
"Lo nggak ada kesibukan lain ya Richard?" tanya Aish karena sampai sore begini anak itu masih saja betah untuk menetap di rumah Aish.
"Gue ganggu lo ya? Lo nggak usah perdulikan gue, lo lakuin saja apa yang mau lo lakuin. Gue diem aja kok, nggak bakalan gangguin lo" kata Richard.
"Cg, bukannya gitu. Abis ini mau ada acara tahlilan ibu-ibu kompleks. Atau lo bantuin gue ngerapihin ruang tamu saja gimana?" tanya Aish.
"Boleh, begitu lebih baik" kata Richard. Aish tidak menyangka jika Richard akan berbuat seperti ini.
Sore hari tiba, masakan bunda sudah tersedia untuk para anggota tahlil. Aish dan bunda bahkan sudah rapi dan wangi. Mereka sudah mandi, begitupun Richard.
Jaket putihnya yang penuh noda darah sudah Aish bantu untuk dicuci. Setelah mandi, Richard mengenakan baju koko dan sarung milik ayah Aish dulu. Ketampanannya bertambah, meskipun sarungnya terlihat sedikit cingkrang jika dipakai Richard yang tingginya diatas rata-rata.
"Seandainya kita seiman Richard" kata batin Aish mengagumi penampilan Richard yang lengkap dengan pecinya, meski masih ada anting tindik di salah satu telinganya.
"Gue ganteng ya?" kata Richard yang merasa sedang diperhatikan oleh Aish. Gadis itu hanya memalingkan muka dengan rasa malu tanpa berniat menjawab pertanyaan Richard.
Sebenarnya Aish merasa tidak nyaman jika Richard ikutan menyambut ibu-ibu seperti ini. Tapi dia juga sungkan untuk mengusir Richard yang daritadi sudah disindir untuk pergi saja nyatanya masih betah untuk tinggal.
Richard ikut berdiri di teras saat anggota tahlil mulai berdatangan. Bunda hanya diam, beliau hanya tersenyum melihat kelakuan remaja tampan itu.
"Assalamualaikum bu, Aishyah. Uwah siapa yang tampan ini? Calon mantu ya bu?" banyak ibu-ibu yang bertanya seperti itu.
Bunda hanya menanggapi dengan senyuman, sedangkan Aish menggeleng-gelengkan kepala, dan Richard tersenyum bahagia.
Acara sudah dimulai, Aish dan Richard menunggu di halaman belakang. Tempat biasanya Aish menjemur pakaian. Disana juga masih terlihat jaket putihnya tergantung di jemuran.
"Lo pernah dikhianati nggak?" tanya Richard dengan pandangan lurus ke depan.
"Pernah" kata Aish.
Mereka sedang duduk di lantai, beralaskan karpet tipis agar baju mereka tidak mengenai lantai yang kotor.
"Oh ya? kapan?" tanya Richard.
"Dulu, waktu gue masih SMP. Gue pernah punya sahabat cewek. Dia soulmate gue banget, gue sudah anggap dia saudara gue sendiri. Tapi saat ayah gue bangkrut, terus kakak gue ketimpa masalah. Dia juga ikutan pergi. Dia malu berteman sama orang yang kondisi keluarganya berantakan" kata Aish.
"Memangnya kenapa? Kok tanya gitu?" Aish bertanya pada Richard.
"Gue juga baru saja dikhianati" kata Richard.
"Sama siapa?" tanya Aish.
__ADS_1
"Yopi dan Emily. Sahabat gue punya hubungan sama pacar gue. Baru tahu gue rasanya dikhianati. Ternyata sakit ya?" tanya Richard, kini dia menatap Aish.
"Jadi ini yang bikin lo mukulin si Yopi?" tanya Aish, Richard hanya mengangguk dan kembali menatap ke depan.
"Lo pasti cinta banget sama Emily ya?" tanya Aish.
"Sebenarnya gue bingung sama perasaan gue sendiri akhir-akhir ini. Sepertinya, rasa di hati gue buat Emily perlahan pudar sejak..." Richard menggantungkan kalimatnya, dia bingung harus jujur atau tidak pada Aishyah.
Di satu sisi dia ingin Aish tahu perasaannya, tapi di sisi lain dia takut jika Aish akan menjauhinya jika tahu perasaannya.
"Sejak apa?" tanya Aish penasaran.
"Sejak malam tahun baru waktu itu, sejak lo temuin gue di kamar inap gue sama Emily, sejak lo minta gue terusin adegan dewasa gue sama dia" kata Richard mencari alasan lain.
"Kok jadi gue sih?" tanya Aish tak mau disalahkan.
"Bukan salah gue kan kalau ternyata masuk disaat yang nggak tepat kan?" Aish bertanya lagi.
"Mulai saat itu gue sadar Aishyah, kalau apa yang sudah gue lakukan sama Emily selama ini memang salah. Waktu dia ngajakin gue lagi, gue tolak dia" kata Richard.
"Terus?" tanya Aish.
