Meskipun itu sulit.
Para pengikut Aisyah, Mahendra dan Frans hanya bisa pasrah awalnya, karena memang titah raja adalah mutlak. Monarki Absolut.
Pada akhirnya pasti akan ada pembalasan karena kesewenang-wenangan. Dan itu akan menjadi bom waktu bagi semua kesalahan yang dijunjung.
"Untuk peristiwa ini, maka telah bisa dibuktikan bahwa memang perjodohan Dewi Sekar Taji dengan Senopati Arya adalah yang terbaik. Dan kau harus bisa menerimanya kali ini putriku" kata Raja.
"Baiklah ayahanda" kata Sekar pada akhirnya.
"Saya sekarang yang keberatan baginda raja" kata Seno entah mendapat keberanian darimana.
"Saya tidak setuju karena Dewi telah bertindak tidak adil, tanpa tahu alasannya dia memasukkan orang ke dalam penjara. Sungguh perbuatan yang tidak bisa diterima" lanjutnya.
"Kau sungguh-sungguh dengan ucapanmu wahai senopati?" tanya Raja.
__ADS_1
"Ya, saya tidak pernah seserius ini sebelumnya di dalam hidup saya" jawabnya mantap.
"Baiklah jika itu maumu, maka bersiaplah menyusul kawanan itu menuju penjara" kata raja.
"Prajurit, bawa senopati ke penjara bersama kawanan barunya" lanjut sang raja.
Kali ini Seno harus membuktikan kesetiakawanannya. Dia sangat khawatir dengan kondisi kedua temannya yang sedang sakit.
Sampai dipenjara, mereka ditahan di dalam sel yang berbeda. Sel dari kayu tapi benar-benar sangat kuat. Tiap orang dimasukkan dalam sel berukuran 2x2 meter.
Hendra sibuk meminta tolong karena kondisi Falen yang mulai pusing dan demam. Begitupun Aishyah, bibirnya yang masih lebam harus ditambah dengan sakitnya dipatuk ular.
"Apa kalian tuli? Temanku sedang menjerit meminta pertolongan, mereka berdua sakit. Cepat panggilkan tabib untuk memeriksa mereka" kata Seno sembari para prajurit memasukkannya ke dalam sel dan menguncinya.
Jadi pintu sel kayu itu terbuka jika ditarik ke atas, pintu sel ditarik menggunakan tali seperti saat menimba air, dan diberi pemberat diatasnya yang berfungsi sebagai kunci agar tahanan tidak bisa membuka pintu sembarangan.
Pemberat itu juga diikat dengan tali yang bisa ditarik saat akan membuka pintu sel. Jadi diperlukan beberapa orang yang bertugas membuka dan menutup kembali pintu sel tahanan.
"Kami akan meminta persetujuan dari baginda raja untuk hal ini" kata seorang prajurit bergegas pergi untuk melaporkan keadaan di dalan sel tahanan.
Prajurit itu berlari ke arah aula, berharap sang raja masih berada di sana.
"Permisi baginda raja, lapor, dua tahanan baru yang dipatuk ular mengalami gejala lanjutan. Mereka memerlukan tabib untuk memeriksa keadaan mereka baginda" ucap prajurit itu.
Para pengikut Aisyah dan Frans menjadi heboh. Mereka menuntut agar junjungannya diberi pertolongan segera.
"Ya, utus seorang tabib untuk memeriksa mereka" ucap sang raja.
Prajurit itupun menuju tempat para tabib untuk memberi pertolongan pada tahanan. Mereka segera menuju sel.
Kondisi Aish dan Frans memang demam dan pusing saat ini, beruntung tabib istana masih sempat menolong keduanya.
Aish beruntung sebab racun dari bisa ular bisa dikeluarkan tepat waktu. Sedangkan Frans hanya mengalami sedikit gangguan setelah berusaha mengeluarkan racun dari tangan Aish.
"Besok kalian akan diadili" kata seorang prajurit memberi kabar pada empat sekawan itu.
"Tidak ada keadilan jika titah raja adalah mutlak" jawab Hendra singkat.
"Jaga mulutmu itu jika ingin keluar dengan selamat" kata prajurit itu geram.
"Kalau kau ingin selamat, maka turuti semua perintah raja" lanjutnya.
"Perintah yang benar tentunya, jika salah, maka semua berhak menegurnya" kata Hendra masih terpancing emosi.
"Sudahlah Hen, besok kita terima harus berjuang untuk membuktikan kalau kita memang tidak salah" kata Aish.
Hendrapun menurut, mereka duduk dengan tenang. Seno, Hendra dan Falen berada dalam sel yang berbeda tapi dalam satu derwt yang sama, sedangkan Aish berada di sel diseberang para lelaki.
"Disini dingin" ucap Aish sambil duduk memeluk kedua lututnya, air matanya mulai menetes.
"Maafin gue ya, karena gue kita semua jadi ada disini" ucap Aish disela-sela tangisannya.
"Lo jangan nangis Ai, kita nggak ada yang nyalahin lo, kita semua ngelakuin itu semata-mata karena keinginan kita sendiri" kata Falen.
"Falen benar Ai, lo jangan nangis lagi ya. Gue janji kalau kita bisa pulang, gue bakalan minta mommy gue buatin makanan yang enak buat kita semua" kata Seno yang ternyata juga menitikkan air mata.
"Cg, lo cemen banget sih Sen. Bener-bener anak mommy" kali ini Hendra menimpali ucapan Seno dengan mata berkaca-kaca.
Selama ini dia selalu jauh dari mamanya, semenjak perceraian kedua orang tuanya. Hendra merasa tak ada lagi cinta untuknya dari sang mama yang sibuk bekerja.
Membiarkannya tumbuh besar tanpa arahan, beruntung dia yang hobi menembak telah menyalurkannya dengan ikut latihan tembak dan panahan.
Falen yang sudah terusak sejak tadi berpura-pura terpejam, tapi air mata masih lolos begitu saja dari sudut matanya.
__ADS_1
Sungguh mereka masih remaja yang baru beranjak dewasa. Rasa sok berani hanya jika banyak mata yang memandangnya.
Tapi disaat sepi seperti ini, bukanlah suatu hal yang buruk untuk melampiaskan dengan tangisan.