Cantik, Kok Minder?

Cantik, Kok Minder?
Abang dokter


__ADS_3

Dokter itu menyimak segala yang dilakukan Hendra pada Aish. "Mereka saling membantu rupanya" batinnya.


"Jadi, kamu benar tidak menyimak semua penjelasan saya daritadi?" tanya dokter itu, Aish hanya berdiri sambil menunduk. Takut juga dia sekarang.


"Maaf abang dokter" kata Aish lirih, sangat susah menghilangkan embel-embel sebutan abang pada dokter itu.


"Jadi, siapa nama kamu?" tanya dokter itu.


"Saya Aishyah Khumaira, bang dokter" jawab Aish.


"Cg, kamu tahu siapa saya?" tanya dokter itu lagi.


"Abang dokter Siras Abdullah bin Walid" jawab Aish membaca tulisan dari Hendra.


"Kamu pikir saya penjual sate?" bentak dokter Siras.


"Eh maaf, bang. Eh, dok" jawab Aish gelagapan.


"Maju kamu" perintah dokter itu.


Aish menurutinya, entah apa yang akan menimpanya nanti. Dia berjalan sambil menunduk.


Dokter itu mengambil beberapa obat dengan nama dan kegunaan masing-masing. Lalu menaruh diatas meja di dekat Aish.


"Sekarang kamu coba sebutkan dan jelaskan pada kami semua nama dan kegunaan dari jenis-jenis obat itu!" perintah dokter Siras, senyum sinis terukir di wajah tampannya.


"Rasakan kamu!" batin dokter Siras penuh kemenangan.


Aish melihat beberapa jenis obat itu. "Gampang, kan sudah diajarkan di sekolah" batin Aish sambil tersenyum ceria.


"Baik dok, akan saya sebutkan nama, janis dan kegunaan dari beberapa obat ini" kata Aish mengawali penjelasannya.


Dia mengambil satu jenis dan mengangkatnya sebatas dada, lalu memulai penjelasannya.


"Ini adalah Paracetamol, obat ini termasuk ke dalam golongan antipiretik dan analgesik, fungsinya adalah untuk meredakan nyeri, demam, termasuk juga pada saat sakit kepala dan sakit gigi.


Paracetamol atau acetaminophen bisa didapat dalam bentuk tablet, sirup, tetes, suppositoria dan juga infus" penjelasan Aish terhadap macam dan jenis obat berlangsung dengan baik.


Dokter Siras lupa jika para murid yang berada di hadapannya saat ini bukanlah murid sembarangan. Dari sekolah unggulan, tentunya bisa dengan mudah jika hanya menghafal macam, jenis dan manfaat obat-obatan dasar seperti itu.


Semua yang ada di dalam ruangan itu menyimak dengan baik penjelasan yang dilakukan Aish. Sesekali dokter Siras tersenyum smirk, niatnya untuk balas dendam rupanya gagal.


"Ok, kita coba lain waktu" batinnya masih menyimak Aish yang mengoceh seperti penjual obat dadakan.


"Sudah bang dokter. Semua obat ini sudah saya jelaskan jenis dam manfaatnya" kata Aish di akhir penampilannya.


"Baiklah, kamu selamat kali ini. Untuk selanjutnya, simak dengan baik orang yang sedang berbicara di depan kamu" kata dokter Siras.


"Iya bang dokter. Terimakasih. Boleh saya duduk lagi?" tanya Aish.


"Iya, silahkan" kata dokter Siras. Rupanya telinganya sudah terbiasa dengan sebutan abang.


Hendra senyam-senyum dengan kedatangan Aish yang mendudukkan diri di sampingnya. "Dokter itu seperti mau makan lo bulat-bulat" bisik Hendra sambil cekikikan.


"Ssttt, diem" kata Aish sambil menempelkan telunjuknya di bibir, menyiratkan Hendra supaya diam.


Selanjutnya, acara berlangsung tertib. Bahkan setelah isshoma, masih ada kelanjutan acara hingga menjelang senja.


Rupanya pembagian kelompok jaga beserta jadwalnya juga dilakukan hari itu juga. Tapi dokter Siras yang jadi terkenal diantara para peserta cewek tidak menampakkan lagi batang hidung mancungnya.


