
Pesanan datang.... Eh, kalian mau ngapain?" suara cempreng Reno mengagetkan Richard dan Aish.
Yopi yang ikut masuk dengan diiringi tawa, langsung saja menutup mata Reno yang melongo.
"Lo bocil tau apa? Tutup mata lo, jomblo" kata Yopi dengan tawa yang belum bisa dihentikan.
"Kayak lo nggak jomblo" sergah Reno menyingkirkan tangan Yopi dari matanya.
"Lo lupa kalau gue bakalan punya anak? Pengalaman gue lebih daripada lo semua" Yopi membanggakan kesalahannya.
"Baru tahu ini gue, ada orang ngelakuin kesalahan tapi malah bangga" sindir Richard yang melempar bantal pada Yopi, tapi berhasil tertangkap.
"Iya, gara-gara itu juga gue mendadak jadi miskin, hahahaha" tawa kesedihan keluar dari mulut Yopi
Wajah Aish sudah sangat merah, seperti tak punya muka untuk bertemu dengan kedua sahabat Richard yang pasti semalaman suntuk akan menertawakannya, menjadikannya bahan olokan.
Aish mendadak diam, menutup mulut. Menyiapkan telinga, pasti semalaman nanti akan mendengat ocehan aneh dan absurd dari kedua makhluk yang baru masuk ini.
"Lo berdua nih ganggu banget. Cepetan mana pesanan gue" dengan malas Richard mengambil pesanannya secara paksa dari tangan Yopi yang masih menertawakan nasibnya.
Seketika tawanya berhenti, melihat Richard yang sudah mengangkat kepalan tangannya sebatas wajah Yopi.
Tapi nggak jadi, cuma prank.
Richard berjalan kembali ke kursinya yang ada di dekat ranjang. Lalu melihat isi dalam kantong yang tadi Yopi bawa.
Setelah memastikan isinya, dia memberikan cwie mie milik Aish. Dan mengambil makanannya sendiri.
Aish membuka mienya dengan wajah cemberut. Memulai acara makannya tanpa lupa berdoa terlebih dahulu. Dia makan dalam diam.
"Makanya cepetan sana ke KUA, sudah dewasa kalian berdua ini" celoteh Reno seolah tak merasa bersalah sedikitpun. Mengawali ejekan beruntun malam ini.
"Lo tuh jangan mau dikadalin sama nih iblis neraka, Sya. Selama janur kuning belum melengkung, jangan sampai lo terbuai oleh rayuan kecebong hutan macam Richard" Reno masih saja mengomel sambil mencari tempat yang nyaman untuk duduk.
Aish hanya melirik singkat, dan lebih memilih melanjutkan makannya daripada mendengarkan ocehan para cowok gesrek yang sedang saling lempar pendapat.
"Gue bungkam mulut lo pakai kaos kaki" Richard sudah berdiri dan akan melepas sepatunya.
"Sabar, Ri. Tenang, gue kan cuma bercanda, lo mah sukanya diseriusin" kata Reno yang sudah mengambil ancang-ancang untuk mengamankan mulutnya.
"Benar kata Reno, Sya. Gadis sesuci air terjun di pagi hari semacam lo kan sudah jarang di dunia ini. Jangan sampai habitat lo jadi punah gara-gara rayuan demit laut kayak Richard" ucapan Yopi semakin membuat telinga Richard memanas.
"Lo berdua bisa diam nggak sih? Seenggaknya, biarin gue makan dulu dengan tenang" kata Richard yang sudah membuka bungkusan makannanya.
"Oke, kita bakalan diam. Nanti kita lanjutkan setelah kalian makan" kata Reno yang memilih rebahan di sofa, membiarkan Yopi duduk diatas karpet, dibawahnya.
Dan benar saja, malam itu Aish dan Richard menjadi bahan olokan dari dua manusia planet yang sangat tidak diharapkan kehadirannya.
★★★★★
Semua makhluk di kamar rawat Aish pagi ini bangun kesiangan.
"Selamat pagi" dokter Siras memasuki ruangan yang ternyata semua penghuninya masih tertidur lelap.
Aish masih anteng di ranjangnya, tangannya masih didekap erat oleh Richard yang tertidur sambil duduk di kursi yang ada di sebelah ranjang. Kepala Richard berada diatas ranjang dengan tangannya yang tak mau lepas dari tangan Aish.
Pemandangan yang memuakkan di pagi ini bagi Siras. Senyum sinis terangkat di bibir Siras.
"Oh, so sweet" komentar suster yang mengekor di belakangnya.
Sementara Reno masih ada diatas sofa, tidur dengan sedikit mendengkur dengan ponsel yang ada di dadanya.
Yopi tertidur dikarpet, tepat di bawah Reno.
Richard memicingkan mata saat melihat cahaya matahari memasuki ruangan. Suster membuka gorden dan membiarkan jendela terbuka agar udara bisa berganti.
"Kalian nggak sekolah?" tanya Siras yang ingin membiarkan Aish sendiri tanpa ada kawalan dari siapapun.
