Cantik, Kok Minder?

Cantik, Kok Minder?
penjelasan Falen


__ADS_3

Falen sudah on the way pulang, setelah memastikan Aish dengan motor birunya sudah hilang dari pandangan. Sebenarnya dia khawatir untuk melepas Aish berkendara sendiri saat suasana hatinya sedang kalut seperti ini.


Tapi princessnya itu sebenarnya memang sedikit keras kepala, dia bilang akan marah jika ada yang berani membuntutinya hari ini. Entah apa yang akan dia lakukan sebenarnya, sampai melarang ketiga temannya untuk menemani.


Belum ada separuh perjalanan saat mobil yang Falen kendarai dihadang oleh mobil Richard. Falen baru ingat jika dia menjanjikan untuk menjelaskan persoalan yang sebenarnya pada rival masa kecilnya itu.


Tok... Tok... Tok...


kaca pintu mobil Falen diketuk oleh Richard, terlihat dari raut wajahnya kalau dia sedang emosi.


"Kita bicara dimana?" tanya Richard setelah Falen membukakan kaca mobilnya.


"Cafe depan sana" kata Falen menunjuk asal pada sebuah cafe yang terlihat dari pandangan matanya.


"Oke" kata Richard meninggalkan Falen. Mereka beriringan menuju cafe terdekat.


Mereka berdua memilih meja yang terletak dilantai dua, dan duduk di dekat jendela kaca agar bisa lebih rileks saat berbincang.


"Lo mau pesan apa?" tanya Falen sambil membolak-balik buku menu, ada seorang waitress yang sedang menunggu.


"Gue lagi nggak mood, bisa cepetan lo jelasin sama gue?" tanya Richard yang sudah tidak sabaran.


"Santailah sedikit, coba lo belajar kendalikan emosi. Mbak, kita pesan ice cappucino dua ya" kata Falen memesan minuman.


"Ada lagi kak?" tanya waitress itu.


"Nggak mbak, nanti kita panggil kalau mau pesan lagi" kata Falen.


"Tunggu sebentar ya kak" kata waitress itu kemudian beranjak dari meja Falen. Falen memutuskan untuk memainkan ponselnya sambil menunggu pesanannya datang, padahal Richard sudah sangat penasaran.


Beberapa lama menunggu, Falen mulai menghentikan kegiatannya memainkan ponsel saat waitress meninggalkan meja mereka setelah menyajikan pesanannya.


Falen mengeluarkan beberapa foto dan menaruhnya di atas meja. Richard hanya melihatnya tanpa berkomentar.


"Lo kenal Willy Putra Hutama?" tanya Falen memperlihatkan foto kakak dari Richard.


"Tentu gue tahu, dia kakak gue. Ada apa sama kakak gue?" tanya Richard santai, dia masih duduk dengan angkuh dan menumpuk satu kaki pada kaki lainnya.


"Kalau sama Khalifah Khadijah, lo kenal?" tanya Falen yang saat ini memperlihatkan foto kakak Aish.


"Setahu gue, itu nama kakaknya Aish kan?" tanya Richard.


"Kalau sama Tomi, lo kenal?" kali ini Falen memperlihatkan foto Tomi.


"Gue nggak tahu dan gue juga nggak kenal sama orang itu. Lo mau nanya siapa lagi? Bisa nggak sih langsung ke intinya saja?" kata Richard sudah tidak bisa bersabar.


"Cg, lo tuh masih sama kayak dulu ya, emosian. Oke, gue jelasin sama lo sekarang. Dengerin baik-baik" kata Falen.


"Kakaknya Aish menjadi korban pembunuhan oleh orang yang bernama Tomi. Dia menjerat leher kak Alif dan juga membakar jasadnya sebelum menguburkan jasad kak Alif di sebuah pantai" Falen mulai menjelaskan, dari sini Richard sedikit tertarik, dia menegakkan duduknya agar bisa menyimak dengan baik penjelasan Falen.

__ADS_1


"Tomi mengaku kalau dia melakukan perbuatan itu saat bekerja sebagai seorang supir pribadi, dan dia juga melakukan perbuatan itu karena perintah dari majikannya" kata Falen.


"Lalu?" tanya Richard.


"Lo tahu siapa majikan Tomi ini?" tanya Falen.


"Gue nggak tahu" kata Richard.


"Majikan Tomi waktu itu adalah Willy Putra Hutama" kata Falen memperhatikan mimik wajah Richard yang sedikit terkejut.


"Maksud lo, kakak gue yang nyuruh si Tomi ini bunuh kakaknya Alif?" tanya Richard.


"Gue nggak tahu, masalah ini masih diselidiki oleh pihak polisi" kata Falen.


"Memangnya apa hubungannya kakak gue sama kakaknya Aish?" tanya Richard.


"Willy adalah pria yang dulu datang ke rumah Aish untuk meminta kak Alif sebagai istrinya. Statusnya yang sudah beristri tentu ditolak mentah-mentah oleh ayahnya. Dan saat mereka menyampaikan berita bahwa kak Alif saat itu sedang hamil, membuat ayahnya Aish terkena serangan jantung. Beliau sempat stroke sebelum akhirnya meninggal" kata Falen.