Hanya satu kali saat rencana balas dendamnya pada Aish gagal, dia tidak lagi berada di tengah mereka. Mungkin sedang ada jadwal jaga, kan memang dokter.


"Kita ada di daftar jaga yang sama setiap harinya ya Hen?" tanya Aish. Entah kebetulan atau disengaja, tapi jadwal jaganya selalu sama dengan Hendra.

__ADS_1


"Iya" jawabnya singkat.


Mereka berdua sedang berjalan bersama untuk keluar dari gedung rumah sakit ini, karena memang sudah waktunya pulang. Dan kegiatan jaga baru akan diadakan Senin lusa, sepulang sekolah.


"Lo gue jemput ya kalau mau berangkat" kata Hendra.


"Eh, nggak usah. Gue naik angkot saja" kata Aish berusaha menolak.


"Nggak ada, jauh. Kalau perlu nih, pulang sekolah gue langsung pulang ke rumah lo. Terus kita berangkat bareng ke rumah sakit" kata Hendra tak terbantah. Ya, memang sebaik itu teman-temannya menjaga Aish. Hanya saja gadis itu merasa tak harus seperti itu. Dia selalu merasa tidak enak hati.


"Tapi rumah lo nggak searah sama gue Hen" kata Aish.


"Gue nggak peduli" jawab Hendra sambil mengendikkan bahu, cowok itu hanya ingin melakukan sebisanya untuk membantu sahabatnya. Setulus itu hati Hendra.


Mereka berpapasan dengan dokter Siras di lorong dekat UGD. Tempat keluar masuknya staff.


"Hai bang dokter" sapa Aish ramah diiringi senyuman termanis.


Dokter itu hanya jutek, hanya melirik sekilas dan melanjutkan langkahnya.


"Jadi orang yang malam itu kita lihat lagi berantem tuuuhh...." kata Hendra mengeraskan suaranya dengan kalimat menggantung penuh tanda tanya. Tapi pasti dokter itu mengerti.


"Sialan, saya di jahili oleh anak bawang" batin dokter Siras.


Diapun berhenti melangkah, kemudian berbalik menghadap dua anak ngeselin ini.


"Kamu ngomong sama saya?" tanya dokter Siras.


"Enggak, saya nggak ngomong apa-apa loh abang dokter" kata Aish.


"Saya cuma tanya sama teman saya kok pak dokter" kata Hendra.


"Sialan" batin dokter Siras menatap sinis pada Aish. Yang ditatap malah senyum nggak jelas


"Saya tandai muka kalian berdua" kata dokter Siras pada Aish dan Hendra.


"Siap dokter" kata Hendra dengan nada mengejek.


Dokter itupun berlalu dengan mood yang sangat buruk karena kelakuan dua anak bau kencur.


Untungnya dokter itu sangat profesional, jadi dia bisa tetap tersenyum meskipun moodnya hancur.


Hendra dan Aish telah sampai di parkiran. Kedua bocah itu masih saja membahas tentang dokter Siras yang tidak disangka-sangka malah sekarang jadi leader mereka.


Aish sedang menunggu Hendra yang sedang mengambil motor saat seorang wanita datang dengan mobilnya.


Wanita itu terlihat keluar dari mobil dengan menenteng rantang yang pasti berisi makanan. Saat berjalan di depan Aish yang sedang berdiri sambil memainkan ponselnya, wanita itu berhenti dan mengamati wajah Aish dengan seksama.


"Kamu anak kecil yang malam itu ngerjain gue sampai due jatuh kan?" kata wanita itu merampas ponsel Aish dengan paksa.


"Heh, balikin handphone gue tante" kata Aish berharap orang itu mengembalikan ponselnya.


"Nih gue balikin" kata wanita itu sambil melempar ponsel Aish hingga ponsel itu mati.


"Yaahh.... tante ini kenapa sih, gue nggak ngerasa ya kenal sama situ. Main ngerusak ponsel orang lagi. Awas aja kalau rusak ya" kata Aish mengambil ponselnya berusaha menghidupkan kembali.


"Tuh kan layarnya retak, tante harus tanggung jawab nih" kata Aish.