Richard melirik singkat, selanjutnya beralih ke teman-temannya yang masih tak menunjukkan pergerakan sama sekali.
"Woi, bangun. Kita kesiangan nih" kata Richard sambil menendang Yopi perlahan. Sangat tidak sopan.
"Apaan sih, Ri. Bawel banget kayak emak gue" kata Yopi yang mencari posisi nyaman.
__ADS_1
"Lo nggak sekolah? Kita kesiangan bego" dengan sedikit membentak, Richard kembali menendang Yopi perlahan.
Yopi melihat jam tangannya, terpampang jarum pendek berada di angka tujuh, dan jarum panjangnya hampir di angka sembilan.
"Hah? Sialan, gara-gara Reno nih" umpat Yopi yang menyalahkan Reno.
Dia terbangun, duduk diatas karpet dan memukul paha Reno yang ada didepannya.
"Woi, brengsek. Bangun, lo dimarahi Bu Kris lagi pasti kali ini" kata Yopi sambil memukul paha Reno.
Suster yang mengikuti Siras hanya tersenyum melihat kelakuan ketiga remaja yang bangun kesiangan.
Mendengar keributan pagi ini, Aishpun terbangun. Setelah mengucek matanya, dia berusaha duduk. Richard sigap membantunya.
Melihat Siras didalam ruangan, Aish kembali menarik lengan Richard. Dia masih trauma dengan kelakuan Siras tempo hari padanya.
Kembali Siras merasa kecewa pada dirinya sendiri. Seharusnya dia bisa mengontrol dirinya agar Aish tidak semakin menjauh darinya seperti ini.
"Lo tenang ya, ada gue disini" kata Richard.
Siras melakukan tugasnya, memeriksa keadaan Aish pagi ini.
Yopi dan Reno sudah bergantian memasuki kamar mandi untuk bersih-bersih dan ganti seragam sekolah.
Telat masuk sekolah adalah hal biasa bagi mereka. Jadi, santai saja.
"Kapan Aish boleh pulang, dokter?" tanya Richard setelah Siras menyelesaikan tugasnya.
"Sebenarnya masih harus dipantau lebih lanjut meskipun keadaan tubuhnya yang lain sudah sangat baik. Mungkin, dua atau tiga hari lagi baru boleh pulang" kata Siras dengan pandangan penuh pada Aish yang dama sekali tak menghiraukannya.
"Gue mau pulang, Richard" rengek Aish yang terdengar di telinga Siras. Membuatnya membuang muka.
"Bisa nggak kalau hari ini juga dia pulang? Nanti bisa gue suruh suster buat nemenin dia dirumahnya" kata Richard yang mengerti jika Aish takut jika harus sendirian saat Richard harus sekolah.
Sedikit berfikir, untuk membiarkan Aish berlama-lama di rumah sakit dengan perasaan ketakutan juga bukanlah hal yang baik.
Akhirnya, Siraspun mengalah. Memang kesalahannya tak bisa menahan diri, hingga membuat Aish tak mau lagi berdekatan dengannya.
"Baiklah, kita lihat kondisinya sore ini. Jika semua sudah lebih baik, dia boleh pulang, tapi harus tetap dalam pengawasan suster" kata Siras.
Lega, Richard dan Aish merasa senang karena tidak harus berurusan lagi dengan Siras.
"Sya, gue bawa motor lo ya" Yopi sudah siap dengan seragamnya, meski sudah jam delapan lebih, dia masih yakin untuk masuk sekolah hari ini.
"Iya" Aish hanya menjawab dengan singkat.
Sementara Reno masih di kamar mandi.
"Terapi untuk kaki kamu setiap hari Selasa dan Kamis jam tiga sore, dan juga di hari Sabtu pagi jam delapan. Nanti akan ada dokter Gunawan yang akan menangani" kata Siras memberi informasi.
Aish hanya mengangguk.
"Baiklah, saya permisi dulu" Siras berpamitan karena Aish yang sama sekali tak menghiraukannya. Nanti dia akan kembali setelah semua temannya pergi ke sekolah. Dia juga masih harus memeriksa pasien lainnya terlebih dahulu.
"Buruan Ri, keburu waktunya istirahat nih" omelan Reno seperti sudah paling benar sendiri.
Richard tak menghiraukan ocehan Reno, semalaman Reno dan Yopi membully Richard yang ketahuan akan berbuat sesuatu dengan Aish.
"Sudah setengah sembilan loh, kalian yakin nggak bakalan dimarahi?" tanya Aish setelah Reno dan Richard sudah siap dengan seragam sekolahnya.
"Santai saja, Sya. Kita sudah hafal jalan tikus disekolah kita" kata Reno yang sudah bersiap sekolah.
"Yuk, Ri. Gue nebeng sama lo ya" senyum menjengkelkan kembali terlihat diwajah Reno.
