
Empat sekawan sedang belajar bersama di perpustakaan. Sengaja mereka membaca disini agar lebih mudah mencari buku sebagai bahan belajar untuk UTS di jam kedua nanti.
Waktu istirahat yang cukup lama dipergunakan dengan sebaik mungkin untuk belajar.
Merasa sedikit suntuk, akhirnya Seno membuka suaranya.
"Teman-teman, kalian harus dengar berita ter update dari Senopati" kata Seno sedikit berbisik, dia hanya berhasil memecahkan fokus dari seorang Falentino.
"Berita apa artis pujaan hatiku?" tanya Falen mencibir, mendengar nama panggung Senopati diucapkan.
"Film gue bakalan rilis dalam minggu-minggu ini loh" kata Seno sedikit memperkeras suaranya agar terdengar oleh Aish dan Hendra yang sedang fokus.
"Hah? Beneran?" tanya Aish sedikit keras karena terlalu semangat.
"Sstttt..." tegur beberapa orang yang ada di dalam perpustakaan untuk menghentikan keramaian yang diciptakan Aish.
Aish menampilkan cengir kudanya karena merasa tidak enak pada yang lain, mengatupkan kedua telapak tangan sebatas dada dan manggut-manggut sebagai tanda permintaan maaf.
Kemudian dia berpaling lagi pada Seno untuk mendengarkan berita lebih lanjut.
"Terus?" tanya Aish sedikit berbisik kali ini.
"Kalian secara eksklusif gue undang untuk nonton bareng sekalian peluncuran perdana film gue hari Minggu depan ya" kata Seno bangga. Akhirnya setelah berbulan-bulan dia sibuk dengan syutingnya, sebentar lagi rasa lelahnya akan terbayar dengan peluncuran perdana film remaja yang dibintangi olehnya.
Mata Aish berbinar senang karena usaha keras Seno sebentar lagi akan berhasil.
"Uwah... Gue seneng banget deh Seno. Jam berapa acaranya dimulai?" tanya Aish.
"Minggu pagi, princess. Dan semua harap membawa gandengannya masing-masing ya" kata Seno yang membuat senyum di wajah Aish langsung pudar.
"Mana bisa yang kayak gitu. Gue kan nggak punya gandengan, Senopati" keluh Aish tak suka dengan usulan Seno.
"Terkhusus untuk princess tersayang gue nih, lo dapat kesempatan menarik dari gue. Jadi lo harus datang sama gue. Jadi gandengan gue gitu deh" kata Seno sambil menaik turunkan alisnya. Membuatnya terlihat sangat imut.
"Maksudnya, si Aish dijadikan pacar lo gitu?" tanya Falen sedikit tidak terima.
"Mentang-mentang calon artis" cibir Hendra.
"Nggak ada ya, mana ada yang kayak gitu. Gue tuh cuma maunya memperkenalkan kalian sebagai sahabat yang selalu mendukung karir gue. Gitu loh. Pikiran kalian berdua terlalu jauh" keluh Seno masih dengan berbisik tapi dengan emosi yang meluap.
"Kalau lo berdua nih, harus banget bawa gandengan. Awas saja kalau sendirian, nggak bakalan gue ijinin buat masuk tahu nggak" kata Seno mengancam kedua temannya.
"Lo sukanya bikin hidup orang jadi ribet deh" kata Falen.
Seno hanya mengendikkan bahu dan kembali fokus pada buku dihadapannya. Falen dan Hendra jadi berpikiran dobel hanya untuk mengajak siapa yang akan dipilih untuk datang bersama di acara spesialnya Seno.
Sementara Aish hanya tertawa tertahan dengan telapak tangan menutupi mulutnya. Sekali-sekali menertawakan penderitaan kedua temannya kan bukan berarti sudah menjadi jahat kan?
★★★★★
"Sekar, sini" teriak Aish saat bertemu Sekar sepulang sekolah. Seperti biasa, dia sedang berempat dengan temannya.
