Cantik, Kok Minder?

Cantik, Kok Minder?
Emily


__ADS_3

"Assalamualaikum" sapa Aish yang mengangkat sambungan telepon miliknya.


"Hai, Aishyah" sapa perempuan dari balik teleponnya.


Aish melihat kembali nomor ponsel yang menghubunginya. Itu adalah nomor yang sejak dua hari ini sering membuatnya bingung.


Karena setelah Aish mengangkat dering hapenya, selalu saja dimatikan lagi.


Tapi kali ini, ternyata suara perempuan yang terdengar.


"Iya, saya Aishyah. Kamu siapa?" tanya Aish setelah menempelkan kembali hape ke telinganya.


Beberapa menit menunggu, masih tak ada sahutan dari seberang telepon. Malah terdengar isakan kecil.


"Lho, kok malah nangis. Maaf, kamu siapa?" heran Aish yang mendapati tangisan dari orang asing.


"Ini gue" kata orang itu masih dengan isakan yang lebih keras.


"Gue cuma bisa denger suara lo, bukannya wajah lo. Jadi, gue nggak tau siapa lo. Maaf nih, lo siapa sih?" tanya Aish lagi.


Heran kadang menanggapi orang seperti ini, memangnya Aish seorang cenayang yang bisa tahu segalanya.


"Ini gue, Emily" jawab perempuan itu.


Aish sungguh terkejut, orang yang dalam rencana Aish masih akan dicarinya, sekarang sedang menghubunginya.


"Masak sih? Gue kok sedikit nggak percaya ya" kata Aish, karena memang sejak dulu hubungannya dengan Emily tidak pernah baik.


Jadi, jika dia menghubunginya tentu menjadi sesuatu yang aneh kan?


Terdengar suara notifikasi dari hape yang sedang dipakainya. Saat Aish melihatnya, rupanya Emily sedang mengalihkan panggilan siara ke panggilan video.


Aish menggeser icon video, dan mulai melihat tampilan wajah pemanggilnya.


"Uwah, beneran elo. Apa kabar, Em? Sudah lahiran kan?" Aish sangat antusias saat bertanya, mode keponya sudah on.


"Gue baik, gimana hubungan lo sama Richard?" tanya Emily, rupanya di tempatnya masih malam. Terlihat muka bantalnya yang tak bisa dibohongi.


"Alhamdulillah lancar saja. Kok lo telponnya malam sih, memangnya nggak gangguin si kecil?" tanya Aish.


"Barusan gue habis ngasih asi ke dia, pas dia sudah tidur lagi malah gue nggak bisa tidur" Emily terlihat sedikit bersedih saat mengatakannya.


Pasti berat menjadi seorang ibu di usia uang masih sangat muda sepertinya.


"Ehm, ngomong-ngomong kok elo bisa tau nomer hape gue sih, Em??" tanya Aish memecah kecanggungan.


Aish memang sehumble itu, semua orang yang berbincang dengannya pasti akan merasa nyaman.


" Dulu, waktu gue masih sama Richard kan tuh anak sering banget bandingin gue sama lo. Nggak terima dong gue" Emily mengawali ceritanya, mulai mengobrol santai dengan Aish.


"Terus?" senyum Aish mengembang untuk menyenangkan hati Emily.


"Gue nyari nomer hape lo di hapenya Richard lah, dia tuh sudah nyimpan nomer lo sejak lama" kata Emily.


Aish hanya manggut-manggut saja.


"Dan waktu gue lihat yutub, terus nemuin video-video dari akun yang Richard bikin, gue sempat lihat ada video yang menampilkan tentang elo yang lagi dinyanyiin lagu sama Senopati dan Richard, gue jadi kepikiran buat tanya soal Yopi ke elo aja. Soalnya gue dilarang keras buat menghubungi Yopi, Richard dan juga Reno" kata Emily.


"Gue dipaksa mutusin hubungan gue sama semua yang menyangkut Yopi" terlihat gurat kesedihan di wajah Emily.


"Jadi gue pikir kalau gue hubungin elo, nggak bakalan ada satu orangpun dari keluarga gue yang bakalan curiga" kata Emily menjelaskan keinginannya.


"Terus, lo mau gue lakuin apa buat kalian?" tanya Aish.


