
"Mama senang sekali bisa makan malam bersama seperti ini. Kenapa kamu nggak tinggal bareng kita saja sih Siras?" tanya mama Falen.
"No, ma. Saya masih suka tinggal di apartemen. Bagaimana kabar papi?" tanya Siras.
"Everything is ok, son. Bisnis kamu bagaimana?" tanya papinya.
"Same with you dad. Aman terkendali, saya bisa menghandlenya dengan baik. Bahkan sudah ekspor ke benua Hitam juga" kata Siras.
"Ouwh, That's sounds great. Hei Brian, contoh kakak kamu ini. Dia bisa menjalani dua profesi sekaligus" kata papinya.
"Yeah, of course. He is better than me" kata Falen malas. Tiap kali ada kakaknya, selalu saja dibanding-bandingkan dengannya.
"No, papi nggak berniat membandingkan kalian. Hanya saja papi ingin kamu contoh kakak kamu yang bisa sukses menjalankan dua profesi bagusnya" kata papinya.
"I'll try" kata Falen singkat.
Hubungan antara Siras dan papi sambungnya terjalin sangat baik, tidak jarang keduanya membahas pekerjaan mereka. Berdiskusi untuk kebaikan bisnis keduanya.
"Bagaimana sekolah kamu Brian?" tanya Siras.
"Everything is good" kata Falen, nafsu makannya sedikit berkurang malam ini.
Ponselnya berdering, terlihat princess Aishyah memanggil. "Huft, tumben dia menelpon di waktu yang salah?" batin Falen.
..."*Hallo"...
..."(...)"...
...""iya, waalaikumsalam. Ada apa princess?"...
..."(....)"...
..."oh, iya. Gue lupa. Besok gue bawain deh, sudah beres kok"...
..."(....)"...
..."Ok, iya. Ini juga gue lagi mau makan. Lo sendiri sudah makan?"...
..."(...)"...
..."Iya, bawel.. Assalamualaikum*"...
" Kenapa lagi tuh si Aish?" tanya mama Falen.
"Nanyain tugas sekolah ma" jawab Falen melirik Siras. Pria itu memperhatikan interaksinya dengan sang mama.
"Siapa Aish, Is she your girlfriend, brother?" tanya Siras seolah tak mengenal Aishyah.
"Bukan, dia itu sahabatnya Brian. Mama suka sekali sama anak itu. Andai saja mama punya anak seperti dia, pasti mama sangat bahagia" kata mamanya.
Siras tersenyum smirk pada Falen, sementara Falen hanya menatap malas. Gagal sudah merahasiakan tentang Aishyah dari kakaknya yang menyebalkan ini.
"Satu lagi Siras, putusin pacar kamu yang ugal-ugalan itu. Mama sangat tidak suka sama si, siapa itu? Engmh, Sofia.... Ya Sofia. Dia itu sangat bar-bar, dandanannya juga menor banget. Mama ngeri lihatnya" kata mamanya mengomel.
"Siras sudah putus ma. Nanti Siras carikan menantu seperti si Aishyah, temannya Brian ini" kata Siras datar, membuat Falen melotot mendengarnya.
"Jangan coba-coba mempermainkan Aishyah ya" ancam Falen.
"hahahaha. kau serius sekali" kata Siras menertawakan tingkah posesif adiknya.
"Ouwh, mama pasti langsung setuju kalau calon menantu mama seperti Aishyah" kata mamanya senang.
__ADS_1
Makan malam di rumah Falen saat ini membuat mamanya sangat senang. Tapi sangat menjengkelkan bagi Falen.
"Oh iya, malam ini saya berencana menginap ma" kata Siras mengejutkan Falen.
"Kamu nggak ke rumah sakit?" tanya mama Falen.
"Siras libur ma" jawab Siras.
***********
"Hei Aishyah, kamu tolong bantu saya mengecek oksigen dan tensi pasien ini ya" tanya Siras.
Selama bertugas, entah disengaja atau tidak, dokter itu selalu meminta Aish yang membantunya. Padahal ada suster yang lebih berpengalaman. Tapi namanya atasan, tidak ada yang salah kan?
"Baik bang dokter" kata Aish melakukan tugas yang diberikan padanya.
Dokter Siras menyuruh Hendra membantu dokter lainnya yang sedang melakukan tindakan pada pasien kecelakaan yang perlu dijahit lukanya. Seolah dengan sengaja, sang princess dipisahkan dari punggawanya oleh Siras.
Hendra dan Aish baru bertemu setengah jam sebelum tugasnya berakhir.
"Tugas kamu lama banget ya Hen?" tanya Aish saat berjalan bersama menuju parkiran.
"Iya, pasiennya tadi butuh banyak banget jahitan. Mana ada lima pasien lagi, dokter tadi juga sampai kelelahan" kata Hendra.