Merasa ada yang memanggil, Sekar tersenyum karena itu adalah Aish dan tentunya bersama Falen.
"Ada apa?" tanya Sekar.
"Hari Minggu lo ada acara nggak?" tanya Aish, Falen sendiri sudah mencium gelagat mencurigakan dari Aishyah.
"Nggak ada kayaknya, kenapa?" tanya Sekar.
"Falen mau ngajak lo jalan. Mau nggak?" tanya Aish.
__ADS_1
Falen yang sudah mencurigai Aish sejak awal hanya bisa diam saja. Salah satu tangannya sudah mencubit pelan pipi Aish.
"Apa-apaan sih" kata Falen gemas pada tingkah sahabatnya yang masih bisa tenang dengan semua masalah yang menimpanya.
Aish tertawa mendapat perlakuan begitu, sementara Sekar jangan ditanya lagi. Meski bibirnya tersenyum, tapi hatinya menangis.
"Gimana Sekar?" tanya Aish yang belum mendapat jawaban darinya.
"Ehm, gimana ya?" kata Sekar seolah sedang mempertimbangkan, padahal aslinya hanya ingin Falen yang mengajaknya secara langsung. Bukannya lewat Aish.
"Mau nggak? Gue yang ngajak loh" kata Falen menawarkan.
"Boleh deh, jam berapa?" akhirnya Falen juga yang menawarinya, kan Sekar langsung mau.
"Pagi, jam delapanan lah. Iya kan Sen?" tanya Falen.
"Sip" kata Seno dengan dua jempol terangkat.
"Oke, bisa" kata Sekar dengan senang hati.
"Oke Sekar, sampai ketemu hari Minggu ya" kata Aish dengan senyuman yang manis.
Teringat akan perlakuannya, Sekar jadi merasa tidak enak hati pada Aish. Semoga saja kejadian kemarin tidak sampai ketahuan oleh lainnya. Kalau sampai ketahuan, pupus sudah harapan Sekar dengan Falen ke depannya.
Sekar segera pergi setelah keempat temannya tadi berpamitan. Tapi lengannya ditarik Viona yang melihat kejadian itu.
"Enak lo ya sudah bisa deketin kak Falen. Lo bantuin gue song biar bisa semakin dekat sama kak Richard. Susah banget tahu ngajak dia ngobrol" keluh Viona pada Sekar.
"Gue nggak begitu dekat sama Richard, bahkan ngobrol saja kita nggak pernah. Gimana bisa bantuin lo coba?" tanya Sekar yang risih pada adik tingkatnya.
"Nggak mau tahu gue, pokoknya lo harus bantuin gue. Atau gue kasih tahu kak Falen nih kejadian kemarin" ancam Viona.
"Kasih tahu saja sana. Kalau gue kena, pasti lo juga kena, tolol. Kan kita berdua yang ngelakuin itu" kata Sekar emosi menghadapi Viona.
"Awas lo Viona" batin Sekar yang sedikit menyesal karena termakan hasutannya.
★★★★★
Empat hari ujian teori dilakukan, UTS hari ini adalah ujian praktek olahraga. Hal yang sangat Aish tidak sukai. Apalagi setelah merasakan terkena lemparan bola hingga membuat hidungnya mimisan waktu itu.
Dia semakin takut saja rasanya menghadapi benda bulat nan keras itu.
"Heran gue, kenapa cowok-cowok suka banget sih sama basket?" tanya Aish.
"Seru dong pastinya" jawab Seno yang semangat sekali.
"Gue suka olahraga" kata Hendra.
Priittt....
peluit pak guru berbunyi, para murid diharuskan berbaris. Mereka melakukan pemanasan sebelum ujian dimulai.
Falen selaku ketua OSIS diminta pak guru untuk memimpin senam pemanasan di kelasnya.
Seno yang berdiri di dekat Aish selalu saja menggoda Aish saat melakukan peregangan otot.
