
Mata penuh kekaguman terlihat jelas dari semua orang di dalam aula saat Aish berjalan penuh keanggunan menaiki podium.
Dia sudah disambut oleh kepala sekolah dan wali kelasnya di atas podium untuk menerima penghargaan sebagai siswi berprestasi dan menerima secara simbolis beasiswa prestasi untuk bisa masuk ke universitas Bunga Bangsa.
"Long life, my princess. I Love You" tiba-tiba Seno berteriak histeris saat Aish menerima hadiahnya.
Semuanya jadi ikut bertepuk tangan, setelah suasana hening sempat terjadi saat Aish menerima penghargaan.
Hendra sudah sibuk dengan handy camnya untuk mengabadikan momen membahagiakan itu.
Senyum Aish terus terukir indah di wajah cantiknya. Setitik air mata kebahagiaan menetes karena rasa haru yang membuatnya teringat pada sang bunda.
MC memberikan kesempatan untuk Aishyah memberi sedikit sambutan.
"Alhamdulillah, semua ini tidak akan saya dapatkan tanpa pertolongan Allah, dan tentunya juga dari dukungan keluarga saya yang ada disana" kata Aish di sela sambutannya, menunjuk ke arah Richard dan rombongannya yang sedang duduk.
Mereka melambaikan tangan saat semuanya menoleh ke arahnya.
"Mereka adalah orang terdekat saya selama ini, pengganti dari keluarga kandung saya yang semuanya sudah pergi mendahului saya" kata Aish yang selalu merindukan kedua orang tuanya.
"Saya tidak tahu bagaimana hidup saya tanpa mereka. Terimakasih karena sudah tulus menyayangi" senyum Aish tak lepas dari wajahnya.
"Dan juga para guru yang telah sabar mendidik kami. Semoga ilmu yang kami dapatkan bisa bermanfaat. Terimakasih semuanya" kata Aish mengakhiri sambutannya.
Sebenarnya Aish sedikit khawatir pada saat penyerahan ijazah nanti, para murid harus didampingi oleh walinya saat menaiki panggung. Siapa yang nanti akan mengantarkannya.
Dan kelegaan kembali menyambangi hatinya, karena saat namanya dipanggil, ternyata mama Richard mau untuk mendampinginya.
Bak bidadari yang keluar dari taksi, Aish dan mama Richard tampak sangat cantik saat bergandengan tangan dan berjalan bersama menuju podium.
"They are my angels" gumam Richard.
Inisiatifnya menuntun untuk mengabadikan momen itu dengan kamera ponselnya. Dan mengunggahnya ke akun media sosialnya dengan hastag My future angel.
Yang langsung saja mendapatkan banyak sekali tanggapan dari followersnya.
Sekarang Richard selayaknya artis saja, dia cukup populer dengan unggahan-unggahan videonya yang sedang bernyanyi.
Hingga acara usai, Aish dan Yopi beserta rombongannya mengadakan acara syukuran kecil-kecilan di rumah engkong dengan mengadakan pesta barbeque.
Tapi sayangnya, mama Richard tak bisa terus bersama mereka. Waktunya terlalu berharga jika hanya dihabiskan untuk pesta kecil seperti ini.
"Gue mandi dulu ya, gerah banget nih" kata Aish, rencananya dia sekalian mau solat dhuhur.
"Iya, cepetan ya princess. Jangan lama-lama" kata Seno. Hari ini dia sengaja mengosongkan jadwalnya untuk menemani hari bahagia sang princess.
"Iya, bawel" kata Aish yang bersiap pergi ke rumahnya sendiri.
"Hati-hati, Ra" kata Richard, Aish hanya mengangguk untuk menjawabnya.
"Kenapa lo jadi bucin banget sih, Ri?" tanya Falen, berusaha mengakrabi mantan sahabatnya.
Seingatnya, bukanlah sikap Richard jika terlalu menggunakan hati untuk mengagumi seorang cewek.
Tapi sayangnya, Richard hanya mengendikkan bahu untuk menjawab. Masih tak ingin terlalu akrab lagi dengan Falen.
Melihat kecanggungan yang ada, enyak jadi tak enak hati.
"Eh, tong. Lo berdua juga buruan solat dah" kata enyak menunjuk pada Seno dan Falen.
Orang tua itu tahu jika Seno dan Falen seorang muslim. Berbeda dengan Yopi dan Richard, serta satu lagi Reno yang entah kemana hari ini.
"Iya, nyak. Gue duluan deh" kata Falen yang enggan berlama-lama dengan Richard.