"Tugas gue juga, ada aja yang bang dokter suruh ke gue. Sampek capek gue" keluh Aish.
"Makan dulu apa mau langsung pulang nih?" tanya Hendra.
"Pulang saja deh Hen, gue pengen mandi. Lengket banget badan gue" kata Aish.
"Oke lah" kata Hendra.
Sampai di depan rumah Falen, Hendra menelpon si bule yang sedang bersiap untuk tidur.
..."Hallo bule, lo lagi sibuk nggak?" ...
..."eh, nggak kok bro. Kenapa?"...
..."Gue ada didepan rumah lo. Ada yang mau gue diskusiin sama lo nih. Cepet buka pintunya"...
......"Harus ya malam-malam gini?" ......
..."Urgent. Buruan"...
Tanpa menutup panggilannya, Falen segera menuju ke luar untuk menemui Hendra.
"Ada apaan sih Mahendra?" tanya Falen.
"Lo nggak nyuruh gue masuk? Gue berencana mau nginep di rumah lo soalnya" kata Hendra.
"Ngapain pakai nginep segala sih? Emang ada apaan?" tanya Falen tidak sabaran.
"Ayo masuk dulu, bukain gerbangnya. Gue nggak bisa masukin motor gue nih" kata Hendra.
"Iya, iya. Yang punya rumah siapa, yang nyuruh-nyuruh siapa" gerutu Falen tapi tetap membukakan pintu gerbang rumahnya.
Kini Hendra dan Falen sedang duduk di ruang tamu. Seorang Art menyuguhkan minuman pada keduanya.
"Ada masalah apaan sih Hen?" tanya Falen.
"Tentang sosok yang kita temuin di pantai waktu itu Fal. Dia masih ngikutin" kata Hendra.
__ADS_1
"Kita? Lo doang kali Hen. Lo sudah bisa berkomunikasi sama itu apa belum?" tanya Falen.
"Assalamu'alaikum" kata seseorang yang baru datang, memotong pembicaraan keduanya.
"Waalaikumsalam" jawab Falen, dia kira abangnya itu sudah tidak menginap di rumahnya lagi.
"Loh, kok ada dokter Siras disini?" tanya Hendra
"Ini kan rumah saya Hendra. Kamu ngapain disini?" tanya Siras.
"Oh, kamu temannya Brian ya?" tanya Siras lagi.
"Siapa Brian?" tanya Hendra.
"He is Brian, my little brother" kata Siras menunjuk Falen.
"Oh ya?" tanya Hendra tidak percaya.
"Yasudah, saya kembali ke kamar saya. Kalian nikmati malam ini ya" kata Siras menuju ke kamarnya, sama seperti kamar Falen. Kamar Siras juga berada di lantai dua.
"Jadi dokter Siras itu?" tanya Hendra.
"Yes, seperti yang sudah lo tahu. Dia itu kakak gue" kata Falen.
"Oh, jadi gitu. Terus kenapa lo terkesan cuek sama dia?" tanya Hendra.
"Hubungan gue nggak baik sama dia. Sudahlah, kita lanjutin pembicaraan kita di kamar gue saja ya" ajak Falen.
Hendra mengekor pada Falen yang berjalan menuju kamarnya di lantai dua. Bule itu menutup pintu setelah keduanya berada di dalam kamarnya.
"Jadi, bagaimana?" tanya Falen.
"Gue nggak tahu lagi mau diskusikan ini sama siapa, Seno lagi sibuk. Kalau Aish, jangan lah. Kasihan dia" kata Hendra.
"Terus?" tanya Falen.
"Jadi sosok itu masih tetap ngikuti gue sampai rumah. Bahkan dia bisa masuk ke mimpi gue. Sepertinya ada sesuatu yang ingin dia sampaikan. Tapi gue nggak tahu gimana caranya supaya ngerti maksud yang ingin dia sampaikan" Hendra menjelaskan pada Falen.
"Susah juga ya. Gimana kalau kita cari info dari internet? Bentar gue ambil laptop dulu ya" Falen mengambil laptopnya.
"Jadi, kata kuncinya apa?" tanya Falen.
"Cara berkomunikasi dengan makhluk astral kali ya?" kata Hendra.
"Kita coba saja" kata Falen mengetikkan perkataan Hendra pada laptopnya.
Beberapa informasi bermunculan, namun tak ada satupun yang bisa mereka dapatkan. Semua sama, tak ada yang bisa membantu dua remaja itu untuk menyelesaikan masalahnya.
"Mungkin kita harus bertanya pada pakarnya saja ya Hen. Tapi siapa ya?" tanya Falen.
"Gue juga nggak tahu Fal" jawab Hendra mengendikkan bahu.
Mereka berdua terlihat frustasi dan putus asa. Harus pada siapa mereka bertanya?
.
.
.
.
__ADS_1