"Kenapa princess?" tanya Hendra yang baru datang.


"Nih tante-tante ngeselin banget, dateng-dateng main ngelempar hape orang" kata Aish bersungut.


"Lo tuh yang ngeselin, beraninya kemarin malam permaluin gue di depan cowok gue" kata wanita itu lagi.

__ADS_1


"Tau ah, yang penting tante harus tanggung jawab nih. Layar ponsel gue retak Hendra" kata Aish merengek pada Hendra.


"Eh, jadi tante ini yang malam itu diputusin sama dokter Siras ya? Beda banget penampilannya" kata Aish.


"Jelaslah beda, sekarang gue makin cantik" kata wanita itu sambil mengibaskan rambut blondenya.


"Iya, tante jadi kelihatan makiinnnn tua, hahahaha" kata Aish sambil naik ke boncengan motor Hendra yang masih menyala.


"Ayo buruan Hendra, nanti tante neneknya makin marah" kata Aish meminta Hendra cepat menjalankan motornya.


Sementara si wanita rupanya sedang mencerna kata-kata Aish yang mengatakannya makin tua.


"Heh, dasar bocah kurang ajar. Nggak ada sopan-sopannya sama yang lebih tua" kata wanita itu menunjuk Aish yang masih cekikikan bersama Hendra yang menjauh dari area parkir.


"Dasar tante girang, loading banget dikatai tua masih mikir" kata Aish tertawa mengingat kejadian barusan.


"Gue nggak habis pikir, ternyata seleranya dokter Siras mengerikan" kata Hendra.


"Kayaknya sih mereka sudah putus Hen" kata Aish.


"Bodo amat lah, ini mau langsung pulang apa mau kemana dulu nih?" tanya Hendra.


"Main yuk, ngajak Falen sama Seno" kata Aish.


"Boleh, ke taman yang dulu itu ya. Lo telpon dulu mereka, suruh cepetan nyusul" kata Hendra.


"Siap bos" kata Aish semangat.


Sementara si wanita mendatangi dokter Siras dengan bersungut-sungut, ingin mengadukan kejadian yang baru menimpanya pada sang mantan kekasih yang masih diharapkan.


"Sayang, bocah sialan yang malam itu ketemu sama kita di taman ada di rumah sakit ini loh. Tadi dia abis ngata-ngatain aku tahu nggak sih kamu" adu wanita itu.


Dokter Siras malah tersenyum mendengar penuturan mantannya itu. Dia geli mengingat Aish yang memanggilnya abang. Sangat keterlaluan bocah itu, tapi kalau diingat-ingat, gadis itu sangat menggemaskan, hingga dia sendiripun tak bisa marah padanya.


"Kamu yang ngapain ke sini? kamu tahu nggak sih kalau ini masih jam kerja?" tanya dokter Siras.


"Aku kan kangen sama kamu, nih aku bawain makanan buat kamu sayang" kata wanita itu manja.


"Kita sudah putus sejak malam itu. Jadi kamu nggak perlu repot-repot bawain makanan buat saya" kata Siras.


"Aku kan sudah minta maaf sayang, kamu tetap pacar aku. Aku nggak kau kita putus" rengek wanita itu manja.


"Tapi aku tidak mau berhubungan dengan seorang pengkhianat seperti kamu Sofia" kata Siras.


"Maafin aku sayang, aku janji nggak akan ngulangi kesalahan aku lagi. Ini sebagai tanda permintaan maaf dari aku" kata Sofia memberikan rantang pada Siras. Tapi Siras hanya mengernyit, dia sudah benar-benar muak pada pengkhianatan Sofia.


"Hei, Tom" kata Siras memanggil seorang OB yang kebetulan lewat.


"Iya dokter, ada yang bisa saya bantu?" tanya Tomi, staff OB disana.


"Ini buat kamu" kata dokter itu memberikan rantangan dari Sofia padanya.


"Terimakasih dokter" kata Tomi berlalu dari hadapan Siras.


"Loh, kok dikasih ke dia sih sayang" kata Sofia tidak terima.


"Kan saya sudah bilang kalau saya tidak mau. Jadi jangan paksa saya" kata Siras meninggalkan Sofia.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2