Cantik, Kok Minder?

Cantik, Kok Minder?
ingat tuhan


__ADS_3

Hampir tiga jam menunggu, akhirnya pintu UGD terbuka. Siras keluar disambut pandangan penuh tanya oleh semua orang yang menunggu.


"Bagaimana?" tanya Richard, dia baru saja memejamkan mata saat terdengar pintu terbuka.


Siras menghela napas sejenak, "Keadaannya kritis, butuh transfusi secepatnya. Luka yang menyebabkan banyak pendarahan di kakinya sudah dijahit".


"Bekas gigitan ularnya bagaimana?" tanya Falen.


"Tidak banyak bisa yang masuk ke dalam tubuhnya, jadi masih tidak membahayakan nyawanya meskipun harus merasakan demam seperti ini. Dan lagi, siapa yang mau mendonorkan darahnya untuk Aishyah? Kamu tahu sendiri kan Brian, golongan darahnya langka" kata Siras menyindir Richard.


Seingatnya, Aish juga sempat berjuang melawan rasa phobia dalam dirinya demi menolong laki-laki yang sukses memikat hati gadis yang juga diinginkannya.


"Cg, gue bisa donorin sekarang juga" kata Richard singkat.


"Oke, boleh. Kita lakukan secepatnya. Mari ikut saya" kata Siras, Richard mengikuti langkah dokter yang memasuki kembali ruangan.


Dia diberikan brankar yang berada tepat di samping Aishyah, tujuannya mungkin untuk memudahkan tindakan yang akan dilakukan untuk keduanya saat terjadi sesuatu.


"Suster, tolong siapkan peralatannya. Saya akan memeriksanya" kata Siras.


Richard hanya diam, dia memperhatikan apa saja yang dilakukan oleh kedua orang dihadapannya ini.


"Semuanya baik, kamu tidur disini. Saya akan melakukan transfusi sekarang juga" kata Siras.


Richard tak begitu memperhatikan apa yang dokter lakukan padanya. Matanya tertuju pada gadis cantik yang sekarang berwajah pucat, dia masih terpejam.


Rasa perih yang dirasa saat jarum menancap di lengannya, tidak seperih hatinya saat mengingat bahwa Aish tadi sempat tidur berdua dengan Mike, pernah tidak sengaja mencium Mike, apalagi saat melihat dokter yang sedang bekerja di hadapannya ini. Rasa muak kembali terasa.


Tapi melihat kondisi Aish yang seperti ini, tentu hatinya sangat merasa khawatir.


"Pasien kritis lagi, dok" kata suster yang melihat tampilan layar penunjang kehidupan Aish berderit ngeri.


Siras sedikit terkejut, segera dia selesaikan tugasnya yang sedang menangani Richard.


Setelahnya, dengan sedikit berlari dia menghampiri ranjang Aish.


Pertolongan segera dilakukan, wajah-wajah tegang terpampang nyata di depan Richard.


Jangan ditanya bagaimana perasaanya saat ini. Saat melihat raut ketegangan dari para petugas medis itu membuat ketakutan menjalar ke setiap celah dalam hatinya.


Dalam kecemasan, Richard ingat jika dia punya tuhan.


Tuhan yang katanya bisa mengabulkan doa hamba yang meminta padanya. Tuhan yang selama ini telah Richard tinggalkan. Tuhan yang katanya tidak pernah marah pada hambanya.


"Tuhan, maaf jika baru sekarang aku mengingatmu. Maaf jika saat aku mengingatmu, aku mendoakan seseorang yang bukanlah menjadi bagian dari umatmu".


"Tuhan, kalau kau memang tidak pernah marah pada hambamu yang pernah tersesat sepertiku, maka maafkanlah jika aku melupakanmu selama ini".


"Tuhan, aku mencintai gadis yang bukan dari umatmu. Aku mencintai gadis tulus dan baik hati ini. Maafkan aku tuhan, jika doaku untuknya".


"Aku meminta padamu, sempatkanlah aku menjaganya, melindunginya, memberinya cinta seluas kau memberi bumi untuk kami. Sempatkanlah aku selalu membuat senyum di bibirnya"


Richard berdoa dalam hatinya, kecemasan meliputi seluruh ruangan. Para petugas medis masih sibuk dengan pekerjaannya, kondisi Aish masih belum menunjukkan kemajuan.