Hampir satu jam menunggu, Aish baru saja menampakkan batang hidungnya lagi. Dia terlihat lebih fresh dan kembali pada baby face nya tanpa sentuhan make up tebal seperti tadi.
"Maaf ya, lama" kata Aish yang langsung saja berjongkok di dekat Richard yang sedang memanggang daging dan jagung.
"Gue lebih suka lihat lo yang kayak gini" tiba-tiba Richard berkomentar.
Aish menoleh, memastikan pendengarannya tidak salah.
"Kenapa?" tanya Aish.
"Tadi lo kelihatan cantik banget, gue nggak suka ada cowok lain yang mandang lo lama-lama" kata Richard lirih, tak ingin yang lain mendengar ucapannya.
"Hengmg... gombal mulu. Gosong nanti tuh makannya" kata Aish yang tak mampan dengan gombalan Richard.
Richard menoleh, tersenyum ke arah pacarnya yang juga sedang menatapnya.
"Ehm, iya yang dunia serasa milik berdua" seloroh Yopi yang datang membawa potongan daging dan beberapa jagung yang akan dibakar.
Keduanya jadi menunduk malu. "Yopi sialan" dalam hati Richard mengumpati sahabatnya.
"Kapan mau daftar kuliah?" tanya Richard.
"Secepatnya, kalau sudah buka pendaftarannya ya langsung saja" kata Aish.
"Kayaknya Senin depan sudah buka, gue anterin ya? Sekalian gue juga mau daftar" kata Richard.
"Boleh, memangnya lo mau kuliah dimana Richard?" tanya Aish, selama ini dia belum bilang mau kuliah dimana.
"Jakarta Internasional University" jawab Richard.
__ADS_1
Aish menoleh, "Nggak heran sih, Richard kan anak orang kaya. Pasti juga pilih universitas yang berkelas seperti itu" gumam Aish dalam hatinya.
"Kenapa?" tanya Richard.
"Nggak apa-apa. Lo mau kuliah sendirinya saja disana?" tanya Aish.
"Nggak, Yopi sama Reno juga disana" kata Richard.
"Gue nggak ikutan deh, Ri. Nggak sanggup gue bayarnya, bisa puasa sebulan penuh kalau gue. Gaji gue sebulan cuma buat bayar biaya kuliah doang" kata Yopi.
Mereka bertiga sudah berembug bersama untuk kuliah di tempat itu. Rencana Yopi inginnya menjadi pengawal Aish saja di Bunga Bangsa. Siapa tahu kalau menolak sekarang Richard bisa melunak dan mengizinkannya.
"Nggak, gue sudah bilang sama lo kan kalau biaya kuliah lo gue tanggung. Lagian Aishyah kan sudah ada Seno sama Brian" kata Richard.
"Cg, nambah lagi hutang budi gue sama lo" gerutu Yopi.
"Gue cuma mau lo setia sama gue, nanti kita wujudkan impian kita sama-sama" kata Richard.
Aish tak mengerti, entah apa mimpi mereka bertiga yang Aish tak tahu. Tapi untuk bertanya, dia enggan juga. Bukan urusannya.
Acara mereka hari ini lumayan lancar. Hampir tengah malam mereka baru mengakhiri acaranya. Karena Rian yang tiba-tiba datang dan ikut serta dalam acara mereka.
★★★★★
"Buruan, Ra. Lo lama banget sih?" teriak Richard dari dalam mobilnya.
"Nggak usah dandan, biasa saja bisa nggak sih" kata Richard lagi.
Senin pagi ini mereka berencana untuk mendaftar di perguruan tinggi yang sudah mereka incar.
"Ish, lo tuh bawel banget sih. Gue lagi nyari berkas-berkasnya juga" kata Aish sambil merapikan data-data yang dibutuhkan.
"Makanya, siapin dari kemarin dong" kata Richard.
"Semalam gue nggak sempat. Lembur kan di cafe, pulangnya juga malam banget. Jadi sampai rumah langsung tepar gue" kata Aish yang belum selesai merapikan datanya.
Mendadak kemarin sore ada yang membooking cafe untuk acara ulang tahun dengan sangat mendadak.
Untung saja semuanya bergerak cepat hingga acara berjalan lancar.
Tapi ya gitu, Aish jadi kesiangan kali ini.
"Bentar lagi pasti gue halalin lo, Ra. Dan kalau lo sudah nikah sama gue, nggak usah capek-capek kerja lagi ya. Nggak usah kuliah lagi juga nggak apa-apa. Gue penuhi semua kebutuhan lo" lagi-lagi Richard membahas pernikahan.
