
"Assalamualaikum" ucap Aish riang sembari uluk salam. Rupa-rupanya semua sudah berkumpul di siang menjelang sore.
"Waalaikumsalam" jawab mereka serempak.
"Maafin Aish telat kong. Ini temannya Aish mau ikut latihan sama engkong boleh?" tanya Aish dan teman-temannya menenteng beberapa kresek besar.
"Ayo masuk, boleh saja neng" kata engkong.
"Oh iya kong, ini temannya Aish bawain mie ayam buat kita semua. Sudah pada makan apa belum nih?" tanya Aish.
"Kebetulan banget neng. Kita lagi mau istirahat ini" kata bang Johan dengan peluh masih menetes.
"Yasudah, pas banget kalau gitu. Ayo makan bareng, tapi Aish mau pulang dulu sebentar ya kong" kata Aish membuka bungkusan kreseknya dan membagikan pada temannya yang sedang istirahat.
"Kalian disini sebentar sama engkong ya. Gue mau nemuin bunda bentar, sambil naruh tas" kata Aish.
"Tunggu, lo kasih ini buat bunda juga ya" kata Seno.
"Iya, makasih ya Seno" kata Aish lali beranjak menemui bundanya dirumah untuk minta izin.
Sampai dirumahnya, Aish segera meminta bundanya untuk menandatangani surat edaran dari PMR tentang siaga di rumah sakit.
"Assalamualaikum bunda... Bunda, cepetan tandatangan disini ya" kata Aish sambil menyerahkan bolpoin dan selembar kertas pada bundanya.
"Waalaikumsalam.. eits, baru datang sudah nyuruh orang tua tandatangan. Mau dapat warisan nih kamu?" tanya bunda.
"Ihh, apaan sih bun. Ini surat dari sekolah, di ekskul PMR mau ada acara di rumah sakit gitu bun, jadi orang tua harus tandatangan. Sebagai bukti persetujuan gitu" kata Aish.
"Memangnya kenapa harus ada persetujuan segala sih? acaranya lama, atau jauh atau gimana nih?" tanya bunda.
"Lama Bun, dua bulan di akhir dan awal tahun nanti. Ayo dong bun tandatangan dulu, Aish ditungguin nih sama teman-teman di rumah engkong" kata Aish.
"Kalau mau latihan ya latihan saja, bunda mau baca dulu isi suratnya. Biar tak tertipu olehmu" kata bunda menunjuk hidung Aish.
"Bunda nih, memangnya aku penipu. Yasudah terserah bunda saja, pokoknya jangan lupa ditandatangani ya bun. Sama ini kiriman dari Seno, tadi dibelikan banyak banget mie ayam. Aish pergi ya bun, ke rumah engkong. Assalamualaikum" kata Aish.
"Waalaikumsalam" jawab bunda sambil geleng-geleng kepala.
Bunda membaca surat itu dengan seksama setelah kepergian Aish. Dan membubuhkan tandatangannya saat yakin bahwa kegiatan itu pastinya berdampak positif bagi putrinya.
Saat memasukkan kembali surat itu kedalam amplopnya, setetes cairan merah kental jatuh membasahi bagian luar dari amplop putih berlogo sekolahnya Aish. Buru-buru bunda menyekanya, berharap tidak banyak noda yang tertinggal.
__ADS_1
Setelahnya, bunda mengusap hidungnya. Ternyata wanita itu mimisan lagi, sudah tiga kali dalam satu minggu ini bunda mimisan. Tanpa sepengetahuan Aish tentunya. Beliau tidak ingin membuat putrinya itu kepikiran oleh keadaannya.
Segera bunda menyeka hidungnya dan pergi ke kamar mandi. Berharap mimisannya segera mampet.
*********
Aish datang kembali ke tempat engkong beriringan dengan kedatangan bang Rian yang selalu diikuti oleh beberapa anak buahnya.
"Uwaahh, bang Rian juga datang" kata Aish senang.
"Iya, sudah janjian sama babe" jawab pria bertatto itu.
"Engkong ada di halaman belakang bang. Yuk kesana sama-sama" kata Aish.
Rian hanya mengangguk dan berjalan beriringan dengan Aish. Pria itu menyukai Aish yang ceria.
Tiba di halaman belakang, bang Rian langsung menuju babenya yang sedang makan mie bersama enyaknya. Diapun duduk dan mencomot satu bungkus mie yang masih utuh, dan memberikan beberapa bungkus pada anak buahnya.
