
Selama berjalan menuju kelasnya, Sekar terus saja melirik Falen yang setia merangkul pundak Aishyah.
"Kalian beneran nggak pacaran?" akhirnya dia bertanya, daripada penasaran.
"Siapa?" tanya Aish.
"Ya kamu, sama Falen?" kata Sekar.
"Nggak, kita kan prend. Ya kan Fal?" kata Aish, Falen hanya mengangguk sambil tersenyum.
"Tapi memang kalau dilihat-lihat, orang bakalan ngira kalian punya hubungan deh" kata Sekar.
"Tau nih si Falen, gue sampek capek ngelarang dia buat ngerangkul gue kalau jalan. Tetap saja nggak di lakuin. Bukannya apa-apa, gue takut masa pertumbuhan gue terganggu kalau harus selalu menanggung beban berat di pundak gue" kata Aish berlagak sedih.
"Nggak akan" kata Falen singkat.
"Jadi benar lo sudah putus sama kak Dewi?" tanya Sekar lagi.
"Menurut lo?" kata Falen, Sekar hanya mengendikkan bahu.
"Ish, lo ini jangan ketus-ketua Fal. Kalau naksir baru tahu" kata Aish membuat blushing pipi Sekar, dan diapun menunduk.
"Kayaknya sih beneran putus Sekar, jadi kalau lo mau usaha, pintu pendaftaran sudah dibuka" kata Aish sambil terkekeh, mengetahui Sekar sepertinya ada rasa pada Falen.
"Udah gosipnya? ayo buruan masuk kelas" kata Falen.
"Iya-iya, dah Sekar" kata Aish membiarkan Sekar berjalan menuju kelasnya.
****************
Selepas isyak, biasanya Aish bertugas untuk mengantarkan baju jahitan bundanya. Setelah ayahnya meninggal, bunda Aish meneruskan usaha ayahnya di bidang tailor.
Dan hasilnya lumayan, bisa menyekolahkan Aish hingga lulus SMP, hingga kini sekolah di SMA Mahardika meskipun usaha Aish juga dengan beasiswa.
Karena jarak yang akan ditempuh lumayan jauh, maka Aish menggunakan sepeda untuk mengantar, sepeda yang menjadi satu-satunya alat transportasi Aish dan bundanya sehari-hari.
__ADS_1
Sepeda goes peninggalan kakaknya sebelum pergi dari rumah. Sepeda ungu dengan keranjang putih didepannya.
Badannya cukup pegal saat ini, tadi pagi dihukum keliling lapangan, pulang sekolah ada latihan silat dengan engkong, sekarang harus mengantarkan hasil jahitan bundanya pada pelanggan.
Tentu Aish tidak akan mengeluh, membiarkan bundanya lelah sendiri? Tidak mungkin Aish melakukannya.
Sudah cukup larut saat ini, jam 10 malam. Tadi si empunya rumah sedang dalam perjalanan saat Aish datang. Jadi dia harus menunggu lumayan lama untuk mendapatkan uang hasil jahitan bundanya.
Dia mengayuh sepedanya hati-hati, untung saja tadi dia memakai jaket hingga udara malam yang dingin tidak sampai menembus kulitnya. Tapi angin malam rasanya seperti buliran salju yang mengenai pipi dan hidungnya. Sepertinya memang udaranya sangat dingin.
Untuk sampai ke jalan raya, dia harus melewati jalan kompleks perumahan yang cukup jauh. Kadang terasa merinding saat melewati sederetan rumah yang gelap, seperti ditinggalkan penghuninya.
Tiba-tiba dia dihadang tiga orang preman bertubuh besar dan gondrong, tattonya menempel indah di kulit lengannya yang seakan sengaja diekspos untuk menakuti korbannya.
"Astaghfirullah, apa lagi ini? ya Allah aku berlindung kepadamu dari segala mara bahaya" doa Aish menengadahkan kedua tangannya. Ketiga preman itu tertawa terbahak-bahak dengan kelakuan Aish.
"Heh bocah, nggak usah doa, nggak bakalan dikabulin. Elo kasih aja duit sama kita, terus lo bisa pergi" kata seorang diantaranya, dia kasihan juga melihat Aish yang masih remaja.
"Nggak ada duit bang, beneran deh" kata Aish.
"Nggak ada bang, beneran" kata Aish.
"Yaudah, lo kasih aja sepeda busuk lo ini. Biar kita rongsokin, siapa tahu dapat seratus juta ya?" kata mereka sambil tertawa terbahak-bahak.