"Gue lagi nggak ngarepin apa-apa sebenarnya, cuma gue pingin tau aja, apa Yopi masih inget sama gue setelah semua yang sudah kita lewati. Atau dia sudah ada pengganti gue" kata Emily ragu, dia tahu jika Yopi pun sama dengan Richard dulu, suka main perempuan.


"Sabar ya, Em. Pasti sulit banget jadi elo. Tapi gue janji bakalan bantuin elo semampu gue" Aish tulus saat berkata, dia tak tega melihat Emily yang harus berjuang sendirian tanpa Yopi disampingnya.


"Makasih ya, Aish. Nggak salah memang kalau Richard sayang sama lo, lo memang baik" kata Emily.


Aish hanya bisa mengangguk, "Lo mau gue ngapain, Em?" tanya Aish lagi.


"Gue cuma pengen tahu, apa Yopi benar-benar lupain gue?" tanya Emily.


"Sejauh ini, dari yang gue lihat sih dia masih sendiri".


"Banyak kejadian setelah lo pindah ke Perancis, Em. Yopi sudah bukan lagi jadi orang kaya yang bisa berbuat seenaknya sendiri" kata Aish.


"Maksudnya?" tanya Emily.


"Iya, sekarang dia jadi tetangga gue. Hidup sederhana di rumah saudara gue disini. Dia diusir dari rumahnya, bahkan dia sudah nggak sekolah di Mahardika. Dia sekolah bareng sama gue di 72" kata Aish.


Emily terlihat semakin bersedih, dia terdiam untuk beberapa saat.


"Semua gara-gara gue, kalau saja waktu itu gue nggak bertindak bodoh. Pasti semuanya nggak seperti ini" kata Emily menyesali perbuatannya.


"Sudahlah, Em... Yang sudah terjadi, jadikan pelajar untuk ke depannya. Sekarang lo harus fokus sama anak kalian".


"Ih, iya. Anak lo cewek apa cowok?" tanya Aish.

__ADS_1


"Anak gue cewek, Aish. Dia persis banget sama Yopi, lihat deh" kata Emily yang memperlihatkan wajah anaknya melalui kamera ponselnya.


"Uwah, iya. Dia cantik banget. Namanya siapa?" tanya Aish dengan wajah berbinar.


"Namanya Silvia, dulu Yopi suka banget sama nama itu. Dia bilang itu nama kecil mamanya" kata Emily.


"Manis banget. Boleh gue kasih tau Yopi?" tanya Aish.


"No, nggak boleh" kata Emily tegas.


"Kenapa? Dia kan juga berhak tau anaknya, Em" kata Aish.


"Gue masih belum siap, Aish. Nanti kalau keadaannya sudah kondusif, pasti gue temuin Silvia sama papanya" kata emily.


"Iya deh, itu semua hak lo sebagai ibunya. Tapi, boleh nggak kalau gue minta fotonya? Gemes banget deh" kata Aish yang layar ponselnya masih dipenuhi dengan Silvia tang sedang tidur


"Nanti gue kirim ke elo ya" kata emily.


"Eh, sebentar ya Em. Kayaknya ada yang datang, gue bukain pintu dulu" kata Aish yang mendengar ada suara ketukan pintu dari luar rumahnya.


"Kayaknya itu Richard deh yang datang. Gue bukain pintu dulu ya, biar kalian bisa ngobrol juga" kata Aish. Heran saja, dia tak merasa cemburu sama sekali. Padahal Emily juga mantan pacarnya Richard.


"Jangan, biar gue tutup saja telponnya.Kan gue dilarang berhubungan sama mereka, Aish. Lain kali gue telpon lo lagi, ya" kata Emily.


"Ingat pesan gue, jangan bilang sama siapapun kalau gue hubungin elo" pesan Emily sebelum mengakhiri panggilannya.


"Iya" jawab Aish singkat.


Segera Emily mengakhirinya, dan Aish segera beranjak menemui Richard.


"Lama banget sih bukain pintu doang" keluh Richard yang sama sekali tak bisa menunggu meski tak lama.


"Nggak sabaran banget sih, kan harus jalan dulu kesininya" kata Aish.


"Ayo masuk" Aish mengajak Richard duduk di dalam, dia juga akan mengajak Yopi datang.