"Lo pikir yuh mie punya siapa? main ambil aja" kata babenya menggoda.
"eh, bukan buat semua ya be? yaudah, sini balikin" kata Rian.
"Hahaha... kagak, buat semua. Noh temennya si Aish bawa banyak banget tadi. Lo bagi ke semuanya dah biar kebagian semua" kata babe, Ruan hanya mengangguk paham.
"Yasudah kalau makannya sudah selesai, kita latihan lagi yok" kata engkong memberi aba-aba.
"Lo temennya Aish pada kemari dah!" kata engkong.
Falen, Seno dan Hendra mendekat, Aish ikut juga.
"Lo pada sudah bisa bela diri sebelumnya?" tanya engkong.
"Saya ada basic taekwondo kong" kata Falen.
"Bagus...bagus.. lainnya?" tanya engkong lagi.
"Saya nggak ada sama sekali kong, baru mau mulai ini" kata Seno sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Kagak apa-apa, Johan lo ajarin teknik dasarnya dulu sama Seno ini ya. Terus lo gimana?" tanya engkong pada Hendra.
"Saya dulu pernah belajar kong, tapi waktu kecil, sekarang sudah nggak pernah" jawab Hendra.
__ADS_1
"Tapi Hendra suka latihan tembak kan ya?" tanya Aish, Hendra mengangguk.
"Oh, lo belajar sama gue aja. Gue jago tembak" kata bang Rian mengeluarkan sepucuk senjata api dari balik ikat pinggangnya.
Mata Aish melotot, baru kali ini dia melihat senjata api dalam bentuk real. "Keren banget bang" kata Aish.
Hendra mengangguk senang, hobinya tersalurkan disini. Rupanya dua pria beda generasi ini akan klop dengan hobi yang sama.
Falen akan latihan bersama engkong langsung, katanya engkong ingin mengetahui perbedaan teknik dalam silat dan taekwondo dengan berlatih bersama Falen.
Hendra sedikit menjauh dengan menjadikan anak buah bang Rian langsung sebagai sasaran. Awalnya Hendra takut, tapi setelah beberapa kali mencoba, dia malah ketagihan. Sedangkan anak buah bang Rian tentunya sudah siap hidup dan mati untuk bisa terus bersama sang boss.
Seno berlatih teknik dasar dengan bang Johan. Beberapa kali anak itu terjatuh dan hampir menangis. Tapi lama kelamaan dia menikmatinya juga.
Sedangkan Aish berlatih dengan teman lainnya seperti biasa.
Hingga tak terasa waktu sudah bergulir hingga sore tiba. Mereka terlihat masih betah berlatih jika enyak tidak berteriak untuk mengakhiri latihan itu karena memang sudah mendekati waktu maghrib. Mau tak mau mereka berhenti.
"Gimana, senang nggak kalian?" tanya Aish saat duduk selonjoran bersama ketiga kawannya.
"Gue seneng walaupun agak pegal" kata Seno sambil mengipasi mukanya dengan buku.
"Gue juga seneng, lain kali gue ikut lagi ya princess" kata Falen yang dilatih langsung oleh engkong.
Hendrapun mengangguk sambil tersenyum, berlatih dengan bang Rian sangat real. Karena sasaran langsung adalah kepala anak buahnya. Sangat memacu adrenalin, karena jika sampai salah tembak, maka kepala anak buah bang Rian bisa hancur.
Dan karena tidak membawa baju ganti, mereka bertiga langsung pamit setelah peluhnya mengering. Sebenarnya enyak melarang karena masih ingin menjamu tamunya itu, tapi memang hari juga sudah menggelap. Jadi merekapun pulang sebelum membersihkan diri.
"Assalamualaikum bunda" kata Aish riang memasuki rumahnya.
"Waalaikumsalam, sidah latihannya? teman-teman kamu sudah pulang?" tanya bunda.
"Sudah bun, nggak ada yang bawa baju ganti, jadi mereka langsung pulang deh. Aish mandi dulu ya bun" kata Aish, bundanya hanya mengangguk dan tersenyum.
Sebenarnya bunda merasa akhir-akhir ini badannya menjadi gampang lelah, dan juga sudah tiga kali dalam satu minggu ini beliau mimisan. Hanya saja beliau tidak berani mengeluh, takut Aish kepikiran dan mengganggu sekolahnya.
Apalagi sebentar lagi akan ada kegiatan ekskul, jadi sebisa mungkin bunda berusaha terlihat baik-baik saja.
.
.
__ADS_1
.
.