Aish meliriknya, memang baik untuk segera memperjelas suatu hubungan. Dan Aish sadar jika berpacaran juga tidak baik terlalu lama.
Tapi untuk meneruskan hubungannya dengan Richard. Dia masih ragu karena perbedaan keyakinan mereka.
Aish tak mau meruntuhkan akidahnya, diapun yakin jika Richard memiliki pendapat yang sama dengannya.
"Baru juga lulus, ijazah saja masih hangat. Tapi lo sudah bahas nikah aja" kata Aish.
"Eh, gue serius tahu. Gue tuh kasihan sama lo yang harus kerja keras buat penuhi kebutuhan lo. Mendingan kan nikah sama gue. Jadi lo tinggal diam di rumah, gue cari art buat lo biar dirumah lo tinggal tunjuk-tunjuk aja. Nggak capek-capek lagi nyari duit. Urusan duit lo serahin sama gue" kata Richard membanggakan diri.
"Gue juga pengen cari duit sendiri kali. Memangnya telinga lo nggak panas kalau orang lain ngatain gue cuma manfaatin lo doang buat biayain hidup gue?" tanya Aish.
"Lagian lo nikahin gue cuma gara-gara kasihan, gitu? Mending gue daftar ke kelurahan biar bisa dapat BLT daripada dinikahi cuma karena kasihan" menohok sekali komentar kamu Aishyah.
Dan kenapa tiba-tiba mereka berdebat?
"Lo masih ngeraguin cinta gue sama lo? Jadi, pengorbanan gue selama ini nggak membekas gitu di hati lo?" tanya Richard.
"Gue sih nggak pernah dengerin kata orang. Yang bikin gue happy, gue lakuin. Perkara orang bilang apa, gue nggak mau tahu" kata Richard dengan santainya.
"Asal lo tahu ya, Ra. Hidup lo bukan milik orang lain, yang bikin lo bahagia, lakukan. Yang bikin lo menderita, buang. Sesimple itu. Tapi jangan pernah lo ninggalin gue. Karena gue nggak akan pernah lepasin lo" kata Richard.
Aish memicingkan matanya setelah mendengar ucapan Richard.
"Lo ngancam gue?" tanya Aish.
"Iya, kalau sampai lo dekat sama cowok lain. Gua patahin leher orang itu. Gue nggak pernah main-main kalau menyangkut urusan lo" dengan santainya Richard mengucapkan itu.
"Gue harus senang apa takut sih? Lo kayak psikopat aja. Sudah selesai nih, yuk berangkat. Nggak usah bahas hal yang nggak akan ada ujungnya" kata Aish, ingin segera mengakhiri pembicaraannya.
"Oke, langsung ke kampus lo dulu ya" kata Richard.
"He em" jawab Aish.
Perdebatan merekapun berakhir untuk sementara waktu. Niat awal mereka memang tidak untuk membahas masalah nikah.
"Lo mau ikut masuk?" tanya Aish setelah sampai di parkiran kampusnya.
"Gue tunggu disini deh" kata Richard yang tak suka dengan masalah rumit pendaftaran.
"Oke, nanti gue langsung balik kalau urusan gue sudah selesai ya. Makasih sudah mau nganterin" kata Aish sebelum keluar dari mobil Richard.
Hal kecil yang Richard sukai dari Aish adalah dia yang mau mengungkapkan rasa terimakasih untuk perbuatan ringan yang Richard lakukan.
Dan itu membuat hati Richard seperti dihargai.
"Aish...." teriak seseorang saat gadis itu berjalan menuju loket pendaftaran.
"Nindi, Ilham. Kalian juga kuliah disini?" tanya Aish senang, karena banyak teman dari SMA nya juga.
__ADS_1
"Iya, kita disini juga. Kayaknya Mike juga disini deh. Tadi aku lihat dia sama Adit" kata Nindi.
"Oh, bagus deh kalau rame-rame" kata Aish.
"Senopati jadi kuliah disini juga apa ndak, Aish?" tanya Nindi.
Salah satu alasan Nindi untuk mengekor pada Aish karena Seno yang katanya mau kuliah disini juga.
"Nggak tahu kuga gue Nin. Tapi mommy nya Seno kayaknya nggak mau kalau Seno disini. Mereka kan orang terlanjur kaya, Nin. Pasti milihnya tempat-tempat elit gitu kan buat anaknya" kata Aish.