"Eh, jangan dong bang. Nanti saya pulangnya gimana dong, rumah saya tuh jauh dari sini, mana sudah malam, dingin juga. Abang nggak kasihan sama saya?" kata Aish memelas.
"Kalau lo dingin, mending kita kasih kehangatan aja sekalian ya Mat?" kata salah seorang diantara mereka mengompori.
"Bener juga kata lo, dingin-dingin gini dapat gratisan, masih muda dan cantik lagi. Ayoklah gas!" kata temannya.
Aish panik, dia memutar sepedanya dan mengayuh sekuat tenaga. Entahlah kemana, yang penting jauh dari mereka.
Sial! bagian belakangnya bisa ditarik oleh salah satunya, sepeda Aish oleng. Dia hampir terjatuh, refleksnya menyuruh melompat sejauh mungkin. Dan, berhasil!
Dia berlari memutar arah, menuju arah jalan raya yang kurang sedikit lagi bisa dijangkau. Di sela-sela larinya, dia menggumam "Kemana orang-orang? apa tidak ada yang mendengar keributan seperti ini?" batinnya sambil terus berlari.
__ADS_1
Sampai di jalan raya, salah seorang preman itu berhasil menarik tangan Aish. Dia sampai terjatuh. Dengan sekuat tenaga dia berusaha melepas tarikan di tangannya, berhasil. Dia bangkit, berlari lagi. Tapi seorang lainnya menghadang jalannya. Aish kelelahan, napasnya ngos-ngosan, keringatnya bercucuran di malam dingin ini.
Die berusaha melawan dengan bekal ilmu dari engkong yang belum seberapa. Bagaimanapun dia harus bertahan, berharap ada yang menolongnya, tentunya atas izin tuhannya.
"Gila, lo bisa nangkis serangan gue ya? menarik. Gulat dulu, lalu kita gulat diatas ranjang" kata preman itu mengejek.
Aish mendengus, masih dengan doa dia berusaha melawan sebisanya. Badannya sudah diambang batas lelah, tenaganya seolah habis. Dia mundur beberapa langkah dan mengambil banyak oksigen.
Tiba-tiba seseorang datang menendang seorang dari mereka dari belakang. Aish belum sempat melihat siapa orangnya, dia masih mengatur napas. Berterimakasih dalam hati karena telah dikirim seseorang untuk membantunya. Semoga mereka selamat, dan tidak ada masalah baru setelahnya.
Mereka masih bergulat, saling menendang, saling menangkis, saling menghajar. Rupanya lelaki jangkung yang terlihat dari belakang itu mampu mengimbangi lawannya meskipun sempat terkena beberapa pukulan saat dia lengah.
Aish sudah siap, bagaimanapun dia tidak mau tinggal diam. Karenanya yang diganggu para preman sampai menyeret orang lain kedalam masalahnya.
Aish mengambil posisi di sebelah pria itu, tingginya terlihat seperti anak kangguru yang digendong ibunya. Aish berusaha sebisanya, meskipun dia juga sempat terkena beberapa pukulan, tapi dia harus kuat. Sakit di badannya harus bisa di lawan.
Tiuuu.... Tiuuu. Tiuu....
terdengar sirine polisi sedang patroli di lingkungan itu. Para preman sontak kaget dan berlari terhuyung untuk menghindari kejaran polisi.
Aish sangat bersyukur dalam hati, dirinya selamat, uang hasil jahitan bundanya selamat, tapi badannya sakit semua dan sepedanya bahkan tak tahu ada dimana.
Gadis mungil itu mendudukkan diri di trotoar, menutup wajahnya yang lebam dengan kedua tangannya. Dia mulai terisak, daritadi dia menahannya agar para preman tidak menganggapnya lemah. Kini setelah mereka pergi, dan beberapa polisi terdengar menghampiri barulah dia menangis. Mengeluarkan seluruh amarahnya.
Bagaimanapun dia hanya seorang gadis kelas sepuluh yang masih butuh belaian sayang orang tuanya. Dan posisinya saat ini mengharuskannya menjadi gadis kuat dihadapan bundanya yang dia juga ketahui bahwa bundanya juga sering menangis di sepertiga malam.
Hatinya sakit melihat bundanya yang menangis pilu menghadap tuhan di setiap malam. Dan harus berusaha tegar di siang harinya demi menjaga hati putrinya yabg tinggal satu.
Aish terus saja menangis tersedu, sampai sebuah tangan menangkup kedua pundaknya. Berusaha menenangkannya dengan mengelus pelan punggung Aish yang terbalut hijab dan jaket tebal. Berusaha mengurangi sedihnya, semoga bisa.
.
.
.
__ADS_1
.