"Gue berangkat dulu ya, Ra. Lo baik-baik disini. Nanti pulang sekolah gue langsung kesini lagi" kata Richard berpamitan pada Aish.
"Iya, hati-hati ya" kata Aish.
Richard masih sempat mengelus sebentar lengan Aish sebelum berangkat. Sedikit ragu untuk meninggalkannya sendiri.
"Buruan, Ri. Nanti juga bakalan ketemu lagi. Lama banget" kata Reno yang sudah tidak tahan menunggu Richard.
"Gue berangkat ya, nanti kalau ada apa-apa lo segera telpon gue ya" kata Richard sebelum pergi.
__ADS_1
Aish mengangguk, dengan senyuman yang terukir.
"Begini rasanya diperhatikan sama orang yang kita sayangi. Hati ini jadi hangat, dan... entahlah" Aish tak bisa mengutarakan bagaimana perasaannya kali ini.
Yang jelas dia sangat senang dan bahagia.
Cukup tiga puluh menit waktu untuk bisa sampai ke sekolah, jalanan sudah lancar. Kemacetan sudah mulai terurai karena memang jam sibuk sudah berlalu.
"Pak, bukain" teriak Reno pada satpam sekolah pagi ini.
"Telat lagi? Nggak akan saya bukakan" kata satpam itu sambil melipat tangan. Sok penting.
"Buruan" kata Reno yang mengipaskan selembar uang berwarna merah dengan gambar dua bapak-bapak yang tersenyum ramah.
Mata pak satpam sudah menghijau, setelah tersenyum sebentar. Diapun membuka gerbang setelah melihat keadaan sekitarnya aman.
"Buruan, lelet bener" kata Reno yang telah kehilangan selembar uangnya barusan.
Richard memarkirkan mobilnya dengan aman. Setelahnya, mereka berdua berjalan dengan santai menuju kelasnya.
★★★★★
Jam sebelas pagi, Aish telah menyelesaikan mandi, sarapan dan meminum obatnya dengan bantuan suster.
Sekarang dia sedang bersantai sambil mengerjakan lagi desain gambar rumahnya. Mumpung keadaan sedang aman, tidak akan ada yang mengganggunya.
Setengah jam berlalu dengan aman, tapi terdengar bunyi ketukan di pintu. Aish mendongak untuk melihat siapa yang datang.
Kembali dia harus menutup laptopnya lagi, dan bersiap menyambut kedatangan tamu yang sudah membuka handle pintu ruangan.
Wajah Aish berubah takut, masalahnya ada dokter Siras yang mengunjunginya kali ini.
"Assalamualaikum" Siras memberi salam setelah berhasil membuka pintu ruangan.
"Waalaikumsalam" jawab Aish ragu, dia mendekap laptopnya untuk mengurangi rasa takut yang tiba-tiba hadir.
"Kenapa tegang sekali muka kamu?" Siras sedikit menyunggingkan senyum saat menanyakannya.
"Masih harus saya jawab tentang alasannya, dokter?" Aish bertanya balik, menekankan kata dokter diakhir ucapannya agar terdengar jelas.
Siras duduk di tempat yang biasanya diisi oleh Richard. Aish hanya membuang pandangan, tidak mau melihat pada Siras. Karena selalu mengingatkannya pada kejadian waktu itu.
Sungguh membuatnya malu.
"Saya benar-benar minta maaf sama kamu, Aishyah. Saya akui saya khilaf, saya harap kamu mau memaafkan saya" Siras jujur berkata dari dalam lubuk hatinya.
"Entahlah, saya rasa bang dokter jauh lebih dewasa daripada saya. Dan lagi, abang kan seorang dokter" Aish malas sebenarnya untuk meladeni Siras, tapi tidak tega juga untuk mengusirnya.
"Iya, saya tahu. Kesalahan saya terlalu besar, untuk itu saya minta maaf sama kamu, Aishyah. Harus bagaimana caranya agar kamu mau memaafkan saya?" tanya Siras sedikit memaksa.
"Entahlah bang, saya nggak tahu. Saya cuma nggak mau dekat-dekat sama bang dokter. Saya takut abang nanti khilaf lagi" jujur Aish sangsi akan ketulusan Siras.
Seingatnya, semua teman wanita dari dokter ini tak suka pada Aish.
"Baiklah, terserah kamu mau memaafkan saya atau tidak. Yang jelas, saya benar-benar merasa bersalah dan tulus untuk minta maaf sama kamu" lagi, penuturan dokter itu tak mendapat sambutan apapun dari Aish.
Aish hanya membuang muka.
Merasa sangat canggung dan tak bisa seakrab dulu, Siraspun mengerti. Dia segera undur diri.
"Saya pergi dulu ya. Kamu jangan sungkan-sungkan untuk meminta bantuan apapun sama saya" kata Siras.
"Iya" jawaban singkat dari Aish semakin membuat Siras enggan untuk berlama-lama.
Diapun pergi dari ruangan Aish. Membuat gadis itu bisa bernafas lega.
.
.
.
.
__ADS_1