Lima belas menit berlalu, "Alhamdulillah" kata dua orang suster dan dokter Siras yang merasa lega karena masa kritis Aish baru saja terlewati.


Richard ikut merasa lega, rasa tegangnya sedikit berkurang. "Terimakasih tuhan, aku berjanji padamu untuk tidak akan pernah menyia-nyiakan kesempatan yang kau beri untuk menemani sisa usia kami berdua" batin Richard yang lega dan berterima kasih pada tuhannya.


Kembali emosi Richard meninggi, sempat-sempatnya dokter Siras mengelus rambut di kepala Aish yang tidak tertutupi hijabnya.


Ingin sekali Richard mematahkan tangan Siras yang tidak tahu kondisi. Atau memang dia sengaja melakukan itu untuk membuat Richard marah?


"I dislike this situation" geram Richard yang hanya bisa menahan kemarahan dalam hatinya.


★★★★★


Pagi hari saat membuka matanya, pemandangan indah yang pertama terlihat oleh netra Aish adalah adanya Richard yang setia menemaninya.


Perlahan Aish menggerakkan tangan yang berada dalam genggaman Richard.


Merasakan adanya pergerakan, Richard membuka matanya.


Kepalanya terangkat untuk menatap wajah sang kekasih. Senyum Richard terukir indah, wajahnya tetap tampan meski masih nyata penampakan muka bantalnya. Apalagi sejak semalam, tidurnya terasa tidak nyaman.


"Sudah bangun?" tanya Richard sambil mengelus sayang pipi Aish.


"Lo nungguin gue ya?" tanya Aish lirih, kepalanya masih sedikit berdenyut.


Richard menganggukkan kepalanya, "Gue kan sudah bilang, jangan main jauh-jauh. Lo tuh bandel banget sih" kata Richard sambil memencet hidung Aish.


Aish tersenyum, dia memejamkan matanya sebentar. Mengumpulkan energi untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan lanjutan dari Richard.


"Gue nggak main, kita lagi nyari kayu bakar. Alhamdulillah gue masih bisa selamat, padahal jurangnya lumayan dalam kan?" tanya Aish lirih.


Richard hanya mengangguk.


"Kalau enggak, gue pasti sekarang sudah kumpul sama ayah, bunda dan kak Alif" kata Aish menerawang langit-langit kamar rawatnya.


"Gue nggak suka ya kalau lo ngomong kayak gitu. Kalau lo pergi, gue bakalan ikut sama lo" kata Richard.


Aish menoleh, melihat ke arah netra Richard yang menatapnya tajam.

__ADS_1


Aish menyunggingkan senyumnya, "Gue kan selalu nyusahin lo, gue nggak pantas rasanya terlalu dapat perhatian dari lo" kata Aish menunduk, dia merasa bersalah. Karena setiap dia mendapat kesulitan, selalu ada Richard yang menolongnya.


"Gue benar-benar nggak suka kalau lo ngomong kayak gitu. Hati gue terlalu mantap buat bertahan sama lo. Lo boleh minta apa saja dari gue, asal jangan minta gue buat jauhin lo" kata Richard.


Aish melihat mata Richard, menatapnya dengan serius. Dia sedang mencari kebohongan di dalamnya. Sialnya, Aish tak menemukan itu.


Suasana yang sangat Aish tidak suka adalah terlihat lemah seperti ini. Tanpa bisa ditahan, air matanya keluar. Entah karena sedih, atau terlalu bahagia karena ada orang sebaik Richard yang mau menerimanya apa adanya.


"Kenapa nangis?" tanya Richard, dia berdiri untuk membantu Aish yang sedang ingin duduk.


Setelah berhasil duduk dengan baik, Aish malah memeluk Richard. Melingkarkan kedua tangannya di perut Richard. Air matanya semakin tumpah.


"Kenapa malah tambah nangis sih?" tanya Richard yang heran dengan sikap Aish.


"Gue ngerasa nggak pantas buat lo. Kenapa lo ngasih gue kebaikan sebanyak ini, Richard? Seandainya lo bersikap biasa saja, gue juga nggak bakalan punya perasaan terlalu dalam sama lo" kata Aish dalam linangan air matanya.


Entahlah, Aish merasa dalam titik terlemahnya. Sekarang dia juga merasa, bahwa kesendiriannya akan jadi sangat mengerikan kalau tidak ada orang sebaik Richard yang mau memberinya perhatian.