"Gue nggak nyangka kalau dia lari mencari kehangatan dari sahabat gue sendiri. Dia bahkan merelakan mahkotanya yang seharusnya dia jaga untuk diambil oleh Yopi, sahabat gue sendiri" kata Richard bercerita.
"Astaghfirullah, terus alasan apa yang bikin lo sampai mukulin Yopi? Apa hanya karena sakit hati karena dikhianati atau ada hal yang lain?" tanya Aish semakin penasaran.
"Semalam gue nggak sengaja dengerin Yopi lagi telponan sama Emily waktu kita bertiga lagi nongkrong di cafe".
"Yopi izin ke toilet hanya untuk angkat telpon. Nggak biasanya dia kayak gitu, diantara kami bertiga tidak pernah ada rahasia sebelumnya. Tapi semalam Yopi beda, jadi gue ikutin dia ke toilet".
"Benar dugaan gue kalau dia simpan rahasia. Gue denger waktu mereka telponan kalau Emily sekarang hamil, dan Yopi bersikeras untuk menggugurkan kandungan Emily".
"Semalam mereka janjian untuk bertemu pagi tadi. Mereka mau ke seorang dokter yang juga menangani kasus aborsi".
"Gue sengaja ikuti mereka sejak pagi, tadi di jalan gue labrak mereka berdua".
"Yopi nggak nyangka kalau gue bakalan tahu semuanya, dia bilang dia nggak mau tanggung jawab karena merasa masih terlalu muda untuk menjadi seorang ayah. Emily juga sama, dia takut sama orang tuanya. Gue nggak cuma merasa dikhianati, tapi gue juga kecewa sama mereka yang mau berbuat tapi nggak mau tanggung jawab" kata Richard bercerita panjang lebar.
"Astaghfirullah, memang sudah seharusnya mereka bertanggung jawab sama apa yang sudah mereka lakukan. Tapi kalau melihat dari segi usia, memang mereka juga masih terlalu muda. Memang jadinya simalakama ya?" kata Aish menanggapi cerita Richard.
"Gue sebagai sahabat merasa kecewa banget karena Yopi yang mau mangkir, tapi gue sebagai pacarnya Emily juga sakit hati sama kelakuan mereka" kata Aish.
__ADS_1
"Tapi di hati kecil lo masih ada nama Emily kan?" kata Aish mempertanyakan perasaan Richard.
"Gue rasa, perasaan gue buat dia sudah sepenuhnya hilang sejak dia khianatin gue. Sekarang lebih ke rasa kasihan doang kalau mikirin masa depan mereka yang sudah pasti kacau kedepannya" kata Richard.
Aish tidak tahu lagi harus berkata apa, permasalahan semacam ini sangat baru bagi gadis yang baru mengerti isi dunia sepertinya.
"Kenapa lo diam saja?" tanya Richard yang tak mendengar komentar apapun dari gadis cerewet itu.
"Gue nggak tahu harus ngomong apa, gue nggak paham sama masalah yang kayak gini" kata Aish jujur.
Richard tersenyum ke arah Aish, dia mengacak ujung kepala Aish yang tertutup hijab.
"Seenggaknya lo sudah mau dengerin, gue sudah merasa lebih lega. Untuk urusan mereka biarlah mereka yang tentukan keputusannya. Toh mereka juga yang bakalan dapat akibatnya" kata Richard.
"Benar juga sih apa yang lo bilang, tapi sebagai teman seharusnya lo juga kasih pengertian ke Yopi tentang apa yang bakalan jadi keputusannya nanti" kata Aish.
"Besok coba gue datang ke rumahnya, pasti besok dia nggak masuk sekolah" kata Richard.
"Terus lo juga mau bolos sekolah gitu?" tanya Aish.
"Nggak lah, gue ke rumahnya pulang sekolah kok" kata Richard.
"Gue kirain" kata Aish.
"Kenapa? Lo kangen ya kalau nggak ketemu sama gue?" tanya Richard.
"Ih .. apaan sih, mana ada yang kayak gitu. Gue tuh cuma nggak mau kalau lo terus-terusan dipanggil bu Kris gara-gara bikin ulah terus" kata Aish.
"Lo perhatian banget sih sama gue?" tanya Richard semakin menggoda Aish yang kini pipinya sudah merona.
"Gila sih Richard, kenapa bikin jantung gue deg-degan sih. Nggak aman nih kalau gue berduaan kayak gini, pasti yang ketiga kan setan" batin Aish, dia berdiri dan ingin meninggalkan Richard yang masih memperhatikan semua tingkah lakunya.
"Kenapa lo? Mau kemana sih?" tanya Richard yang melihat Aish yang akan pergi.
"Gue mau siapin makanan buat ibu-ibu di depan" kata Aish beralasan. Richard masih mengekor padanya, cowok itu bahkan ingin membantu Aish kali ini.
"Aduh jantung, tolong kondisikan debaranmu" kata Aish dalam hatinya.
.
.
__ADS_1
.
.