Kali ini Richard benar-benar terkejut, hubungannya yang tidak dekat dengan anggota keluarganya yang lain membuatnya tidak tahu jika ada kejadian semacam ini di tengah keluarganya.


"Lo tahu kan apa penyebab bunda Aish meninggal?" tanya Falen yang tidak ditanggapi oleh Richard.


"Bunda meninggal juga karena syok saat mengetahui kak Alif meninggal dengan cara yang mengenaskan seperti itu" kata Falen.


"Dan lo tahu siapa penyebab kedua orang tua dan juga kak Alif meninggal?" tanya Falen, tapi Richard tetap bergeming.


"Kalian tahu semua informasi ini dari mana?" tanya Richard.


"Gue dan Hendra bahkan ikut saat menggali tanah yang digunakan Tomi untuk mengubur jasad kak Alif" kata Falen.


"****!!! Pantas saja Aish kelihatan benci banget sama gue. Dia pasti ngira kalau keluarga gue penyebab kematian semua anggota keluarganya" kata Richard frustasi, dia mengunggar rambutnya dengan kasar.


"Tapi pihak kepolisian masih mengusut kasus ini. Masalahnya Tomi ini masih belum mau buka mulut tentang satu nama yang memberinya perintah untuk membunuh kak Alif" kata Falen.


"Lo berdoa saja semoga bukan kakak lo yang jadi dalangnya" kata Falen.


"Oh iya, apa lo pernah lihat ada anak balita cewek ada sama kakak lo?" tanya Falen.


"Iya, gue tahu. Kakak gue bawa anak cewek waktu kita sekeluarga pergi ke Jepang kemarin" kata Richard.


"Pasti itu keponakan Aish, lo bisa bawa anak itu supaya bisa ketemu sama Aish. Gue rasa kalian butuh komunikasi" kata Falen.


"Pasti itu sangat sulit, karena hubungan gue sama kak Willy nggak sedekat itu" kata Richard.


"Atau lo bisa tanya langsung sama kakak lo tentang semua ini" kata Falen.


"Keluarga gue masih di Jepang, gue pulang sendiri karena gue khawatir sama Aish" kata Richard.


"Jadi, anak itu beneran ada sama kakak lo ya?" tanya Falen yang hanya dijawab anggukan kepala Richard.

__ADS_1


"Pantas saja Aishyah terlihat marah banget sama gue. Wajar juga kalau dia benci sama gue dan beranggapan kalau kak Willy penyebab semua keluarganya meninggal" batin Richard sesak dengan masalah ini. Baru kali ini dia merasakan perasaan tulus untuk seseorang, dan sekarang hubungannya sedang berada di ambang kehancuran karena kesalahan yang dilakukan kakaknya sendiri.


"Minum dulu biar stress lo berkurang" kata Falen yang prihatin pada Richard.


Richard menyesap minumannya, berharap dinginnya es bisa membuat pikirannya yang sedang panas bisa sedikit berkurang.


"Saran gue, dalam waktu dekat ini lo jangan ganggu Aish dulu. Biarkan dia tenang, paling tidak sampai pihak kepolisian menemukan siapa otak dari pembunuhan kak Alif" kata Falen.


"Ya, lo benar. Tolong lo sampaikan ke Aishyah, kalau perasaan gue masih tetap sama. Hanya untuknya, dan gue ngerti kalau dia masih marah sama gue. Gue harap, nanti saat semuanya sudah berakhir, dia masih mau terima gue dan perasaan gue" kata Richard mengakhiri pembicaraannya dengan Falen.


"Pasti gue sampaikan" kata Falen.


"Untuk kali ini, gue harus bilang makasih sama lo" kata Richard.


Falen tersenyum sinis pada Richard, "Gue lakuin ini karena gue sayang sama Aish, dia sahabat gue" kata Falen.


"Gue balik duluan" kata Falen beranjak meninggalkan Richard yang sepertinya masih akan betah di cafe ini.


"Oke" kata Richard singkat.


★★★★★


Sementara Aish yang diketahui Falen sudah mengendarai motornya ke arah rumahnya, malah berbelok ke arah kantor polisi untuk menemui Fian. Aish ingin bisa bertemu dengan Tomi.


Dan disinilah Aish sekarang, setelah memarkirkan motornya. Dia segera mencari keberadaan Fian di dalam kantornya.


"Permisi bu, bisa saya bertemu dengan pak Fian?" tanya Aish pada petugas yang berjaga di front office.


"Sudah ada janji dik?" tanya polwan itu.


"Belum sih bu, tapi saya keluarganya bang Fian. Engmh, biar saya telpon saja deh bu" kata Aish sambil mengeluarkan ponselnya.


"Nama adik siapa? Biar saya hubungi pak Fian ke ruangannya" kata polwan itu.


"Saya Aishyah, bu" kata Aish.


"Baiklah, tunggu sebentar saya telpon pak Fian dulu" kata polwan.


Aish mengangguk, dia duduk di kursi sembari menunggu kabar dari bu polwan.


Beberapa menit menunggu, ternyata Fian datang sendiri untuk menemui Aish.


"Aishyah, ada perlu apa sampai kamu kesini? Kenapa nggak kasih kabar sama abang dulu?" tanya Fian yang keluar dari dalam kantornya, dan menemui Aish di lobi.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2