"Lo ingat nggak abis ngapain aja sama Mike?" tanya Richard, sedikit cemburu.


"Nggak ingat, yang ada dalam pikiran gue malah lo doang. Gue berharap banget lo datang nyelametin gue" kata Aish dengan menggelengkan kepalanya, masih dengan mendekap Richard.


"Gue minta maaf ya, Ra. Gue nggak bisa jagain lo" kata Richard sambil menggenggam kembali tangan sang kekasih.


Aish tersenyum, dia hanya mengangguk untuk menjawab pertanyaan Richard.


Setelah mengurai dekapannya, Richard membelai pipi Aish. Membersihkan sisa air mata yang masih mengalir.


"Pacar gue cantik banget sih" kata Richard menggoda Aish.


"Gombal" kata Aish tersenyum, sedikit merona pipinya mendengar gombalan Richard.


"Selamat pagi" kata Dokter Siras memasuki ruangan, pagi ini dia masih harus melakukan kontrol terhadap kondisi Aish dan Mike.


Aish menatap tidak suka pada sang dokter, dia sedikit bersembunyi di belakang tubuh Richard yang sedang berdiri.


"Saya mau melakukan kontrol, kenapa kamu berekspresi seperti itu Aishyah?" tanya Siras dengan menyunggingkan senyumnya.


Aish hanya menggeleng, dia tidak mau melihat ke arah Siras. Malah semakin lekat mendekap pada tangan Richard.


"Lo nggak usah takut, gue kan ada disini" kata Richard menenangkan.


Akhirnya Aish mau juga melepas pegangannya. Dia membiarkan Siras melakukan tugasnya agar segera pergi.


"Semuanya sudah membaik, sekarang tinggal pemulihan kaki kamu saja" kata Siras.


Aish tak menyadari jika kakinya terluka, sejak tadi dia sibuk bermanja-manja pada Richard.


"Eh iya, kaki gue sakit" kata Aish lirih, membuat Siras tergelak.


"Jadi sejak tadi kamu nggak nyadar kalau kakinya sedang terluka?" tanya Siras, Aish hanya menggeleng.


Siras kembali mengacak rambut pada kepala Aish. Richard sungguh tidak suka melihatnya.


"Yasudah, jangan lupa minum obatnya secara teratur sesudah makan. Nanti akan saya berikan jadwal terapi buat kamu ya" kata Siras.


"Sudah selesai kan, dokter? Sekarang biarkan Aishyah istirahat" kata Richard mengusir halus pada sang dokter.


Sementara Siras hanya menatap malas pada Richard, dan segera menerbitkan senyumnya lagi saat melihat pada Aish.


"Baiklah, saya permisi dulu ya Aishyah. Kamu cepat sembuh" kata Siras berlalu, diikuti oleh suster yang menemani Siras.


"Ehm... Richard, kayaknya gue pengen pipis. Tapi gimana caranya ya?" tanya Aish dengan suara pelan, dia sangat malu untuk mengutarakannya.


Richard tertawa, melihat wajah malu Aish sangat membuatnya terhibur.


"Gue anterin ya" kata Richard.


"Caranya?" tanya Aish.


Tanpa aba-aba, Richard menyelusupkan kedua tangannya di antara lutut dan leher Aish. Dia akan menggendongnya ke kamar mandi.


"Eh, ngapain?" tanya Aish kaget.


"Katanya mau pipis, pegangan nanti jatuh" kata Richard.


Dia menurunkan Aish di atas closet, mendudukkan dengan hati-hati.


"Bisa sendiri apa mau dibantu?" tanya Richard.


"Bisa sendiri dong, lo tungguin di luar ya" kata Aish.


"Nanti kalau sudah, lo panggil gue ya" kata Richard yang melangkahkan kakinya ke luar kamar mandi.


Sedikit kesusahan, akhirnya Aish selesai dengan hajatnya. Rupanya dia sedang kedatangan tamu bulanan.


"Belum waktunya sih, kenapa malah datang sekarang sih?" gumam Aish sambil menaikkan ****** ********.


Sedikit ragu, tapi Aish harus memanggil Richard.


"Richard, sudah" kata Aish yang langsung melihat Richard masuk.

__ADS_1


"Cepat banget, lo tungguin dimana sih?" tanya Aish yang sudah berada dalam gendongan Richard.