"Lo habis ngapain sih? Terus juga mau telpon siapa?" tanya Richard.


"Tadi lagi bikin sarapan, tapi belum selesai. Terus ini lagi mau hubungi Yopi biar kesini juga" kata Aish yang sudah mengusap layar ponselnya.


"Nggak usah ngajak Yopi, gue mau ngajakin lo keluar. Buruan siap-siap" kata Richard mencegah keinginan Aish.


"Oh, oke. Gue ganti baju dulu kalau gitu" kata Aish beranjak ke kamarnya, dan meninggalkan ponselnya di atas meja.


Richard bukan orang yang sabar kalau disuruh menunggu. Saat kebosanan dirasakan, dia melihat ada ponsel Aish yang sengaja ditinggalkan.


Aishpun juga tahu pola layar kunci dari ponsel Richard, tapi dia tak pernah mau melihat isi di dalamnya.


"Oh, tadi dia baru saja video call sama seseorang" gumam Richard.


karena terburu-buru, Aish tidak sempat menghapus riwayat panggilan dari ponselnya. Dan beruntung dia juga belum menyimpan nomor Emily.


"Seperti nomer luar negri" gumam Richard.


Setelah dia men screenshot riwayat panggilan itu, dia segera mengirim ke ponselnya sendiri.


Dia tak lupa untuk menghapus jejaknya, tak mau bermasalah dengan Aish yang cerewet.


"Kalau lo nggak mau cerita sendiri, biar gue yang cari tahu, Ra" kata Richard.


Setelahnya, dia menaruh hape itu di tempat semula.


Dan mulai sibuk dengan ponselnya sendiri, ada yang harus dia cari tahu sekarang.


Ting.


Ada notifikasi dari ponsel Aish, tangan Richard tergerak untuk melihatnya.


Saat dia membuka pesan yang masuk, bersamaan dengan Aish yang baru selesai ganti pakaian.


"Ada pesan ya?" tanya Aish, tangannya mengambil hape dari Richard.


"Iya, foto bayi. Memangnya bayi siapa?" tanya Richard, dia tahu jika pengirim foto itu adalah orang yang tadi menghubungi Aish.


"Bukan bayi siapa-siapa kok. Lihat deh, lucu banget ya?" kata Aish tersenyum melihat foto Silvia, anak Yopi.


"Kita nanti bikin yang lebih lucu daripada itu" kata Richard dengan datarnya.


Aish melirik tajam, "Bahasa lo sudah kayak orang dewasa aja" cibir Aish.


"Ayo deh kita berangkat, keburu siang" kata Richard, tak ingin berlama-lama saling melempar sindiran, nanti pasti ujung-ujungnya akan berdebat.


"Memangnya mau kemana sih?" tanya Aish yang ikut beranjak, mengekor pada Richard yang sudah berjalan mendahuluinya.


"Olahraga, joging" kata Richard.


Aish mengunci pintu rumahnya, setelah menyimpan kuncinya di dalam tas, diapun segera menghampiri Richard yang sudah membukakan pintu mobil untuknya.


"Mau joging tapi naik mobil. Kenapa nggak langsung aja lari dari rumah?" tanya Aish setelah Richard menjalankan mobilnya.

__ADS_1


"Kan kita mau ke lapangan, sekalian ke bazar. Tiap hari Minggu kan ada acara bazar, Ra" jawab Richard.


"Oh, lo sering kesana?" tanya Aish.


"Nggak juga sih, tapi pernah juga" jawab Richard.


"Sama siapa kalau kesana?" pertanyaan yang akan menimbulkan perpecahan, dijawab jujur salah, bohong tambah salah.


"Dulu, Ra. Rame-rame kok kalau kesana" kata Richard setenang mungkin.


"Rame-rame itu sama siapa saja? Kok gue nggak pernah dengar lo kesana?" tanya Aish.


"Ya kan dulu, Ra. Sudah la banget gue nggak kesana, baru sekarang pengen ngajak lo joging disana lagi" kata Richard.


"Sudah, jangan banyak tanya. Ayo turun" jalanan cukup lancar, jadi tak butuh waktu lama untuk bisa sampai disana.


Aish mengatupkan kembali bibirnya yang sudah bersiap melontarkan pertanyaan lanjutan.