Nindi bahkan ikut dalam barisan antrian Aish untuk bisa menggali informasi dari temannya itu.
"Iya juga sih. Tapi ndak apa-apa deh, kalau aku tetap sama kamu kan seenggaknya jadi bisa sering-sering ketemu sama Senopati, hehehe" kata Nindi.
"Huu, dasar. Lo cuma mau manfaatin gue doang kalau gini mah" canda Aish.
"Aku tulus kok berteman sama kamu, tapi Senopati kan bonusnya" kata Nindi.
"Lo jadi ambil manajemen bisnis?" tanya Aish.
"Jadi kok, aku kan mau jadi pengusaha" kata Nindi.
"Kalau lo, Ham?" tanya Aish.
"Gue ambil akuntansi, males gue sekelas sama Nindi" kata Ilham.
"Sialan kamu tuh, Ham" kata Nindi mencubit perut Ilham. Mereka bertiga bercanda selama antri di pagi ini.
Di dalam mobilnya, Richard sedang memejamkan mata saat ponselnya berdering nyaring.
"Kenapa Yop?" tanya Richard setelah menerima sambungan teleponnya.
"Berkas nilai lo ketinggalan, Ri. Gue sudah di Kampus buat daftar. Lo bisa nggak ambil dulu dirumah lo? Nanggung banget nih kalau gue bolak-balik" keluh Yopi.
"Kok bisa ketinggalan sih? Kenapa nggak lo cek dulu tadi?" kata Richard sedikit keberatan. Niatnya ingin mengajak Aish jalan-jalan setelah ini.
"Cg, lo tuh yang teledor. Makanya kalau nyiapin berkas itu yang lengkap dong" kata Yopi sedikit nge gas.
"Iya, bentar lagi gue anterin kalau Aishyah sudah kelar sama urusannya ya" kata Richard langsung mematikan sambungan teleponnya. Malas mendengar Yopi yang masih merengek.
Kembali dia menyenderkan diri dengan nyaman dan menutup matanya.
"Seperti mobilnya Richard" gumam Indira yang entah mengapa ada di kampus ini juga.
Gadis itu mengamati dengan seksama, bahkan mendekati mobil itu dan mengintip ke dalamnya.
"Lagi ngapain sih, Ra?" tanya temannya yang heran melihat kelakuan Indira.
"Gue kenal sama yang punya mobil ini" kata Indira dan memberi isyarat agar temannya diam.
"Masak sih?" tanya temannya lirih, mobil Richard memang mewah. Mereka pikir orang di dalam mobil ini memang kenalannya Indira yang seorang model.
"Iya, gebetan gue ini. Pasti kesini karena mau ketemu sama gue" sudah senang saja gadis itu.
"Maaf, ada perlu apa ya?" tanya Aish dari belakang mereka berdua.
Setelah selesai dengan urusannya, Aish kembali ke parkiran bersama Nindi dan Ilham yang juga sudah selesai.
Indira sedikit terkejut, tak suka mendengar suara dari belakang badannya.
"Eh, hai Aishyah. Ngapain lo disini?" tanya Indira.
"Gue barusan daftar, lo sendiri ngapain?" tanya Aish.
"Hengmh... kebetulan banget ya. Gue kuliah disini" katanya.
"Oh, jadi lo senior gue dong?" tanya Aish tersenyum.
"Iya" jawab Indira singkat, ada rencana-rencana buruk dalam otaknya.
Pintu mobil terbuka, Richard keluar dari dalam sana. Teman-teman Indira ikut terpana melihat tampilan Richard yang selalu dingin tapi terlihat menawan.
"Kenapa nggak langsung masuk sih, Ra?" tanya Richard.
Teman-teman Indira sudah salah paham saja. Mereka pikir Richard sedang memanggil Indira.
"Baru nyampek sini gue, ini juga mau masuk ke mobil. Tapi tadi gue lihat ada Indira, jadi gue sapa dulu dong, Richard" kata Aish dengan polosnya.
Richard melirik sebentar, dia tidak suka ada Indira disini.
"Ayo masuk, kita balik sekarang" ajak Richard tanpa menyapa pada Indira. Dia kembali masuk ke dalam mobilnya.
"Gue duluan ya, semuanya" pamit Aish.
Nindi dan Ilham juga sudah melangkah, tadi Ilham datang bersama Nindi ke tempat ini.
Sementara Indira masih saja melihat kepergian Richard dari tempatnya berdiri.
.
.
.
__ADS_1
.