"Depan pintu" kata Richard.


Aish sedikit berpikir, "Apa Richard dengar ya sama kegiatannya di toilet tadi?" perasaan malunya jadi meninggi.


Sudah rebahan di kasurnya, Aish kembali ragu untuk mengutarakan maksudnya.


"Kenapa sih? Mukanya bingung gitu?" tanya Richard.


"Ehm ... Gue lagi dapet, Ri. Boleh nggak gue minta tolong sama lo?" tanya Aish.


Firasatnya sudah tidak nyaman, "Apa?" tanya Richard singkat.


"Ehm, boleh nggak kalau gue minta tolong buat beliin pembalut?" tanya Aish menunduk, dia sangat malu.


"Tapi gue nggak ngerti yang begituan, Ra" kata Richard ingin menolak.


"Yasudah deh, gue minta tolong Yopi aja deh buat beliin. Dulu dia pernah beliin itu kok buat gue" kata Aish menyesal, dia pikir Richard mau melakukannya.


"Maksud lo? Yopi pernah beliin pembalut buat lo?" tanya Richard dengan mata tajamnya.


"Pernah, waktu pulang sekolah dulu. Malah gue nggak nyuruh, Yopi punya inisiatif sendiri buat beliin itu. Dia tuh emang cowok yang pengertian banget" kata Aish, dia menunggu ekspresi Richard.


"Cg, kurang apa sih gue sama lo. Masak masih bilang Yopi cowok pengertian. Ok, gue beliin nih buat lo. Lo tunggu disini baik-baik ya. Jangan kemana-mana, nih hape lo" kata Richard, dia mengeluarkan ponsel Aish dari dalam saku jaketnya.


Aish tersenyum melihat kepergian Richard, sambil mengutak-atik ponselnya. Dia terus saja menyunggingkan senyum.


"Pagi semuanya" kata Reno yang masuk kamar Aish.


"Loh, Richard kemana? Kok lo sendirian, Sya?" tanya Yopi yabg datang bersama Reno.


"Lagi keluar sebentar, kalian tunggu saja" kata Aish, dia melambaikan tangannya pada Yopi agar mendekat.


"Apaan sih?" tanya Yopi penasaran.


Aish membisikkan sesuatu ke telinga Yopi, keduanya tergelak bersama. Membuat Reno menatap penasaran.


"Kenapa sih? Kalian senang banget tapi nggak bagi-bagi sama gue?" tanya reno.


"Bocil mana paham, lo tungguin saja tuan muda datang" kata Yopi yang masih terkekeh.


Ponsel Aish berdering, Terpampang nama Richard disana.


"Sstt, kalian diam ya" kata Aish memberi kode pada Yopi dan Reno.


"Iya, kenapa?"


tanya Aish setelah menggeser ikon hijau.


"Gue bingung nih, banyak banget pilihannya. Mana minimarketnya lagi rame banget, gue kan malu, Ra"


keluh Richard.


Aish menahan tawanya sebelum bicara.


"Yaudah nggak apa-apa, lo balik kesini saja. Nggak usah dibeliin, biar nanti gue minta tolong Yopi. Lo kan malu"


kata Aish, dia saling pandang dengan Yopi yang juga menaham tawa.


"Cg, bukannya gitu. Yaudah deh, bentar"


Richard tiba-tiba memutuskan panggilannya.


Aish hanya senyum-senyum sendiri setelah Richard memutus panggilannya. Dia kembali berbincang dengan Yopi dan Reno.


Cukup lama menunggu, sudah satu jam lebih tapi Richard belum juga sampai. Padahal letak minimarket masih ada di kawasan rumah sakit itu.


"Kok Richard lama banget ya?" tanya Aish.


"Eh, iya juga ya. Lagi kemana sih tuh anak. Minimarketnya pindah ke Rusia kali ya?" kata Reno menimpali.


"Kita tinggu bentar lagi, atau kalau nggak coba lo chatt saja" kata Yopi.


Aish mengambil ponselnya, segera dia menanyakan kabar Richard.


Sepuluh menit berlalu, masih belum ada balasan.


"Sudah centang dua, tapi belum dibaca. Kemana sih Richard? Perasaan gue jadi nggak enak deh" keluh Aish.


Yopi dan Reno jadi ikutan khawatir jadinya.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2