Dia turun dan mengikuti langkah Richard yang berjalan mendahuluinya.


Setelah pemanasan singkat, mereka berdua berlari ringan sambil sesekali mengobrol santai.


Tak terasa sudah tiga putaran mereka berlari, "Duduk disana dulu, yuk" ajak Aish menunjuk pada bangku kosong tak jauh dari tempat mereka berdiri.


"Gue lupa nggak bawa air" kata Aish sambil mengipaskan tangannya ke wajah, terasa gerah.


"Bentar gue beli" Richard segera beranjak setelah mengatakannya.


Dan kembali setelah beberapa saat.


"Nih, minum" kata Richard, menyulurkan sebotol air mineral yang telah dibukanya.


"Makasih" kata Aish seraya senyum setelah meminumnya.


"Cari sarapan? Lo mau makan apa?" tanya Richard.


Aish mengedarkan pandangannya ke sekeliling, banyak penjual makanan berjejer di food court yang tersedia.


"Bubur ayam aja yuk" ajak Aish segera beranjak.


Mereka berdua duduk santai sambil menunggu pesanan datang. Sesekali terlihat mereka bercanda. Richard bisa bersikap hangat pada Aish.


"Itu Yopi apa bukan sih?" ekor mata Aish mendapati Yopi sedang menuju ke tempatnya dengan seseorang.


Richard menoleh, karena memang dia duduk membelakangi arah masuk ke stand bubur ayam.


"Yop, sini" teriak Aish sambil melambaikan tangannya.


Yopi terkejut, tak menyangka akan bertemu polwan itu disini. Deg-degan juga dia, tapi tak mungkin untuk menghindar, jadi dia pasrah saja.


"Kalian janjian ya kesini?" tanya Aish mengamati penampilan Yopi dan Nindi, mereka juga memakai baju olahraga.


"Endak kok, Aish. Kebetulan ketemu tadi. Kan rumahku dekat dari sini, tiap hari Minggu aku selalu joging disini" kata Nindi mengelak.


"Oh, yaudah pesan dulu sana. Nanti makan sama-sama disini ya" ajak Aish.


Tentu mereka berdua tak bisa menolak. Yopi menurut pada Aish. Yopi dan Nindi sudah sepakat untuk tidak pernah menceritakan kedekatan mereka berdua pada orang lain.


Meja itu dipenuhi keempat orang yang sedang menikmati sarapan setelah joging santai.


"Itu yang di status lo, anaknya siapa sih?" tanya Richard yang melihat Aish memakai foto seorang bayi perempuan.


"Oh, itu anaknya teman gue, Richard. Kebetulan bapaknya lagi banyak urusan, jadi nggak sempat menghubungi anaknya. Bapaknya lagi agak khilaf, semoga saja segera sadar" jawaban Aish membuat semua yang ada disana melihatnya dengan heran.


"Memangnya kenapa?" tanya Richard.


"Jadi bapaknya anak itu sedikit lupa sama anaknya, soalnya dulu orangtuanya tuh bocah kebablasan waktu pacaran. Jadi, anak itu hasil kecelakaan dari hubungan orangtuanya" cerita singkat Aish terasa sangat menyindir Yopi.


Tapi Yopi tak sedikitpun merasa tersindir. Dalam pikirannya, tak mungkin Aish bisa mengetahui tentang anaknya. Karena dia sendiri belum bisa menghubungi Emily, apa lagi Aish yang bahkan memiliki hubungan yang tak begitu baik dengan pacarnya itu.


"Namanya siapa?" tanya Nindi yang sepertinya sudah melihat status Aishyah.


"Silvia, bagus ya namanya. Tapi nasibnya tak sebagus itu, kasihan" kata Aish yang menunduk setelah mengatakannya.


Yopi merasa tak asing dengan nama itu, dia jadi teringat mamanya.


"Lo kenapa diam saja, Yop? Tumben banget" tanya Aish yang melihat sedikit gurat kesedihan di wajahnya yang menunduk.


"Oh, nggak apa-apa kok" kata Yopi berusaha tenang, dia sedang berusaha menelan suapan demi suapan bubur ayam yang jadi tak terasa nikmat.


Dia merasa aneh setelah ikut-ikutan melihat foto bayi yang Aish gunakan sebagai status di WA nya.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2