Tawa ceria tercipta dari keduanya, membuat siapa saja yang melihatnya pasti tidak tahan untuk ikut tergelak.
Membuat suasana menjadi gaduh, dan akhirnya semuanya terkena imbasnya untuk mendapat hukuman lari keliling lapangan.
Meski hanya dua kali putaran, tapi cukup menguras energi.
__ADS_1
"Gara-gara kalian berdua nih, semua jadi ikutan lari" gerutu teman-temannya.
"Salah sendiri kalian ketawanya kenceng banget. Lo kita lagi lomba ketawa gitu?" kata Seno yang tak mau disalahkan.
Mendengar muridnya kembali gaduh, pak guru meniup peluitnya dengan keras.
Priiittttt.....
"Gaduh lagi? mau dihukum lagi?" tanya pak guru, semua murid terdiam.
"Ujian kali ini memasukkan bola ke dalam ring basket, lima kali tembakan. Tiap tembakan dua poin".
"Setelah itu, tanding basket tiga lawan tiga selama sepuluh menit. Tim putra sendiri, tim putri sendiri. Bebas memilih anggota".
"Ujian kali ini langsung mendapat nilai, nanti di akhir kegiatan akan saya umumkan".
"Nilai terkecil harus membuat makalah tentang olahraga yang sedang trending topik yang diulas dari sudut pandang yang berbeda. Dikumpulkan paling lambat hari Selasa" kata pak guru menjelaskan.
"Aishyah Khumaira, silahkan mengambil bola. Bersiap di posisi. Priitt" pak guru memanggil nama Aish yang nomer absennya di urutan paling atas untuk melempar bola ke dalam ring basket.
Daftar nama sudah ada di tangan pak guru, tinggal mengisi dengan hasil ujian hari ini.
Mengambil ancang-ancang, Aish siap melempar bola. Setelah berdoa dalam hati, dia sedikit menghitung ketepatan lemparannya.
Lemparan pertama lancar, masuk dengan sempurna. Teman-temannya memberi semangat lagi. Kemudian terdiam saat dia akan mulai melempar.
Lemparan kedua gagal, seruan kekecewaan muncul dari temannya. Begitu terus sampai lemparan kelima.
Hasil yang lumayan, dari lima lemparan itu Aish berhasil memasukkan tiga.
Di akhir ujian, banyak murid yang mendapat nilai yang bagus. Guru olah raga mereka tidak pelit dalam memberikan nilai.
Sedangkan Aish harus puas dengan nilai 70. Lumayan lah untuk siswi yang tidak begitu suka bola seperti dia.
Tidak ada yang harus mengumpulkan makalah di kelasnya, semuanya aman dari remidial.
"Besok jangan lupa ya" kata Aish mengingatkan Falen yang akan menemaninya ke persidangan.
"Siap tuan putri" kata Falen.
"Gue duluan ya, ada tugas negara nih. Sudah ditunggu di ruang OSIS" kata Falen yang di iyakan oleh ketiga temannya.
"Gue juga ya, mau nyari gandengan di acaranya Senopati nih. Doain gue ya" kata Hendra yang sebenarnya sudah ada janji dengan Queen.
Tinggal Seno dan Aish yang tertinggal, mereka berdua beranjak dari kelas menuju pintu gerbang bersama.
"Minggu besok gue jemput ya" kata Seno.
"Iya, boleh" kata Aish.
"Sabtu kita jalan ya, nyari dress buat lo. Gue mau princess gue yang paling cantik ini jadi terlihat lebih elegan" kata Seno.
"Boleh juga, sama mommy kan perginya?" tanya Aish.
"Iya dong, pastinya. Besok gue temenin juga ke pengadilan ya, gue jemput lo" kata Seno yang mendapat anggukan dari Aish. Seno teman yang bisa diandalkan dibalik sifatnya yang anak mommy.
.
.
.
__ADS_1
.